གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ M. Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana

Nama : M.Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana
NPM : 2455061005
Kelas : PSTI-C

A. Tanggapan Terhadap Berita dan Upaya Mengantisipasi Dampak Negatif Penyebaran Hoaks

Saya percaya bahwa berita ini menyoroti isu serius terkait penyebaran hoaks di media sosial dan dampaknya terhadap masyarakat. Saya sepakat bahwa latar belakang pendidikan seseorang tidak menjamin bahwa mereka kebal terhadap hoaks. Hal ini menunjukkan bahwa hoaks dapat menyebar dengan cepat dan luas, terutama ketika disajikan dengan cara yang menarik dan sesuai dengan kepercayaan individu.

Beberapa langkah yang dapat diambil untuk mengantisipasi dampak negatif dari penyebaran hoaks antara lain:

Pendidikan Literasi Media: Meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya literasi media. Ini dapat dilakukan melalui seminar, workshop, atau kampanye di media sosial yang mengajarkan cara membedakan informasi yang valid dari hoaks.

Verifikasi Sumber: Sebelum membagikan informasi, penting untuk memverifikasi sumber berita. Menggunakan situs pengecekan fakta dapat membantu mengurangi penyebaran hoaks dan memastikan informasi yang disebarkan adalah akurat.

Diskusi Terbuka: Mendorong diskusi terbuka di antara teman dan keluarga mengenai berita yang beredar, sehingga dapat saling mengingatkan dan memberikan perspektif yang berbeda. Diskusi ini juga dapat membantu membangun pemahaman yang lebih baik tentang isu-isu yang sedang hangat.

Penggunaan Teknologi untuk Edukasi: Memanfaatkan aplikasi dan platform digital untuk menyebarkan informasi yang benar dan mendidik masyarakat tentang cara mengenali hoaks.

B. Dampak Pengembangan IPTEK yang Tidak Selaras dengan Nilai-Nilai Pancasila dan Solusi

Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) yang tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila dapat menimbulkan berbagai masalah, seperti penyebaran informasi yang tidak bertanggung jawab, pengabaian etika, dan dampak negatif terhadap persatuan dan kesatuan bangsa. Media sosial, sebagai salah satu produk IPTEK, sering kali digunakan untuk menyebarkan hoaks dan informasi yang menyesatkan, yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan sosial.

Beberapa solusi yang dapat diterapkan adalah:

Integrasi Nilai Pancasila dalam Pendidikan IPTEK: Mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila dalam kurikulum pendidikan IPTEK, sehingga generasi muda memahami pentingnya etika dan tanggung jawab dalam penggunaan teknologi.

Kampanye Kesadaran: Melakukan kampanye kesadaran tentang penggunaan media sosial yang bijak dan bertanggung jawab, serta dampak negatif dari penyebaran hoaks. Ini juga bisa melibatkan influencer untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Regulasi dan Kebijakan: Pemerintah perlu membuat regulasi yang lebih ketat terhadap penyebaran informasi palsu di media sosial, serta memberikan sanksi bagi pelanggar. Selain itu, kolaborasi dengan platform media sosial untuk mengidentifikasi dan menghapus konten hoaks juga sangat penting.

Pelatihan Etika Digital: Menyelenggarakan pelatihan tentang etika digital bagi pengguna internet, agar mereka lebih sadar akan tanggung jawab mereka dalam menyebarkan informasi.

C. Solusi Terhadap Konsumerisme dan Pasar Produk Teknologi

Tingginya tingkat konsumerisme di Indonesia menyebabkan negara ini menjadi pasar bagi produk teknologi dari negara lain yang lebih maju. Hal ini dapat menghambat pengembangan industri teknologi dalam negeri dan mengurangi daya saing.

Sebagai mahasiswa Teknik Informatika, beberapa solusi yang dapat saya tawarkan adalah:

Inovasi dan Riset: Mendorong pengembangan inovasi dan riset di bidang teknologi yang relevan dengan kebutuhan lokal. Ini bisa dilakukan melalui kolaborasi antara universitas dan industri, serta menciptakan program inkubasi untuk ide-ide baru.

Pendidikan dan Pelatihan: Mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan keterampilan sumber daya manusia di bidang teknologi, sehingga dapat menciptakan produk lokal yang berkualitas. Ini juga termasuk pelatihan kewirausahaan bagi mahasiswa agar mereka dapat memulai usaha teknologi.

Dukungan untuk Startup Lokal: Mendorong dukungan bagi startup teknologi lokal melalui pendanaan, inkubasi, dan akses ke pasar, sehingga produk dalam negeri dapat bersaing dengan produk asing. Selain itu, menciptakan jaringan antara startup dan investor untuk memfasilitasi pertumbuhan industri teknologi lokal.

