གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Wina Nadia Maratama

MPPE C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM: 2313031070

Teknik sampling menggambarkan cara peneliti memilih sebagian anggota populasi untuk dijadikan sumber data. Langkah ini dilakukan agar penelitian bisa lebih efisien tanpa harus meneliti semua orang, tetapi tetap mewakili kondisi populasi secara akurat. Secara umum, teknik sampling dibagi menjadi dua jenis, yaitu probability sampling dan non-probability sampling. Pada probability sampling, setiap anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk dipilih, contohnya simple random sampling dan cluster sampling. Sementara itu, non-probability sampling tidak memberikan peluang yang sama bagi setiap anggota populasi, misalnya purposive sampling, snowball sampling, dan accidental sampling.

Desain penelitian menunjukkan rencana kerja yang berfungsi sebagai panduan bagi peneliti dalam mengumpulkan dan menganalisis data. Desain ini mencakup hal-hal penting seperti rumusan masalah, tujuan penelitian, hipotesis, variabel, serta metode pengumpulan data. Dalam penelitian kuantitatif, desain bersifat terstruktur dan sudah ditetapkan sejak awal, sedangkan dalam penelitian kualitatif, desainnya lebih fleksibel dan bisa disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Desain penelitian yang baik membantu peneliti agar langkah-langkahnya tetap terarah, efisien, dan mampu menjawab pertanyaan penelitian dengan tepat.

Instrumen penelitian menunjukkan alat yang digunakan untuk mengumpulkan data, seperti angket, wawancara, observasi, atau tes. Supaya hasil penelitian dapat dipercaya, instrumen harus memenuhi tiga syarat utama, yaitu validitas (alat benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur), reliabilitas (hasilnya konsisten jika digunakan berulang kali), dan praktikabilitas (mudah digunakan, efisien, dan tidak membingungkan responden). Dalam menyusun instrumen, peneliti juga perlu memastikan bahwa setiap pertanyaan jelas, bahasanya mudah dipahami, dan sesuai dengan tujuan penelitian.

Secara keseluruhan, Bab 4 menegaskan bahwa keberhasilan penelitian sangat bergantung pada tiga hal utama: pemilihan teknik sampling yang tepat, rancangan penelitian yang terarah, dan instrumen pengumpulan data yang valid serta reliabel. Ketiga komponen ini saling mendukung untuk menghasilkan data yang akurat, dapat dipercaya, dan memiliki nilai ilmiah yang tinggi.

ASP C2025 -> Diskusi

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama :Wina Nadia Maratama
NPM :2313031070

Audit Value for Money menjadi sangat penting dalam sektor publik karena menekankan bukan hanya apakah dana publik telah dikeluarkan secara sah, tetapi apakah dana tersebut digunakan dengan cara yang terbaik untuk mencapai hasil yang diharapkan. Sebuah studi di lingkup pemerintah daerah menemukan bahwa penerapan pengendalian internal yang kuat dan akuntabilitas keuangan publik yang baik secara langsung meningkatkan kinerja Value for Money suatu organisasi publik.
Dengan kata lain, bila instansi publik memiliki kontrol intern yang baik misalnya prosedur pengadaan yang jelas, dokumentasi yang lengkap, dan pemantauan penggunaan anggaran maka organisasi tersebut lebih mungkin menggunakan dana secara ekonomis, efisien dan efektif (komponen inti VfM).

Selain itu, konsep VfM juga terkait erat dengan transparansi dan akuntabilitas publik. Berdasarkan kajian literatur sistematis, ditemukan bahwa ketika instansi pemerintah menerapkan prinsip VfM yaitu menyoroti ekonomi (biaya minimal), efisiensi (hubungan input-output) dan efektivitas (pencapaian tujuan) maka kepercayaan publik dapat meningkat karena masyarakat melihat bahwa dana publik digunakan secara maksimal untuk kepentingan bersama.
Namun demikian, tantangan penerapan VfM cukup nyata: misalnya keterbatasan sistem informasi keuangan, kurangnya pelibatan publik, serta regulasi yang belum cukup mendukung. Kajian mengindikasikan bahwa tanpa peningkatan kapasitas SDM dan sistem yang memadai, audit VfM tidak dapat optimal terlaksana.

Kemudian, dalam konteks organisasi publik, audit VfM berperan sebagai alat evaluasi dan pembelajaran. Sebuah artikel menyebut bahwa lembaga publik harus menjalani dua jenis audit terkait VfM: audit manajemen (untuk mengevaluasi aspek ekonomi dan efisiensi) dan audit program (untuk menilai aktivitas dan hasilnya) guna memastikan bahwa organisasi tidak hanya berjalan tetapi juga bermanfaat.
Dari keseharian ini bisa terlihat bahwa jika instansi publik hanya mengejar kepatuhan administratif tanpa mengevaluasi hasilnya (outcome), maka meskipun anggaran tertib secara teknis, masyarakat mungkin tetap meragukan manfaat yang diterima. Dengan demikian, audit VfM memberikan dimensi tambahan bagi akuntabilitas keuangan publik: bukan hanya uang sudah dipakai tetapi uang dipakai dengan baik.

