Posts made by Suci Tri Wahyuni 2313031012

ASP A2025 -> Diskusi

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama : Suci Tri Wahyuni
Npm : 2313031012
Kelas : A

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM

Anggaran Tradisional (Line-Item Budgeting):
Paradigma ini menekankan pada input atau pos-pos pengeluaran yang rinci. Fokusnya adalah kepatuhan administratif, pengendalian penggunaan dana, serta transparansi terhadap jenis belanja (misalnya: gaji, ATK, perjalanan dinas). Kelemahannya, sistem ini kurang fleksibel dan tidak berorientasi pada kinerja. Hal ini sesuai dengan pendapat Mardiasmo (2009) bahwa anggaran tradisional cenderung hanya menekankan aspek kepatuhan, bukan hasil yang dicapai.

Anggaran Berbasis NPM (New Public Management):
Paradigma ini muncul sebagai kritik atas anggaran tradisional. Fokusnya bukan hanya pada input, tetapi juga output dan outcome. Prinsip NPM menekankan efisiensi, efektivitas, akuntabilitas, serta orientasi hasil (performance-based budgeting). Osborne & Gaebler (1992) menekankan bahwa sektor publik perlu “steering not rowing”, artinya pemerintah mengarahkan, mengontrol, sekaligus memberi ruang inovasi agar anggaran lebih produktif.

 Perbandingan:

Tradisional = fokus pada berapa uang digunakan.
NPM = fokus pada hasil apa yang diperoleh dari penggunaan uang tersebut.

2. Proses Implementasi ZBB (Zero-Based Budgeting) dalam Mengatasi Kesenjangan

Definisi ZBB:
Menurut Pyhrr (1970), ZBB adalah metode penganggaran yang mengharuskan setiap unit kerja memulai penyusunan anggaran dari nol setiap periode, bukan berdasarkan tahun sebelumnya. Setiap program harus dijustifikasi ulang berdasarkan prioritas dan kebutuhan nyata.

Proses Implementasi:

1. Identifikasi program/kegiatan → semua kegiatan disusun kembali dari nol, tidak otomatis didanai karena ada di tahun lalu.
2. Evaluasi & prioritas → setiap program dinilai manfaat, biaya, dan urgensinya.
3. Alokasi sumber daya → dana diberikan hanya pada program yang memiliki justifikasi paling kuat.
4. Monitoring & evaluasi → dilakukan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas.

Mengatasi Kesenjangan:

Pada anggaran tradisional, sering ada pemborosan karena alokasi mengikuti pola lama (incremental).

Pada NPM, ada tuntutan akuntabilitas dan kinerja, tetapi sering sulit menghapus program lama yang sudah “terlanjur ada”.

ZBB menjembatani keduanya dengan cara “reset” anggaran, sehingga hanya program yang benar-benar relevan dan produktif yang dibiayai. Ini membuat anggaran lebih transparan, efisien, dan berorientasi hasil.
Dengan ZBB, paradigma tradisional yang kaku dapat diatasi, sementara prinsip akuntabilitas NPM dapat diwujudkan lebih baik karena setiap rupiah harus dipertanggungjawabkan berdasarkan evaluasi rasional.

ASP A2025 -> Diskusi

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama : Suci Tri Wahyuni
Npm : 2313031012
Kelas : A

Sistem Manajemen Sektor Publik di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi telah membawa perubahan besar dalam tata kelola sektor publik. Jika sebelumnya manajemen sektor publik identik dengan proses birokrasi yang panjang, berbelit, dan cenderung lambat, maka di era digital terjadi pergeseran menuju sistem yang lebih transparan, efisien, dan akuntabel.

Pertama, digitalisasi mendorong lahirnya e-government, yaitu pemanfaatan teknologi digital oleh lembaga pemerintahan untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat. Contohnya adalah pelayanan administrasi kependudukan secara online, pembayaran pajak digital, dan pengaduan masyarakat melalui aplikasi. Hal ini membuat akses pelayanan publik lebih mudah, cepat, dan dapat menjangkau masyarakat luas tanpa dibatasi ruang dan waktu.

Kedua, sistem manajemen sektor publik di era digital juga menuntut adanya good governance. Teknologi digital memungkinkan pengawasan publik terhadap kinerja pemerintah melalui keterbukaan data (open data) dan pelaporan berbasis aplikasi. Dengan begitu, praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme dapat ditekan karena masyarakat dapat ikut serta mengawasi secara langsung.

Ketiga, digitalisasi menuntut peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) aparatur negara. Pegawai negeri dituntut untuk melek teknologi, mampu mengoperasikan sistem informasi, dan beradaptasi dengan perubahan yang cepat. Tanpa peningkatan kapasitas SDM, digitalisasi hanya akan menjadi formalitas tanpa memberikan dampak signifikan.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan, masih ada tantangan, seperti kesenjangan digital antar daerah, keterbatasan infrastruktur teknologi, serta masalah keamanan data. Pemerintah perlu memastikan perlindungan data masyarakat serta membangun infrastruktur teknologi yang merata agar transformasi digital dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Secara keseluruhan, sistem manajemen sektor publik di era digital adalah langkah maju menuju pemerintahan yang lebih modern, transparan, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat. Digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga menyangkut perubahan budaya birokrasi menuju pelayanan publik yang lebih baik.

