Posts made by Fajriyatur Rohmah 2313031048

ASP B2025 -> Diskusi

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 2313031048

izin menjawab, setelah saya membaca beberap refrensi, menurut saya jenis-jenis anggaran di sektor publik itu dibagi menjadi 6, yaitu:
1. Anggaran Operasional
Ini adalah anggaran yang dipakai buat kebutuhan sehari-hari pemerintah, misalnya bayar gaji pegawai, listrik, air, dan biaya rutin lainnya supaya pelayanan tetap jalan lancar.

2. Anggaran Modal
Kalau ini buat pengeluaran yang sifatnya investasi jangka panjang, seperti bangun jalan, gedung, atau beli alat-alat besar yang bisa dipakai bertahun-tahun.

3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau Daerah (APBD)
Ini anggaran besar yang ngatur semua pemasukan dan pengeluaran pemerintah pusat atau daerah selama setahun. Jadi, di sini termasuk anggaran operasional, modal, dan pengeluaran lain seperti subsidi atau bayar utang.

4. Anggaran Program
Anggaran ini dibuat berdasarkan program-program tertentu yang mau dijalankan pemerintah. Jadi, fokusnya bukan cuma uang yang keluar, tapi juga tujuan dari program itu sendiri.

5. Anggaran Kinerja
Ini anggaran yang dikaitkan dengan hasil kerja yang diharapkan. Jadi, dana yang diberikan harus sesuai dengan target yang mau dicapai supaya penggunaan uang lebih efisien.

6. Anggaran Berbasis Hasil (Outcome-Based Budgeting)
Mirip dengan anggaran kinerja, tapi lebih fokus ke hasil akhir yang dirasakan masyarakat, bukan cuma output atau produk dari program.

MPPE B2025 -> Menulis Summary e-journal

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 23130130148

Artikel ini membahas perbedaan mendasar antara teori, kerangka teoretis, dan kerangka konseptual dalam penelitian, terutama pada konteks mahasiswa pascasarjana. Penulis menyoroti bahwa banyak mahasiswa sering keliru menggunakan istilah-istilah tersebut secara bergantian, padahal ketiganya memiliki fungsi berbeda.

Teori dipahami sebagai kumpulan konsep, definisi, dan proposisi yang menjelaskan serta memprediksi fenomena melalui hubungan antarvariabel. Teori menjadi dasar ilmiah untuk memahami gejala sosial maupun pendidikan dan biasanya lahir dari penelitian jangka panjang dengan bukti empiris.

Kerangka teoretis merupakan struktur yang dibangun dari teori-teori yang sudah ada dan relevan, digunakan sebagai landasan untuk menganalisis serta menginterpretasi data penelitian. Dengan kata lain, kerangka ini berfungsi sebagai “gantungannya” data sehingga peneliti dapat memberi makna dan justifikasi akademik terhadap temuan.

Sementara itu, kerangka konseptual bersifat lebih luas karena mencakup keseluruhan rancangan penelitian, mulai dari pemilihan topik, perumusan masalah, tujuan, metodologi, instrumen, hingga analisis dan penyajian hasil. Kerangka konseptual bisa dianggap sebagai “peta besar” penelitian, sedangkan kerangka teoretis adalah salah satu bagian penting di dalamnya.

Artikel ini menegaskan bahwa setiap penelitian tingkat lanjut, khususnya tesis doktoral, wajib memiliki kerangka teoretis yang jelas. Penyusunan kerangka tersebut harus berangkat dari telaah pustaka yang mendalam agar mampu memberikan struktur analisis yang logis, fokus, dan relevan. Pemahaman yang benar mengenai perbedaan tiga konsep ini akan membantu peneliti merancang penelitian yang lebih sistematis, argumentatif, serta memiliki kontribusi ilmiah yang terukur.

