Posts made by Sela Ayu Irawati

Nama: Sela Ayu Irawati
Npm:2313031015

Book Report dan Jurnal tentang Populasi dan Sampel.
Dalam buku metode penelitian pendidikan pendekatan kuantitatif, kualitatif dan R&D Prof. Dr. Sugiyono. Penerbit Alfabeta Bandung

1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga obyek dan benda-benda alam yang lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akak dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

Terkait penjelasan mengenai sampel dan populasi kemudian berkaitan dengan artikel yang telah dibaca,berikut adalah analisisnya :
1. Populasi
Populasi merupakan keseluruhan dari kumpulan elemen yang memiliki sejumlah karakteristik umum, yang terdiri dari bidang-bidang untuk di teliti. Atau, populasi adalah keseluruhan kelompok dari orang-orang, peristiwa atau barang-barang yang diminati oleh peneliti untuk diteliti (Malhotra : 1996). Dengan demikian, populasi merupakan seluruh kumpulan elemen yang dapat digunakan untuk membuat beberapa kesimpulan.
2. Sampel
Sampel merupakan suatu sub kelompok dari populasi yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian. Kesalahan umum yang sering dijumpai dalam menentukan besarnya jumlah sampel adalah sebagai berikut:

Peneliti gagal dalam menetapkan jumlah anggota populasi yang dapat dipercaya.
Peneliti menggunakan anggota sampel yang terlalu kecil untuk setiap subgroupnya,sehingga analisis statistika parameter tidak berlaku, padahal populasi sebenarnya cukup besar.
Peneliti tidak menggunakan teknik sampling stratified yang disyaratkan untuk menentukan anggota sampel subgroupnya..
Peneliti merubah prosedur teknik samplingnya.
Peneliti merubah rumus untuk menghitung besarnya anggota sampel.
Peneliti memilih anggota sampel yang tidak sesuai dengan tujuan penelitian.eneliti mengurangi anggota sampel yang telah ditentukan oleh perhitungannya.
Peneliti memilih group eksperimen dan group kelompok dari populasi yang berbeda.
Peneliti tidak memberikan alasan-alasan mengapa rumus dan teknik sampling yang digunakan di dalam penelitian itu.
Sumber:

https://www.academia.edu/download/60195765/POPULASI_DAN_SAMPEL20190803-83073-1cfv4dd.pdf

MPPE A2025 -> CASE STUDY 2

by Sela Ayu Irawati -
Nama:Sela Ayu Irawati
Npm:2313031015

1.Teori yang Bisa Digunakan untuk Landasan Teori
-Teori Gaya Kepemimpinan: Fokus pada berbagai tipe gaya kepemimpinan seperti otoriter, demokratis, transformasional, dan teori kontingensi yang menyatakan efektivitas gaya kepemimpinan bergantung pada situasi.
-Teori Perilaku Kepemimpinan: Menekankan bahwa kepemimpinan adalah pola perilaku yang dapat dipelajari dan dikembangkan untuk meningkatkan efektivitas (kemampuan teknis, manusiawi, konseptual).
-Teori Kinerja: Mengacu pada pengukuran hasil kerja karyawan, termasuk kuantitas dan kualitas pekerjaan sesuai standar perusahaan (Campbell, Sutrisno).
-Teori Motivasi Kerja: Menjelaskan bagaimana gaya kepemimpinan dapat memengaruhi motivasi yang pada akhirnya berdampak pada kinerja karyawan.

2.Kerangka Pikir yang Menunjukkan Hubungan antar Variabel
-Variabel independen: Gaya kepemimpinan (termasuk gaya otoriter, demokratis, transformasional, dan kontingensi).
-Variabel mediasi/moderator: Motivasi kerja karyawan.
-Variabel dependen: Kinerja karyawan (kuantitas, kualitas, target pencapaian).
-Hubungan logis: Gaya kepemimpinan memengaruhi motivasi kerja, yang selanjutnya berdampak pada kinerja karyawan. Gaya kepemimpinan juga dapat langsung berpengaruh pada kinerja.
Struktur ini dapat digambarkan sebagai:
Gaya Kepemimpinan → Motivasi Kerja → Kinerja Karyawan
Dan
Gaya Kepemimpinan → Kinerja Karyawan

