Kiriman dibuat oleh Nela Amelia

AUDITING B2026 -> Summary

oleh Nela Amelia -
NAMA : NELA AMELIA
NPM : 2313031050

Tes transaksi merupakan proses penting untuk memverifikasi keakuratan dan keabsahan catatan keuangan perusahaan. Auditor akan memilih sampel transaksi dari berbagai siklus, seperti penjualan, pembelian, atau penggajian, kemudian memeriksa dokumen pendukung seperti faktur, pesanan pembelian, dan catatan waktu. Tujuan dari tes transaksi adalah untuk memastikan bahwa transaksi dicatat dengan benar, sesuai dengan kebijakan akuntansi perusahaan dan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Dengan melakukan pengujian ini, auditor dapat memperoleh keyakinan bahwa laporan keuangan perusahaan disajikan secara wajar dan bebas dari kesalahan material.

AUDITING B2026 -> Brainstorming

oleh Nela Amelia -
Nama : Nela Amelia
NPM : 2313031050

Menurut saya, pemahaman mengenai tes transaksi atau pengujian substantif sangat penting bagi seorang auditor dalam menjalankan tugasnya. Tes transaksi merupakan prosedur audit yang dirancang untuk mendeteksi salah saji material dalam laporan keuangan dengan memeriksa transaksi individual dan saldo akun secara rinci. Tujuan utamanya adalah memastikan bahwa transaksi yang dicatat telah terjadi (eksistensi), lengkap, akurat, diklasifikasikan dengan benar, dan dicatat pada periode yang tepat.

Adapun pentingnya Tes Transaksi bagi Auditor adalah sebagai berikut:

1.Tes transaksi membantu auditor dalam mengidentifikasi kesalahan atau kecurangan yang dapat mempengaruhi kewajaran laporan keuangan. Dengan memeriksa transaksi secara detail, auditor dapat menemukan ketidaksesuaian yang mungkin tidak terdeteksi melalui prosedur audit lainnya.

2.Melalui pengujian ini, auditor dapat menilai apakah transaksi dicatat sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum. Hal ini penting untuk memastikan bahwa laporan keuangan mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara akurat.

3.Hasil dari tes transaksi dapat memberikan wawasan tentang seberapa efektif pengendalian internal perusahaan dalam mencegah dan mendeteksi kesalahan atau kecurangan. Jika ditemukan banyak kesalahan, ini bisa menjadi indikasi bahwa pengendalian internal perlu diperbaiki.

Adapun aspek-aspek yang Harus Diperhatikan dalam Tes Transaksi adalah sebagai berikut:

1.Auditor harus memastikan bahwa sampel transaksi yang dipilih untuk diuji mencerminkan seluruh populasi transaksi. Pemilihan sampel yang tepat meningkatkan keandalan kesimpulan audit.

2.Sebelum melakukan pengujian, auditor perlu memahami alur transaksi dan bagaimana sistem akuntansi mencatatnya. Pemahaman ini membantu dalam mengidentifikasi area yang berisiko tinggi terhadap salah saji.

3.Terdapat berbagai teknik dalam tes transaksi, seperti inspeksi dokumen, konfirmasi pihak ketiga, dan penghitungan ulang. Auditor harus memilih teknik yang paling sesuai dengan tujuan pengujian dan jenis transaksi yang diuji.

4.Setelah pengujian dilakukan, auditor harus mengevaluasi bukti yang diperoleh untuk menentukan apakah terdapat indikasi salah saji material. Evaluasi ini memerlukan pertimbangan profesional dan skeptisisme yang memadai.

5.Setiap langkah dan temuan dalam tes transaksi harus didokumentasikan dengan baik. Dokumentasi ini penting sebagai bukti bahwa audit telah dilakukan sesuai dengan standar yang berlaku dan dapat digunakan untuk tujuan review atau referensi di masa mendatang.

AUDITING B2026 -> Brainstorming

oleh Nela Amelia -
Nama : Nela Amelia
NPM : 2313031050

1) Apa yang Anda ketahui tentang pengendalian intern?

