Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016
Seorang peneliti perlu memahami masalah, variabel, dan paradigma penelitian karena ketiganya merupakan fondasi utama dalam merancang penelitian yang sistematis. Menurut Sugiyono (2017), penelitian selalu berangkat dari masalah, karena masalah adalah “gap” antara harapan dan kenyataan yang mendorong dilakukannya penyelidikan ilmiah. Tanpa pemahaman yang jelas mengenai masalah, peneliti bisa salah menentukan fokus, tujuan, bahkan metode yang digunakan. Dengan memahami masalah secara mendalam, peneliti dapat memastikan bahwa penelitian relevan dan memiliki kontribusi nyata terhadap pengetahuan maupun praktik.
Peniliti juga harus memahami variabel. Variabel merupakan konsep yang dapat diukur dan digunakan untuk menjelaskan hubungan dalam penelitian. Menurut Kerlinger (2000), variabel adalah simbol yang memiliki nilai, dan menjadi inti dalam penelitian kuantitatif karena melalui variabel peneliti dapat merumuskan hipotesis, menentukan instrumen, serta memilih teknik analisis data. Jika peneliti tidak memahami variabel yang diteliti, maka pengukuran menjadi tidak akurat, dan hasil penelitian bisa tidak valid. Bahkan dalam penelitian kualitatif, meskipun tidak selalu disebut “variabel”, peneliti tetap harus memahami fokus dan fenomena yang diamati agar tidak kehilangan arah ketika mengumpulkan data.
Pemahaman tentang paradigma penelitian juga sangat penting. Guba & Lincoln (1994) menyatakan bahwa paradigma adalah seperangkat keyakinan dasar mengenai realitas (ontologi), cara memperoleh pengetahuan (epistemologi), dan metode yang digunakan (metodologi). Paradigma menentukan bagaimana peneliti memandang data, memutuskan apakah penelitian bersifat objektif atau subjektif, serta memilih apakah pendekatan yang digunakan kuantitatif, kualitatif, atau campuran. Tanpa paradigma yang jelas, penelitian akan kehilangan konsistensi antara tujuan, metode, dan analisisnya. Misalnya, penelitian yang berlandaskan paradigma positivistik cenderung menggunakan pengukuran terstandar dan statistik, sedangkan penelitian yang berlandaskan paradigma konstruktivistik lebih menekankan makna, konteks, dan interaksi manusia.
Memahami masalah, variabel, dan paradigma bukan hanya bagian awal dari sebuah penelitian, tetapi juga menjadi penentu validitas dan kualitas hasil penelitian. Penelitian yang dibangun di atas pemahaman yang baik terhadap ketiga aspek ini akan lebih terarah, logis, dan metodologis. Sebaliknya, jika peneliti tidak memahami salah satunya, penelitian rentan mengalami bias, salah metode, atau tidak mampu menjawab rumusan masalah. Seorang peneliti wajib menguasai ketiga komponen tersebut agar penelitian yang dilakukan benar-benar ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan.