Kiriman dibuat oleh DETA AMELIA

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Jurnal

oleh DETA AMELIA -
Nama : Deta Amelia
NPM : 2415061120
KLS : PSTI-C

Filsafat Pancasila merupakan konsep yang berasal dari istilah "philosophy," yang secara etimologis mengandung arti cinta terhadap kebijaksanaan. Pancasila tidak hanya berfungsi sebagai ideologi dasar negara, tetapi juga sebagai panduan berpikir yang membentuk cara pandang masyarakat Indonesia. Sebagai filsafat negara, Pancasila lahir dari cita-cita bersama yang diusung oleh seluruh rakyat Indonesia, mencerminkan nilai-nilai luhur yang menjadi identitas bangsa.

Pancasila menjadi pedoman dalam pelaksanaan pendidikan di Indonesia, sesuai dengan Undang-Undang Pendidikan Tinggi yang menekankan pentingnya pengembangan potensi diri dan karakter. Jurnal ini menyebutkan bahwa karakter diartikan sebagai kumpulan sikap dan perilaku yang mencerminkan nilai moral. Pendidikan diharapkan mampu menghasilkan individu yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki moral yang baik.

Filsafat Pancasila dianalisis melalui pendekatan ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Ontologis menekankan hakikat manusia sebagai subjek hukum Pancasila, sementara epistemologis berkaitan dengan sumber pengetahuan yang berasal dari nilai-nilai luhur bangsa. Aksiologis menyoroti pentingnya nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila sebagai pedoman moral dan etika dalam kehidupan.

Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila
prinsip-prinsip Pancasila berdasarkan kausal Aristoteles:
Kausa Materialis: Nilai-nilai sosial budaya bangsa.
Kausa Formalis: Bentuk dan susunan Pancasila dalam UUD ’45.
Kausa Efisiensi: Proses BPUPKI dan PPKI dalam merumuskan Pancasila.
Kausa Finalis: Tujuan Pancasila sebagai dasar negara.

Nilai-Nilai Pancasila
Pancasila mencerminkan jati diri bangsa Indonesia dan berfungsi sebagai pedoman hidup. Nilai-nilai dalam Pancasila berhubungan dengan ke-Tuhanan, kemanusiaan, kesatuan, kerakyatan, dan keadilan. Pendidikan yang berlandaskan Pancasila diharapkan dapat membentuk individu yang memiliki karakter baik dan mampu menjalankan peran sosialnya secara efektif.

Jurnal ini menyimpulkan bahwa Pancasila sebagai filsafat dan ideologi sangat penting dalam pendidikan di Indonesia. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam pendidikan, diharapkan terbentuk generasi yang tidak hanya cerdas tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, dan mampu berkontribusi positif bagi bangsa dan negara.

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Soal

oleh DETA AMELIA -
Nama : Deta Amelia
NPM : 2415061120
kls : PSTI-C

A. Pendapat mengenai proses pendidikan di tengah pandemi COVID-19
Pandemi COVID-19 mengharuskan sistem pendidikan bertransformasi dari metode pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran daring (online learning). Perubahan mendadak ini membawa tantangan besar bagi siswa, guru, dan orangtua. Banyak orang tua yang harus mendampingi anak belajar dari rumah merasakan kesulitan, terutama dalam memahami dan mengajarkan materi yang biasanya dijelaskan oleh guru. Begitu pula dengan guru, mereka perlu beradaptasi dengan teknologi dan metode pengajaran yang sepenuhnya baru. Tidak semua siswa memiliki akses terhadap fasilitas pendidikan daring, seperti laptop dan koneksi internet yang stabil, terutama mereka yang berada di daerah terpencil atau berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah ke bawah.
Selain itu, pembelajaran daring memerlukan kedisiplinan yang tinggi dari siswa untuk belajar secara mandiri, sesuatu yang cukup sulit jika tanpa supervisi langsung dari guru. Efektivitas pembelajaran daring sangat bergantung pada kemampuan guru dalam menyajikan materi secara menarik dan interaktif agar siswa tetap terlibat aktif. Proses pembelajaran daring ini juga mempengaruhi kualitas pendidikan, karena pembelajaran yang kurang optimal dapat berdampak pada pemahaman siswa, terutama bagi mereka yang kesulitan memahami materi tanpa penjelasan langsung. Keseluruhan tantangan ini menunjukkan bahwa pendidikan di tengah pandemi memerlukan adaptasi besar dan dukungan menyeluruh dari berbagai pihak agar tetap berjalan efektif.