Pengendalian intern adalah suatu sistem yang dirancang oleh manajemen untuk memberikan keyakinan memadai terhadap pencapaian tujuan organisasi. Pengendalian ini mencakup berbagai kebijakan, prosedur, dan mekanisme yang diterapkan guna memastikan efektivitas dan efisiensi operasional, keandalan pelaporan keuangan, serta kepatuhan terhadap peraturan dan kebijakan yang berlaku. Dalam video "What is Internal Audit", dijelaskan bahwa pengendalian intern merupakan bagian dari tata kelola perusahaan yang bertujuan untuk mengurangi risiko dan meningkatkan transparansi dalam pengelolaan sumber daya organisasi. Dengan adanya sistem pengendalian yang kuat, organisasi dapat mengidentifikasi, menilai, dan mengelola risiko secara lebih efektif, sehingga dapat meminimalisir kemungkinan terjadinya kesalahan atau kecurangan.

2) Mengapa penting pengendalian intern bagi sebuah entitas?

Pengendalian intern memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga stabilitas dan keberlanjutan suatu organisasi. Pertama, sistem pengendalian intern membantu dalam mencegah dan mendeteksi kecurangan serta kesalahan dalam operasional maupun pelaporan keuangan. Tanpa pengendalian yang baik, perusahaan rentan terhadap fraud atau penyimpangan yang dapat merugikan perusahaan dalam jangka panjang. Kedua, pengendalian intern melindungi aset perusahaan dari penyalahgunaan atau penggelapan. Dengan adanya prosedur pengawasan yang ketat, aset perusahaan dapat digunakan sesuai dengan tujuan bisnis yang telah ditetapkan.

Selain itu, pengendalian intern berperan dalam meningkatkan efisiensi dan efektivitas operasional dengan memastikan bahwa semua aktivitas dilakukan sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Hal ini juga berkaitan dengan peningkatan kualitas informasi keuangan yang dihasilkan. Dalam hal ini, pengendalian intern yang efektif akan memastikan bahwa laporan keuangan yang disajikan bersifat reliable, transparan, dan akurat. Akhirnya, pengendalian intern juga sangat penting untuk memastikan kepatuhan terhadap peraturan dan regulasi yang berlaku, baik itu peraturan internal perusahaan maupun regulasi dari otoritas eksternal seperti pemerintah dan otoritas pajak. Dengan kepatuhan yang baik, perusahaan dapat menghindari risiko sanksi atau denda akibat pelanggaran hukum.

3) Apa kaitannya pengendalian intern dengan auditing?

Pengendalian intern dan audit memiliki hubungan yang erat karena audit berfungsi untuk mengevaluasi efektivitas sistem pengendalian intern yang diterapkan oleh suatu entitas. Dalam video "What is Internal Audit", dijelaskan bahwa audit internal bertanggung jawab untuk menilai sejauh mana pengendalian intern telah berjalan sesuai dengan standar dan apakah ada area yang perlu diperbaiki. Auditor akan mengevaluasi apakah pengendalian intern cukup kuat untuk mendeteksi dan mencegah kesalahan atau kecurangan.

Dari pandangan audit eksternal, pengendalian intern juga memiliki peran penting dalam menentukan prosedur dan cakupan audit. Jika pengendalian intern suatu perusahaan terbukti kuat, auditor eksternal dapat mengurangi pengujian substantif yang diperlukan, sehingga proses audit menjadi lebih efisien. Sebaliknya, jika pengendalian intern dianggap lemah, auditor harus melakukan prosedur audit yang lebih mendalam untuk memastikan keandalan laporan keuangan. Oleh karena itu, keberadaan pengendalian intern yang baik dapat membantu mempercepat dan mempermudah proses audit, baik yang dilakukan secara internal maupun eksternal.

4) Bedakan Audit Internal dengan Audit Eksternal?

Dalam video dari IAI Jatim TV, dijelaskan bahwa audit internal dan audit eksternal memiliki perbedaan utama dalam hal tujuan, pelaksana, ruang lingkup, serta tingkat independensi. Audit internal merupakan aktivitas yang dilakukan oleh tim audit dalam perusahaan dengan tujuan mengevaluasi efektivitas pengendalian intern, manajemen risiko, dan proses tata kelola perusahaan. Auditor internal bekerja sebagai bagian dari manajemen perusahaan dan memberikan rekomendasi untuk meningkatkan kinerja organisasi. Audit internal biasanya dilakukan secara berkala dan cakupannya mencakup berbagai aspek operasional, tidak hanya terbatas pada laporan keuangan.

