Kiriman dibuat oleh Batin Kiani

Nama : Batin Kiani
Npm : 2353053017

Perbedaan antara kriteria nilai hardskill dan softskill terletak pada fokus dan sifat keterampilan yang dinilai. Hardskill adalah keterampilan teknis yang dapat diukur secara objektif, seperti kemampuan mengoperasikan alat, memahami konsep akademik, atau menguasai teknologi tertentu. Nilai hardskill biasanya didasarkan pada hasil tes, proyek, atau tugas yang menunjukkan tingkat penguasaan terhadap keterampilan tersebut. Sebaliknya, softskill mencakup keterampilan interpersonal dan intrapersonal seperti komunikasi, kerja sama tim, kepemimpinan, kreativitas, dan kemampuan manajemen waktu. Penilaian softskill cenderung bersifat subjektif karena melibatkan observasi perilaku, sikap, dan interaksi individu dalam berbagai situasi. Perbedaan ini menunjukkan bahwa keduanya saling melengkapi, di mana hardskill membantu seseorang menyelesaikan tugas teknis, sementara softskill mendukung keberhasilan dalam berkolaborasi dan beradaptasi di lingkungan kerja atau masyarakat.
Nama : Batin Kiani
Npm : 2353053017

Video tersebut menekankan pentingnya etika dan moral, terutama bagi generasi muda di era kemajuan teknologi dan akses informasi yang mudah. Kemampuan membedakan hal baik dan buruk menjadi kunci agar tidak terpengaruh informasi keliru. Nilai-nilai etika dan moral ditanamkan oleh keluarga sebagai fondasi awal, diperkuat oleh sekolah melalui aturan yang mendukung pembentukan karakter. Di era pembelajaran online, menjaga etika berkomunikasi menjadi penting, seperti menggunakan bahasa sopan, menghargai waktu, dan memperkenalkan diri dengan baik. Semua ini bertujuan membentuk individu yang bermoral dan beretika, memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.
Nama : Batin Kiani
Npm : 2353053017

Video tersebut menjelaskan tentang penanaman dan penerapan nilai-nilai moral melalui delapan fungsi keluarga. Fungsi agama,berperan dalam menanamkan keimanan, ketaqwaan, kejujuran, kepedulian, disiplin, kesabaran, dan kasih sayang. Fungsi sosial budaya,mendorong nilai gotong royong, sopan santun, kebersamaan, toleransi, dan kebangsaan. Fungsi cinta kasih, mengajarkan empati, kesetiaan, pemaaf, tanggung jawab, dan pengorbanan. Fungsi perlindungan,memberikan nilai seperti ketabahan, pemaaf, dan tanggap. Fungsi berproduksi,mengajarkan tanggung jawab, kesehatan, dan keteguhan. Fungsi sosialisasi dan pendidikan, menanamkan percaya diri, kreativitas, kebajikan, dan kerjasama. Fungsi ekonomi, mendorong nilai hemat, disiplin, keuletan, dan ketelitian. Terakhir, fungsi pemeliharaan lingkungan,mengajarkan kebersihan dan kedisiplinan. Semua fungsi ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam membentuk moral dan karakter anak.
Nama : Batin Kiani
Npm : 2353053017

Video tersebut menggambarkan perilaku siswa yang menunjukkan kurangnya nilai moral, seperti tidak membawa perlengkapan yang seharusnya, melepas dasi dan seragam di lingkungan sekolah, serta terpengaruh ajakan teman untuk merokok. Hal ini menekankan bahwa lingkungan sekitar, termasuk pertemanan, sangat memengaruhi pembentukan nilai moral. Oleh karena itu, penanaman nilai moral sejak dini menjadi penting agar anak memahami perbedaan antara perilaku baik dan buruk. Keluarga memiliki peran utama sebagai teladan, sedangkan sekolah juga berperan dalam membentuk karakter siswa melalui pendidikan moral. Dalam kurikulum merdeka, hal ini difasilitasi melalui program P5 untuk mengembangkan karakter siswa menjadi lebih baik
Nama: Batin Kiani
Npm:2353053017

Pendidikan moral memiliki peran penting dalam membentuk perilaku yang baik dan bertanggung jawab pada anak-anak, terutama di tingkat sekolah dasar. Tujuan utamanya adalah menanamkan nilai-nilai budi pekerti, kemampuan mengambil keputusan yang tepat, dan pola perilaku sesuai norma sosial. Namun, moral anak sering menurun karena dua faktor utama: perundungan di sekolah akibat kurangnya perhatian orang tua dan kekerasan fisik dalam keluarga yang melibatkan ketidakseimbangan kekuatan, seperti pemukulan. Untuk mengatasi hal ini, peran orang tua dan guru sangat penting. Orang tua menjadi teladan utama dalam membentuk moral anak, sedangkan guru memperkuat nilai-nilai tersebut melalui bimbingan, motivasi, dan pengajaran yang konsisten di sekolah. Dengan sinergi antara keluarga dan sekolah, pendidikan moral sejak dini dapat membentuk individu yang bertanggung jawab, berkarakter, dan sesuai norma sosial.