MPPE B2025 -> CASE STUDY 2

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 23130130148

1) Teori-teori relevan
- Transformational vs Transactional Leadership (Bass & Avolio): menjelaskan bagaimana pemimpin yang menginspirasi dan memberdayakan (transformasional) berbeda efeknya pada motivasi dan kinerja dibanding pemimpin yang lebih memberi penghargaan/kontrol (transaksional).
- Leader–Member Exchange (LMX): menekankan kualitas hubungan atasan-bawahan; hubungan yang baik berkaitan dengan komitmen dan performa lebih tinggi.
- Situational / Contingency Theories (Hersey & Blanchard; Fiedler): mengatakan efektivitas gaya kepemimpinan bergantung pada konteks (tingkat kematangan/kesiapan karyawan, kompleksitas tugas).
- Path-Goal Theory (House): pemimpin membantu menghilangkan hambatan dan memberi arahan agar karyawan mencapai tujuan, sehingga memengaruhi kinerja.
- Social Exchange & Organizational Support: dukungan organisasi dan timbal balik sosial memediasi hubungan antara gaya pemimpin dan hasil kerja.
- Motivasi (Vroom – Expectancy; Deci & Ryan – SDT): menjelaskan mekanisme psikologis (harapan, otonomi, kompetensi) yang menghubungkan gaya kepemimpinan dengan kinerja.
Job Demands-Resources (JD-R): kepemimpinan dianggap sumber yang meningkatkan engagement dan menurunkan burnout → berdampak pada kinerja.

2) Kerangka pikir
Gaya kepemimpinan (X) → memengaruhi motivasi kerja / work engagement (M) dan kualitas hubungan atasan-bawahan (LMX) (M2) → keduanya berpengaruh pada kinerja karyawan (Y). Selain itu, faktor kontekstual seperti dukungan organisasi, kompleksitas tugas, dan kesiapan karyawan dapat memoderasi hubungan X→Y.

3) Hipotesis yang dapat diuji
H1: Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
H2: Gaya kepemimpinan transformasional (lebih spesifik) berpengaruh positif lebih besar terhadap kinerja dibanding gaya transaksional.
H3: Motivasi kerja/engagement memediasi pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan. (X → M → Y)
H4: Kualitas hubungan atasan-bawahan (LMX) memediasi pengaruh gaya kepemimpinan terhadap kinerja.
H5: Dukungan organisasi memoderasi hubungan antara gaya kepemimpinan dan kinerja, sehingga pengaruh gaya kepemimpinan pada kinerja lebih kuat ketika dukungan organisasi tinggi.
H0 (nol): Tidak ada pengaruh signifikan gaya kepemimpinan terhadap kinerja karyawan.

4) Petunjuk operasional singkat
- Gaya kepemimpinan: ukur dengan skala MLQ (transformasional vs transaksional) atau skala LMX untuk kualitas hubungan.
- Motivasi / Engagement: gunakan Utrecht Work Engagement Scale (UWES) atau skala ekspektansi-nilai.
- Kinerja: bisa pakai penilaian atasan (supervisor rating), KPI perusahaan, atau gabungan in-role & extra-role performance.
- Moderator: skala perceived organizational support; job complexity diukur melalui item tugas.

MPPE B2025 -> Diskusi

by Fajriyatur Rohmah 2313031048 -
Nama: Fajriyatur Rohmah
NPM: 23130130148

Teori pada dasarnya adalah kumpulan konsep, prinsip, atau pernyataan yang menjelaskan suatu fenomena. Dalam penelitian, teori berfungsi sebagai landasan ilmiah untuk memahami hubungan antarvariabel, serta menjadi acuan dalam menyusun argumentasi. Dengan teori, peneliti dapat menempatkan penelitiannya dalam kerangka ilmiah yang sudah ada, sekaligus menunjukkan kontribusi penelitian terhadap pengembangan ilmu.

Kerangka pikir merupakan alur logis yang disusun dari teori dan hasil penelitian terdahulu untuk menjelaskan hubungan antarvariabel yang diteliti. Kerangka ini biasanya divisualisasikan dalam bentuk bagan atau model yang menggambarkan arah pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat, serta kemungkinan adanya variabel mediasi atau moderasi. Dengan kata lain, kerangka pikir menjadi jembatan antara teori yang bersifat abstrak dengan rancangan penelitian yang lebih konkret.

Hipotesis adalah dugaan sementara atau jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian yang kebenarannya masih perlu diuji. Hipotesis disusun berdasarkan kerangka pikir dan berfungsi sebagai pedoman dalam pengumpulan serta analisis data.

Hubungan ketiganya: teori memberikan dasar konseptual, kerangka pikir menyusun teori tersebut ke dalam alur logis penelitian, sedangkan hipotesis merumuskan pernyataan yang bisa diuji secara empiris. Jadi, teori → kerangka pikir → hipotesis merupakan rangkaian yang saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam penelitian kuantitatif.