Selain itu, audit eksternal dilakukan oleh auditor independen yang berasal dari luar perusahaan, biasanya dari Kantor Akuntan Publik (KAP). Tujuan utama audit eksternal adalah memberikan opini terhadap kewajaran laporan keuangan perusahaan berdasarkan standar akuntansi yang berlaku. Audit eksternal lebih fokus pada verifikasi dan validasi laporan keuangan, sehingga lebih banyak melibatkan pengujian terhadap transaksi keuangan yang dilakukan oleh perusahaan. Berbeda dengan audit internal yang laporannya disampaikan kepada manajemen, hasil audit eksternal biasanya disampaikan kepada pemegang saham, kreditur, dan regulator.

Dari segi independensi, audit eksternal lebih independen dibandingkan audit internal karena auditor eksternal tidak memiliki hubungan langsung dengan perusahaan yang diaudit. Oleh karena itu, opini yang diberikan oleh auditor eksternal lebih objektif dan dapat diandalkan oleh para pemangku kepentingan eksternal. Sebaliknya, audit internal meskipun tetap harus bersikap objektif, masih berada di dalam lingkup perusahaan, sehingga dapat dipengaruhi oleh kepentingan manajemen.

AUDITING B2026 -> Telaah jurnal

oleh Nela Amelia -
Nama : Nela Amelia
NPM : 2313031050

Berdasarkan jurnal yang berjudul pengaruh pemeriksaan internal (audit intern) terhadap efektivitas pengendalian internal tersebut, dapat disimpulkan bahwa setiap perusahaan globalisasi saat ini, akan banyak permasalahan dan kendala yang harus
dihadapi. Keadaan tersebut menuntut para pemimpin atau manajemen perusahaan untuk dapat
mengelola kegiatan perusahaannya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pimpinan dan pihak manajemen berkewajiban untuk dapat mengelola perusahaannya dengan sebaik-baiknya, meskipun pada umumnya segala kegiatan perusahaan tidak dapat diawasi secara langsung oleh pimpinan dan manajer, karena itu para pimpinan dan pihak manajer harus mendelegasikan sebagian tugas, wewenang dan tanggung jawabnya kepada pihak lain. Oleh karena itu, pimpinan dan pihak manajemen memerlukan pengawasan atau pemeriksaan internal dalam usaha meningkatkan pengendalian internal perusahaan yang efektif dan efisien. Penerapan pengendalian internal ini sangat penting karena digunakan perusahaan untuk mengarahkan kegiatan operasional perusahaan, mencegah penyalahgunaan sistem yang diterapkan, dan melindungi asset yang dimiliki perusahaan. Pemeriksaan intern harus mempunyai kedudukan khusus dalam struktur organisasi perusahaan agar pemeriksaan internal terbebas dan objektif dalam me- review dan menilai berbagai kerja sistem, prosedur dan catatan perusahaan. Pemeriksaan intern timbul karena adanya keterbatasan pimpinan atau manajemen dalam melakukan pengendalian secara langsung. Secara umum pemeriksaan intern dalam melaksanakan tugasnya harus independen yang mana membantu manajemen dalam mencapai operasi dan administrasi perusahaan yang efektif dan efisien.
Terdapat lima komponen dari struktur pengendalian intern antara lain: lingkungan pengendalian, penaksiran risiko, aktivitas pengendalian, informasi & komunikasi, serta pemantauan. Dengan adanya pemeriksaan internal (audit intern) yang baik maka akan meningkatkan pula efektivitas pengendalian internal bank. Hal tersebut karena pemeriksaan internal (audit intern) dilakukan guna mengevaluasi kecukupan, efisiensi, efektivitas manajemen risiko, pengendalian dan proses tata kelola bank, sehingga dapat mendorong peningkatan pengendalian internal secara berkesinambungan.