Kiriman dibuat oleh Rahmah Dwi Asri

PGSD_PIPSSD_F_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 7

oleh Rahmah Dwi Asri -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Perkenalkan saya Rahmah Dwi Asri dengan NPM 2313053164
izin bertanya kepada kelompok 7, pertanyaan saya bagaimana penerapan model pembelajaran kooperatif learning dalam kehidupan sehari-hari dapat meningkatkan keterampilan sosial siswa, seperti bekerja sama dalam masyarakat atau menyelesaikan masalah secara kelompok?

PGSD_PIPSSD_F_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 5

oleh Rahmah Dwi Asri -
Saya Rahmah Dwi Asri dengan NPM 2313053164 izin menjawab,
Menurut kami, Teknologi dan media memainkan peran penting dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran IPS di SD berdasarkan Kurikulum Merdeka. Media digital seperti video, gambar, dan infografis membantu menyampaikan konsep-konsep abstrak, seperti sejarah dan geografi, dengan lebih konkret dan menarik bagi siswa​. Teknologi juga mendukung model pembelajaran berbasis proyek (project-based learning) dan inkuiri (inquiry-based learning), di mana siswa dapat memanfaatkan sumber daya online untuk penelitian dan penyelidikan​. Namun, meskipun teknologi memiliki potensi besar, ia belum sepenuhnya dapat menggantikan metode konvensional. Teknologi sebaiknya dilihat sebagai pelengkap yang memperkaya pengalaman belajar siswa, sementara interaksi langsung dan bimbingan dari guru tetap sangat penting untuk pembentukan karakter dan keterampilan sosial siswa​.

sekian jawaban dari saya, terimakasih

PGSD_PIPSSD_F_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 5

oleh Rahmah Dwi Asri -
Saya Rahmah Dwi Asri dengan NPM 2313053164, izin menjawab
Untuk mengevaluasi efektivitas Kurikulum Merdeka dalam meningkatkan motivasi dan keterlibatan siswa dalam pembelajaran IPS, guru dapat menerapkan beberapa metode. Pertama, guru dapat menggunakan penilaian autentik yang menilai pemahaman dan keterampilan siswa melalui proyek, presentasi, dan portofolio​. Penilaian ini memberikan umpan balik yang mendalam mengenai kemajuan siswa dan area yang perlu ditingkatkan, serta menjadi alat untuk memotivasi siswa​. Selain itu, evaluasi juga bisa dilakukan dengan mengamati tingkat partisipasi siswa dalam proyek-proyek berbasis masalah dan relevansi materi yang diajarkan dengan kehidupan sehari-hari mereka. Hasil evaluasi ini kemudian dapat digunakan oleh guru untuk menyesuaikan metode pembelajaran dan memperbaiki kualitas pembelajaran agar lebih sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa​.

sekian jawaban dari saya, terima kasih.

PGSD_PIPSSD_F_2024/2025 -> FORUM DISKUSI KELOMPOK 5

oleh Rahmah Dwi Asri -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Tabik pun!
Selamat pagi Ibu Deviyanti Pangestu, M.Pd. dan Bapak Tegar Pambudi, M.Pd. selaku dosen pengampu mata kuliah Pembelajaran IPS SD.

Kami dari kelompok 5 kelas 3F yang beranggotakan :
1. Rahmah Dwi Asri 2313053164
2. Mesa 2313053170
3. Lutfiatun Nisa 2313053175
4. Sindi Novitasari 2313053185

Izin mengumpulkan tugas Pembelajaran IPS SD Bu
Berikut link gdrive nya :
https://drive.google.com/drive/folders/1a8MonMd1tJMu_WXAWXngYJTmhp4nGQnI

Sekian dari kami, terimakasih.
Lampiran Mind Mapping.png

Nilai dan Moral PGSD 2024 -> Forum Analisis Jurnal 2

oleh Rahmah Dwi Asri -
Nama : Rahmah Dwi Asri
NPM : 231053164
Kelas : 3F

Judul : Pentingnya Pendidikan Nilai di Era Globalisasi
Penulis : Hidayati
Jurnal : Dinamika Pendidikan No.2/Th.XV/September 2008

