Ananda Edhies Adellia 2313053036
Posts made by ananda edhies adellia
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Izin memperkenalkan diri pak
Nama : Ananda Edhies Adellia
Izin memperkenalkan diri pak
Nama : Ananda Edhies Adellia
NPM : 2313053036
Kelas : 4/B
Izin menjawab pertanyaan tersebut pak..
Menurut saya, media yang tepat bagi anak SD kelas tinggi berupa video edukasi ataupun dokumenter singkat. kedua media tersebut bisa menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan informasi yang mungkin sedikit rumit jika hanya dibaca. Gambar bergerak seperti itu dapat membuat peserta didik lebih mudah memahami dan mengingat. Aplikasi dan game edukasi juga dapat menjadi pilihan menarik karena menggabungkan kesenangan bermain dengan belajar jika dipilih yang sesuai dengan usia dan kemampuan peserta didik, media tersebut dapat menjadi cara yang menarik untuk melatih otak dan pemahaman peserta didik. Lalu, website dan platform belajar online yang interaktif. Di sana, peserta didik dapat menemukan banyak materi belajar yang disajikan dengan cara yang menarik, ada latihan soal, bahkan simulasi. Tetapi, masih didalam pengawasan orang dewasa untuk memilih konten yang tepat dan aman untuk peserta didik. Media audio seperti podcast dan audio book juga punya kelebihan tersendiri. Media tersebut dapat melatih kemampuan mendengarkan dan imajinasi peserta didik. Mendengarkan cerita atau informasi sambil bersantai atau melakukan kegiatan lain bisa jadi cara belajar yang berbeda. Terakhir, permainan papan dan kartu yang dirancang untuk belajar juga dapat menarik perhatian peserta didik. Selain bisa mengembangkan kemampuan sosial karena bermain bersama, permainan tersebut juga bisa melatih strategi berpikir dan pemahaman konsep tertentu dengan cara yang menyenangkan.
Sekian yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon maaf.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Kelas : 4/B
Izin menjawab pertanyaan tersebut pak..
Menurut saya, media yang tepat bagi anak SD kelas tinggi berupa video edukasi ataupun dokumenter singkat. kedua media tersebut bisa menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan informasi yang mungkin sedikit rumit jika hanya dibaca. Gambar bergerak seperti itu dapat membuat peserta didik lebih mudah memahami dan mengingat. Aplikasi dan game edukasi juga dapat menjadi pilihan menarik karena menggabungkan kesenangan bermain dengan belajar jika dipilih yang sesuai dengan usia dan kemampuan peserta didik, media tersebut dapat menjadi cara yang menarik untuk melatih otak dan pemahaman peserta didik. Lalu, website dan platform belajar online yang interaktif. Di sana, peserta didik dapat menemukan banyak materi belajar yang disajikan dengan cara yang menarik, ada latihan soal, bahkan simulasi. Tetapi, masih didalam pengawasan orang dewasa untuk memilih konten yang tepat dan aman untuk peserta didik. Media audio seperti podcast dan audio book juga punya kelebihan tersendiri. Media tersebut dapat melatih kemampuan mendengarkan dan imajinasi peserta didik. Mendengarkan cerita atau informasi sambil bersantai atau melakukan kegiatan lain bisa jadi cara belajar yang berbeda. Terakhir, permainan papan dan kartu yang dirancang untuk belajar juga dapat menarik perhatian peserta didik. Selain bisa mengembangkan kemampuan sosial karena bermain bersama, permainan tersebut juga bisa melatih strategi berpikir dan pemahaman konsep tertentu dengan cara yang menyenangkan.
Sekian yang dapat saya sampaikan, lebih dan kurangnya mohon maaf.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Nama: Ananda Edhies Adellia
NPM: 2313053036
Kelas: 4/B
Izin menjawab diskusi diatas pak,
Macam-macam Model Pembelajaran Tematik:
1. Discovery Learning: Model ini menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui oleh siswa hingga mereka mampu menyusun sebuah kesimpulan. Masalah yang diberikan biasanya direkayasa oleh guru. Tujuannya adalah untuk melatih siswa berpikir kreatif dan inovatif, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjadi problem solver atau ilmuwan. Langkah-langkahnya meliputi stimulasi/pemberian rangsangan, pernyataan/identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian hipotesis, dan penarikan kesimpulan/generalisasi.
2. Inquiry Learning: Model ini merupakan suatu penyelidikan atau pencarian untuk memuaskan rasa ingin tahu siswa. Berbeda dengan Discovery Learning, siswa tidak memiliki "kewajiban" untuk menemukan sesuatu. Masalah dalam pembelajaran bukan hasil rekayasa.
3. Problem Based Learning (PBL): Model ini melibatkan guru yang secara terus-menerus membimbing siswa dengan cara mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan. Guru memberikan penghargaan untuk pertanyaan-pertanyaan berbobot yang diajukan siswa, dan mendorong siswa mencari solusi/penyelesaian terhadap masalah nyata yang dirumuskan oleh siswa sendiri. Fasilitator (guru) dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau tautan dan keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran. Masalah yang disajikan adalah masalah kontekstual. Tujuannya adalah untuk melatih siswa berpikir kritis dan terampil memecahkan masalah. Langkah-langkahnya meliputi orientasi siswa kepada masalah, pengorganisasian siswa, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
4. Project Based Learning (PJBL): Model ini menggunakan proyek sebagai inti pembelajaran. Masalah digunakan sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman siswa dalam beraktivitas secara nyata. Siswa membuat keputusan tentang kerangka kerja dan mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan yang diajukan. Langkah-langkahnya meliputi penentuan pertanyaan mendasar, mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal, memonitor siswa dan kemajuan proyek, menguji hasil, dan mengevaluasi pengalaman.
