Posts made by MEYTA INDIRA ALTASYA

Nama : Meyta Indira Altasya
NPM : 2356041015
Kelas : Mandiri A
Matkul : UAS Manajemen Publik

UAS| Analisis Manajemen Pelayanan Publik di Indonesia- Pelayanan Pembuatan SIM (SURAT IZIN MENGEMUDI)

LINK VIDEO YOUTUBE :
https://youtu.be/27KTnbKLPPc?si=YLKY2olQc2gk7AII

KELOMPOK 2 MANDIRI A

ANGGOTA KELOMPOK :
Yuffa Rona Mauly (2356041013)
Najwa Paramitha A.M (2356041014)
Meyta Indira Altasya (2356041015)
Maulia Putri (2356041017)
Asyifa Fadillah Yusuf (2356041019)
Reggina Agustina (2356041020)
Wina Okta Febiana (2356041024)
Asyifa Maharani (2356041025)
Nama : Meyta Indira Altasya
Npm   : 2356041015
Kelas  : Mandiri A
Mata Kuliah : Manajemen Publik

Sentralisasi menjadi Desentralisasi dalam Pelayanan Publik (BPBD) dalam Reformasi Manajemen Publik

1.) Layanan Publik yang mengalami Desentralisasi :
Salah satu contoh layanan publik di Indonesia yang mengalami desentralisasi dari sentralisasi ke desentralisasi adalah penanggulangan bencana alam.

Dahulu, penanggulangan bencana alam di Indonesia dipegang penuh oleh pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Namun, seiring dengan reformasi manajemen publik dan desentralisasi, kewenangan ini dilimpahkan kepada pemerintah daerah melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

• Sebelum Desentralisasi :
-Pengelolaan penanggulangan bencana alam terpusat di BNPB.
-Kurangnya pemahaman dan kesiapsiagaan masyarakat di daerah.
-Lambat dan tidak tepatnya penanggulangan bencana di daerah.

•Setelah Desentralisasi :
-BPBD dibentuk di setiap daerah untuk mengelola penanggulangan bencana.
-Masyarakat dilibatkan dalam berbagai program penanggulangan bencana.
-Peningkatan koordinasi dan sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat.
Penanganan bencana di daerah lebih cepat dan tepat.

•Tantangan Desentralisasi :
-Kapasitas BPBD di daerah yang masih bervariasi.
-Keterbatasan anggaran dan sumber daya di daerah.
-Kurangnya koordinasi antar instansi terkait di daerah.
-Kesadaran masyarakat tentang penanggulangan bencana yang masih rendah.

2.) Hasil Analisis Upaya Pengembangan Pengelolaan dengan Teori-teori yang Relevan :

Desentralisasi pengelolaan penanggulangan bencana alam di Indonesia dapat dianalisis dengan beberapa teori :

1.) Teori Partisipasi/Partisipator : Masyarakat dilibatkan dalam proses penanggulangan bencana, mulai dari pra-bencana (mitigasi), saat bencana (penanggulangan), hingga pasca-bencana (rehabilitasi dan rekonstruksi). Hal ini sejalan dengan prinsip partisipasi masyarakat dalam tata kelola pemerintahan yang baik.

2.) Teori Akuntabilitas :
Pemerintah daerah bertanggung jawab atas pengelolaan penanggulangan bencana di wilayahnya dan accountable kepada masyarakat. Akuntabilitas ini diwujudkan melalui laporan kinerja, audit, dan mekanisme kontrol lainnya.

3.) Teori Subsidiaritas :
Pengambilan keputusan terkait penanggulangan bencana dilakukan sedekat mungkin dengan masyarakat yang terkena dampak. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi penanggulangan bencana.

•Kesimpulan :

Desentralisasi pengelolaan penanggulangan bencana alam di Indonesia merupakan langkah maju dalam reformasi Manajemen Publik. Dengan melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah, diharapkan penanggulangan bencana alam dapat lebih efektif, efisien, dan akuntabel.
Desentralisasi pengelolaan penanggulangan bencana alam di Indonesia, juga memiliki banyak manfaat, namun juga terdapat beberapa tantangan yang perlu diatasi. Dengan upaya yang berkelanjutan dari pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat, diharapkan penanggulangan bencana di Indonesia dapat menjadi lebih baik dan terarah menuju tata kelola yang baik.

MP Man A 2024 -> Diskusi -> Diskusi 1 -> Re: Diskusi 1

by MEYTA INDIRA ALTASYA -
Nama : Meyta Indira Altasya
Npm : 2356041015
Kelas : Mandiri A

Tantangan terbesar Indonesia dalam melakukan reformasi administrasi publik adalah pengurangan korupsi dan nepotisme, yang terjadi karena adanya kekurangan transparansi dan akuntabilitas dalam sistem pemerintah. Ini dapat dilihat dari beberapa perspektif, mulai dari pendidikan, pengelolaan keuangan, hingga pengelolaan sumber daya manusia.

• Teori pendukung yaitu Teori Good Governance : 
Teori Good Governance mengingatkan bahwa administrasi publik harus transparan, efisien, efektif, dan berwajiban. Reformasi administrasi publik dapat memperbaiki sistem pemerintahan yang seringkali dikenal dengan sistem birokrasi yang tidak efektif dan efisien.

• Teori pendukung lain yang dapat digunakan dalam reformasi administrasi publik adalah teori pengelolaan yang terdiri dari beberapa bagian, yaitu:
• Pengelolaan Transparansi : Pengelolaan transparansi adalah proses yang digunakan untuk memastikan bahwa informasi yang diperlukan oleh masyarakat dapat diakses secara mudah dan cepat. Hal ini akan membantu masyarakat untuk mengenal pasti kebijakan yang baik dan benar, mengurangi kekurangan transparansi, dan mengurangi korupsi.
• Pengelolaan Akuntansi : Pengelolaan akuntansi adalah proses yang digunakan untuk memastikan bahwa pengeluaran dan pendapatan yang ada di dalam sistem pemerintah dapat dijelaskan dengan transparansi dan efisien. Hal ini akan membantu masyarakat untuk mengenal pasti kebijakan yang baik dan benar, mengurangi kekurangan transparansi, dan mengurangi korupsi.
• Pengelolaan Sumber Daya Manusia : Pengelolaan sumber daya manusia adalah proses yang digunakan untuk memastikan bahwa sumber daya manusia yang ada di dalam sistem pemerintah dapat dijelaskan dengan transparansi dan efisien. Hal ini akan membantu masyarakat untuk mengenal pasti kebijakan yang baik dan benar, mengurangi kekurangan transparansi, dan mengurangi korupsi.

Sebagai mahasiswa, saya merasa bahwa reformasi administrasi publik adalah salah satu tantangan yang paling penting yang harus dilakukan Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari beberapa perspektif, mulai dari pendidikan, pengelolaan keuangan, hingga pengelolaan sumber daya manusia.