Kiriman dibuat oleh ARIANTI KARTIKA DEWI

PSTI C dan D MKU Pancasila -> Forum Analis Jurnal

oleh ARIANTI KARTIKA DEWI -

NAMA : ARIANTI KARTIKA DEWI

NPM : 2315061047

KELAS : TI C

ANALISIS JURNAL

A. IDENTITAS JURNAL

  1. Nama Jurnal : Al-Qalam
  2. Volume : 26
  3. Nomor : 1
  4. Halaman : 117-128
  5. Tahun Penerbit : 2020
  6. Judul Jurnal : AGAMA MUSUH PANCASILA? STUDI SEJARAH DAN PERAN AGAMA DALAM LAHIRNYA PANCASILA
  7. Nama Penulis : Aqil Teguh Fathani, Zuly Qodir

B. ABSTRAK JURNAL

  1. Jumlah Paragraf : 2 paragraf
  2. Halaman : Satu Halaman
  3. Uraian Abstrak : Abstrak disajikan dalam format bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Berikut adalah uraian abstraknya, Tulisan ini membahas mengenai hubungan, sejarah dan peran agama dalam lahirnya Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Agama dan Negara tidak bisa dibenturkan dalam konteks apa pun, agama dan negara memiliki hubungan yang mutualisme atau saling menguntungkan. Agama membutuhkan negara dalam merealisasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan dan negara membutuhkan agama dalam menjalankan pemerintahan yang adil, bersih dan menyejahterakan rakyat serta dalam mengelola negara sekalipun. Selanjutnya dalam perumusan ideologi bangsa, agama memiliki peran yang besar dalam lahirnya Pancasila, kelapangan hati beberapa tokoh Islam dalam pembentukan Pancasila serta menghapus tujuh kata dalam Piagam Jakarta merupakan bentuk kedewasaan sikap dalam menyatukan rakyat Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang. Tidak sepatutnya seorang, kelompok atau siapa pun itu yang mengatakan bahwa agama adalah musuh Pancasila. Agama telah dijamin dalam Undang-Undang 1945 dan dalam sila pertama. Sebaliknya dengan adanya agama hidup berbangsa dan bernegara dapat berjalan dengan harmonis.
  4. Keywords Jurnal : religion, ideology, Pancasila, state

C. PENDAHULUAN JURNAL

Didalam pendahuluan jurnal, penulis menggambarkan bahwa keberadaan Pancasila sebagai falsafah kenegaraan berfungsi sebagai filosofische grondslag dan common platforms atau kalimatun sawa di antara masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan kata lain, Pancasila sebagai ideologi bangsa berbeda dengan sistem yang dianut oleh kapitalis-liberal dan sosial-komunis, Pancasila mengakui melindungi hak individu hingga hak masyarakat pada semua aspek kehidupan.

D. TUJUAN PENELITIAN

Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk meluruskan berbagai pandangan yang melenceng yang bisa memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Karena sejatinya, setiap agama pasti mengajarkan toleransi dan tidak boleh memaksakan kehendak.

E. METODE PENELITIAN

Penulisan ini menggunakan metode kualitatif dengan menggunakan pendekatan metode sejarah yang terdiri dari beberapa langkah yaitu, pertama mengumpulkan materi yang berkaitan dengan lahirnya ideologi Pancasila serta jalan terbentuknya ideologi Pancasila. Pengumpulan materi dilakukan dengan mengakses jurnal serta buku-buku yang berkaitan dengan pembahasan penelitian. Materi yang didapatkan selanjutnya diseleksi dan dianalisis serta dirangkai dan disusun menjadi satu kesatuan yang saling berhubungan dan sesuai dengan pembahasan penelitian.

F. KESIMPULAN

Hubungan agama dan negara senantiasa menghadirkan sebuah tatanan pengelolaan negara yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama dan Pancasila tidaklah bermusuhan, bahkan keduanya disatukan atas kesadaran yang menimbulkan keuntungan, agama membutuhkan negara sebagai bentuk realisasi kehidupan dalam pengelolaan negara yang adil, bijaksana dan dapat menyejahterakan masyarakat serta memberikan keleluasaan bagi individu-individu untuk merealisasikan spiritualnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Negara membutuhkan agama dan secara konstitusi mengurusi agama dan kepercayaan sehingga muncul pluralisme dan toleransi dalam menjalankan kehidupan bernegara. Negara secara aktif harus melindungi setiap individu-individu sehingga terciptanya kerukunan umat beragama dan sesuai dengan Bineka Tunggal Ika.

