Posts made by Marsya Aulia

PGSD_PIPSSD_G_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 6

by Marsya Aulia -
Izin menjawab pertanyaan dari Arum Suryaning Astuti 

Pembelajaran kooperatif merupakan pendekatan yang sangat efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, terutama dalam mata pelajaran IPS. Dengan bekerja sama dalam kelompok kecil, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan, tetapi juga mengembangkan keterampilan sosial dan kemampuan berpikir kritis.

Berikut adalah beberapa cara pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPS:

Meningkatkan Motivasi

Tujuan bersama: Ketika siswa bekerja dalam kelompok untuk mencapai tujuan bersama, mereka cenderung lebih termotivasi untuk berpartisipasi.
Tanggung jawab bersama: Setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan kelompok, sehingga siswa merasa lebih bertanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri.
Pujian dan penghargaan: Pengakuan atas keberhasilan kelompok dapat meningkatkan motivasi siswa untuk terus berprestasi.

Memfasilitasi Diskusi dan Interaksi

Berbagi ide: Dalam kelompok, siswa dapat saling berbagi ide dan perspektif yang berbeda, memperkaya pemahaman mereka tentang materi.
Menjelaskan konsep: Dengan menjelaskan konsep kepada teman sekelompok, siswa akan memperdalam pemahaman mereka sendiri tentang materi.
Mengatasi kesulitan: Siswa dapat saling membantu mengatasi kesulitan yang mereka hadapi, sehingga mereka merasa lebih percaya diri.

Mengembangkan Keterampilan Sosial

Kerjasama: Pembelajaran kooperatif menumbuhkan kemampuan siswa untuk bekerja sama dengan orang lain.
Komunikasi: Siswa belajar berkomunikasi secara efektif untuk menyampaikan ide dan pendapat mereka.
Toleransi: Melalui interaksi dengan teman sekelompok yang berbeda, siswa belajar menghargai perbedaan dan mengembangkan sikap toleransi.

Meningkatkan Pemahaman Konsep

Berbagai perspektif: Dengan mendengarkan pendapat teman sekelompok, siswa dapat melihat suatu konsep dari berbagai sudut pandang.
Menerapkan konsep: Melalui diskusi dan pemecahan masalah bersama, siswa dapat menerapkan konsep IPS dalam situasi yang nyata.
Nama: Marsya Aulia
NPM: 2313053218
Kelas: 3/G

Judul jurnal: Penerapan Model Moral Reasoning Untuk Meningkatkan Keberanian Mengemukakan Pendapat dan Mengambil Keputusan Pada Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan VII SMP NU Nurul Huda Pakis Kabupaten Malang

Dari analisis jurnal yang telah saya baca diperoleh bahwa penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan aktivitas guru dalam mengelola pembelajaran dengan model moral Reasoning dan untuk mengetahui peningkatan keberanian mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan setelah menggunakan model Moral Reasoning pada siswa SMP NU Nurul Huda Pakis Kabupaten Malang. Pada penelitian ini populasi yang digunakan adalah siswa kelas 8 di SMP NU Nurul Huda Pakis kabupaten Malang yang berjumlah 38 siswa.

