Nama: Wina Nadia Maratama
NPM: 2313031070
1.Dalam sistem anggaran tradisional, perhatian utama diarahkan pada input, yakni besarnya dana yang dialokasikan dan kepatuhan penggunaannya terhadap aturan yang berlaku. Pola ini identik dengan sifat administratif dan birokratis, sehingga aspek hasil sering kali terpinggirkan. Sejalan dengan itu, Mardiasmo (2009) menyebut bahwa anggaran tradisional lebih menekankan fungsi pengendalian administratif daripada orientasi hasil. Berbeda dengan itu, munculnya paradigma New Public Management (NPM) menjadi jawaban atas keterbatasan tersebut. NPM mengalihkan fokus pada output dan outcome yang lebih nyata bagi masyarakat. Hood (1991) menegaskan bahwa NPM hadir karena anggaran tradisional dipandang boros dan tidak responsif terhadap kebutuhan publik. Oleh karena itu, orientasi NPM tidak hanya berhenti pada berapa besar dana yang keluar, melainkan menekankan apakah pengeluaran itu benar-benar menghasilkan manfaat yang dirasakan masyarakat luas.
2.Metode Zero Based Budgeting (ZBB) menawarkan pendekatan yang berbeda karena setiap unit organisasi wajib menyusun anggaran dari titik nol pada setiap periode, bukan sekadar melanjutkan alokasi sebelumnya. Pyhrr (1970), sebagai penggagas, menekankan bahwa setiap program harus dijustifikasi dari awal agar tidak ada pemborosan anggaran. Tahapannya meliputi identifikasi unit keputusan, penyusunan paket keputusan, penentuan prioritas, hingga penetapan alokasi sesuai kebutuhan. Pendekatan ini dinilai efektif untuk menutupi kelemahan anggaran tradisional yang kaku dan berorientasi pada input, sekaligus menguatkan semangat NPM yang menekankan kinerja dan hasil. Seperti yang ditegaskan Schick (1998), ZBB mampu meminimalkan keterbatasan model lama dengan memastikan anggaran yang diajukan benar-benar relevan, rasional, dan akuntabel. Dengan demikian, ZBB berfungsi sebagai jembatan yang menghubungkan sistem lama yang prosedural dengan sistem modern yang berbasis kinerja dan manfaat nyata.