གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Syifa Hesti Pratiwi

ASP A2025 -> Diskusi

Syifa Hesti Pratiwi གིས-
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

1. Paradigma Anggaran Tradisional dan Anggaran Berbasis NPM
Paradigma anggaran tradisional berorientasi pada input dan kepatuhan terhadap aturan, di mana keberhasilan anggaran diukur dari seberapa besar dana terserap, bukan dari hasil atau kinerja yang dicapai. Sistem ini bersifat birokratis dan kurang fleksibel sehingga sering menimbulkan inefisiensi dalam penggunaan dana publik. Sebaliknya, anggaran berbasis NPM menekankan pada efisiensi, efektivitas, dan hasil. Pendekatan ini mendorong pemerintah untuk bekerja lebih profesional, transparan, serta akuntabel, dengan menilai anggaran berdasarkan kinerja dan dampak yang dihasilkan bagi masyarakat.

2. Implementasi Zero-Based Budgeting (ZBB) dalam Mengatasi Kesenjangan
Zero-Based Budgeting (ZBB) diterapkan untuk mengatasi kelemahan anggaran tradisional dengan cara memulai proses penganggaran dari nol setiap periode. Artinya, setiap program harus dijustifikasi kembali dan dibuktikan manfaatnya sebelum disetujui. Dengan sistem ini, pemerintah dapat menyeleksi program yang benar-benar prioritas dan efisien, sekaligus mendukung prinsip NPM yang menitikberatkan pada kinerja dan hasil. ZBB membantu memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan manfaat nyata bagi publik serta mendorong pengelolaan keuangan yang lebih efektif dan transparan.

ASP A2025 -> Diskusi

Syifa Hesti Pratiwi གིས-
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Sistem manajemen sektor publik di era digital mengalami transformasi besar-besaran seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Digitalisasi memungkinkan pemerintah untuk mengelola sumber daya publik secara lebih efisien, transparan, dan akuntabel. Dalam konteks ini, sistem manajemen sektor publik tidak lagi hanya mengandalkan cara manual, tetapi sudah menggunakan platform digital seperti e-government, e-budgeting, e-procurement, dan e-audit. Melalui sistem ini, proses administrasi menjadi lebih cepat, data lebih mudah diakses, dan peluang terjadinya penyimpangan anggaran dapat diminimalkan.

Selain efisiensi, era digital juga mendorong partisipasi publik yang lebih luas. Masyarakat kini dapat mengawasi kinerja pemerintah melalui portal informasi publik, media sosial, dan aplikasi layanan digital. Transparansi ini memperkuat akuntabilitas pemerintah serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga publik. Namun, digitalisasi juga menimbulkan tantangan baru seperti keamanan data, kesenjangan digital, dan kapasitas SDM yang belum merata di seluruh daerah.

Untuk itu, pemerintah perlu terus memperkuat infrastruktur teknologi, literasi digital aparatur, serta regulasi keamanan siber agar sistem manajemen publik berbasis digital dapat berjalan optimal. Dengan pengelolaan yang tepat, digitalisasi sektor publik tidak hanya mempercepat pelayanan, tetapi juga menjadi fondasi utama dalam mewujudkan pemerintahan yang efektif, inovatif, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

MPPE A2025 -> Menulis Summary e-journal

Syifa Hesti Pratiwi གིས-
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Jurnal ini membahas secara mendalam perbedaan antara teori, kerangka teoretis, dan kerangka konseptual, yang sering kali membingungkan mahasiswa pascasarjana maupun peneliti pemula. Kivunja menegaskan bahwa pemahaman yang jelas tentang ketiga konsep tersebut sangat penting dalam menyusun proposal penelitian maupun disertasi, karena kesalahan dalam menggunakannya dapat mengaburkan arah dan makna penelitian.

Penulis menjelaskan bahwa teori merupakan seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang saling berhubungan untuk menjelaskan atau memprediksi fenomena tertentu. Teori dibangun melalui proses penelitian yang panjang dan berdasarkan data empiris yang telah diuji. Fungsi utama teori adalah memberikan pandangan sistematis terhadap hubungan antarvariabel serta membantu peneliti memahami dan memprediksi fenomena sosial atau pendidikan.

Selanjutnya, kerangka teoretis (theoretical framework) dijelaskan sebagai struktur yang dibangun dari teori-teori yang sudah ada dan relevan dengan topik penelitian. Kerangka ini berfungsi sebagai landasan dalam menganalisis data dan menafsirkan hasil penelitian. Dengan kata lain, kerangka teoretis menjadi “gantungannya” bagi seluruh proses analisis agar temuan penelitian memiliki dasar ilmiah yang kuat. Kivunja menggambarkan kerangka teoretis sebagai “coat hanger” atau gantungan yang menyatukan berbagai elemen data ke dalam satu kesatuan makna.

