གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Rahma Noviyana

MPPE C2025 -> Diskusi

Rahma Noviyana གིས-
Nama: Rahma Noviyana
NPM: 2313031060

Menurut saya, seorang peneliti harus dapat menentukan teknik pengumpulan data yang sesuai karena teknik tersebut menentukan ketepatan, keandalan, dan relevansi data yang diperoleh. Pemilihan teknik yang tepat harus disesuaikan dengan jenis masalah penelitian, tujuan yang ingin dicapai, serta karakteristik variabel dan responden. maka dari itu, data yang dikumpulkan benar-benar mampu menjawab rumusan masalah dan mendukung tercapainya tujuan penelitian secara valid dan akurat.

MPPE C2025 -> Diskusi

Rahma Noviyana གིས-
Nama: Rahma Noviyana
NPM: 2313031060

Skala pengukuran dalam penelitian adalah cara untuk mengkategorikan atau mengukur variabel penelitian dengan angka sehingga data yang diperoleh menjadi lebih terukur, akurat, dan dapat dianalisis secara statistik. Ada empat jenis skala pengukuran yang umum digunakan dalam penelitian, yaitu:

1. Skala Nominal
- Digunakan untuk mengelompokkan data ke dalam kategori tanpa urutan atau peringkat.
- Contoh: jenis kelamin, warna rambut, lokasi geografis.
- Tidak ada perhitungan matematis yang bermakna karena hanya klasifikasi kategori saja.

2. Skala Ordinal
- Mengukur data dengan urutan atau peringkat, namun jarak antar nilai tidak diketahui secara pasti.
- Contoh: tingkat kepuasan (tidak puas, cukup puas, puas), peringkat lomba.
- Data ini menunjukkan posisi relatif tetapi tidak menunjukkan jarak numerik yang konsisten.

3. Skala Interval
- Data memiliki urutan dan jarak antar nilai yang sama, namun tidak memiliki titik nol mutlak.
- Contoh: suhu dalam derajat Celsius, nilai IQ.
- Dapat dilakukan operasi tambah dan kurang, tetapi tidak dapat dikalikan atau dibagi.

4. Skala Rasio
- Memiliki semua karakteristik skala interval, namun juga memiliki titik nol mutlak yang berarti ketidakhadiran variabel.
- Contoh: tinggi badan, berat badan, penghasilan.
- Dapat dilakukan operasi matematis penuh termasuk perbandingan rasio (misalnya dua kali lebih berat).

Selain itu, ada juga skala pengukuran khusus seperti Skala Likert yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi dengan menggunakan pernyataan bertingkat yang biasanya menghasilkan data interval.

Pemilihan skala pengukuran yang tepat sangat penting karena menentukan teknik analisis statistik yang akan digunakan dan validitas hasil penelitian.

Pada penelitian yang digunakan dalam jenis penelitian ini adalah penelitian pengaruh dengan metode kuantitatif. Dalam penelitian berjudul:
“Pengaruh Keaktifan Berorganisasi dan Manajemen Waktu terhadap Prestasi Akademik Mahasiswa Pendidikan Ekonomi FKIP Universitas Lampung,”
dua variabel bebas (X1 dan X2) diukur menggunakan skala Likert lima tingkat. Untuk memperoleh data tentang pengaruh keaktifan beroragnisasi dan manajemen waktu terhadap prestasi akademik akan menggunakan angket yaitu suatu daftar pertanyaan yang akan di isi oleh responden. Selanjtunya angket ini terdiri dari lima alternatif jawaban yang masing-masing mempunyai skor dalam setiap jawabannya. Adapun skor sebagai berikut: a. Sangat Baik (SB) 5 skor; b. Baik (B) 4 skor; c. Cukup (C) 3 skor; d. Kurang (K) 2 skor; e. Sangat Kurang (SK) 1 skor.
Nama: Rahma Noviyana
NPM: Rahma Noviyana

Dari buku Metodologi Pendidikan yang saya baca, dapat dihasilkan
A. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2017:80).
Populasi tidak hanya mencakup manusia, tetapi juga benda, dokumen, maupun fenomena alam. Populasi dapat dipahami dalam dua arti:
1. Kuantitatif, yaitu jumlah keseluruhan unit yang akan diteliti.
2. Kualitatif, yaitu karakteristik yang dimiliki oleh unit tersebut.
Contohnya, sebuah sekolah bisa disebut populasi karena memiliki individu (guru, siswa) serta karakteristik seperti motivasi, disiplin, dan iklim organisasi.

B. Sampel
Sampel merupakan bagian dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dan dianggap dapat mewakili populasi secara keseluruhan. Menurut Sugiyono (2017:80), apabila populasi terlalu besar dan tidak memungkinkan untuk diteliti secara keseluruhan karena keterbatasan waktu, dana, dan tenaga, maka diambil sebagian (sampel) yang dianggap representatif.
Sampel yang tidak representatif akan menyebabkan kesimpulan yang salah—digambarkan oleh Sugiyono melalui analogi “orang buta yang menebak bentuk gajah” (Sugiyono, 2017:81).

C. Teknik Sampling
Sugiyono membedakan teknik sampling menjadi dua kelompok besar, yaitu:
Probability Sampling, yaitu teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Jenisnya antara lain:
1. Simple Random Sampling
2. Proportionate Stratified Random Sampling
3. Disproportionate Stratified Random Sampling
4. Cluster (Area) Sampling

Non-Probability Sampling, yaitu teknik yang tidak memberi peluang yang sama bagi setiap anggota populasi, meliputi:
1. Sampling Sistematis
2. Sampling Kuota
3. Sampling Insidental
4. Purposive Sampling
5. Sampling Jenuh (Sensus)
6. Snowball Sampling

D. Menentukan Ukuran Sampel
Jumlah anggota sampel tergantung pada tingkat kesalahan (error) yang dapat ditoleransi. Rumus umum yang digunakan berasal dari Isaac dan Michael, atau menggunakan Nomogram Harry King.
Contoh perhitungan menurut Sugiyono:
- Untuk populasi 1000 orang dengan tingkat kesalahan 5%, jumlah sampel yang diperlukan adalah 258 orang.
- Jika populasi berstrata, maka pengambilan sampel harus proporsional sesuai strata (misalnya tingkat pendidikan).

E. Cara Mengambil Anggota Sampel
Pengambilan anggota sampel dilakukan dengan cara acak menggunakan bilangan random, komputer, atau undian. Dalam probability sampling, setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk dipilih (Sugiyono, 2017:91).

Sumber: Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.