Pada jurnal ini dijelaskan proses belajar mengajar merupakan proses yang melibatkan guru dan siswa. Guru memiliki peran yang sangat strategis dalam proses pembelajaran. Peran strategis Dalam proses pembelajaran ini memiliki dampak kompetensi yang dicapai siswa seperti pengetahuan, sikap, dan kemandirian. Kompetensi siswa akan berkembang secara optimal tergantung bagaimana guru memposisikan diri dan menempatkan posisi siswa dalam pembelajaran. Guru bersama-sama sebagai subjek pembelajaran menyampaikan materi yang menjadi tanggung jawabnya sesuai dengan mata pelajaran yang menjadi bidang kemampuannya, sedangkan siswa sebagai objek penerima pelajaran yang disampaikan guru. Keaktifan siswa dalam menerima pembelajaran mutlak diperlukan agar proses belajar mengajar menjadi hidup dan bergairah. Salah satu bentuk keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar adalah keberanian siswa dalam mengemukakan pendapatnya di kelas selama proses pembelajaran berlangsung. Kecenderungan yang muncul dalam pembelajaran guru PKN biasanya menggunakan metode pembelajaran yang sering digunakan dalam pembelajaran adalah ceramah diselingi tanya jawab, pemberian tugas, dan diskusi. Guru tidak bisa mengukur tingkat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan, bila siswa hanya mendengar dan mencatat, tanpa ada komunikasi timbal balik mengajukan beberapa pertanyaan kepada siswa, agar siswa lebih memperhatikan materi yang dijelaskan. Situasi demikian menunjukkan bahwa guru sangat dominan dalam proses belajar mengajar, sedangkan pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan materi pembelajaran yang ditanyakan kepada siswa kurang direspon siswa dan hasilnya tidak seperti yang diharapkan.Kondisi tersebut tidak akan mendukung terciptanya Interaksi yang sehat antara buruh dengan siswa dalam proses belajar mengajar dan kurang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran.

Pada metode penelitian yang diperoleh bahwa tindakan penelitian kelas ini dilaksanakan dengan tiga siklus, dan setiap siklus dilaksanakan sesuai dengan perubahan aktivitas serta kompetensi yang dicapai berdasarkan perencanaan yang telah di desain sebelumnya. Pengamatan melakukan observasi terhadap kegiatan yang dilaksanakan sebagai bahan diskusi untuk tujuan perbaikan. Adapun langkah-langkah dalam tindakan penelitian yaitu perencanaan, pelaksanaan, tindakan observasi, dan refleksi.

Hasil penelitian diperoleh bahwasannya hasil tindakan siklus pertama yang telah dilakukan Guru menyampaikan apresiasi pembelajaran dengan pokok bahasan memahami pelaksanaan demokrasi dalam berbagai kehidupan, dari pelaksanaan Pada siklus pertama tersebut diperoleh hasil pengamatan yang menggunakan model moral resoning pada bidang studi PKN hasilnya menunjukkan bahwa dari 30 siswa yang memiliki kemampuan mengemukakan pendapat sebanyak 7 siswa 23%, siswa yang mampu mengambil keputusan sebanyak 6 siswa 20%, siswa yang memiliki kemampuan menghargai orang lain 13 siswa 43%, dan siswa yang memiliki kemampuan bekerja sama sebanyak 15 siswa 50%. Dari hasil observasi ditemukan kelemahan-kelemahan yaitu siswa belum pernah diajari dengan menggunakan model moral resoning juga guru belum pernah menggunakan penerapan moral Reasoning, guru kurang menguasai model moral Reasonik sehingga kurang memberi motivasi kepada siswa untuk aktif dalam pembelajaran, yang ketiga aktivitas guru dalam menggunakan model penalaran moral nampaknya kurang menguasai. Hal ini dapat dilihat dari penjelasan guru yang berulang-ulang.

Hasil tindakan siklus kedua diperoleh bahwa dari 30 siswa yang memiliki kemampuan mengemukakan pendapat sebanyak 17 siswa 57%, siswa yang memiliki kemampuan mengambil keputusan 13 siswa 43%, siswa yang memiliki kemampuan menghargai orang lain sebanyak 22 siswa 73%, dan siswa yang memiliki kemampuan bekerja sama sebanyak 23 siswa 77%. Dari tindakan siklus kedua ini guru dalam menyajikan materi termasuk kategori cukup, kemampuan penggunaan model penalaran moral termasuk kategori cukup, dan kemampuan penguasaan kelas termasuk dalam kategori cukup. Kemampuan guru dalam mengelola kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan model penalaran moral masuk dalam kategori cukup.