Sementara itu, kerangka konseptual (conceptual framework) memiliki cakupan yang lebih luas karena mencakup seluruh rencana berpikir peneliti sejak pemilihan topik, perumusan masalah, pemilihan metode, hingga pelaporan hasil penelitian. Kerangka konseptual menggambarkan keseluruhan rancangan dan arah penelitian yang dipengaruhi oleh pandangan dan pemikiran peneliti sendiri. Dalam analoginya, Kivunja menyebut kerangka konseptual sebagai “rumah”, sedangkan kerangka teoretis hanyalah salah satu “ruangan” di dalamnya.

Kesimpulan utama dari artikel ini adalah bahwa setiap penelitian harus memiliki kerangka teoretis sebagai dasar untuk analisis dan interpretasi data, sedangkan kerangka konseptual bersifat lebih luas dan mencakup seluruh pemikiran peneliti tentang proyek risetnya. Pemahaman yang benar tentang ketiganya membantu peneliti menghasilkan penelitian yang sistematis, logis, dan bermakna bagi pengembangan ilmu pengetahuan.

MPPE A2025 -> Diskusi

Syifa Hesti Pratiwi གིས-
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Teori adalah dasar ilmiah yang menjelaskan hubungan antar fenomena atau variabel dalam penelitian. Kerangka pikir merupakan alur logis yang menggambarkan bagaimana teori diterapkan untuk menjelaskan hubungan antar variabel yang diteliti. Sementara hipotesis adalah dugaan sementara yang disusun berdasarkan kerangka pikir dan akan diuji kebenarannya melalui data. Ketiganya saling berhubungan: teori menjadi landasan, kerangka pikir menjabarkan teori ke dalam hubungan variabel, dan hipotesis menjadi hasil akhir dari pemikiran tersebut yang dapat diuji secara empiris.

MPPE A2025 -> Membuat summary e journal

Syifa Hesti Pratiwi གིས-
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

Penelitian ini merupakan studi action research yang bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana calon guru bahasa Inggris membangun dan mengembangkan identitas profesional mereka selama masa pelatihan mengajar. Fokus utama penelitian ini adalah untuk memahami persepsi, pengalaman, dan proses reflektif para mahasiswa calon guru terhadap peran mereka sebagai pendidik profesional. Penelitian dilakukan terhadap sekelompok mahasiswa pendidikan bahasa Inggris di Turki yang sedang menjalani program microteaching dan praktik mengajar di sekolah.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pembentukan identitas profesional calon guru tidak bersifat statis, melainkan dinamis dan terus berkembang seiring pengalaman praktik mengajar. Selama pelatihan, para calon guru mengalami perubahan cara pandang terhadap profesi mengajar, dari sekadar melihatnya sebagai pekerjaan menjadi melihatnya sebagai peran sosial yang bermakna. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap perkembangan identitas ini meliputi interaksi dengan mentor, umpan balik dari rekan sejawat, pengalaman langsung di kelas, serta proses refleksi diri. Melalui refleksi terhadap pengalaman mereka, para calon guru mulai memahami nilai-nilai profesionalisme, tanggung jawab sosial, dan peran etis seorang pendidik.

Penelitian ini juga menemukan bahwa calon guru menghadapi berbagai tantangan dalam membangun identitas profesional, seperti rasa kurang percaya diri, kecemasan saat mengajar, serta kesulitan menyeimbangkan teori dengan praktik. Namun, kegiatan reflektif seperti menulis jurnal dan diskusi kelompok terbukti membantu mereka dalam mengenali kekuatan dan kelemahan diri. Selain itu, kolaborasi dengan dosen pembimbing dan rekan sejawat menciptakan lingkungan belajar yang mendukung pertumbuhan profesional.

Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa pembentukan identitas profesional guru merupakan proses berkelanjutan yang sangat dipengaruhi oleh pengalaman reflektif dan konteks sosial tempat mereka belajar. Pengembangan kesadaran diri dan refleksi kritis menjadi kunci dalam membantu calon guru memahami siapa mereka sebagai pendidik dan bagaimana mereka ingin berkontribusi dalam dunia pendidikan. Peneliti merekomendasikan agar program pendidikan guru lebih banyak menekankan pada praktik reflektif dan pengalaman lapangan yang nyata untuk memperkuat identitas profesional calon guru bahasa Inggris.