B. Cara mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi COVID-19 agar tetap berkorelasi dengan nilai Pancasila
Untuk mengefektifkan proses pendidikan di tengah pandemi sekaligus mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila, beberapa langkah dapat diambil:
1. Memanfaatkan teknologi secara bijak: Bisa memanfaatkan platform online yang interaktif untuk memastikan komunikasi dua arah dengan siswa.
2. Membangun sikap gotong royong dan toleransi: Dalam situasi ini, kegiatan pembelajaran kelompok secara daring dapat difasilitasi untuk melatih nilai gotong royong. Diskusi dan presentasi dapat menjadi sarana saling menghargai pendapat orang lain.
3.Menekankan pendidikan karakter dan nilai-nilai pancasila: Guru dapat menanamkan nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, dan kerja keras melalui penugasan dan jadwal yang terstruktur.
4. Dukungan pemerintah dan masyarakat: Bantuan teknologi dan pelatihan daring bagi guru sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran daring.

C. Contoh kasus terkait pengembangan karakter Pancasilais dan pendapat mengenai contoh tersebut
Di lingkungan sekitar, contoh karakter Pancasilais bisa dilihat melalui sikap gotong royong masyarakat dalam membantu keluarga yang terdampak COVID-19. Misalnya, di sebuah RT, warga secara bergotong royong mengumpulkan dana untuk membantu tetangga yang terkena dampak ekonomi karena pandemi. Dana ini digunakan untuk membeli kebutuhan pokok, yang kemudian dibagikan kepada mereka yang membutuhkan. Hal ini juga terlihat di lingkungan sekolah, di mana siswa diajarkan untuk disiplin dan bertanggung jawab dalam mengerjakan tugas sekolah dari rumah meskipun tanpa pengawasan langsung dari guru.
Contoh ini menunjukkan implementasi nyata nilai-nilai Pancasila, seperti gotong royong, tanggung jawab, dan kepedulian. Dengan adanya kegiatan seperti ini, anak-anak dapat melihat langsung bagaimana nilai-nilai Pancasila diaplikasikan di kehidupan sehari-hari, menjadikannya teladan nyata yang dapat membentuk karakter mereka sejak dini. Karakter Pancasilais ini tidak hanya berguna dalam kehidupan sehari-hari tetapi juga merupakan fondasi penting bagi terciptanya masyarakat yang berintegritas dan saling menghormati. Pandemi menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk memperkuat solidaritas, saling membantu, dan menerapkan nilai-nilai Pancasila secara nyata.

D. Hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai sebagai paradigma berpikir, bersikap, dan berperilaku masyarakat
1. Sebagai Paradigma Berpikir: Pancasila mengajarkan masyarakat untuk berpikir secara kritis namun berbasis nilai-nilai kebangsaan, seperti keadilan, persatuan, dan kemanusiaan. Dalam menghadapi setiap permasalahan sosial, ekonomi, atau politik, masyarakat diharapkan mengedepankan nilai-nilai Pancasila dalam mencari solusi yang mengedepankan kepentingan bersama dan menghargai kemajemukan.
2. Sebagai Paradigma Bersikap: Sikap yang terbentuk dari nilai-nilai Pancasila mendorong masyarakat untuk hidup dalam kebersamaan, menjunjung tinggi keadilan, dan menghormati hak asasi manusia. Sikap ini penting dalam mewujudkan masyarakat yang toleran, adil, dan bersatu dalam keberagaman. Pancasila mengarahkan sikap masyarakat untuk menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, seperti musyawarah dan gotong royong, yang mencerminkan persatuan dan kebersamaan.
3. Sebagai Paradigma Berperilaku: Nilai-nilai Pancasila mengajarkan masyarakat untuk berperilaku sesuai dengan norma-norma yang baik, seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab. Dalam kehidupan sehari-hari, nilai-nilai ini dapat terlihat dari bagaimana masyarakat menjalankan perannya dengan penuh integritas, bekerja sama dalam lingkungan sosial, serta menghargai hukum dan hak orang lain.
Nama : Deta Amelia
npm : 2415061120
kls : PSTI-C

PANCASILA SEBAGAI SISTEM FILSAFAT

Filsafat berasal dari kata Yunani “philosophia,” yang terdiri dari kata “phile,” berarti cinta, dan “sophia,” berarti kebijaksanaan. Dalam konteks ini, cinta diartikan sebagai hasrat besar terhadap kebijaksanaan, yang mengarah pada pencarian kebenaran sejati. Filsafat mencakup berbagai aliran, seperti rasionalisme yang mengutamakan akal, materialisme yang berfokus pada materi, individualisme yang menekankan individualitas, dan hedonisme yang mengedepankan kesenangan. Mempelajari filsafat membawa berbagai manfaat, di antaranya adalah memperoleh kebenaran hakiki, meningkatkan kemampuan berpikir logis dan bijaksana, berpikir rasional secara menyeluruh, serta mencapai keseimbangan antara pertimbangan dan tindakan dalam kehidupan sehari-hari.