Promosi Produk Lokal: Melakukan kampanye untuk mempromosikan produk teknologi lokal kepada masyarakat, sehingga mereka lebih sadar akan keberadaan dan kualitas produk dalam negeri. Ini dapat dilakukan melalui pameran, bazaar, atau platform online yang menampilkan produk lokal.
Nama : M.Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana
NPM : 2455061005
Kelas : PSTI-C

Pancasila sebagai Kompas Pengembangan Ilmu

Pancasila, sebagai fondasi ideologi negara, berperan sebagai kompas yang memandu arah pengembangan ilmu pengetahuan di Indonesia. Setiap sila dalam Pancasila memberikan landasan moral dan etika yang kokoh bagi para ilmuwan dan peneliti, memastikan bahwa kemajuan ilmu tidak menyimpang dari nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan.

Ketuhanan Yang Maha Esa: Menekankan pentingnya pengembangan ilmu yang tidak hanya sekadar mencari kebenaran ilmiah, tetapi juga memiliki tujuan yang luhur, yaitu untuk meningkatkan kualitas hidup manusia dan memuliakan Sang Pencipta.
Kemanusiaan yang Adil dan Beradab: Mendorong para ilmuwan untuk menciptakan inovasi yang berkeadilan, yang tidak hanya menguntungkan segelintir kelompok, tetapi juga memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat.
Persatuan Indonesia: Mengajak para ilmuwan untuk bekerja sama dalam membangun bangsa, dengan memanfaatkan ilmu pengetahuan sebagai perekat persatuan dan kesatuan.
Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan: Menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dalam proses pengambilan keputusan terkait pengembangan ilmu, sehingga ilmu pengetahuan benar-benar menjadi milik bersama.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia: Menuntut agar hasil-hasil penelitian dan inovasi dimanfaatkan untuk mengurangi kesenjangan sosial dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

**Profil Ideal Pemimpin, Warga Negara, dan Ilmuwan Pancasilais**

Pemimpin: Seorang pemimpin yang tidak hanya memiliki visi yang jelas, tetapi juga memiliki integritas yang tinggi, mampu mengayomi seluruh rakyat, dan memiliki komitmen kuat untuk memajukan bangsa.
Warga Negara: Warga negara yang aktif, kritis, dan memiliki kesadaran akan hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka juga harus memiliki sikap toleransi, saling menghormati, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebangsaan.
Ilmuwan: Seorang ilmuwan yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik yang tinggi, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang tinggi, serta menjunjung tinggi etika dalam melakukan penelitian.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan memiliki pemimpin, warga negara, dan ilmuwan yang berkarakter Pancasilais, Indonesia diharapkan dapat menjadi negara yang maju, mandiri, dan bermartabat. Ilmu pengetahuan akan menjadi kekuatan pendorong utama dalam pembangunan nasional, yang mampu mengatasi berbagai tantangan global.

Tambahan Poin

Relevansi dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs): Pancasila sebagai paradigma ilmu sangat relevan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan yang dicanangkan oleh PBB. Kedua konsep ini sama-sama menekankan pentingnya pembangunan yang berkelanjutan, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan manusia.
Pentingnya Pendidikan Karakter: Pendidikan karakter yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila sejak dini sangat penting untuk membentuk generasi muda yang memiliki kepribadian yang kuat, bermoral, dan cinta tanah air.
Tantangan dan Peluang: Dalam era globalisasi, Indonesia menghadapi berbagai tantangan, seperti persaingan yang semakin ketat, perubahan iklim, dan disrupsi teknologi. Namun, di sisi lain, Indonesia juga memiliki banyak peluang, seperti sumber daya alam yang melimpah, potensi pasar yang besar, dan sumber daya manusia yang kreatif.

Kesimpulan
Pancasila sebagai paradigma ilmu bukan hanya sekedar slogan, tetapi merupakan suatu komitmen yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menjadikan Pancasila sebagai pedoman, Indonesia dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Pertanyaan untuk Diskusi:

Bagaimana cara kita mengintegrasikan nilai-nilai Pancasila ke dalam kurikulum pendidikan di semua jenjang?
Apa saja kendala yang dihadapi dalam upaya mewujudkan masyarakat yang berkarakter Pancasilais?
Bagaimana peran media dalam membentuk opini publik yang mendukung pengembangan ilmu yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila?
Nama : M.Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana
NPM : 2455061005
Kelas : PSTI-C

Pancasila sebagai landasan negara Indonesia berfungsi sebagai pedoman moral dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Setiap sila Pancasila mengandung nilai-nilai yang sangat relevan untuk memastikan bahwa IPTEK berkembang dengan cara yang etis, inklusif, dan memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat.

Sila pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa," menekankan pentingnya moralitas dan spiritualitas dalam pengembangan IPTEK. Ini mengingatkan para ilmuwan dan peneliti untuk mempertimbangkan dampak sosial dan lingkungan dari inovasi yang mereka ciptakan, serta mendorong penerapan teknologi yang berfokus pada kesejahteraan manusia dan lingkungan.

