Baik sebelum nya izin menanggapi dari pertanyaan Sarah, setelah saya cari ternyata terdapat contoh lain selain Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang mengalami kegagalan proyek perumahan publik yang menunjukkan kesalahan serupa dalam penerapan prinsip modernisme di berbagai kota dunia. Salah satunya adalah kompleks perumahan Robin Hood Gardens di London, Inggris, yang dibangun pada tahun 1972 oleh arsitek Alison dan Peter Smithson. Proyek ini menerapkan konsep Brutalism yang menekankan penggunaan beton kasar dan tata ruang yang bertujuan mendorong interaksi sosial melalui jalur pejalan kaki yang disebut streets in the sky. Namun, seperti Pruitt-Igoe, konsep ini justru memperburuk kondisi sosial. Minimnya pengawasan alami dan aksesibilitas yang terbatas menyebabkan area tersebut menjadi sarang aktivitas kriminal dan memperkuat segregasi sosial. Akhirnya, Robin Hood Gardens dihancurkan pada tahun 2017, membuktikan bahwa desain tanpa mempertimbangkan kebutuhan sosial masyarakat berkontribusi pada kegagalan hunian publik.
Contoh lain adalah kompleks Cabrini-Green di Chicago, Amerika Serikat, yang dibangun pada tahun 1942 hingga 1962. Kompleks ini awalnya dirancang untuk menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi gagal memenuhi harapan karena pengelolaan yang buruk, segregasi rasial, dan lemahnya pengawasan sosial. Tata letak bangunan dengan lorong panjang dan minimnya ruang publik yang aman menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk interaksi sosial. Seiring berjalannya waktu, Cabrini-Green menjadi simbol kejahatan, kemiskinan, dan pengabaian pemerintah. Kompleks ini akhirnya dihancurkan pada awal tahun 2000-an sebagai bagian dari program revitalisasi kota.
Dan dari kedua contoh ini, dapat disimpulkan bahwa desain arsitektur yang tidak mempertimbangkan faktor sosial dan keamanan, ditambah dengan kebijakan publik yang tidak efektif, berkontribusi besar terhadap kegagalan proyek perumahan publik di berbagai kota besar.
Contoh lain adalah kompleks Cabrini-Green di Chicago, Amerika Serikat, yang dibangun pada tahun 1942 hingga 1962. Kompleks ini awalnya dirancang untuk menyediakan hunian terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi gagal memenuhi harapan karena pengelolaan yang buruk, segregasi rasial, dan lemahnya pengawasan sosial. Tata letak bangunan dengan lorong panjang dan minimnya ruang publik yang aman menciptakan lingkungan yang tidak kondusif untuk interaksi sosial. Seiring berjalannya waktu, Cabrini-Green menjadi simbol kejahatan, kemiskinan, dan pengabaian pemerintah. Kompleks ini akhirnya dihancurkan pada awal tahun 2000-an sebagai bagian dari program revitalisasi kota.
Dan dari kedua contoh ini, dapat disimpulkan bahwa desain arsitektur yang tidak mempertimbangkan faktor sosial dan keamanan, ditambah dengan kebijakan publik yang tidak efektif, berkontribusi besar terhadap kegagalan proyek perumahan publik di berbagai kota besar.