Agama bukanlah musuh Pancasila, dan Pancasila bukanlah musuh agama, seringnya terjadi pergesekan dan kesalahpahaman serta mengadu agama dan negara menjadi permasalahan bangsa Indonesia. Pada saat ini, mendefinisikan bukan negara sekuler dan negara Islam, melainkan negara ber-tuhan dan dijamin oleh konstitusi. Negara ber-tuhan yang berlandaskan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.


PSTI C dan D MKU Pancasila -> Forum Analisis Video-2

oleh ARIANTI KARTIKA DEWI -

NAMA : ARIANTI KARTIKA DEWI

NPM : 2315061047

KELAS : TI C

Sebelum di Proklamasikannya kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, terdapat sebuah peristiwa yang sangat krusial yang terjadi. Peristiwa tersebut kemudian dikenal dengan nama peristiwa rengasdengklok. Peristiwa Rengasdengklok terjadi pada tanggal 16 Agustus 1945, dimana terjadi sebuah perbedaan pendapat antara golongan muda dang golongan tua. Golongan muda menginginkan proklamasi kemerdekaan dilakukan secepatnya karena hal ini merupakan hak dan masalah Indonesia sendiri tanpa perlu bergantung dari negara atau bangsa yang lain. Sedangkan, menurut golongan tua Proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilakukan secara terorganisir misalnya dengan pernyataan dari bangsa lain dengan melampirkan tanda tangan dan sebagainya. Karena perbedaan yang mendasar inilah kemudian terjadi Peristiwa Rengasdengklok, yaitu peristiwa diculiknya Soekarno-Hatta yang merupakan golongan tua, dari Perkumpulan Menteng 31 ke Rengasdengklok tempat yang jauh dari Jalan raya Jakarta-Cirebon pada tanggal 16 Agustus 1945 agar mereka jauh dari pengaruh Pemerintah pendudukan Jepang. Penculikan ini dikomandoi oleh Sukarni, Wikana, dan Chaerul Saleh. Pada saat itu juga terjadi perundingan yang sangat sengit di Jakarta antara Achmad Subardjo yang mewakili golongan tua dengan Wikana yang mewakili golongan tua.

Dan paada akhirnya tercapailah kesepakatan bahwa kemerdekaan Indonesia, Proklamasi kemerdekaan Indonesia harus dilaksanakan di Jakarta. Naskah proklamasi kemudian dirumuskan oleh Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta, Achmad Soebardjo, dan diketik oleh Sajuti Melik. Penyusunan teks berlangsung hingga dini hari, hingga  pada tanggal 17 Agustus 1945 proklamasi kemerdekaan Indonesia resmi dibacakan.

PSTI C dan D MKU Pancasila -> Forum Analisis Video -1

oleh ARIANTI KARTIKA DEWI -

NAMA : ARIANTI KARTIKA DEWI

NPM : 2315061047

KELAS : TI C

Garis besar dari video tersebut adalah, Pancasila bukan berasal dari Revolusi Soekarno saja, tetapi Pancasila itu adalah benar-benar satu dasar yang dinamis, satu dasar yang benar-benar dapat menghimpun segenap tenaga rakyat Indonesia, satu dasar yang dapat mempersatukan rakyat Indonesia. Hal ini menegaskan bahwa Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil dari penggalian nilai-nilai luhur yang terkandung dalam diri bangsa dan bukan hasil pemikiran individu dari seorang Tokoh Bangsa saja. Oleh sebab itu, diharapkan dengan adanya dasar negara Pancasila itu akan memupuk rasa persatuan dan kesatuan dikalangan masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. 