Filsafat Pancasila adalah refleksi kritis dan rasional tentang Pancasila sebagai dasar negara dan kenyataan budaya bangsa Indonesia, yang bertujuan untuk memahami prinsip-prinsip mendasar secara menyeluruh. Sebagai sistem, filsafat Pancasila mencakup unsur-unsur yang saling berhubungan dan saling tergantung satu sama lain untuk mencapai tujuan tertentu dalam lingkungan yang kompleks. Filsafat mencakup tiga aspek utama: ontologi, yang menyelidiki hakikat keberadaan; epistemologi, yang mengeksplorasi asal, struktur, dan metode ilmu pengetahuan; dan aksiologi, yang berhubungan dengan nilai dan manfaat. Aspek ontologis dalam filsafat mengacu pada penyelidikan keberadaan menurut Aristoteles, sedangkan epistomologi dan aksiologi menggali validitas pengetahuan dan nilai-nilai dalam teori dan ilmu.

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Jurnal

oleh DETA AMELIA -
Nama: DETA AMELIA
Npm : 2415061120
kls : PSTI-C

Jurnal ini meneliti relevansi Pancasila dalam konteks filsafat ilmu untuk mengatasi berbagai persoalan kebangsaan, terutama korupsi. Syahrul Kirom menggunakan tiga aspek utama dalam filsafat ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi, sebagai pisau analisis untuk menggali nilai-nilai Pancasila. Pendekatan ini menarik karena filsafat ilmu berfokus pada dasar-dasar pengetahuan dan bagaimana pemikiran kritis dapat diterapkan pada ajaran-ajaran yang mendasari kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.

Ontologi Pancasila
Aspek ontologi dalam filsafat ilmu berhubungan dengan studi tentang "apa yang ada" atau hakikat dari sesuatu. Dalam hal ini, penulis menyoroti bahwa Pancasila memiliki nilai-nilai yang mendasar dan ajaran yang bersifat universal, seperti penghormatan terhadap sesama manusia. Dalam analisis ini, Pancasila dianggap sebagai sistem nilai yang telah teruji waktu dan mencerminkan realitas sosial dan moral masyarakat Indonesia. Nilai-nilai Pancasila ini menjadi fondasi ontologis bagi sistem sosial-politik yang diharapkan mampu menciptakan tatanan masyarakat yang berkeadilan dan harmonis.

Epistemologi Pancasila
Epistemologi berkaitan dengan sumber dan cara memperoleh pengetahuan. Dalam konteks Pancasila, penulis mengungkapkan bahwa Pancasila bukan hanya sekadar konsep ideologi, melainkan juga sebagai sumber pengetahuan yang dapat dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Pancasila, sebagai sistem nilai, mengandung berbagai kebijaksanaan yang dapat diimplementasikan dalam pengambilan keputusan di tingkat sosial dan politik.

Pancasila mengajarkan konsep-konsep nasionalisme, keadilan sosial, dan kemanusiaan yang seharusnya menjadi dasar dalam menghadapi persoalan kebangsaan. Penulis menyoroti bahwa pemahaman dan penerapan Pancasila secara epistemologis dapat memperkuat integritas nasional dan membantu menyelesaikan masalah seperti korupsi, yang sering kali dipicu oleh pemahaman yang dangkal tentang nilai-nilai kebangsaan.

Aksiologi Pancasila
Aksiologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang nilai, baik itu nilai etika maupun estetika. Dalam konteks ini, penulis menganalisis bahwa Pancasila tidak hanya memiliki nilai-nilai moral yang luhur, tetapi juga dapat memberikan kontribusi konkret dalam kehidupan sosial di Indonesia. Pancasila, dengan penekanannya pada keadilan sosial, persatuan, dan kemanusiaan, memberikan panduan bagi kehidupan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.

Pentingnya penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari sebagai solusi untuk mengatasi masalah-masalah sosial dan kebangsaan. Pancasila, melalui aspek aksiologinya, mampu mengarahkan masyarakat Indonesia untuk bertindak berdasarkan nilai-nilai moral yang tinggi, sehingga dapat mengatasi masalah-masalah seperti korupsi dan ketidakadilan sosial.