MPPE A2025 -> Membuat summary e journal

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama : Suci Tri Wahyuni
NPM : 2313031012
Kelas : A

Jurnal dengan judul Understanding and Applying Research Paradigms in Educational Contexts yang ditulis oleh Charles Kivunja dan Ahmed Bawa Kuyini memberikan wawasan mendalam mengenai konsep paradigma penelitian dan pentingnya pemahaman paradigma dalam konteks penelitian pendidikan. Paradigma penelitian didefinisikan sebagai kerangka filosofis yang membentuk cara seorang peneliti memandang dunia, menginterpretasikan data, serta melakukan penelitian. Artikel ini menjelaskan empat elemen utama dalam paradigma penelitian: epistemologi (bagaimana pengetahuan diperoleh), ontologi (sifat realitas yang diteliti), metodologi (proses pengumpulan dan analisis data), dan aksiologi (nilai-nilai yang dipegang peneliti selama penelitian).

Pemahaman terhadap keempat elemen tersebut sangat penting, khususnya bagi mahasiswa riset tingkat lanjut yang sedang menyusun proposal penelitian. Peneliti perlu menempatkan penelitian mereka dalam paradigma tertentu karena pilihan paradigma akan memengaruhi seluruh pendekatan penelitian. Misalnya, paradigma positivis mengedepankan metode empiris dan objektif yang sering menggunakan pendekatan kuantitatif. Di sisi lain, paradigma interpretivis atau konstruktivis berfokus pada pemahaman makna dari pengalaman manusia melalui pendekatan kualitatif, yang mencoba memahami realitas sosial yang bersifat subyektif.

Jurnal ini juga menelusuri tentang evolusi historis dari paradigma-paradigma ini, serta perdebatan yang muncul di antara para peneliti terkait penggunaan dan definisi paradigma. Paradigma penelitian bukan hanya memengaruhi metode pengumpulan data, tetapi juga bagaimana peneliti menafsirkan hasil penelitian serta mengaitkannya dengan teori yang ada. Setiap paradigma membawa perspektif yang berbeda dalam memahami dunia dan menetapkan standar untuk pengujian kebenaran.

Pada bagian akhir, penulis mendorong para peneliti untuk memilih paradigma yang paling sesuai dengan tujuan dan konteks penelitian mereka. Pilihan paradigma akan sangat menentukan metodologi, teknik analisis, dan cara peneliti menarik kesimpulan dari data yang diperoleh. Dengan memilih paradigma yang tepat, peneliti dapat memastikan bahwa penelitian mereka terstruktur dengan baik, relevan, serta memberikan kontribusi yang bermakna bagi ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan. Jurnal ini menjadi panduan komprehensif untuk memahami bagaimana paradigma penelitian dapat diterapkan dalam penelitian pendidikan, sekaligus membantu peneliti menyusun desain penelitian yang efektif.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama : Suci Tri Wahyuni
Npm : 2313031012
Kelas : A

1. Identifikasi masalah penelitian

Masalah penelitian yang relevan:
“Penurunan jumlah mahasiswa baru pada sebuah universitas selama tiga tahun terakhir meskipun promosi besar-besaran sudah dilakukan.”

2. Dua variabel yang dapat dikaji

1. Kualitas promosi universitas
Jenis variabel: Independen (X)
Alasan: promosi menjadi faktor yang diasumsikan memengaruhi minat siswa untuk mendaftar.
2. Jumlah mahasiswa baru
Jenis variabel: Dependen (Y)
Alasan: jumlah mahasiswa baru adalah hasil yang dipengaruhi oleh faktor promosi, reputasi, biaya kuliah, dan faktor lain.
(Opsional tambahan: Persepsi calon mahasiswa tentang kualitas universitas → variabel intervening).

3. Paradigma penelitian yang tepat.
Paradigma: Positivisme
Alasan:
Masalahnya berkaitan dengan hubungan sebab-akibat (misalnya antara promosi, reputasi, biaya kuliah dengan jumlah mahasiswa baru).

Data yang dibutuhkan dapat diukur secara kuantitatif (jumlah mahasiswa baru, intensitas promosi, persepsi siswa dalam skala angket).
Cocok menggunakan pendekatan kuantitatif untuk menguji hipotesis.

4. Rumusan masalah & pertanyaan penelitian

Rumusan masalah:
Mengapa jumlah mahasiswa baru di universitas tersebut terus menurun dalam tiga tahun terakhir meskipun promosi besar-besaran telah dilakukan?

Pertanyaan penelitian:
Bagaimana pengaruh kualitas promosi universitas melalui media sosial, pameran pendidikan, dan kerja sama dengan sekolah menengah atas terhadap jumlah mahasiswa baru dalam tiga tahun terakhir?