PSTI C dan D MKU Pancasila -> Forum Analisis Jurnal

oleh ARIANTI KARTIKA DEWI -

NAMA : ARIANTI KARTIKA DEWI

NPM : 2315061047

KELAS : TI C

ANALISIS JURNAL

A. IDENTITAS JURNAL

  1. Nama Jurnal : Jurnal Pancasila dan Kewarganegaraan
  2. Volume : 7
  3. Nomor : 2
  4. Halaman : 82-96
  5. Tahun Penerbit : ISSN : 2579-5740
  6. Judul Jurnal : INTERNALISASI NILAI-NILAI PANCASILA DI PERGURUAN TINGGI
  7. Nama Penulis : Dwi Riyanti, Danang Prasetyo

B. ABSTRAK JURNAL

  1. Jumlah Paragraf : 2 paragraf
  2. Halaman : Satu halaman
  3. Ukuran Spasi : 1.0
  4. Uraian Abstrak : Abstrak disajikan dalam format bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Di dalam abstrak itu sendiri penulis menjelaskan bahwa penelitian ini dilakukan di Universitas Ahmad Dahlan yang ditujukan pada mata kuliah Pancasila dengan menentukan subjek penelitian menggunakan teknik puposive sampling. Dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi serta menggunakan teknik analisis data menggunakan trianggulasi sumber. Berdasarkan hasil penelitian penulis juga menyatakan bahwa pelaksanaan mata kuliah Pancasila lebih efektif menggunakan pendekatan kontektual dengan mengembangkan potensi akademik, menyiapkan hidup berdampingan di masyarakat, dan membangun budaya hidup sesuai nilai Pancasila.
  5. Keyword Jurnal : internalization, pancasila, higher education

C. PENDAHULUAN JURNAL

Didalam pendahuluan jurnal, penulis menggambarkan bahwa pada saat ini Pancasila semakin tergerus oleh perkembangan zaman dan arus globalisasi. Begitu pula pemahaman mahasiswa terhadap Pancasila mulai berkurang, bahkan ada yang tidak hafal isi dari sila-sila Pancasila. Kenyataan ini membuat aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan akan sangat sulit terwujud. Padahal mahasiswa yang notabene generasi penerus bangsa yang merupakan garda terdepan penerus cita-cita para pendiri bangsa sangatlah diharapkan peran sertanya dalam membumikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Dengan latar belakang demikian penulis menjadikan Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta (yang selanjutnya disebut UAD) sebagai subjek penelitian karena merupakan perguruan tinggi milik persyarikatan agama Islam yang gencar menanamkan nilai-nilai Pancasila pada civitas akademiknya. Peneliti ingin mengetahui bagaimana dosen mata kuliah Pancasila menginternalisasi nilai-nilai Pancasila pada mahasiswa UAD supaya Pancasila bisa dibumikan kembali tanpa adanya indoktrinasi.

D. TUJUAN PENELITIAN 

  1. Mengingat kembali pluralitas bangsa yang telah melebur tanpa penyeragaman dan menghilangkan identitas asli budaya dari masing-masing daerah.
  2. Supaya mahasiswa dapat memahami dan mengimplementasikan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
  3. Memberikan pengetahuan tentang Pancasila sebagai ideologi negara sehingga mahasiswa menolak ideologi selain Pancasila.
  4. Aksi nyata aktualisasi nilai-nilai Pancasila dengan kegiatan bakti sosial.

E. METODE PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan oleh penulis yaitu penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif adalah jenis penelitian yang bertujuan untuk menggambarkan, menguraikan, atau menjelaskan fenomena atau keadaan tertentu tanpa melakukan manipulasi atau intervensi. Dalam penelitian ini, peneliti mengumpulkan data dalam bentuk teks, suara, gambar, atau video untuk memahami konteks dan karakteristik fenomena yang diteliti.

F. HASIL PENELITIAN

  1. Revitalisasi Pancasila
  2. Internalisasi Pancasila Melalui Mata Kuliah Pancasila
  3. Kontribusi Pancasila Terhadap Masalah Kebangsaan

G. KESIMPULAN

Di kesimpulan, penulis menguraikan kesimpulannya yang objektif secara pribadi dengan melihat subjek yang telah diamati. Berikut uraian kesimpulan penulis :

Mata kuliah Pancasila sangat efektif dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kontekstual dengan cara mendekatkan Pancasila kepada mahasiswa dengan memberikan contoh mengimplementasikan Pancasila ke dalam kehidupan sehari-hari seperti melakukan kunjungan ke Kampung Pancasila dan bakti sosial yang dilakukan oleh mahasiswa pada dua pertemuan terakhir mata kuliah Pancasila. 

