Npm : 2313031012
Menurut saya, prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dalam audit sangat penting karena kas merupakan aset yang paling mudah disalahgunakan atau terjadi kecurangan. Oleh sebab itu auditor harus memastikan bahwa saldo kas yang tercatat benar-benar ada, lengkap, dan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas biasanya dimulai dengan memahami sistem pengendalian internal perusahaan, misalnya bagaimana prosedur penerimaan dan pengeluaran kas dilakukan, siapa yang berwenang menyetujui transaksi, dan bagaimana pencatatan dilakukan. Setelah itu auditor melakukan pemeriksaan fisik kas kecil atau kas di tangan untuk memastikan jumlahnya sesuai dengan catatan perusahaan. Auditor juga melakukan konfirmasi ke bank mengenai saldo rekening perusahaan serta memeriksa rekonsiliasi bank agar diketahui apakah terdapat selisih antara catatan perusahaan dengan catatan bank.
Selain itu auditor biasanya memeriksa mutasi rekening koran, bukti penerimaan dan pengeluaran kas, cek, giro, serta transaksi transfer. Auditor juga melakukan pengujian cut off, yaitu memastikan transaksi dicatat pada periode yang benar agar tidak terjadi manipulasi laporan keuangan. Untuk setara kas seperti deposito jangka pendek atau investasi yang mudah dicairkan, auditor memeriksa dokumen pendukung dan memastikan aset tersebut memang memenuhi kriteria setara kas.
Dalam audit kas dan setara kas terdapat beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan. Pertama, risiko kecurangan karena kas sangat mudah dipindahkan atau diselewengkan. Kedua, efektivitas pengendalian internal perusahaan. Jika pengendalian internal lemah maka risiko salah saji akan semakin tinggi. Ketiga, auditor harus memperhatikan adanya transaksi tidak biasa seperti transfer dalam jumlah besar mendekati akhir periode atau saldo kas yang terlalu besar dibanding aktivitas perusahaan. Keempat, auditor juga perlu mempertimbangkan kemungkinan adanya pembatasan penggunaan kas, misalnya kas yang dijaminkan kepada pihak bank.
Menurut saya, pemeriksaan kas dan setara kas memiliki kaitan yang sangat erat dengan pemeriksaan piutang. Hal ini karena penerimaan kas perusahaan banyak berasal dari pelunasan piutang pelanggan. Jika terdapat kesalahan atau kecurangan pada piutang, maka saldo kas juga dapat terpengaruh. Auditor biasanya mencocokkan bukti penerimaan kas dengan data pelunasan piutang untuk memastikan tidak ada manipulasi.
Contoh empiris yang sering terjadi adalah praktik lapping, yaitu kecurangan ketika uang pembayaran dari pelanggan digunakan sementara untuk kepentingan pribadi lalu ditutupi menggunakan pembayaran dari pelanggan lain. Dalam kasus seperti ini, pemeriksaan kas dan piutang harus dilakukan secara bersamaan agar auditor dapat menemukan ketidaksesuaian antara tanggal pembayaran pelanggan dengan pencatatan penerimaan kas.
Contoh lainnya dapat dilihat pada beberapa kasus perusahaan besar yang memanipulasi saldo kas agar laporan keuangan terlihat baik di depan investor. Auditor harus lebih teliti memeriksa konfirmasi bank dan transaksi menjelang akhir tahun untuk memastikan tidak ada saldo kas fiktif.
Jadi dapat disimpulkan bahwa audit kas dan setara kas bertujuan untuk memastikan aset paling likuid perusahaan disajikan secara wajar dan aman. Pemeriksaan ini tidak dapat dipisahkan dari audit piutang karena keduanya saling berkaitan dalam proses penerimaan uang perusahaan.