Nama : Desmala Az Zahra ]
NPM : 2313031002
1. Teknik pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) dengan skala Likert sepenuhnya sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif bertujuan mengukur variabel secara objektif, memungkinkan analisis statistik terhadap data numerik yang diperoleh dari banyak responden. Angket terstruktur memberikan data yang dapat dikodekan menjadi angka dan diproses secara statistik, sehingga mendukung generalisasi hasil penelitian bila sampel mencukupi dan representatif.
2. Kelebihan:
- Efisien untuk mengumpulkan data dari banyak responden dalam waktu singkat.
- Dapat membandingkan respon antar berbagai kelompok (misal: berdasarkan tingkat pendidikan).
- Hasilnya mudah dianalisis secara statistik dan obyektif.
Kelemahan:
- Ketergantungan pada interpretasi responden, berpotensi pada kesalahan pengisian atau kesalahpahaman makna pernyataan.
- Tidak dapat menggali informasi mendalam seperti motivasi atau alasan di balik jawaban.
- Risiko jawaban tidak jujur karena bias sosial atau ingin terlihat baik.
3. - Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja:
Regresi linier sederhana atau korelasi Pearson sangat tepat, karena pengaruh dua variabel numerik (gaya kepemimpinan sebagai variabel prediktor dan motivasi kerja sebagai variabel terikat) dapat diukur secara statistik.
Jika ingin mengetahui kontribusi lebih dari satu gaya kepemimpinan (misal, transformasional vs transaksional), gunakan regresi linier berganda.
- Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru:
Analisis varians (ANOVA satu arah) adalah pilihan yang sesuai, karena ingin melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata motivasi kerja antar kelompok tingkat pendidikan guru.
Jika hanya dua kelompok (misal sarjana vs pascasarjana), uji t independen bisa digunakan.
Alasannya: Teknik-teknik di atas memungkinkan pengujian statistik hubungan dan perbedaan antar variabel dengan tingkat signifikansi yang jelas sesuai prinsip kuantitatif.
4. Potensi bias/masalah:
- Bias sosial (social desirability bias): Guru cenderung memilih jawaban yang dinilai positif atau diharapkan sekolah.
- Bias pengambilan sampel: Jika 120 responden tidak mewakili populasi guru di seluruh SMA negeri kota X, hasilnya sulit digeneralisasi.
- Masalah validitas konstruk: Pernyataan-pernyataan dalam angket mungkin tidak sepenuhnya mewakili konsep “gaya kepemimpinan” atau “motivasi kerja” yang dimaksud ilmuwan.
- Masalah reliabilitas: Skala Likert rentan terhadap jawaban tengah ("netral") tanpa pencerminan sikap sebenarnya.
Cara mengatasinya:
- Anonimkan angket atau jamin kerahasiaan agar responden merasa bebas menjawab.
- Pastikan uji validitas dan reliabilitas angket sebelum digunakan, misal dengan uji validitas isi bersama ahli, serta uji reliabilitas (Cronbach Alpha).
- Gunakan teknik random sampling untuk pemilihan guru agar sampel representatif.
- Sertakan instruksi jelas dan, jika mungkin, lakukan pilot test ke sebagian kecil responden sebelum survei utama.
NPM : 2313031002
1. Teknik pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) dengan skala Likert sepenuhnya sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif bertujuan mengukur variabel secara objektif, memungkinkan analisis statistik terhadap data numerik yang diperoleh dari banyak responden. Angket terstruktur memberikan data yang dapat dikodekan menjadi angka dan diproses secara statistik, sehingga mendukung generalisasi hasil penelitian bila sampel mencukupi dan representatif.
2. Kelebihan:
- Efisien untuk mengumpulkan data dari banyak responden dalam waktu singkat.
- Dapat membandingkan respon antar berbagai kelompok (misal: berdasarkan tingkat pendidikan).
- Hasilnya mudah dianalisis secara statistik dan obyektif.
Kelemahan:
- Ketergantungan pada interpretasi responden, berpotensi pada kesalahan pengisian atau kesalahpahaman makna pernyataan.
- Tidak dapat menggali informasi mendalam seperti motivasi atau alasan di balik jawaban.
- Risiko jawaban tidak jujur karena bias sosial atau ingin terlihat baik.
3. - Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja:
Regresi linier sederhana atau korelasi Pearson sangat tepat, karena pengaruh dua variabel numerik (gaya kepemimpinan sebagai variabel prediktor dan motivasi kerja sebagai variabel terikat) dapat diukur secara statistik.
Jika ingin mengetahui kontribusi lebih dari satu gaya kepemimpinan (misal, transformasional vs transaksional), gunakan regresi linier berganda.
- Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru:
Analisis varians (ANOVA satu arah) adalah pilihan yang sesuai, karena ingin melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata motivasi kerja antar kelompok tingkat pendidikan guru.
Jika hanya dua kelompok (misal sarjana vs pascasarjana), uji t independen bisa digunakan.
Alasannya: Teknik-teknik di atas memungkinkan pengujian statistik hubungan dan perbedaan antar variabel dengan tingkat signifikansi yang jelas sesuai prinsip kuantitatif.
4. Potensi bias/masalah:
- Bias sosial (social desirability bias): Guru cenderung memilih jawaban yang dinilai positif atau diharapkan sekolah.
- Bias pengambilan sampel: Jika 120 responden tidak mewakili populasi guru di seluruh SMA negeri kota X, hasilnya sulit digeneralisasi.
- Masalah validitas konstruk: Pernyataan-pernyataan dalam angket mungkin tidak sepenuhnya mewakili konsep “gaya kepemimpinan” atau “motivasi kerja” yang dimaksud ilmuwan.
- Masalah reliabilitas: Skala Likert rentan terhadap jawaban tengah ("netral") tanpa pencerminan sikap sebenarnya.
Cara mengatasinya:
- Anonimkan angket atau jamin kerahasiaan agar responden merasa bebas menjawab.
- Pastikan uji validitas dan reliabilitas angket sebelum digunakan, misal dengan uji validitas isi bersama ahli, serta uji reliabilitas (Cronbach Alpha).
- Gunakan teknik random sampling untuk pemilihan guru agar sampel representatif.
- Sertakan instruksi jelas dan, jika mungkin, lakukan pilot test ke sebagian kecil responden sebelum survei utama.