Model pembelajaran yang tepat untuk peserta didik kelas rendah Inquiry-based learning dan Problem-Based Learning (PBL) karena:
Inquiry-based learning cocok karena anak kelas rendah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Model ini memungkinkan mereka mengeksplorasi topik dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif mereka. Mereka dapat belajar melalui pengalaman langsung dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sendiri.
Problem-Based Learning (PBL) juga efektif karena anak kelas rendah belajar dengan baik melalui pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan memotivasi mereka untuk terlibat aktif. Namun, perlu diperhatikan bahwa bimbingan guru sangat penting dalam model ini, terutama di kelas rendah, untuk memastikan siswa tetap terarah dan mampu menyelesaikan masalah.
Dampak bagi Peserta Didik:
1. Meningkatkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar: Pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna.
2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah: Siswa dilatih untuk menganalisis informasi, menemukan solusi, dan mengevaluasi hasil.
3. Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi: PBL khususnya mendorong kerja sama antar siswa dalam kelompok.
4. Meningkatkan pemahaman konsep: Pembelajaran yang aktif dan terarah membuat pemahaman konsep lebih mendalam.
Terima Kasih pak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Nama: Ananda Edhies Adellia
NPM: 2313053036
Kelas: 4/B
Izin menjawab diskusi diatas pak,
Macam-macam Model Pembelajaran Tematik:
1. Discovery Learning: Model ini menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui oleh siswa hingga mereka mampu menyusun sebuah kesimpulan. Masalah yang diberikan biasanya direkayasa oleh guru. Tujuannya adalah untuk melatih siswa berpikir kreatif dan inovatif, serta memberikan kesempatan bagi siswa untuk menjadi problem solver atau ilmuwan. Langkah-langkahnya meliputi stimulasi/pemberian rangsangan, pernyataan/identifikasi masalah, pengumpulan data, pengolahan data, pembuktian hipotesis, dan penarikan kesimpulan/generalisasi.
2. Inquiry Learning: Model ini merupakan suatu penyelidikan atau pencarian untuk memuaskan rasa ingin tahu siswa. Berbeda dengan Discovery Learning, siswa tidak memiliki "kewajiban" untuk menemukan sesuatu. Masalah dalam pembelajaran bukan hasil rekayasa.
3. Problem Based Learning (PBL): Model ini melibatkan guru yang secara terus-menerus membimbing siswa dengan cara mendorong dan mengarahkan mereka untuk mengajukan pertanyaan. Guru memberikan penghargaan untuk pertanyaan-pertanyaan berbobot yang diajukan siswa, dan mendorong siswa mencari solusi/penyelesaian terhadap masalah nyata yang dirumuskan oleh siswa sendiri. Fasilitator (guru) dapat memberikan konsep dasar, petunjuk, referensi, atau tautan dan keterampilan yang diperlukan dalam pembelajaran. Masalah yang disajikan adalah masalah kontekstual. Tujuannya adalah untuk melatih siswa berpikir kritis dan terampil memecahkan masalah. Langkah-langkahnya meliputi orientasi siswa kepada masalah, pengorganisasian siswa, membimbing penyelidikan individu dan kelompok, mengembangkan dan menyajikan hasil karya, dan menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
4. Project Based Learning (PJBL): Model ini menggunakan proyek sebagai inti pembelajaran. Masalah digunakan sebagai langkah awal dalam mengumpulkan dan mengintegrasikan pengetahuan baru berdasarkan pengalaman siswa dalam beraktivitas secara nyata. Siswa membuat keputusan tentang kerangka kerja dan mendesain proses untuk menentukan solusi atas permasalahan yang diajukan. Langkah-langkahnya meliputi penentuan pertanyaan mendasar, mendesain perencanaan proyek, menyusun jadwal, memonitor siswa dan kemajuan proyek, menguji hasil, dan mengevaluasi pengalaman.
Model pembelajaran yang tepat untuk peserta didik kelas rendah Inquiry-based learning dan Problem-Based Learning (PBL) karena:
Inquiry-based learning cocok karena anak kelas rendah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Model ini memungkinkan mereka mengeksplorasi topik dengan cara yang menyenangkan dan sesuai dengan tahap perkembangan kognitif mereka. Mereka dapat belajar melalui pengalaman langsung dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan sendiri.
Problem-Based Learning (PBL) juga efektif karena anak kelas rendah belajar dengan baik melalui pemecahan masalah yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini membuat pembelajaran lebih bermakna dan memotivasi mereka untuk terlibat aktif. Namun, perlu diperhatikan bahwa bimbingan guru sangat penting dalam model ini, terutama di kelas rendah, untuk memastikan siswa tetap terarah dan mampu menyelesaikan masalah.
Dampak bagi Peserta Didik:
1. Meningkatkan rasa ingin tahu dan motivasi belajar: Pembelajaran menjadi lebih menarik dan bermakna.
2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah: Siswa dilatih untuk menganalisis informasi, menemukan solusi, dan mengevaluasi hasil.
3. Meningkatkan kemampuan kolaborasi dan komunikasi: PBL khususnya mendorong kerja sama antar siswa dalam kelompok.
4. Meningkatkan pemahaman konsep: Pembelajaran yang aktif dan terarah membuat pemahaman konsep lebih mendalam.
Terima Kasih pak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.