Kiriman dibuat oleh Catur Febriyan

ASP A2025 -> Summary

oleh Catur Febriyan -
Nama : Catur Febriyan
NPM : 2313031018

Analisis investasi sektor publik merupakan proses penilaian yang sistematis terhadap rencana penanaman modal yang dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat luas. Tidak seperti investasi sektor swasta yang berorientasi pada keuntungan finansial, investasi sektor publik lebih menekankan pada pencapaian kesejahteraan sosial, pembangunan infrastruktur, peningkatan pelayanan publik, serta pemerataan ekonomi. Dalam melakukan analisis, pemerintah biasanya mempertimbangkan aspek biaya dan manfaat (cost and benefit analysis) baik secara langsung maupun tidak langsung, sehingga dapat dipastikan bahwa sumber daya yang digunakan benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Misalnya, pembangunan jalan, jembatan, rumah sakit, sekolah, atau jaringan listrik di daerah terpencil mungkin tidak menghasilkan keuntungan finansial yang besar dalam jangka pendek, tetapi dapat memicu pertumbuhan ekonomi lokal, meningkatkan produktivitas, dan memperbaiki kualitas hidup penduduk. Analisis investasi sektor publik juga harus mencakup evaluasi terhadap keberlanjutan proyek, potensi risiko, serta dampaknya terhadap lingkungan dan sosial. Selain itu, penting pula memperhatikan keterkaitan antarproyek, karena satu proyek publik dapat mendorong berkembangnya proyek lain sehingga menimbulkan efek multiplikasi dalam perekonomian. Oleh karena itu, proses analisis investasi sektor publik tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga politis dan sosial, karena melibatkan pengambilan keputusan yang berhubungan langsung dengan kepentingan masyarakat luas. Dengan analisis yang cermat dan komprehensif, investasi sektor publik diharapkan dapat menjadi instrumen strategis dalam mendorong pembangunan nasional, mengurangi kesenjangan antarwilayah, serta menciptakan fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

MPPE A2025 -> Menulis Summary e-journal

oleh Catur Febriyan -
Nama : Catur Febriyan
NPM : 2313031018

Teori memiliki sejumlah karakteristik penting yang menjadikannya berbeda dari sekadar pendapat atau asumsi. Sebuah teori harus disusun secara logis dan koheren, dengan batasan yang jelas mengenai istilah maupun variabel yang digunakan. Teori juga harus memiliki wilayah penerapan tertentu, menjelaskan hubungan antarvariabel, serta mampu memberikan penjelasan dan prediksi yang terarah. Selain itu, teori tidak sekadar menyajikan konsep atau prinsip, tetapi juga dibangun berdasarkan data empiris yang dapat diuji, diverifikasi, dan terus dikembangkan seiring berjalannya waktu. Suatu teori juga harus jelas, ringkas, relevan, serta mampu memberikan prediksi yang lebih unggul dibanding teori yang sudah ada sebelumnya. Prediksi yang dihasilkan seharusnya bersifat umum sehingga dapat diterapkan di berbagai konteks, sekaligus tetap terbuka untuk penyempurnaan sesuai perkembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, teori berperan tidak hanya dalam menjelaskan fenomena, tetapi juga dalam memprediksi peristiwa yang mungkin terjadi di masa depan.

Sementara itu, kerangka teoretis dipahami sebagai susunan teori yang relevan dengan bidang penelitian tertentu dan dijadikan dasar untuk menganalisis serta menafsirkan data. Kerangka ini tidak sekadar berisi pemikiran pribadi peneliti, melainkan merupakan hasil sintesis dari gagasan para ahli terdahulu yang dijadikan pijakan konseptual. Fungsi utama kerangka teoretis adalah memberikan landasan akademis agar analisis data lebih terarah, sistematis, dan memiliki ketelitian ilmiah. Melalui kerangka ini, peneliti dapat menggunakan lensa teoretis yang sudah teruji untuk memahami fenomena yang diteliti, menafsirkan hasil penelitian, dan menyusunnya dalam bentuk pembahasan yang sesuai dengan standar akademik. Dengan kata lain, kerangka teoretis memungkinkan peneliti menempatkan temuannya dalam konteks pengetahuan yang lebih luas serta memberikan pijakan untuk menarik kesimpulan maupun rekomendasi yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

MPPE A2025 -> Diskusi

oleh Catur Febriyan -
Nama : Catur Febriyan
NPM : 2313031018

Teori adalah penjelasan sistematis dan didukung bukti empiris tentang suatu fenomena, yang bersifat prediktif dan dapat diuji.
Kerangka pikir merupakan struktur konseptual atau model mental yang membimbing pemahaman masalah, sering mengintegrasikan teori-teori existing untuk analisis, misalnya kerangka SWOT dalam bisnis untuk mengevaluasi strategi.
Hipotesis adalah dugaan sementara yang spesifik dan dapat diuji secara empiris, seperti pernyataan bahwa peningkatan suhu mempercepat reaksi kimia, yang bertujuan untuk divalidasi melalui data.