Abstrak
Pada abstrak membahas tentang penyebaran penyimpangan moral di kalangan siswa yang diidentifikasi sebagai hasil dari kegagalan pendidikan dalam mengembangkan nilai-nilai moral mereka, dan menekankan pentingnya pendidikan dalam mempersiapkan siswa menghadapi dampak negatif globalisasi. Inti dari pendidikan seharusnya adalah penyebaran berbagai nilai seperti nilai religius, spiritual, psikologis, nilai kehidupan, dan nilai kesenangan hidup. Pendidikan nilai akan efektif jika dikembangkan melalui empat tahapan: persiapan, konsentrasi/integrasi, asimilasi/transformasi, dan realisasi/aktualisasi.

Pendahuluan
Pada pndahuluan membahas tentang krisis multidimensi yang sedang terjai di Indonesia khususnya dalam bidang pendidikan, serta dampak dari degradasi moral dan akhlak di kalangan masyarakat. Pendidikan yang cenderung berfokus pada aspek kognitif, sementara pengembangan nilai-nilai moral dan etika terabaikan. Fenomena ini semakin terlihat dengan munculnya berbagai perilaku menyimpang dikalangan anak muda, seperti kekerasan, kriminalitas, dan penyalahgunaan narkoba. Era globalisasi dan kemajuan teknologi kini telah berdampak pada pergeseran nilai-nilai budaya dan agama yang sebelumnya dipegang teguh oleh masyarakat Indonesia. Nilai-nilai baru yang muncul tidak selalu didasarkan pada kepercayaan yang kuat, sehingga penyimpangan semakin meluas. Pendahuluan ini menekankan bahwa gejala krisis moral dan degradasi pendidikan nilai terlihat di semua lapisan masyarakat, baik dalam pendidikan formal di sekolah maupun pendidikan informal di keluarga dan masyarakat.

Hasil dan Pembahasan
1. Pengaruh Globalisasi pada Nilai dan Moral
Era globalisasi membuat interaksi antara bangsa lebih intens, membawa dampak signifikan dalam semua aspek kehidupan, termasuk nilai-nilai moral. Pengaruh buruk dari globalisasi, seperti individualisme dan konsumsi budaya asing tanpa filter, memperlemah nilai-nilai tradisional dan merusak jati diri bangsa.
2. Pentingnya Pendidikan Nilai
Pendidikan nilai menjadi sangat penting di tengah tantangan globalisasi. Pendidikan nilai bertujuan agar peserta didik dapat menginternalisasi nilai-nilai luhur melalui pengalaman nyata, bukan hanya melalui pengajaran teoretis. Dengan cara ini, nilai-nilai luhur dapat tertanam dalam diri peserta didik dan diwujudkan dalam perilaku sehari-hari.
3. Upaya dalam Menghadapi Tantangan Globalisasi
Untuk menghadapi tantangan globalisasi, pendidikan harus mampu menumbuhkan kesadaran nasionalisme, memperkuat nilai-nilai budaya, dan membentengi peserta didik dengan norma dan agama. Ketiga landasan ini menjadi filter yang efektif untuk memilih mana nilai-nilai dari globalisasi yang bisa diambil dan mana yang perlu dihindari.

Kesimpulan
Globalisasi membawa dampak yang besar pada nilai-nilai dan moral di masyarakat. Pendidikan nilai yang gagal dalam menanamkan budi pekerti luhur berkontribusi pada degradasi moral, terutama di kalangan generasi muda. Pentingnya penyusunan hierarki nilai yang benar dan pendidikan nilai yang lebih kontekstual dan humanistik merupakan kunci untuk menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berbudi pekerti luhur. Pendidikan harus lebih berfokus pada keseimbangan antara kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional, moral, serta spiritual.

Kelebihan dan kelemahan
Kelebihan dari pendidikan nilai adalah kemampuannya membentuk karakter berbudi pekerti luhur dan memberikan panduan moral yang kuat di tengah arus globalisasi, dengan pendekatan holistik yang seimbang antara kecerdasan intelektual dan moral. Namun, kelemahannya terletak pada pendekatan kognitif yang kaku, di mana nilai hanya diajarkan secara teoretis tanpa pengalaman nyata, sehingga krisis moral dan individualisme akibat globalisasi sulit dibendung.