གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ 2313034054 SABRINA NADA NAQIYAH

NAMA : Sabrina Nada Naqiyah
NPM : 2313034054
KELAS/PRODI : PENDIDIKAN GEOGRAFI 2023 B
MATA KULIAH : GEOGRAFI SOSIAL
DOSEN PENGAMPU : Dr. Novia Fitri Istiawati, M. Pd.

Interaksi antara manusia dan lingkungan dalam ruang sosial merupakan hubungan timbal balik yang kompleks dan dinamis. Manusia memanfaatkan lingkungan untuk memenuhi berbagai kebutuhan sosial, ekonomi, dan budaya, sementara kondisi lingkungan juga mempengaruhi cara manusia berinteraksi satu sama lain. Dalam perspektif ekologi sosial, hubungan ini dapat dijelaskan melalui teori Bronfenbrenner (1979), yang menyatakan bahwa individu dipengaruhi oleh berbagai tingkat lingkungan sosial, mulai dari keluarga dan komunitas hingga kebijakan yang lebih luas. Lingkungan fisik, seperti infrastruktur yang memadai, ruang hijau, dan tata kota yang baik, berperan dalam membentuk pola interaksi masyarakat. Misalnya, keberadaan taman kota dan jalur pejalan kaki dapat mendorong masyarakat untuk lebih aktif berinteraksi dan membangun hubungan sosial yang lebih erat.

Dari perspektif sosiologi perkotaan, Lefebvre (1991) menekankan bahwa ruang sosial bukan hanya sekadar tempat fisik, tetapi juga hasil dari praktik sosial manusia. Setiap ruang memiliki makna sosial yang berkembang sesuai dengan aktivitas manusia di dalamnya. Ruang publik seperti taman, alun-alun, dan pusat kota menjadi tempat yang memungkinkan interaksi sosial terjadi secara alami. Misalnya, di kota-kota besar, ruang-ruang publik berfungsi sebagai titik temu bagi berbagai kelompok masyarakat, menciptakan identitas kolektif, serta mendukung partisipasi sosial. Namun, ketika ruang publik berkurang akibat kebijakan tata kota yang lebih mengutamakan pembangunan ekonomi daripada keberlanjutan sosial, maka pola interaksi sosial masyarakat juga dapat mengalami perubahan signifikan, seperti meningkatnya individualisme dan berkurangnya solidaritas sosial.

Dalam perspektif ekonomi dan lingkungan, aktivitas manusia seperti urbanisasi, industrialisasi, dan ekspansi ekonomi sering kali membawa dampak negatif terhadap lingkungan. Stern (2000) menyoroti bahwa perilaku manusia yang tidak memperhitungkan dampak ekologis dapat menyebabkan degradasi lingkungan, seperti pencemaran udara, hilangnya ruang hijau, serta perubahan iklim yang mempengaruhi kualitas hidup masyarakat. Namun, dengan meningkatnya kesadaran lingkungan dan diterapkannya kebijakan berkelanjutan, ruang sosial dapat dikelola agar tetap inklusif dan ramah lingkungan. Contohnya, konsep kota berkelanjutan yang mengutamakan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial semakin banyak diterapkan di berbagai negara.

Beberapa penelitian telah menunjukkan bagaimana interaksi manusia dan lingkungan dalam ruang sosial dapat dikelola untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat. Studi yang dilakukan oleh Siregar dan Wibowo (2020) mengungkap bahwa ruang terbuka hijau di Jakarta berfungsi sebagai tempat interaksi sosial yang mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan masyarakat, sekaligus membantu menjaga kualitas lingkungan perkotaan. Sementara itu, penelitian Santoso dan Prasetyo (2019) menunjukkan bahwa urbanisasi yang tidak terkendali dapat mengubah pola interaksi sosial serta menimbulkan berbagai permasalahan lingkungan, seperti peningkatan suhu kota dan penurunan kualitas udara. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan tata kota yang mempertimbangkan keseimbangan antara kepentingan sosial dan lingkungan agar ruang sosial tetap menjadi tempat yang nyaman dan inklusif bagi semua kelompok masyarakat.

sumber referensi:
Siregar, D. R., & Wibowo, R. (2020).Interaksi Sosial dan Lingkungan di Ruang Publik Kota: Studi Kasus Ruang Terbuka Hijau di Jakarta. Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota, 17(2), 145-158.
Santoso, A., & Prasetyo, H. (2019).Dampak Urbanisasi terhadap Pola Interaksi Sosial dan Lingkungan di Perkotaan.Jurnal Sosial Humaniora, 10(1), 25-40.
Lefebvre, H. (1991).The Production of Space. Oxford: Blackwell.
Stern, P. C. (2000). Toward a Coherent Theory of Environmentally Significant Behavior. Journal of Social Issues,56(3), 407-424.