Posts made by 2313034085 DEA GRESIA SINAGA

Nama :Dea Gresia Sinaga
NPM:2313034085
Kelas :2023 C

Paper ini membahas kegagalan kompleks perumahan publik Pruitt-Igoe di St. Louis, Missouri, yang dihancurkan pada tahun 1972. Menggunakan pendekatan "spatial archaeology" dan metode *space syntax*, penelitian ini mengungkap bahwa faktor utama dalam kegagalan Pruitt-Igoe adalah desain arsitektur dan perencanaan yang tidak mempertimbangkan dinamika sosial. Penyediaan ruang yang berlebihan menciptakan "broken interface" antara orang dewasa dan anak-anak, mengurangi pengawasan alami dan meningkatkan ketidakamanan. Selain itu, penggunaan struktur nya menghambat kontrol visual di tingkat dasar, sehingga mempermudah tindakan kriminal. Tata ruang yang tidak efisien, termasuk pemisahan jalur pejalan kaki dan kendaraan, semakin memperburuk kondisi sosial di kompleks ini. Paper ini menyimpulkan bahwa kegagalan Pruitt-Igoe bukan hanya disebabkan oleh faktor sosial dan ekonomi, tetapi juga oleh kelemahan dalam desain dan kebijakan perumahan modernis yang gagal memahami kebutuhan penghuninya.
NAMA : DEA GRESIA SINAGA
NPM :2313034085
KELAS :2023 C
Menurut Saya interaksi manusia dengan lingkungan dalam ruang sosial merupakan hubungan timbal balik yang mencerminkan bagaimana manusia memanfaatkan,dan menyesuaikan, lingkungannya untuk memenuhi kebutuhan sosial dan ekonominya. Dalam konteks Indonesia, interaksi ini terlihat dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat. Misalnya, ruang publik seperti Alun-Alun Kota Bandung menjadi pusat aktivitas warga untuk berinteraksi, berolahraga, dan menikmati hiburan, menunjukkan bagaimana tata ruang kota dapat mendukung kehidupan sosial. Selain itu, pengelolaan lingkungan berbasis komunitas, seperti konsep "Kampung Hijau" di Yogyakarta, memperlihatkan bagaimana masyarakat bekerja sama dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan melalui program penghijauan dan daur ulang sampah. Sementara itu, masyarakat Kampung Naga di Jawa Barat beradaptasi dengan kondisi lingkungan alam dengan membangun rumah panggung yang tidak hanya melindungi dari banjir tetapi juga mencerminkan nilai gotong royong dalam pembangunan dan perawatannya. Berbagai contoh tersebut menunjukkan bahwa lingkungan fisik tidak hanya membentuk pola interaksi sosial, tetapi juga sebaliknya, manusia memiliki peran aktif dalam menciptakan ruang yang mendukung kehidupan sosial dan budaya. Studi dari Matana University dan ResearchGate menyoroti pentingnya memahami interaksi manusia dengan lingkungan melalui pendekatan filosofis dan ekologis. Pendekatan filosofis membantu memahami bagaimana manusia memaknai dan membentuk lingkungan berdasarkan nilai, norma, serta budaya yang dianut. Sementara itu, pendekatan ekologis menekankan hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan alam, di mana manusia tidak hanya memanfaatkan lingkungan tetapi juga bertanggung jawab dalam menjaga keseimbangannya. Dengan memahami kedua pendekatan ini, perencanaan dan desain ruang sosial dapat lebih inklusif, yaitu mempertimbangkan keberagaman kebutuhan sosial masyarakat, serta lebih berkelanjutan, yaitu memastikan bahwa lingkungan tetap terjaga dan dapat digunakan oleh generasi mendatang. Sebagai contoh, konsep Kampung Hijau di Yogyakarta dan desain taman kota di berbagai daerah di Indonesia menunjukkan bagaimana interaksi manusia dengan lingkungan dapat dikelola secara bijak untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat tanpa merusak ekosistem.


Sumber :
Santoso, R., & Prasetyo, B. (2021). Karakteristik Spasial Ruang Interaksi Sosial. Jurnal Lingkungan Binaan, 9(1), 15-30.

Suryani, D., & Wibowo, A. (2023). Interaksi Manusia dan Lingkungan dalam Perspektif Antroposentrisme, Antropogeografi, dan Ekosentrisme.