Kiriman dibuat oleh 2313034075 SINDI NURHASANAH

Nama: Sindi Nurhasanah
Npm: 2313034075

Berdasarkan makalah "A Failure of Modernism: Excavating Pruitt-Igoe" oleh Dr. Mark David Major, kegagalan Pruitt-Igoe menjadi salah satu contoh paling terkenal dari kegagalan modernisme dalam desain dan perencanaan kota. Kompleks perumahan ini dibangun pada 1950-an di St. Louis, Missouri, untuk menyediakan perumahan sosial bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Namun, hanya dalam waktu kurang dari dua dekade, kompleks ini dihancurkan pada tahun 1972 karena dianggap gagal secara sosial dan struktural. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana desain fisik dan tata ruang Pruitt-Igoe berkontribusi pada munculnya masalah sosial seperti kejahatan, vandalisme, dan isolasi sosial. Salah satu penyebab utama kegagalan Pruitt-Igoe adalah pendekatan desain modernis yang tidak mempertimbangkan dinamika sosial penghuni. Tata letak grid yang kaku dan penggunaan struktur pilotis menciptakan ruang-ruang yang terisolasi dan sulit diawasi. Hal ini menyebabkan munculnya "unused space" yang kemudian berubah menjadi "abused space," yaitu area yang rentan terhadap aktivitas kriminal dan vandalisme. Selain itu, rasio antara orang dewasa dan anak-anak di area tersebut sangat tidak seimbang (2:1 atau lebih rendah), jauh dari rasio ideal 12:1 yang biasanya ditemukan di lingkungan urban tradisional. Ketidakseimbangan ini mengurangi pengawasan alami (natural policing), sehingga memperburuk persepsi keamanan di kalangan penghuni. Selain faktor desain, konteks sosial-ekonomi juga memainkan peran penting dalam kegagalan Pruitt-Igoe. Migrasi besar-besaran penduduk miskin ke pusat kota, terutama komunitas kulit hitam dari Selatan AS, menciptakan segregasi sosial yang semakin diperburuk oleh kebijakan zonasi dan suburbanisasi. Perpindahan penduduk kelas menengah ke pinggiran kota mengurangi basis pajak lokal, sehingga pemerintah kesulitan memelihara fasilitas publik seperti Pruitt-Igoe. Kombinasi antara desain fisik yang tidak mendukung interaksi sosial, persepsi negatif tentang keamanan, dan tekanan ekonomi akhirnya menjadikan Pruitt-Igoe simbol kegagalan modernisme dalam memenuhi kebutuhan manusia secara holistik.
Nama: Sindi Nurhasanah
Npm: 2313034075
Kelas: Geografi C

Saya memandang interaksi manusia dan lingkungan dalam ruang sosial sebagai hubungan timbal balik yang kompleks, di mana manusia tidak hanya memanfaatkan lingkungan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi juga harus beradaptasi dan berkontribusi terhadap keberlanjutan lingkungan tersebut. Hubungan ini dipengaruhi oleh faktor sosial, ekonomi, budaya, dan kondisi geografis yang ada di suatu wilayah.
Dalam geografi sosial ruang dibagi menjadi 3, yaitu ruang fisik, ruang wilayah, dan ruang sosial. Perlu kita ketahui bahwa ruang merupakan sebuah wadah atau tempat bagi manusia atau makhluk hidup lainnya untuk beraktivitas. Kaitannya dengan ruang sosial, ruang sosial merupakan tempat bagi manusia atau makhluk hidup lainnya untuk saling berinteraksi dengan lingkungan di sekitarnya. Interaksi ini dapat berupa pemanfaatan potensi lingkungan maupun interaksi antar sesama manusia. Interaksi antara manusia dan lingkungan yang sering kita jumpai adalah pemanfaatan lahan pertanian oleh masyarakat di daerah dataran rendah dan pada dasarnya interaksi ini saling berkaitan dan bertujuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka. Oleh karena itu hubungan yang terjalin antara manusia dan lingkungan ini memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan, dengan kata lain bahwa interaksi yang terjalin ini juga akan berpengaruh terhadap proses adaptasi antara manusia dengan lingkungan di sekitarnya. Misalnya saja, penduduk di daerah pegunungan yang notabennya merupakan daerah yang sumber air bersihnya terbatas dibandingkan dengan daerah-daerah lain serta variasi vegetasinya yang lebih sedikit karena sifat tanahnya yang kurang subur membuat mereka terbatas juga dalam penggunaan lahan untuk kegiatan persawahan atau perkebunan dan kalau pun bisa, mungkin hanya beberapa jenis tumbuhan saja yang bisa ditanam, seperti jati, mahoni, dan tanaman-tanaman musiman lainnya. Namun kondisi lingkungan seperti itu tidak membuat mereka meninggalkan tempat tinggalnya tersebut yang bahkan sudah terjadi sejak mereka lahir, hal ini dapat terjadi karena antara para penduduk di daerah karst dengan lingkungan disekitarnya telah terjadi proses adaptasi yang sempurna sehingga mereka sudah terbiasa untuk hidup beriringan dengan lingkungan seperti itu dengan penuh rasa kenyamanan dan kebahagiaan.

Referensi
Haggett, P. (2001). Geography: A Global Synthesis. Pearson Education.

Knox, P., & Marston, S. (2016). Human Geography: Places and Regions in Global Context. Pearson.