Posts made by Fauzya Putri Ramadani

Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Jurnal yang berjudul "Membina Nilai Moral Sosial Budaya Indonesia di Kalangan Remaja" membahas tentang pembentukan perilaku peserta didik, pendidikan agama memiliki peranan yang strategis dalam membentuk kepribadian peserta didik yang memiliki nilai-nilai moral. Pendidikan agama yang dilaksanakan di keluarga, sekolah, dan masyarakat diharapkan mampu membentuk karakter peserta didik sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

Faktor-faktor personal yang mempengaruhi tindakan manusia antara lain insting dan emosi seseorang. Menurut McDougall, faktor-faktor internal inilah yang menentukan perilaku individu. Sedangkan menurut Edward Sampson, terdapat dua perspektif yaitu yang berpusat pada faktor personal maupun situasional dalam melihat penentu perilaku seseorang. Untuk menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif dan efektif, diperlukan komunikasi yang aktif, kreatif, dan penuh tanggung jawab. Komunikasi harus didasarkan pada nilai-nilai pertemanan, kesetaraan, dan keadilan agar peserta didik dapat tumbuh secara optimal.

Membangun hubungan antar warga bangsa yang baik perlu didasari saling menghargai, saling percaya, dan bekerjasama untuk menciptakan kehidupan yang sejahtera. Nilai-nilai kemanusiaan dan persatuan perlu dihayati bersama demi terciptanya masyarakat Indonesia yang damai dan makmur.
Nama : Fauzya Putri Ramadani
NPM : 2313053221

Artikel jurnal ini membahas tentang penerapan nilai-nilai moral Pancasila dalam membangun generasi anti korupsi di SD Negeri Osiloa, Kupang Tengah. Artikel ini mendiskusikan pentingnya penanaman nilai-nilai moral Pancasila sejak dini untuk mencegah terjadinya korupsi pada generasi muda. Nilai-nilai seperti kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab diasah mulai dari tingkat pendidikan dasar.

Metode sosialisasi nilai-nilai anti korupsi yang digunakan meliputi pemberian materi pelajaran, pertanyaan kuis, dan pemberian hadiah untuk siswa yang aktif berpartisipasi. Kegiatan ini dilakukan di kelas 5A SDN Osiloa. Hasil kegiatan ini diharapkan mampu membangun karakter siswa sehingga menjadi generasi yang memiliki jiwa Pancasila yang kuat dan mampu mencegah terjadinya korupsi di masa depan.

Artikel ini juga membahas pentingnya penanaman nilai-nilai moral sejak dini melalui pendidikan formal, nonformal, dan informal guna merevitalisasi potensi peserta didik dan masyarakat. Kesimpulannya, penanaman nilai moral Pancasila sejak usia dini diharapkan mampu mencegah terjadinya perbuatan negatif seperti korupsi pada generasi muda.

Nama : Fauzya Putri Ramadani

NPM   : 2313053221

Nilai-nilai yang harus kita teladani dari Pancasila:


1. Sila ke-1: Percaya kepada Tuhan, menjalankan perintah agama, menghormati agama lain, dan tidak memaksakan agama kepada orang lain.

2. Sila ke-2: Saling mencintai sesama manusia, membantu mereka yang membutuhkan, bersikap sopan, dan menolong sesama tanpa kekerasan.

3. Sila ke-3: Cinta tanah air, menghargai budaya daerah, bersikap rukun tanpa memandang perbedaan suku dan agama.

4. Sila ke-4: Mengutamakan musyawarah, saling menghargai pendapat, dan menerima hasil keputusan bersama dengan lapang dada.

5. Sila ke-5: Bersikap adil, tidak curang, menghargai karya orang lain, dan melaksanakan hak serta kewajiban dengan seimbang.

Untuk meneladani dan menerapkan nilai-nilai tersebut dalam era modern yang penuh tantanga, kita harus memahami pentingnya nilai-nilai tersebut dan menginternalisasinya dalam setiap tindakan. Di era digital, gunakan media sosial untuk menyebarkan pesan positif, toleransi, dan saling menghargai.

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 2

by Fauzya Putri Ramadani -

Saya Fauzya Putri Ramadani dengan NPM 2313053221 sebagai anggota kelompok 2

Izin menjawab pertanyaan dari saudari Kurnia Citra

Pendidikan formal dalam bentuk mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di SD penting untuk memberikan kerangka teoretis dan pemahaman yang sistematis tentang konsep sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Ini melengkapi pengalaman sosial langsung siswa dengan pengetahuan yang lebih luas dan terstruktur, sehingga mereka bisa memahami masyarakat dengan perspektif yang lebih mendalam. Tanpa dasar formal, siswa mungkin sulit memahami isu-isu yang lebih kompleks yang tidak selalu terlihat dalam pengalaman sehari-hari.