MPPE A2025 -> Diskusi

by Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama : Suci Tri Wahyuni
NPM : 2313031012

Seorang peneliti perlu memahami masalah, variabel, dan paradigma penelitian karena ketiga aspek ini merupakan pondasi utama yang menentukan kualitas dan arah penelitian. Tanpa pemahaman yang mendalam mengenai ketiga elemen tersebut, penelitian dapat kehilangan fokus, menjadi tidak relevan, atau menghasilkan kesimpulan yang tidak valid.

1. Pemahaman Masalah

Masalah penelitian adalah titik awal dari seluruh proses penelitian. Memahami masalah dengan baik sangat penting karena masalah inilah yang akan membimbing peneliti dalam menentukan tujuan, merumuskan pertanyaan penelitian, dan akhirnya menemukan solusi atau jawaban. Sebuah masalah penelitian adalah kesenjangan antara harapan (apa yang seharusnya terjadi) dan kenyataan (apa yang terjadi saat ini). Jika seorang peneliti tidak memiliki pemahaman yang jelas tentang masalah yang ingin diselesaikan, penelitiannya tidak akan terarah dan mungkin tidak akan memberikan kontribusi yang signifikan. Pemahaman yang jelas terhadap masalah juga membantu dalam menyusun kerangka teoritis yang kuat, yang akan mendukung keseluruhan proses penelitian, mulai dari pengumpulan data hingga analisis. Selain itu, masalah yang jelas dan relevan memastikan bahwa penelitian yang dilakukan memiliki dampak nyata dan bisa memberikan manfaat baik dari segi teoretis maupun praktis.

2. Pemahaman Variabel

Variabel adalah komponen kunci dalam penelitian yang menentukan apa yang akan diukur atau dianalisis. Dalam konteks penelitian kuantitatif, variabel dibagi menjadi variabel independen (yang mempengaruhi) dan variabel dependen (yang dipengaruhi). Memahami variabel sangat penting karena ini memengaruhi desain penelitian, teknik pengumpulan data, dan metode analisis yang digunakan. Sebuah penelitian yang tidak memiliki definisi variabel yang jelas akan sulit untuk diuji dan dikonfirmasi hasilnya. Dengan memahami variabel, peneliti dapat memastikan bahwa hipotesis yang dibuat dapat diuji dengan baik dan bahwa data yang dikumpulkan akan mendukung analisis yang tepat. Selain itu, variabel juga memungkinkan peneliti untuk mengendalikan dan meminimalkan faktor-faktor luar yang bisa memengaruhi hasil penelitian. Tanpa pemahaman tentang variabel, penelitian mungkin akan menghasilkan temuan yang bias atau tidak akurat.

3. Pemahaman Paradigma Penelitian

Paradigma penelitian adalah kerangka filosofis atau sudut pandang yang mendasari cara peneliti melihat dunia dan proses penelitian itu sendiri. Setiap penelitian berlandaskan pada paradigma tertentu, apakah itu paradigma positivisme, interpretivisme, atau paradigma lain yang berfokus pada perspektif yang berbeda mengenai realitas dan kebenaran ilmiah. Paradigma yang dipilih akan mempengaruhi pendekatan yang digunakan oleh peneliti, termasuk dalam metode pengumpulan data, analisis, dan interpretasi hasil. Sebagai contoh, dalam paradigma positivisme, peneliti cenderung menggunakan pendekatan kuantitatif untuk mencari hubungan sebab-akibat antara variabel. Sementara itu, dalam paradigma interpretivisme, peneliti lebih berfokus pada memahami makna dan konteks sosial dari fenomena yang diteliti, menggunakan pendekatan kualitatif. Oleh karena itu, memahami paradigma penelitian membantu peneliti memilih pendekatan yang paling sesuai dengan tujuan penelitiannya dan memastikan bahwa metodologi yang digunakan konsisten dengan kerangka filosofis yang dipegang.

Maka dari itu, memahami masalah, variabel, dan paradigma penelitian adalah langkah penting yang tidak boleh diabaikan oleh peneliti. Ketiganya berfungsi sebagai panduan yang akan menentukan bagaimana penelitian dirancang, bagaimana data dikumpulkan dan dianalisis, serta bagaimana hasil penelitian diinterpretasi. Masalah penelitian memberikan fokus dan arah yang jelas, variabel menentukan apa yang diukur dan bagaimana hubungan antar elemen diteliti, sementara paradigma memberikan landasan filosofis yang memengaruhi pendekatan keseluruhan penelitian. Dengan pemahaman yang mendalam tentang ketiga elemen ini, peneliti dapat menghasilkan penelitian yang valid, relevan, dan memiliki kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pemecahan masalah praktis di masyarakat.

Sumber Rujukan:

Manzilati, A. 2017. Metodologi penelitian kualitatif: Paradigma, metode, dan aplikasi. Universitas Brawijaya Press.

Ridha, N. 2017. Proses penelitian, masalah, variabel dan paradigma penelitian. Hikmah. 14 (1): 62-70.