ASP C2025 -> Diskusi

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama : Wina Nadia Maratama
NPM: 2313031070
1. Laporan Realisasi Anggaran (LRA)
Laporan ini menggambarkan perbandingan antara anggaran yang telah ditetapkan dengan realisasi penggunaannya selama satu periode anggaran.
Menurut jurnal ARIMBI, laporan ini penting untuk menunjukkan sejauh mana pemerintah atau organisasi publik mematuhi peraturan anggaran dan menggunakan dana publik secara efisien.
Fungsi utamanya: menilai kinerja fiskal, efisiensi pelaksanaan program, dan tingkat serapan anggaran.
2. Laporan Perubahan Saldo Anggaran Lebih (LPSAL)
LPSAL berfungsi untuk menjelaskan perubahan saldo anggaran lebih dari awal hingga akhir periode pelaporan.
Dalam konteks jurnal ARIMBI, laporan ini mencerminkan sisa dana publik yang belum dimanfaatkan dan menjadi dasar perencanaan anggaran periode berikutnya.
3. Neraca (Balance Sheet)
Neraca menampilkan posisi keuangan pemerintah atau lembaga publik pada tanggal tertentu, meliputi aset, kewajiban, dan ekuitas dana.
Artikel JUBID menegaskan bahwa dalam sektor publik, aset bukan hanya berorientasi laba, melainkan untuk pelayanan publik (public service value).
Contoh: gedung sekolah, rumah sakit pemerintah, dan infrastruktur publik lainnya.
4. Laporan Operasional (LO)
Laporan ini menyajikan seluruh pendapatan dan beban pemerintah selama satu periode pelaporan.
Jurnal ARIMBI menyoroti bahwa laporan ini merupakan implementasi basis akrual yang dimodifikasi, di mana pendapatan dan beban diakui pada saat terjadinya, meskipun kas belum diterima atau dibayarkan sepenuhnya.
5. Laporan Arus Kas (LAK)
Laporan arus kas menggambarkan penerimaan dan pengeluaran kas berdasarkan tiga aktivitas: operasi, investasi, dan pembiayaan.
Dalam konteks sektor publik, laporan ini membantu mengawasi likuiditas pemerintah serta memastikan bahwa penggunaan kas sesuai dengan prioritas publik.
6. Laporan Perubahan Ekuitas (LPE)
Laporan ini menunjukkan perubahan dalam ekuitas dana selama satu periode.
Perubahan tersebut dapat disebabkan oleh surplus/defisit anggaran, koreksi kesalahan masa lalu, atau kebijakan akuntansi baru.
Dalam jurnal ARIMBI, laporan ini termasuk bagian dari mekanisme pertanggungjawaban keuangan daerah.
7. Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK)
Catatan ini menjelaskan kebijakan akuntansi yang digunakan, rincian pos-pos penting, dan informasi tambahan lainnya.
Menurut artikel JUBID, CaLK memiliki peran besar dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas publik, karena memberikan konteks atas angka-angka yang muncul di laporan utama. Laporan keuangan sektor publik merupakan bentuk pertanggungjawaban pemerintah kepada masyarakat atas pengelolaan dana publik.
Melalui tujuh komponen utama di atas, organisasi sektor publik tidak hanya mencatat transaksi, tetapi juga menunjukkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitasnya terhadap publik.
https://ejournal.arimbi.or.id/index.php/JUBID/article/download/615/817/3156

ASP C2025 -> Diskusi

Wina Nadia Maratama གིས-
Nama: Wina Nadia Maratama
NPM : 2313031070
Kelas : C

Dalam menentukan teknik akuntansi sektor publik yang akan digunakan, ada sejumlah aspek penting yang harus dipertimbangkan. Pertama, perlu dipastikan tujuan dari pelaporan keuangan, apakah hanya untuk memantau arus kas atau untuk menyajikan gambaran kondisi keuangan secara menyeluruh. Kedua, karakteristik organisasi juga berperan besar, sebab semakin rumit aktivitas suatu instansi, maka semakin tinggi pula kebutuhan akan teknik akuntansi yang lebih detail dan menyeluruh. Ketiga, faktor ketersediaan sumber daya manusia dan dukungan teknologi tidak dapat diabaikan, karena penerapan teknik akrual membutuhkan kompetensi dan sistem yang lebih canggih dibandingkan teknik berbasis kas. Terakhir, tingkat transparansi dan akuntabilitas yang ingin dicapai menjadi landasan penting, sebab teknik akrual mampu menyajikan informasi yang lebih komprehensif bagi masyarakat maupun pengambil kebijakan.