Kiriman dibuat oleh Intan Ruliana

MPPE A2025 -> CASE STUDY 2

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

1.• Teori Kepemimpinan Transformasional & Transaksional
• Teori Kepemimpinan Situasional
• Teori Motivasi (misalnya Herzberg atau Maslow)
• Teori Kinerja

2. Kerangka pikirnya bisa digambarkan seperti alur sebab akibat. Perubahan gaya kepemimpinan di startup membuat cara pemimpin berinteraksi dengan karyawan ikut berubah. Gaya memimpin yang lebih jelas, mendukung, dan menyesuaikan kondisi tim biasanya membuat karyawan merasa dihargai dan lebih bersemangat.

Semangat atau motivasi kerja yang meningkat ini akan berdampak pada kinerja, misalnya produktivitas jadi stabil, hasil kerja lebih baik, dan karyawan lebih disiplin. Karena itu, gaya kepemimpinan dianggap sebagai faktor yang dapat mempengaruhi tinggi rendahnya kinerja karyawan.

3.• H1: Gaya kepemimpinan berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan.
detailnya: • H1a: Gaya kepemimpinan yang tepat meningkatkan kinerja karyawan.
• H1b: Gaya kepemimpinan yang kurang sesuai menurunkan kinerja karyawan.

MPPE A2025 -> CASE STUDY

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

1.a. Teori E-Learning
Menjelaskan bagaimana proses belajar berlangsung melalui platform digital, termasuk faktor akses, interaksi, dan kualitas media pembelajaran.

b. Teori Belajar Kognitif
Membahas bagaimana mahasiswa memproses informasi, memahami materi, dan mengingat pelajaran dalam lingkungan belajar yang berbeda, termasuk saat belajar daring.

c. Teori Hasil Belajar
Menjelaskan apa saja indikator hasil belajar, misalnya nilai, pemahaman konsep, dan kemampuan menyelesaikan tugas.

d. Technology Acceptance Model (TAM)
Relevan untuk melihat bagaimana persepsi mahasiswa tentang kemudahan dan manfaat teknologi memengaruhi keterlibatan mereka dalam pembelajaran daring.

2. Pembelajaran daring setelah pandemi masih digunakan, tetapi kualitas pelaksanaannya berbeda-beda. Ada mahasiswa yang merasa terbantu karena belajar lebih fleksibel, namun ada juga yang kesulitan karena kurang interaksi atau kendala teknis. Kondisi ini membuat efektivitas pembelajaran daring patut diteliti lebih lanjut.

Dalam penelitian ini, pembelajaran daring ditempatkan sebagai variabel yang berpotensi memengaruhi hasil belajar. Jika pembelajaran daring berjalan efektif materi mudah diakses, dosen aktif berkomunikasi, dan mahasiswa dapat mengikuti kelas dengan nyaman maka hasil belajar cenderung meningkat. Sebaliknya, hambatan seperti jaringan buruk, platform tidak nyaman, atau tugas terlalu banyak dapat menurunkan hasil belajar.

Alur berpikir tersebut membentuk hubungan bahwa pembelajaran daring (X) memberi dampak pada hasil belajar mahasiswa (Y).

3. H1 (Hipotesis Alternatif):
Pembelajaran daring berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa pada masa pascapandemi COVID-19.

H0 (Hipotesis Nol):
Pembelajaran daring tidak berpengaruh terhadap hasil belajar mahasiswa pada masa pascapandemi COVID-19.

MPPE A2025 -> Menulis Summary e-journal

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

Jurnal ini membahas perbedaan antara teori, kerangka teoretis, dan kerangka konseptual yang sering membingungkan mahasiswa saat menyusun proposal atau laporan penelitian. Penulis menjelaskan bahwa banyak mahasiswa mencampuradukkan tiga istilah tersebut, padahal masing-masing memiliki fungsi yang berbeda dalam penelitian.

Teori dijelaskan sebagai sekumpulan konsep dan penjelasan yang dibuat untuk memahami suatu fenomena. Teori memberikan gambaran umum tentang bagaimana dan mengapa suatu gejala terjadi. Karena sifatnya yang luas, teori menjadi dasar utama dalam penelitian sosial maupun pendidikan.

Kerangka teoretis dijelaskan sebagai teori atau gabungan teori yang secara khusus dipilih untuk mendukung penelitian tertentu. Jika teori masih bersifat umum, kerangka teoretis lebih terfokus karena hanya mengambil bagian teori yang relevan dengan variabel yang sedang dikaji. Kerangka teoretis membantu memperkuat argumentasi penelitian dan memberi arah pada analisis data.

Berbeda dengan itu, kerangka konseptual bersifat lebih menyeluruh. Kerangka konseptual memuat hubungan antar konsep yang digunakan, landasan teori, hingga arah penelitian. Kerangka ini menggambarkan bagaimana peneliti memahami hubungan antar variabel berdasarkan teori yang sudah dipilih. Dalam jurnal ini, kerangka konseptual digambarkan sebagai “peta penelitian” karena memandu seluruh proses mulai dari perumusan masalah sampai analisis hasil.

Penulis menekankan bahwa teori adalah dasar, kerangka teoretis adalah teori yang dipilih dan diaplikasikan, sedangkan kerangka konseptual adalah pemetaan hubungan konsep dalam penelitian. Ketiganya saling terkait dan membentuk alur logis dalam penelitian. Dengan memahami perbedaan ini, peneliti dapat menyusun proposal yang lebih terarah, menghindari kesalahan konsep, dan lebih mudah menjelaskan posisi penelitian dalam konteks akademik.

MPPE A2025 -> Diskusi

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

Teori itu seperti dasar atau landasan yang saya pakai untuk memahami masalah yang sedang saya teliti. Dari teori, saya bisa tahu konsep-konsep penting dan penjelasan yang sudah dibuat oleh para ahli sebelumnya.

Kerangka pikir itu semacam alur logika yang menggambarkan bagaimana teori-teori tadi saya susun menjadi hubungan yang lebih jelas. Jadi kerangka pikir ini membantu saya melihat arah penelitian saya, dari teori menuju apa yang akan saya teliti secara nyata.

Sedangkan hipotesis, bagi saya itu adalah dugaan sementara berdasarkan kerangka pikir. Hipotesis ini seperti jawaban awal yang saya perkirakan, tapi masih harus saya buktikan lagi menggunakan data di lapangan.

Ada hubungan antara ketiganya. Teori menjadi dasar dari kerangka pikir, lalu dari kerangka pikir itulah muncul hipotesis. Jadi urutannya memang saling berkaitan: teori → kerangka pikir → hipotesis.