NPM: 2415061091
Kelas: PSTI D
Jurnal ini mengulas berbagai tantangan dalam memperkuat demokrasi di Indonesia setelah Pemilu Presiden 2019, dengan menyoroti pentingnya memperdalam praktik demokrasi agar mampu menciptakan sistem yang lebih substansial, efektif, dan bertanggung jawab.
Beberapa isu utama yang diangkat antara lain:
1. Terjadinya polarisasi sosial dan politisasi identitas, yang terlihat dari meningkatnya pembelahan masyarakat serta pemanfaatan isu agama dan identitas untuk meraih dukungan politik, termasuk perpecahan di kalangan umat Islam.
2. Lemahnya peran partai politik, ditandai dengan kegagalan dalam kaderisasi dan pendidikan politik, praktik pencalonan yang bersifat transaksional, ketiadaan visi ideologis yang jelas, serta dominasi kepentingan elit yang melemahkan fungsi representatif partai.
3. Politisasi lembaga birokrasi, yang tercermin dalam ketidaknetralan aparatur sipil negara (ASN) dan pejabat publik saat masa kampanye, mengindikasikan lemahnya institusi dan sistem meritokrasi.
Jurnal ini juga membedakan antara demokrasi prosedural—yang berfokus pada aspek teknis seperti penyelenggaraan pemilu—dan demokrasi substantif—yang mencakup nilai-nilai seperti akuntabilitas dan kesetaraan. Disimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia saat ini masih lebih menekankan aspek prosedural. Hal ini diperkuat oleh data empiris serta kejadian-kejadian penting, seperti banyaknya pelanggaran pemilu, penyebaran hoaks dan ujaran kebencian, hingga kerusuhan yang terjadi pada 22 Mei 2019—semuanya menunjukkan bahwa fondasi demokrasi masih rapuh.
Jurnal ini menyimpulkan bahwa demokrasi di Indonesia belum sepenuhnya terkonsolidasi karena pilar-pilar utamanya belum berjalan dengan baik. Oleh karena itu, dibutuhkan upaya menyeluruh untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap institusi negara. Reformasi birokrasi, penguatan fungsi partai politik, serta peningkatan literasi politik masyarakat menjadi rekomendasi utama.
Kekuatan jurnal ini terletak pada ketajaman analisisnya yang disusun secara sistematis dan relevan, dengan menggabungkan pendekatan teori dan data lapangan. Namun, kelemahan jurnal adalah minimnya usulan solusi praktis dan kurangnya pembahasan mendalam mengenai aspek struktural jangka panjang. Selain itu, fokusnya yang lebih mengarah pada kritik terhadap elite dan lembaga negara membuatnya kurang menyentuh akar masalah secara menyeluruh.