Gilang Yudhistira
2413053136
1. Contoh Masalah Sosial Kontekstual:
Salah satu masalah sosial yang sering terjadi di lingkungan sekolah adalah Perpecahan antar kelompok siswa akibat perbedaan minat digital dan non-digital, karena ketidakseimbangan akses fasilitas teknologi dan perbedaan kenyamanan belajar memicu perpecahan karena kurangnya pemahaman dan komunikasi antar kelompok. Kemudian Siswa yang lebih menyukai media pembelajaran digital cenderung lebih tertarik dengan pembelajaran interaktif, penggunaan video, animasi, dan kuis online yang membuat belajar lebih menarik dan mudah diakses kapan saja. Disisi lain, Siswa non-digital lebih nyaman dengan metode pembelajaran konvensional, seperti buku cetak, ceramah guru, dan interaksi tatap muka langsung tanpa bergantung pada teknologi yang tidak merata aksesnya.
2. Solusi:
Kita bisa menjalankan kelas hybrid yang menggunakan media digital tapi juga menyediakan opsi belajar konvensional, selain itu, kita juga bisa membentuk kelompok belajar campuran yang terdiri dari siswa digital dan non-digital untuk meningkatkan interaksi sosial dan berbagi keterampilan, menyediakan pelatihan teknologi bagi siswa yang kurang familiar agar tidak terisolasi, dan memberikan kesempatan bagi siswa digital menggunakan teknologi untuk mendokumentasikan budaya dan kegiatan non-digital sebagai bentuk penghargaan lintas minat.
3. Dasar Teori yang Relevan:
a. Teori Fungsional (Durkheim): Sekolah sebagai sistem sosial harus berfungsi untuk mengintegrasikan semua elemen. Solusinya adalah menciptakan program pembelajaran yang menggabungkan metode digital dan konvensional secara bersamaan. Contohnya adalah pembelajaran hybrid yang menyeimbangkan penggunaan teknologi dan cara tradisional sehingga semua siswa dapat berpartisipasi dan merasa dihargai.
b. Teori Konstruktivisme Sosial: Interaksi sosial membentuk realitas sosial siswa. Guru dapat memfasilitasi proyek kolaboratif yang mengharuskan siswa digital dan non-digital bekerja bersama, seperti proyek presentasi yang menggabungkan media digital dan diskusi langsung. Hal ini membangun pemahaman, mengurangi kesalahpahaman, dan meningkatkan solidaritas.
c. Teori Konflik: Mengakui ketegangan yang disebabkan oleh ketimpangan akses teknologi. Solusinya adalah menyediakan akses teknologi yang merata di sekolah dan mengatasi kesenjangan dengan memberikan pelatihan serta dukungan khusus untuk siswa non-digital agar tidak kehilangan kesempatan belajar.