Relevansi dalam Mengatasi Persoalan Kebangsaan
Salah satu persoalan kebangsaan yang diangkat dalam jurnal ini adalah korupsi. Penulis menyebutkan bahwa korupsi merupakan masalah serius yang dapat merusak tatanan sosial dan politik di Indonesia. Dengan menganalisis Pancasila melalui lensa filsafat ilmu, penulis menyarankan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila yang benar dan konsisten dapat menjadi solusi untuk memberantas korupsi dan memperbaiki moralitas bangsa.

Pancasila menawarkan kerangka etika yang dapat menjadi pedoman bagi setiap individu dan institusi dalam menjaga integritas dan keadilan. Nilai-nilai seperti keadilan sosial, persatuan, dan kemanusiaan dalam Pancasila memberikan arah bagi pengembangan bangsa yang lebih berintegritas dan bermoral. Dengan demikian, Pancasila tidak hanya relevan sebagai dasar negara, tetapi juga sebagai panduan praktis untuk memperbaiki struktur sosial dan politik yang rusak.

Pancasila tidak hanya relevan sebagai dasar ideologi negara, tetapi juga sebagai sistem nilai yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam menghadapi masalah kebangsaan yang kompleks.

PSTI C dan D MKU Pancasila 2024 -> Forum Analisis Soal

oleh DETA AMELIA -
Nama : Deta Amelia
NPM : 2415061120
Kls : PSTI-C

1. Kasus penolakan jenazah korban Covid-19 ini sangat memprihatinkan, terutama karena korban adalah seorang tenaga medis yang telah berjuang di garis depan dalam penanganan pandemi. Tindakan ini mencerminkan kurangnya pemahaman masyarakat tentang kemanusiaan dan empati, yang bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila, khususnya Sila Kedua, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.” Penolakan pemakaman ini menunjukkan minimnya sikap saling menghargai dan menghormati antar sesama, serta mengabaikan hak dasar seseorang untuk dimakamkan secara layak. Selain itu, penolakan tersebut tidak hanya merugikan keluarga korban, tetapi juga mencoreng nilai kemanusiaan yang menjadi dasar dalam kehidupan berbangsa.


2. Sebagai mahasiswa, ada beberapa langkah yang bisa diambil untuk mencegah kejadian serupa:

a. Edukasi dan Sosialisasi: Penting untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang bahaya penularan Covid-19 yang sebenarnya dan metode penanganan jenazah korban. Sosialisasi harus dilakukan oleh pemerintah dan lembaga kesehatan melalui berbagai media agar masyarakat memahami bahwa protokol kesehatan saat pemakaman telah cukup untuk mencegah penularan.

b. Penanaman Nilai Kemanusiaan di Pendidikan: Memasukkan pendidikan karakter dengan penekanan pada empati, toleransi, dan nilai kemanusiaan di setiap jenjang pendidikan. Pendidikan tentang pentingnya menghargai hak-hak setiap individu termasuk dalam konteks kematian, yang merupakan hak dasar manusia.

c. Keterlibatan Tokoh Masyarakat dan Agama: Dukungan dari tokoh masyarakat dan agama sangat berpengaruh dalam membangun kesadaran masyarakat, terutama di masa pandemi. Dengan bantuan mereka, bisa lebih mudah menjelaskan ke masyarakat bahwa setiap individu berhak dimakamkan secara layak.

d. Regulasi dan Pengawasan: Pemerintah daerah perlu membuat kebijakan yang lebih tegas terkait perlakuan terhadap jenazah korban Covid-19 serta mengawasi penerapannya untuk menghindari adanya penolakan.

3. Ya, penolakan jenazah korban Covid-19 dapat dianggap sebagai pelanggaran terhadap Sila Kedua Pancasila, “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab,” meskipun jenazah tersebut sudah tidak bernyawa. Sila ini menuntut kita untuk menghormati dan menghargai hak serta martabat manusia, hidup atau mati.

Dalam hal ini, penolakan pemakaman menunjukkan kurangnya rasa kemanusiaan dan penghargaan terhadap perjuangan tenaga kesehatan tersebut. Hal ini juga menimbulkan luka psikologis bagi keluarga yang kehilangan. Oleh karena itu, menghormati jenazah, termasuk memberikan haknya untuk dimakamkan secara layak, merupakan wujud nyata dari implementasi kemanusiaan dan beradab yang ada pada Sila Kedua Pancasila.