3. Hipotesis yang Dapat Diuji
H1: Gaya kepemimpinan berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan.
H2: Gaya kepemimpinan berpengaruh positif terhadap motivasi kerja karyawan.
H3: Motivasi kerja berpengaruh positif signifikan terhadap kinerja karyawan.
H4: Motivasi kerja memediasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja karyawan.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

by Sela Ayu Irawati -
Nama : Sela Ayu Irawati
Npm: 2313031015

1. Landasan Teori yang Relevan
-Teori Pembelajaran Daring (Online Learning Theory): Menjelaskan mekanisme, kelebihan, dan tantangan pembelajaran yang dilakukan secara daring. Contohnya teori dari Dabbagh dan Ritland (2015), Moore, Dickson-Diane, dan Galyen (2011).
-Teori Motivasi Belajar: Menerangkan faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar siswa, seperti teori Self-Determination oleh Deci & Ryan, Teori Harapan (Expectancy -Theory) oleh Vroom, dan teori perilaku (Behavioristik) oleh Skinner.
Teori Efektivitas Media Pembelajaran: Menjelaskan peran media pembelajaran seperti teknologi dan media sosial dalam mendukung proses belajar dan interaksi guru-siswa.

2. Kerangka Pikir (Framework)
-Variabel independen: Sistem pembelajaran daring (dengan variabel indikator seperti frekuensi penggunaan, kualitas interaksi, media yang digunakan)
-Variabel dependen: Hasil belajar siswa
-Faktor pendukung/moderator: Motivasi belajar siswa, dukungan teknologi, kesiapan guru dan siswa

3.H1: Pembelajaran daring berpengaruh positif terhadap hasil belajar mahasiswa di masa pascapandemi COVID-19.
H2 (opsional): Motivasi belajar memediasi pengaruh pembelajaran daring terhadap hasil belajar.

ASP A2025 -> Diskusi

by Sela Ayu Irawati -
Nama :Sela Ayu Irawati
Npm: 2313031015

Dalam menetapkan harga pelayanan publik, ada 2 metode yang dapat digunakan. Metode tersebut adalah Full cost recovery dan Marginal cost pricing.
1. Full cost recovery menyatakan bahwa beban (charge) dihitung sebesar total biaya untuk menyediakan pelayanan tersebut. Namun, untuk menghitung biaya total Charging For Service tersebut terdapat beberapa kesulitan.
a) Tidak diketahui secara tepat berapa biaya total (full cost) untuk menyediakan suatu pelayanan.
b) Sangat sulit mengukur jumlah yang dikonsumsi.
c) Pembebanan Charging For Service tidak memperhitungkan kemampuan masyarakat untuk membayar.
d) Biaya Charging For Service yang harus diperhitungkan, apakah hanya biaya operasi langsung (current operation cost), atau perlu juga diperhitungkan biaya modal (capital cost).
Itu sebabnya ahli ekonomi umumnya menganjurkan untuk menggunakan marginal cost pricing.

2. Sementara itu, marginal cost pricing artinya tarif yang dipungut sama dengan biaya untuk melayani konsumen ditambah margin yang diharapkan. Harga tersebut adalah harga yang juga berlaku dalam pasar persaingan untuk pelayanan tersebut. Marginal cost pricing ini mengacu pada harga pasar yang paling efisien karena pada tingkat harga tersebut (ceteris paribus) akan memaksimalkan manfaat ekonomi dan penggunaan sumber daya yang terbaik. Masyarakat akan memperoleh peningkatan output dari barang atau jasa sampai titik di mana marginal cost sama dengan harga.
Jika menggunakan metode Marginal cost pricing, paling tidak ada 4 hal yang harus diperhitungkan:
a( Biaya operasi variabel (variable operating cost).
b) Semi variable overhead cost seperti biaya modal atas aktiva yg digunakan untuk memberikan pelayanan.
c) Biaya penggantian atas aset modal yang digunakan dalam penyediaan pelayanan.
d) Biaya penambahan aset modal yang digunakan untuk memenuhi tambahan permintaan.

Selain metode di atas, ada beberapa alternatif dalam menentukan harga barang publik, yaitu:
1) Two-part tariffs: fixed charge untuk menutupi biaya overhead dan variabel charge yang didasarkan atas besarnya konsumsi.
2) Peakload tariffs: pelayanan publik dipungut berdasarkan tarif tertinggi.
3) Diskriminasi harga: salah satu cara untuk mengakomodasikan pertimbangan keadilan (equity) melalui kebijakan penetapan harga.
4) Pertimbangan Distribusional: Penetapan biaya Charging For Service tergantung pada pemakai fasilitas dan sumber penggunaan pendapatan untuk menutupi defisit. Dan yang terpenting, berapa pun harga Charging For Service yang dibebankan kepada masyarakat, harus merujuk standar yang dibuat oleh organisasi sektor publik yang menekankan konsep Value for money.