Posts made by IRFAN A SUKI

MPPE A2025 -> Diskusi

by IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Nmp : 2313031013


Seorang peneliti perlu memilih teknik pengumpulan data yang tepat karena cara pengumpulan data akan menentukan mutu informasi yang diperoleh. Teknik yang sesuai akan menghasilkan data yang akurat, valid, dan dapat dipercaya, sekaligus membuat proses penelitian lebih efisien. Sebaliknya, teknik yang tidak cocok dapat menimbulkan bias dan membuat data tidak mampu menggambarkan kondisi sebenarnya.

Teknik pengumpulan data juga memiliki hubungan langsung dengan masalah dan tujuan penelitian. Rumusan masalah menentukan jenis data apa yang dibutuhkan, dan tujuan penelitian mengarahkan bagaimana data tersebut harus dikumpulkan. Dengan kata lain, teknik yang dipilih harus mampu menyediakan data yang relevan untuk menjawab masalah penelitian dan mencapai tujuan yang telah dirumuskan.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

by IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

1. Jenis Skala Pengukuran Setiap Item

Usia responden → Rasio
Karena berupa angka dengan jarak yang sama dan memiliki nol absolut.

Jenis kelamin → Nominal
Hanya membedakan kategori tanpa menunjukkan urutan.

Kepuasan terhadap layanan dosen pembimbing → Ordinal
Menunjukkan tingkat kepuasan yang berurutan, tetapi perbedaan antar tingkat tidak pasti sama.

Jumlah mata kuliah yang diambil → Rasio
Termasuk data numerik yang dapat dihitung dan memiliki nol mutlak.

MPPE A2025 -> Diskusi

by IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

1. Skala Pengukuran dalam Penelitian
Skala pengukuran adalah cara menentukan jenis data penelitian. Ada empat skala:

Nominal — hanya membedakan kategori
Contoh: jenis kelamin, nama kota, status hybrid (ya/tidak)

Ordinal — membedakan sekaligus mengurutkan
Contoh: tingkat kesiapan digital (rendah–tinggi)

Interval — ada urutan dan jarak sama, tetapi tanpa nol mutlak
Contoh: skor angket Likert (1–5)

Rasio — lengkap: urutan, jarak sama, dan nol mutlak
Contoh: nilai ujian (0–100), jumlah siswa, frekuensi hybrid

2. Contoh Rancangan Data dan Skala Pengukuran (Singkat)

- Efektivitas pembelajaran hybrid → angket Likert → Interval

- Frekuensi penggunaan hybrid → jumlah per minggu → Rasio

- Kesiapan digital sekolah → kategori (rendah–tinggi) → Ordinal

- Hasil belajar matematika siswa → nilai 0–100 → Rasio

- Lokasi sekolah → kota/kabupaten → Nominal

MPPE A2025 -> CASE STUDY

by IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A SUki
Npm : 2313031013


1. Populasi dan Sampel

a. Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI di SMA Negeri yang ada di Provinsi Jawa Barat.
Alasannya, peneliti ingin menilai seberapa efektif metode pembelajaran hybrid terhadap hasil belajar siswa, sehingga seluruh siswa kelas XI menjadi kelompok yang ingin digeneralisasikan.

b. Sampel
Sampel adalah sebagian sekolah atau siswa kelas XI yang dipilih dari 600 SMA Negeri tersebut. Sekolah-sekolah dan siswa yang terpilih inilah yang nantinya menjadi sumber data utama penelitian.

2. Teknik Sampling yang Paling Tepat

Teknik yang paling sesuai adalah Stratified Multistage Sampling.

Alasan:
- Setiap daerah memiliki karakteristik berbeda (akses internet, sosial-ekonomi, kesiapan digital), sehingga perlu dilakukan stratifikasi agar semua jenis wilayah terwakili.

- Jumlah SMA sangat banyak dan tersebar, sehingga multistage sampling membantu memilih sampel secara bertahap, lebih efisien, dan tetap representatif.

Cara Menerapkan:

1. Bagi wilayah Jawa Barat menjadi beberapa strata, misalnya kota besar, kota sedang, dan kabupaten dengan fasilitas digital rendah.

2. Pilih beberapa kota/kabupaten secara acak dari tiap strata.

3. Pilih SMA negeri secara acak dari wilayah yang terpilih.

4. Ambil siswa kelas XI secara acak dari sekolah-sekolah tersebut.

Pendekatan ini membuat sampel mencerminkan keberagaman kondisi sekolah di seluruh provinsi.

3. Kelemahan Jika Sampel Hanya Diambil dari Kota Besar (Bandung dan Bekasi)

Jika sampel hanya berasal dari kota besar, muncul beberapa masalah:

1. Sampel tidak mewakili seluruh Jawa Barat, karena kota besar memiliki fasilitas dan kondisi yang jauh lebih baik dibanding kabupaten.

2. Hasil penelitian menjadi bias dan cenderung terlalu positif terhadap pembelajaran hybrid.

3. Validitas eksternal menurun, sehingga temuan tidak dapat digeneralisasi ke sekolah-sekolah di daerah lain yang kondisinya jauh berbeda.

4. Penelitian tidak menggambarkan realita hybrid learning di wilayah dengan infrastruktur terbatas.