Pancasila mempunyai tantangan di dalam dunia digital yang dengan mudah masuk membawa ideologi-ideologi dari luar. Hal tersebut membuat negara menjadi waspada terhadap ideologi-ideologi yang masuk yang bertentangan dengan Pancasila apalagi negara ini merupakan negara yang majemuk yang dengan mudah dapat terprovokasi. Pancasila juga dapat menyelesaikan masalah kebangsaan di mana Pancasila sebagai pemersatu perbedaan yang ada di Indonesia.


PSTI C dan D MKU Pancasila -> Forum Analisis Soal

oleh ARIANTI KARTIKA DEWI -

NAMA : ARIANTI KARTIKA DEWI

NPM : 2315061047

KELAS : PSTI C

A. Cita-cita nasional bangsa ini terdiri dari 3m-1i. Yang mana, kita dapat mewujudkan salah satunya dengan cara begotong royong. Bergotong royong, dapat mendorong aspek tercapainya cita-cita nasional bangsa yaitu, memajukan kesejahteraan umum. Dimasa sekarang ini, kita sedang berada dalam kondisi perekonomian dimana orang yang kaya akan semakin kaya dan yang miskin akan semakin miskin. Hal ini disebabkan karena kemunculan beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab yang sukanya mengambil hak milik orang lain. Oleh karena itu, gotong royong saat ini sangat diperlukan. Karena kita dapat membantu orang yang membutuhkan, sehingga akan meminimalisir kesenjangan sosial. Gotong royong di masa sekarang ini bisa kita lakukan mulai dari donasi makanan atau pakaian untuk mereka yang mebutuhkan, mengadakan penggalangan dana online untuk tujuan amal, yang terakhir dan diharapkan mahasiswa dapat melakukannya adalah dengan mendorong kesadaran masyarakat tentang isu-isu penting seperti pelestarian lingkungan, pendidikan, atau kesehatan mental melalui media sosial atau blog.

B. Di lingkungan tempat tinggal saya saat ini (kos) terdapat bermacam-macam keberagaman, mulai dari suku, agama, prodi, serta tempat asal yang berbeda-beda pula, ada yang dari Lampung dan ada juga yang dari luar Lampung. Itu tidak menjadikan halangan untuk berkomunikasi dengan mereka. Justru dengan keberagaman tersebut saya malah merasa mendapat wawasan dan pengalaman baru, karena setiap orang memiliki cerita dari tempat asalnya masing-masing. Yang tadinya kita tidak tahu apa makanan khas dari suatu daerah setelah bertemu dengan orang dari daerah tersebut oh kita jadi tahu apa sih yang biasa jadi makanan khas orang sana. Nah, keberagaman tersebut tidak akan terwujud jika kita berasal dari daerah yang sama, prodi yang sama dll. Jika tidak ada keberagaman juga rasanya hidup akan sangat mebosankan.

C. Setiap kelompok/bangsa/negara pasti memiliki nilai dasar yang menjadi acuan dan identitas nasionalnya, itu karena setiap kelompok/bangsa/negara membutuhkan suatu pedoman yang akan menunjukkan arah dan tujuan untuk kelangsungan penyelenggaraan negara kedepannya. Hal ini penting dilakukan agar pada saat suatu kelompok/bangsa/negara itu berdiri mereka sudah memiliki arah dan tujuan yang jelas, sehingga tidak mengalami kebingungan dan memasuki masa dimana pemerintah bingung harus mendahulukan kepentingan yang mana yang harus didahuluka, dikarenakan mereka tidak mempunyai nilai dasar yang menjadi acuan dan arah perkembangan bangsa.

D. Sikap yang ditunjukksn oleh para pendiri bangsa pada saat itu adalah, tidak memaksakan kehendak dan mendengarkan saran dari orang lain, serta mampu mencari jalan tengah yang dapat mempersatukan bangsa ini. Para pendiri bangsa dapat menghargai perbedaan yang ada, dan tidak menjadikan hal tersebut sebagai pemecah belah bangsa. Seharusnya dimasa sekarang ini kita juga harus mengambil sikap yang sama, yaitu tidak memaksakan kehendak, mendengarkan saran dari orang lain, dan menghargai perbedeaan sebagai bentuk dari keberagaman.