Nama : Aisyah Sathrani Meiva
NPM : 2416041018
Kelas : REG A
Prodi : Ilmu Adm. Negara
Izin menjawab pak, hingga beberapa waktu setelah undang-undang baru, etnis Tionghoa ini sering mengalami diskriminasi, penolakan, dan perjuangan untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, termasuk hak untuk berpolitik. Pada tahun 2015, pelantikan Basuki Tjahaja, juga dikenal sebagai Ahok, sebagai gubernur DKI Jakarta, membuka jalan bagi etnis Tionghoa untuk berpolitik.
Selama masa kepemimpinan Ahok, diharapkan pola kepemimpinan yang ideal, yaitu kepemimpinan yang tegas, cerdas, humanis, berpihak pada rakyat, dan mempertahankan nilai-nilai Indonesiaan. Namun, dalam praktiknya, Ahok dikritik karena terlalu keras, blak-blakan, dan otoriter, bahkan sampai menghujat bawahannya. Gaya seperti ini sangat berbeda dari yang diharapkan, menuai pro dan kontra.
Puncaknya terjadi ketika Ahok melakukan penistaan agama terhadap umat Islam pada tahun 2016. Jutaan orang menghujatnya dan melakukan demo. Untuk meredam kemarahan umat Islam, bahkan Presiden Jokowi harus memastikan bahwa berbagai kebijakan dan tindakan diambil. Meskipun Ahok menghadapi banyak tantangan pada saat itu, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Pemimpin memiliki sifat yang berbeda-beda, tetapi yang terbaik adalah yang tegas dan baik. Pemimpin harus berpikiran rasional dan bertanggung jawab untuk menanggung konsekuensi dari keputusan yang dibuat dan tindakan yang diambil.
Meskipun gaya kepemimpinan Ahok sangat dibutuhkan di Indonesia, ia mendapat tanggapan yang negatif dan berdampak buruk pada kemajuan demokrasi negara itu, yang berpusat pada toleransi dan kebersamaan.
NPM : 2416041018
Kelas : REG A
Prodi : Ilmu Adm. Negara
Izin menjawab pak, hingga beberapa waktu setelah undang-undang baru, etnis Tionghoa ini sering mengalami diskriminasi, penolakan, dan perjuangan untuk memperoleh hak-haknya sebagai warga negara, termasuk hak untuk berpolitik. Pada tahun 2015, pelantikan Basuki Tjahaja, juga dikenal sebagai Ahok, sebagai gubernur DKI Jakarta, membuka jalan bagi etnis Tionghoa untuk berpolitik.
Selama masa kepemimpinan Ahok, diharapkan pola kepemimpinan yang ideal, yaitu kepemimpinan yang tegas, cerdas, humanis, berpihak pada rakyat, dan mempertahankan nilai-nilai Indonesiaan. Namun, dalam praktiknya, Ahok dikritik karena terlalu keras, blak-blakan, dan otoriter, bahkan sampai menghujat bawahannya. Gaya seperti ini sangat berbeda dari yang diharapkan, menuai pro dan kontra.
Puncaknya terjadi ketika Ahok melakukan penistaan agama terhadap umat Islam pada tahun 2016. Jutaan orang menghujatnya dan melakukan demo. Untuk meredam kemarahan umat Islam, bahkan Presiden Jokowi harus memastikan bahwa berbagai kebijakan dan tindakan diambil. Meskipun Ahok menghadapi banyak tantangan pada saat itu, menjadi pemimpin bukanlah hal yang mudah. Pemimpin memiliki sifat yang berbeda-beda, tetapi yang terbaik adalah yang tegas dan baik. Pemimpin harus berpikiran rasional dan bertanggung jawab untuk menanggung konsekuensi dari keputusan yang dibuat dan tindakan yang diambil.
Meskipun gaya kepemimpinan Ahok sangat dibutuhkan di Indonesia, ia mendapat tanggapan yang negatif dan berdampak buruk pada kemajuan demokrasi negara itu, yang berpusat pada toleransi dan kebersamaan.