Hasil tindakan siswa siklus ke-3 diperoleh bahwa dari 30 siswa yang memiliki kemampuan mengemukakan pendapat sebanyak 24 siswa 80%, siswa yang memiliki kemampuan mengambil keputusan sebanyak 22 siswa 73%, siswa yang memiliki kemampuan menghargai orang lain sebanyak 28 siswa 93%, siswa yang memiliki kemampuan bekerja sama sebanyak 30 siswa 100%. Didapatkan juga kemampuan guru dalam menyajikan termasuk kategori baik, kemampuan menggunakan model penalaran moral termasuk kategori baik, dan kemampuan penguasaan kelas termasuk dalam kategori baik.

Dari hasil pengamatan dapat diketahui bahwa terjadi peningkatan pada aktivitas siswa. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa dengan menerapkan model  moral reasoning maka keberanian mengemukakan pendapat dan mengambil keputusan dengan alasan pertimbangan moral pada bidang studi PKN kelas 8 SMP NU Nurul Huda Pakis kabupaten Malang tahun 2017-2018 meningkat. Serta aktivitas guru dalam mengelola model moral shading juga mengalami peningkatan.

Peningkatan aktivitas siswa dalam proses belajar mengajar disebabkan oleh motivasi dan pendamping guru dalam pelaksanaan diskusi. Intensitas guru dalam motivasi dalam menjamin siswa selama pelaksanaan diskusi juga membantu keaktifan siswa dalam pembelajaran.
Nama: Marsya Aulia
NPM: 2313053218
Kelas: 3/G

Judul jurnal: Pengembangan Moral Anak di Lingkungan Lokalisasi Pasar Kembang TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta

Analisis Dari jurnal yang telah saya baca didapatkan bahwa jurnal ini bertujuan untuk mengungkapkan pengembangan moral anak TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta dan mengungkapkan perkembangan moral anak TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Subjek penelitian ini terdiri atas kepala sekolah, guru, dan anak didik TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta.

Jadi dalam jurnal membahas tentang masa anak-anak yang merupakan masa yang sangat peka. Pada tahap ini anak-anak belum mempunyai filter atau penyaring hal-hal yang baik dan hal yang buruk. Pendidik sebagai orang yang paham dengan karakteristik anak harus dapat memberikan filter bagi anak, sehingga ketika anak berinteraksi langsung dengan lingkungannya ia mampu membentengi dirinya sendiri. Perkembangan anak usia dini dalam hal ini sangat pesat. Oleh karena itu sebagai orang yang memahami tentang perkembangan harus membantu aspek perkembangan anak agar tumbuh dengan maksimal. Masa peka pada masing-masing anak tentunya berbeda seiring dengan lajunya pertumbuhan dan perkembangan anak. Secara individu salah satu aspek perkembangan anak usia dini adalah nilai moral pengembangan moral dan nilai-nilai agama sejak kecil yang dimulai pada usia dini. Pada dasarnya oleh sebuah keprihatinan atas realitas anak didik bahkan hasil pendidikan di Indonesia yang belum sepenuhnya mencerminkan kepribadian yang bermoral yakni santun dalam bersikap dan perilaku hal ini menunjukkan bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam sistem pendidikan Indonesia, khususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini. Oleh karena itu, sebagai upaya awal perbaikan sistem pendidikan Indonesia sangat diperlukan adanya pengembangan moral dan nilai-nilai agama sejak dini sebagai upaya pengokohan mental spiritual anak.

Kohlberg mengemukakan bahwa moralitas lebih dari segala formalnya sebuah pertimbangan moral atau suatu titik pandang moral, ketimbang dari segi isinya. Kohlberg dalam hasil penelitiannya menggunakan cerita-cerita hipotetik yang mengandung dilema dilema moral. Kohlberg menyimpulkan bahwa ada tiga tingkatan utama tentang moral reasoning yang tingkatan-tingkatan itu terdiri atas dua tahap seperti berikut.
Level I : Preconventional Morality
Stage1. Punishmen and Obidience orientation.
Stage 2. Individualism, Instrumental purpose,
and exchange.
Level II : Conventional Morality
Stage 3. Mutual interpersonal expectations,
relationship, and interpersonal
conformity.
Stage 4. Social system and conscience (law
and order).
Level III. Postconventional Morality or
Principled
Stage 5. Social contract or utility and
individual right.
Stage 6. Universal ethical principles.

