Paper tersebut membahas kegagalan proyek perumahan sosial Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang dihancurkan pada tahun 1972 karena berbagai faktor sosial dan desain. Studi tersebut menggunakan sintaksis ruang untuk menganalisis bagaimana tata letak dan perencanaan proyek berkontribusi terhadap malaise sosial, termasuk rusaknya hubungan antara orang dewasa dan anak-anak akibat penurunan tingkat hunian serta terbentuknya ruang yang tidak terpantau yang mendorong aktivitas kriminal. Kesimpulannya, meskipun desain Modernis Pruitt-Igoe bertujuan menciptakan perumahan berkualitas dengan ruang terbuka hijau, realitas sosial, ekonomi, dan kebijakan yang buruk menyebabkan proyek ini menjadi simbol kegagalan perencanaan kota modern.
Dari paper tersebut, terdapat beberapa hal penting yang dapat dipelajari terkait desain perkotaan, kebijakan perumahan, dan dampak sosial dari perencanaan kota modern:
a) Kelemahan sesain modernis, tata letak Pruitt-Igoe yang berbasis prinsip Modernisme, seperti pemisahan fungsi ruang, bangunan bertingkat tinggi, dan koridor komunal, justru menciptakan lingkungan yang tidak mendukung interaksi sosial dan meningkatkan potensi kriminalitas.
b) Pentingnya pengawasan sosial, kurangnya keterlibatan sosial antara orang dewasa dan anak-anak, diperburuk oleh tingkat hunian yang menurun, menciptakan ruang yang tidak terpantau yang memicu kejahatan dan vandalisme.
c) Dampak kebijakan perumahan, regulasi yang tidak tepat, termasuk persyaratan ekonomi yang memisahkan keluarga dan desegregasi yang kurang terkelola, berkontribusi terhadap penurunan populasi dan memburuknya kondisi sosial di Pruitt-Igoe.
d) Kegagalan manajemen dan pemeliharaan, hilangnya pendapatan dari sewa akibat "white flight" serta kurangnya dana pemeliharaan mempercepat degradasi bangunan dan menciptakan lingkungan yang semakin tidak layak huni.
e) Pelajaran untuk perencanaan kota, perencanaan yang hanya berfokus pada kuantitas tanpa mempertimbangkan aspek sosial dan kebutuhan penghuni dapat berujung pada kegagalan besar. Faktor sosial, ekonomi, dan tata ruang harus dipertimbangkan secara holistik dalam desain perumahan publik.
Dari paper tersebut, terdapat beberapa hal penting yang dapat dipelajari terkait desain perkotaan, kebijakan perumahan, dan dampak sosial dari perencanaan kota modern:
a) Kelemahan sesain modernis, tata letak Pruitt-Igoe yang berbasis prinsip Modernisme, seperti pemisahan fungsi ruang, bangunan bertingkat tinggi, dan koridor komunal, justru menciptakan lingkungan yang tidak mendukung interaksi sosial dan meningkatkan potensi kriminalitas.
b) Pentingnya pengawasan sosial, kurangnya keterlibatan sosial antara orang dewasa dan anak-anak, diperburuk oleh tingkat hunian yang menurun, menciptakan ruang yang tidak terpantau yang memicu kejahatan dan vandalisme.
c) Dampak kebijakan perumahan, regulasi yang tidak tepat, termasuk persyaratan ekonomi yang memisahkan keluarga dan desegregasi yang kurang terkelola, berkontribusi terhadap penurunan populasi dan memburuknya kondisi sosial di Pruitt-Igoe.
d) Kegagalan manajemen dan pemeliharaan, hilangnya pendapatan dari sewa akibat "white flight" serta kurangnya dana pemeliharaan mempercepat degradasi bangunan dan menciptakan lingkungan yang semakin tidak layak huni.
e) Pelajaran untuk perencanaan kota, perencanaan yang hanya berfokus pada kuantitas tanpa mempertimbangkan aspek sosial dan kebutuhan penghuni dapat berujung pada kegagalan besar. Faktor sosial, ekonomi, dan tata ruang harus dipertimbangkan secara holistik dalam desain perumahan publik.