Hubungan ketiganya saling melengkapi dalam proses ilmiah: kerangka pikir menyediakan dasar untuk membentuk hipotesis, hipotesis diuji untuk memperkuat atau merevisi teori, dan teori yang mapan kemudian memperkaya kerangka pikir baru, membentuk siklus iteratif dalam pengembangan pengetahuan.

MPPE A2025 -> Membuat summary e journal

oleh Catur Febriyan -
Nama : Catur Febriyan
NPM : 2313031018

Jurnal dengan judul Understanding and Applying Research Paradigms in Educational Contexts berisi tentang pemahaman mengenai paradigma penelitian dalam konteks pendidikan menjadi hal yang sangat penting karena paradigma berfungsi sebagai kerangka berpikir yang mendasari seluruh proses penelitian. Paradigma tidak hanya bersifat filosofis, melainkan juga memengaruhi pilihan metodologi, desain penelitian, instrumen yang digunakan, teknik analisis data, hingga cara peneliti menafsirkan hasil. Dengan kata lain, paradigma menentukan arah dan konsistensi penelitian dari awal hingga akhir.

Paradigma dapat dipahami sebagai cara pandang peneliti terhadap realitas dan bagaimana pengetahuan dapat diperoleh. Dalam penelitian pendidikan, realitas bisa dimaknai berbeda tergantung pada paradigma yang digunakan. Tiga paradigma utama yang sering dipakai adalah positivisme, interpretivisme, dan kritis.

Paradigma positivisme berpandangan bahwa realitas bersifat objektif dan dapat diukur secara kuantitatif. Penelitian dengan paradigma ini biasanya bertujuan menemukan hubungan sebab-akibat antar variabel. Metode yang digunakan cenderung berupa eksperimen, survei, serta analisis statistik yang menghasilkan data numerik. Contohnya, penelitian yang mengukur pengaruh media digital interaktif terhadap motivasi belajar siswa sangat sesuai menggunakan paradigma ini, karena variabel-variabelnya dapat diukur dengan angka.

Berbeda dengan positivisme, paradigma interpretivisme memandang realitas sebagai sesuatu yang bersifat subjektif dan dikonstruksi melalui pengalaman sosial individu. Fokus penelitian dengan paradigma ini adalah memahami makna yang dialami partisipan, misalnya pengalaman guru dalam menerapkan media pembelajaran digital atau perasaan siswa selama pembelajaran daring. Metode yang digunakan biasanya kualitatif, seperti wawancara mendalam, observasi, dan analisis naratif.

Sementara itu, paradigma kritis menekankan pada perubahan sosial dan pembebasan dari struktur yang dianggap mengekang. Penelitian dengan paradigma kritis tidak hanya berusaha memahami realitas, tetapi juga mengupayakan transformasi. Dalam konteks pendidikan, paradigma ini dapat digunakan untuk meneliti ketidakadilan dalam akses pendidikan atau praktik diskriminasi yang terjadi di sekolah.

Artikel yang dibahas juga menekankan bahwa peneliti pemula kerap merasa bingung menentukan paradigma yang sesuai. Hal ini wajar karena setiap paradigma memiliki orientasi, asumsi, dan metode yang berbeda. Untuk itu, penting bagi peneliti pemula memahami keterkaitan antara masalah penelitian, tujuan, metode, dan paradigma. Penelitian yang ingin mengukur hubungan antar variabel sebaiknya menggunakan paradigma positivisme. Sebaliknya, penelitian yang berfokus memahami pengalaman atau persepsi lebih tepat menggunakan paradigma interpretif. Sedangkan jika peneliti memiliki tujuan kritis untuk mendorong perubahan sosial, maka paradigma kritis menjadi pilihan yang sesuai.

Dengan memahami perbedaan dan fungsi masing-masing paradigma, peneliti dapat menyusun penelitian yang konsisten dan relevan dengan tujuan. Pemahaman ini juga membantu peneliti menghindari kesalahan umum, seperti memilih metode yang tidak sesuai dengan orientasi masalah penelitian. Pada akhirnya, pemilihan paradigma yang tepat tidak hanya memperkuat validitas dan reliabilitas penelitian, tetapi juga memastikan hasil penelitian mampu memberikan kontribusi nyata terhadap pengembangan praktik dan kebijakan pendidikan.