Pendidikan moral Anak Usia Dini juga terdiri dari beberapa aspek yaitu mulai dari aspek materi, pendidik, metode ( dalam metode ada beberapa referensi metode yang bisa digunakan oleh guru yaitu metode bercerita, metode bernyanyi, metode pembiasaan, dan metode keteladanan), dan yang terakhir ada evaluasi.

Hasil dari penelitian pada jurnal itu didapatkan bahwasannya pendidikan moral anak di TK PKK Sosrowijayan dikembangkan secara formal di sekolah. Pendidikan moral dikembangkan secara terintegrasi dengan kegiatan harian anak. Pendidikan moral anak di TK PKK sosrowijaya Yogyakarta kurang optimal, karena pengembangan moral pada anak tidak memiliki ruang khusus dalam pengembangannya di tkpkk sosrowijaya Yogyakarta ini lebih mengutamakan pengembangan intelektual pada anak. Karena di TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta ini lebih memfokuskan pada catat tulis hitung, Hal inilah yang membuat orang tua banyak yang menyekolahkan anaknya di TK PKK sosrowijaya Yogyakarta karena banyaknya lulusan TK PKK sosrowijaya Yogyakarta yang sudah bisa catat tulis hitung. Namun di sisi lain orang tua banyak yang ketakutan akan dampak negatif yang ditimbulkan dari lingkungan walaupun anak-anak tidak diperbolehkan bermain di luar sekolah, namun kondisi di sekitar sekolah akan memberikan dampak negatif anak seperti anak akan memperhatikan beberapa fenomena ketika ia berangkat melewati gang sempit yang disitu terdapat tulisan yang tidak cocok untuk anak-anak.

Namun pendidikan moral pada TK Sosrowijayan dikembangkan dengan pembiasaan pembiasaan yang dilakukan guru dengan tujuan untuk memberikan stimulasi kepada anak tentang nilai-nilai moral agar menjadi kegiatan yang rutin dikerjakan anak. Pengembangan moral juga dilakukan dengan TPA, namun kegiatan TPA tidak berlangsung secara rutin.

TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta juga memiliki metode pembelajaran yang digunakan dalam menerapkan pendidikan moral yaitu menggunakan beberapa metode pembiasaan, keteladanan, bercerita, dan bernyanyi.

Guru TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta telah mengevaluasi mengenai perkembangan moral anak dengan menggunakan observasi. Observasi ini dilakukan setiap hari untuk mengetahui perkembangan moral anak. Evaluasi juga melibatkan orang tua, karena dalam evaluasi moral tidak bisa dilihat dari perilaku anak yang ditunjukkan selama di sekolah. Guru sering pesan kepada orang tua jika ada stimulus baru dari sekolahan, sehingga ketika di rumah orang tua dapat memberikan penguatan.

Jadi dari analisis yang didapatkan terlihat jelas bahwasanya TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta ini kurang menerapkan pendidikan nilai dan moral kepada peserta didiknya. TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta justru malah lebih fokus terhadap catat tulis hitung padahal pendidikan nilai dan moral merupakan modal utama anak untuk bekal di masa dewasanya nanti. TK PKK Sosrowijayan Yogyakarta juga berada di lokasi yang kurang mendukung untuk perkembangan anak. Sebaiknya TK PKK Sosrowijaya pindah dari lokasi lokalisasi ke tempat yang lebih baik dan mendukung bagi perkembangan moral anak usia dini.
Nama: Marsya Aulia
NPM: 2313053218
Kelas: 3/G

