Posts made by SHIDQI SALSABILLA

Kelompok 5
Anggota Kelompok :
1. ADHIZSA KIRANA R (2316041066)
2. MUHAMAD RIFKI MACAN (2316041067)
3. RISKA LOVRINA CIONININA (2316041068)
4. HASIANNA OKTAVIANI N (2316041069)
5. SHIDQI SALSABILLA (2316041070)
6. THERESHA AUZIE T (2316041071)
7. ANNA CITRA MARCELINA H (2316041072)

Nama : Shidqi Salsabilla
NPM : 2316041070
Kelas : Reguler B

Link video : 
Dalam konteks pelayanan publik kesehatan, pergeseran dari sentralisasi ke desentralisasi dalam proses manajemen publik memiliki dampak yang signifikan. Sentralisasi merujuk pada sistem di mana keputusan dan kontrol utama berada di tangan pemerintah pusat, sementara desentralisasi melibatkan delegasi keputusan dan tanggung jawab ke tingkat yang lebih rendah, seperti pemerintah daerah atau lembaga lokal.

Dalam konteks kesehatan, transisi dari sentralisasi ke desentralisasi dapat meningkatkan aksesibilitas, responsivitas, dan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan desentralisasi, keputusan yang lebih terdepan dapat lebih responsif terhadap kebutuhan lokal dan masyarakat yang dilayani. Hal ini juga dapat mendorong inovasi dalam pengelolaan sumber daya dan meningkatkan akuntabilitas karena keputusan dibuat lebih dekat dengan masyarakat yang dilayani.

Dalam analisis upaya pengembangan pengelolaan pelayanan kesehatan dengan teori dalam administrasi negara, terdapat beberapa pendekatan yang dapat dipertimbangkan. Salah satunya adalah pendekatan Good Governance, yang menekankan prinsip-prinsip akuntabilitas, transparansi, partisipasi, dan efektivitas dalam pengelolaan pelayanan publik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip ini, pengelolaan pelayanan kesehatan dapat ditingkatkan untuk memastikan efisiensi dan efektivitas dalam penyediaan layanan kesehatan kepada masyarakat.

Selain itu, konsep New Public Management (NPM) juga dapat menjadi acuan dalam pengembangan pengelolaan pelayanan kesehatan. NPM menekankan pada efisiensi, kinerja, dan orientasi pada hasil dalam pengelolaan publik. Dengan menerapkan prinsip-prinsip NPM, pelayanan kesehatan dapat dioptimalkan melalui pengelolaan yang lebih efisien dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.

Dengan demikian, melalui analisis upaya pengembangan pengelolaan pelayanan kesehatan dengan teori dalam administrasi negara, dapat ditemukan pendekatan yang sesuai untuk meningkatkan kualitas dan efektivitas pelayanan kesehatan dalam konteks desentralisasi manajemen publik.

MP Reg B 2024 -> Diskusi -> Diskusi 1 -> Re: Diskusi 1

by SHIDQI SALSABILLA -
Tantangan terbesar Indonesia dalam melakukan reformasi administrasi publik adalah mengatasi krisis kepercayaan masyarakat terhadap layanan publik yang telah terpengaruh oleh birokrasi selama periode orde baru. Krisis ini menyebabkan protes di tingkat pusat maupun daerah dan menggeser tujuan awal birokrasi dalam memberikan layanan publik ke arah pragmatisme, menurunkan integritas dan kualitasnya. Idealnya, penyelenggaraan layanan publik oleh aparat pemerintah harus dilakukan tanpa praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Namun, penerapan desentralisasi menyebabkan KKN meluas di tingkat daerah, terjadi ketimpangan layanan publik antar daerah, dan belum ada aturan sanksi terhadap daerah yang menyediakan layanan buruk kepada masyarakat. Kegagalan birokrasi dalam merespon krisis ekonomi maupun politik akan mempengaruhi tercapainya good governance, yang sangat ditentukan oleh faktor kekuasaan, insentif, akuntabilitas, dan budaya birokrasi.

Pendapat saya mendukung pandangan bahwa reformasi administrasi publik di Indonesia harus berfokus pada peningkatan akuntabilitas dan transparansi, serta penerapan prinsip-prinsip New Public Management (NPM) yang menekankan pada kepemimpinan berlandaskan nilai kebersamaan dan kepentingan publik. NPM menyarankan pemerintah tidak berperan langsung dalam pelayanan publik, melainkan sebagai fasilitator yang memberikan motivasi dan insentif pada aktor-aktor pelayanan publik. Prinsip ini berkenaan dengan peran atau kepemimpinan manajer di organisasi sektor publik, yang sebelumnya mengikuti model birokrasi dengan struktur lini atau scalar (jalur komando).

Selain itu, reformasi administrasi juga harus memperhatikan perubahan administrasi publik yang telah menyita perhatian kajian para pakar sejak dekade 1970-an. Leemans mengidentifikasi enam alasan utama yang mendorong perubahan tersebut, termasuk perlunya membangun fundamental pemerintahan, munculnya tuntutan agenda politik baru, adanya proses institusionalisasi lembaga politik, munculnya fenomena profesionalisasi, spesialisasi, dan diferensiasi, adanya tuntutan peluasan pelayanan pemerintah, dan munculnya nilai dan sikap baru.

Dengan mempertimbangkan tantangan dan pendapat tersebut, reformasi administrasi publik di Indonesia harus dilakukan dengan pendekatan yang komprehensif dan terpadu, yang mencakup peningkatan akuntabilitas, transparansi, dan penerapan prinsip-prinsip NPM, serta memperhatikan perubahan administrasi publik yang telah terjadi sejak dekade 1970-an.