Sila kedua, "Kemanusiaan yang Adil dan Beradab," menuntut agar pengembangan IPTEK dilakukan untuk kepentingan seluruh umat manusia, bukan hanya untuk kelompok tertentu. Hasil dari inovasi harus memberikan dampak positif yang merata dan dapat diakses oleh semua lapisan masyarakat, sehingga tidak ada yang tertinggal dalam kemajuan teknologi.

Sila ketiga, "Persatuan Indonesia," menekankan pentingnya kolaborasi antar daerah dan lintas disiplin ilmu untuk menghasilkan inovasi yang mendukung persatuan bangsa dan mencerminkan keberagaman yang ada di Indonesia. Kerja sama ini diharapkan dapat memperkuat rasa kebersamaan dan saling menghargai di antara berbagai suku dan budaya.

Sila keempat, "Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan," mengarahkan agar pengambilan keputusan dalam pengembangan IPTEK dilakukan melalui dialog dan musyawarah yang melibatkan berbagai pihak. Dengan melibatkan masyarakat dalam proses ini, hasil inovasi diharapkan dapat memenuhi kebutuhan dan aspirasi masyarakat secara menyeluruh.

Sila kelima, "Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia," menegaskan bahwa pengembangan IPTEK harus menjamin akses yang adil bagi semua kalangan. Inovasi teknologi perlu dirancang agar manfaatnya dapat dinikmati secara merata oleh seluruh rakyat, sehingga tidak ada kesenjangan yang terjadi akibat kemajuan teknologi.

Dengan menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai dasar, pengembangan IPTEK di Indonesia tidak hanya bertujuan untuk mencapai kemajuan teknologi, tetapi juga untuk menciptakan kesejahteraan, keadilan, dan keberlanjutan yang inklusif bagi seluruh masyarakat. Selain itu, penerapan nilai-nilai Pancasila dalam IPTEK juga dapat mendorong inovasi yang berkelanjutan, yang tidak hanya memperhatikan keuntungan ekonomi, tetapi juga dampak sosial dan lingkungan, sehingga menciptakan masa depan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
Nama : M.Darunnadwah Al-Qushai Sutrawhana
NPM : 2455061005
Kelas : PSTI-C

Artikel jurnal berjudul "Urgensi Penegasan Pancasila sebagai Dasar Nilai Pengembangan IPTEK" yang ditulis oleh Ika Setyorini membahas pentingnya menjadikan Pancasila sebagai dasar nilai utama dalam pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menyoroti bahwa Pancasila tidak hanya berperan sebagai ideologi dasar negara, tetapi juga sebagai landasan moral yang mampu mengarahkan perkembangan IPTEK agar selaras dengan kebutuhan sosial, budaya, dan etika bangsa Indonesia.

Dalam kajiannya, Setyorini mengupas bagaimana nilai-nilai Pancasila seperti Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Keadilan Sosial, dan Persatuan Indonesia dapat berperan dalam menciptakan arah pengembangan teknologi yang bertanggung jawab dan berdampak positif bagi seluruh lapisan masyarakat. Dengan pendekatan kualitatif, penelitian ini menyoroti relevansi nilai-nilai Pancasila di tengah pesatnya perkembangan IPTEK global, serta tantangan yang dihadapi Indonesia dalam mengintegrasikan nilai-nilai tersebut dengan dinamika teknologi modern.

Penulis juga menjelaskan tiga jenis nilai dalam Pancasila yang menjadi dasar pengembangan kebijakan dan praktik, yaitu:
1. Nilai Dasar: Bersifat universal, menjadi landasan moral dan filosofi.
2. Nilai Instrumental: Penjabaran dari nilai dasar yang diwujudkan dalam bentuk peraturan dan kebijakan.
3. Nilai Praktis: Implementasi nilai instrumental dalam tindakan nyata sehari-hari.

Setyorini mengkritisi kurangnya pemahaman dan implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kebijakan serta praktik pengembangan IPTEK di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan serius yang membutuhkan perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Penulis menekankan pentingnya kesadaran kolektif agar nilai-nilai Pancasila dapat menjadi pedoman utama dalam setiap aspek pengembangan IPTEK, terutama untuk menjaga agar teknologi yang berkembang tetap memiliki landasan etika, kemanusiaan, dan keadilan.

Sebagai kesimpulan, jurnal ini menegaskan bahwa Pancasila harus dikuatkan kembali sebagai dasar pengembangan IPTEK. Dengan demikian, kemajuan teknologi di Indonesia tidak hanya menghasilkan inovasi canggih, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai luhur yang menjadi ciri khas bangsa, seperti kemanusiaan, keadilan, dan kesetaraan sosial.