Dari video yang telah saya saksikan dapat diambil analisis bahwasanya market marketplace activity adalah sebuah model pembelajaran yang berisi jual beli informasi di dalam kelas seperti layaknya sebuah pasar yang membuat produk lalu kemudian diperjualbelikan.
Ada lima tahap dalam model pembelajaran market place activity:
1. Pembagian kelompok
2. Pembuatan produk, pada tahap ini peserta didik membuat produk berupa poster. Sesuai dengan peraturan yang telah diberlakukan gurunya. Peraturan ini dilakukan supaya melatih peserta didik dalam mengkomunikasikan hal tersebut yang nantinya akan ada dalam tahap ketiga. Pada saat pembuatan produk guru tetap melakukan bimbingan kepada kelompok dan juga penelitian pada proses.
3. Terjadi proses jual beli informasi, satu orang peserta didik ditunjuk sebagai penjaga stand dan menjelaskan kepada kelompok lain dan tiga orang peserta didik yang lainnya bertugas untuk berbelanja ke stand kelompok lain. Namun waktunya dibatasi masing-masing kelompok terjadi jual beli tidak lebih dari 5 menit
4. Peserta didik yang berbelanja informasi ke kelompok lain, kembali ke kelompoknya kemudian berbagi informasi kepada penjaga stand. Sehingga dapat dipastikan informasi yang didapat dari kelompok lain juga didapatkan oleh penjaga stand tersebut
5. Yang terakhir yaitu tahap konfirmasi yang artinya di sini guru mengkonfirmasi ketersampaian informasi yang telah didapat dari satu kelompok ke kelompok lain dan selanjutnya guru memberikan penguatan dan juga kesimpulan materi yang telah diajarkan.

Dengan menerapkan model pembelajaran market place activity maka peserta didik akan lebih aktif dan lebih cepat serta tanggap dalam memahami isi materi pelajaran. Tidak hanya itu saja model marketplace activity juga dapat menumbuhkan karakter siswa, membentuk kemampuan siswa dalam bekerja sama, membangun kepercayaan diri siswa, membangun kemandirian siswa, melatih siswa untuk bertanggung jawab, serta dapat membiasakan siswa untuk mengevaluasi dan dievaluasi.
Nama: Marsya Aulia
NPM: 2313053218
Kelas: 3/G

Dari video yang telah disajikan dapat dianalisis bahwasanya, nilai moral yang baik dan nilai-nilai agama yang luhur perlu ditanamkan pada diri anak sedini mungkin. Keberhasilan maupun kegagalan dalam melakukan hal ini akan berpengaruh pada diri anak. Taman kanak-kanak merupakan salah satu tempat pembinaan moral dan juga keagamaan yang sangat penting. Karena pada saat di taman kanak-kanak, anak itu masuk ke dalam usia yang sangat peka terhadap pengaruh yang ada di lingkungan sekitarnya. Maka dari itu Peran pendidik di taman kanak-kanak harus memberikan pengaruh positif kepada anak tersebut misalnya bisa melalui kegiatan bermain atau kegiatan-kegiatan yang dapat bermanfaat bagi anak-anak pada usia taman kanak-kanak. Dalam menanamkan nilai moral kepada anak kita membantu anak membangun karakter kepribadian dan dan perkembangan sosialnya, yaitu melalui beberapa program. Program tersebut meliputi konsep diri, kerapihan, dan kesopanan. Konsep diri berhubungan dengan pembentukan karakter yaitu menanamkan kepercayaan diri, keberanian berpendapat dan lain-lain. Kerapihan berhubungan dengan pembentukan kepribadian yaitu cara makan, berpakaian, dan berperilaku. Sedangkan kesopanan berhubungan dengan perkembangan sosial anak yaitu cara berkomunikasi dengan orang lain, cara bersikap terhadap orang lain, dan sebagainya. Untuk mengembangkan nilai agama kita dapat membantu anak dalam hal keimanan dan juga peribadatan. Dalam hal nilai keimanan berhubungan dengan pengenalan sang pencipta, pengenalan ciptaan tuhan, gejala-gejala alam, dan sebagainya. Peribadatan berhubungan dengan ritual keagamaan yaitu bagaimana manusia berkomunukasi kepada pencipta-Nya.

Dalam video juga dijelaskan bahwa apabila seorang anak melakukan hal yang tidak baik pendidik tidak boleh memarahi anak tetapi mengajak anak tersebut untuk mengganti perbuatan yang tidak baik menjadi perbuatan yang lebih baik. Jika ada perbuatan-perbuatan yang tidak baik di antara anak-anak maka pendidik langsung melarang mereka untuk tidak berkelahi dengan cara yang tidak menyakiti anak, supaya mereka tidak takut dengan gurunya. Larangan juga harus bersifat adil dan konsisten. Upayakan juga supaya guru dapat memberikan argumen yang dapat diterima anak dalam mengatasi konflik.

Dari analisis yang saya dapatkan dari video didapatkan juga bahwa kegiatan kesenian seperti menyanyi, menari, dan membaca sajak dengan tema keagamaan akan membuat anak meresapi arti dari syair yang diucapkannya atau gerak yang dilakukannya. Cara lainnya yaitu dengan bercerita karena bercerita itu merupakan suatu hal yang sangat disenangi oleh anak, dengan bercerita guru dapat memperkenalkan kepada anak-anak tentang ketuhanan, keteladanan, sopan santun dalam pergaulan, nilai-nilai di masyarakat, dan sebagainya. Dengan cara bercerita ini akan membuat anak dapat memahami isi dari cerita yang telah dibacakan gurunya. Hal yang perlu diperhatikan juga dalam membawakan cerita yaitu, cerita yang dibawakan bersumber dari lingkungan anak sehingga dapat lebih mudah dimengerti, kemudian cerita harus menyenangkan atau disenangi oleh anak-anak, yang ketiga yaitu cerita harus memiliki tujuan tertentu, dan yang terakhir cerita harus ada kesimpulan dan pesan-pesan moral atau keagamaan yang terkandung dalam cerita yang telah disampaikan. Kegiatan lainnya yang sangat penting dan juga bermanfaat dalam mengembangkan moral dan nilai-nilai keagamaan pada anak yaitu dengan bermain peran. Para ahli juga telah meyakini bahwa dengan bermain peran anak dapat mengatasi masalah yang berkaitan dengan perasaannya seperti menyalurkan perasaan sedih, senang, bersemangat, dan sebagainya. Jenis bermain peran yaitu bisa dengan jenis bermain peran mikro, jenis bermain peran mikro ini menggunakan mainan berupa boneka atau barang tiruan. Kegunaan bermain peran mikro dapat mengembangkan sosialisasi anak artinya dari bermain sendirian menjadi bermain paralel atau bermain bersama tanpa adanya rencana ataupun tujuan.

Hal-hal yang tidak boleh Terlewatkan dalam penanaman nilai moral dan nilai-nilai agama yaitu dengan mendemonstrasikan hal-hal positif kepada anak. Seperi halnya mengajak anak untuk melakukan peribadahan sebagai wujud taat kepada Tuhan sang pencipta.

Di video juga telah dijelaskan bahwasanya mengajak anak-anak berkarya wisata itu dapat membuat mereka pengalaman langsung dari luar sekolah. Kegiatan itu juga dapat meningkatkan kemampuan sosialisasi anak seperti tanggap terhadap lingkungan, mengenalkan budaya setempat, mengenalkan ciptaan-ciptaan Tuhan dan sebagainya.

Maka dari itu sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai moral dan juga nilai-nilai agama kepada anak usia dini karena hal itu akan berpengaruh pada diri anak pada saat dewasa nanti.