གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Desta Dwi Pertiwi

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri Bapak
Nama: Desta Dwi Pertiwi
Npm: 2313053046
Kelas: 6B

Izin menjawab diskusi tersebut.

  1. Menurut saya, aspek paling penting adalah kemampuan guru untuk berpindah fokus dengan lancar tanpa mengganggu jalannya pembelajaran. Secara teknis, guru harus memberikan instruksi eksplisit dengan sangat jelas sebelum berpindah ke tugas lain, artinya guru menjelaskan secara rinci apa yang harus dilakukan siswa, langkah-langkah yang harus diikuti, dan target yang ingin dicapai. Dengan cara ini, siswa benar-benar paham apa yang harus mereka kerjakan, tetap bisa bekerja mandiri tanpa bingung atau berhenti, sekaligus meminimalkan gangguan ketika guru fokus pada kelompok lain. 
  2. Strategi guru untuk memanfaatkan tutor sebaya adalah memberikan panduan yang jelas, seperti skrip atau daftar kegiatan, sehingga siswa yang membimbing tetap bisa membantu teman dengan efektif tanpa menghambat proses belajarnya sendiri. Guru juga memantau dan memberi umpan balik secara berkala, sehingga siswa yang membimbing tetap belajar sambil mengajar, dan siswa yang dibimbing memperoleh manfaat maksimal tanpa ada yang tertinggal.
  3. Untuk melakukan evaluasi formatif secara berkelanjutan, guru biasanya menggunakan metode yang fleksibel tapi konsisten, misalnya rubrik atau portofolio. Dengan cara ini, guru tetap dapat memantau perkembangan setiap siswa secara spesifik. Guru bisa menambahkan pertanyaan reflektif, kuis singkat, atau catatan observasi selama kegiatan berlangsung, sehingga prestasi individu tetap terlihat tanpa mengganggu alur pembelajaran secara keseluruhan.

Sekian Terimakasih Bapak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri Bapak
Nama: Desta Dwi Pertiwi
Npm: 2313053046
Kelas: 6B

  1. Menurut saya, Model 222 (kamar ganda) justru menghadirkan tantangan yang lebih besar dalam hal pengawasan guru dibandingkan Model 221. Hal ini karena guru harus membagi fokus ke dua kelompok atau ruang secara hampir bersamaan, sehingga potensi ada kelompok yang merasa kurang diperhatikan itu lebih tinggi. Di sini penting banget bagi guru untuk membangun “ritme perpindahan” yang jelas dan konsisten, misalnya dengan menentukan durasi waktu tertentu di tiap kelompok dan memberi tugas mandiri yang terarah saat guru berpindah. Jadi, ketika guru tidak sedang berada di satu kelompok, siswa tetap punya pegangan belajar yang jelas dan tidak merasa ditinggalkan.
  2. Strategi yang bisa digunakan supaya “benang merah” antar kelas tetap ada tanpa mengurangi kedalaman materi adalah dengan menentukan tema besar yang sama, tapi indikator dan tingkat kesulitannya disesuaikan dengan level masing-masing kelas. Jadi bukan materinya yang disamaratakan, tapi konteksnya yang dihubungkan. Contohnya, tema “lingkungan”: di kelas rendah siswa bisa belajar mengenal jenis sampah dan cara membuangnya, sementara di kelas tinggi bisa membahas dampak pencemaran dan solusi nyata. Dengan begitu, integrasi tetap jalan, tapi tujuan kurikulum tiap kelas juga tetap tercapai secara mendalam.
  3. LKS memang sangat membantu dalam PKR karena bisa jadi panduan belajar mandiri bagi siswa, tapi tidak sepenuhnya bisa menggantikan peran guru, terutama untuk konsep yang rumit. LKS lebih cocok sebagai alat bantu, bukan pengganti. Untuk mengatasinya, bisa diterapkan bimbingan sebaya dengan memilih siswa yang sudah lebih paham untuk membantu temannya, tapi tetap perlu arahan dari guru supaya tidak terjadi kesalahan pemahaman. Selain itu, guru juga perlu melakukan pengecekan ulang atau refleksi di akhir pembelajaran agar semua siswa tetap berada pada pemahaman yang benar dan objektif.

Sekian Terimakasih Bapak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri Bapak
Nama: Desta Dwi Pertiwi
Npm: 2313053046
Kelas: 6B

  1. Menurut saya, Model 222 (kamar ganda) menghadirkan tantangan pengawasan yang lebih besar dibandingkan Model 221 (kamar tunggal), karena guru harus membagi perhatian pada dua ruang fisik yang berbeda. Kondisi ini menuntut guru untuk memiliki manajemen waktu dan ritme perpindahan yang sangat terstruktur. Guru perlu menetapkan jadwal kunjungan yang konsisten ke setiap ruang, memberikan instruksi yang jelas sebelum berpindah, serta memastikan setiap kelompok memiliki tugas mandiri yang terarah. Ritme perpindahan dapat dibangun dengan pola tetap, misalnya 15–20 menit fokus di satu ruang lalu berpindah secara terencana ke ruang lain, sehingga siswa memahami alur tersebut dan tidak merasa ditinggalkan. Selain itu, penggunaan sinyal atau kesepakatan kelas membantu menjaga keterlibatan siswa selama guru berada di ruang berbeda. Dengan pola yang konsisten, siswa tetap merasa dibimbing meskipun guru tidak selalu hadir secara fisik di dekat mereka.
  2. Untuk menjaga agar strategi “benang merah” tidak mengurangi kedalaman materi di setiap tingkat kelas, guru perlu tetap berpegang pada capaian pembelajaran masing-masing kelas sebagai acuan utama. Benang merah sebaiknya digunakan sebagai penghubung tema besar, bukan sebagai penyederhanaan materi. Strateginya adalah dengan menyusun perencanaan berbasis kompetensi, lalu mengidentifikasi irisan konsep yang dapat dikembangkan sesuai tingkat perkembangan siswa. Contohnya pada tema “lingkungan”, kelas rendah dapat mempelajari jenis-jenis lingkungan dan cara menjaga kebersihan, sedangkan kelas tinggi dapat membahas dampak pencemaran dan solusi berbasis data sederhana. Dengan demikian, topik yang sama tetap memiliki kedalaman yang berbeda sesuai jenjangnya. Integrasi ini berhasil karena tetap menghormati kompleksitas materi di tingkat lanjutan tanpa mengorbankan tujuan kurikulum.
  3. LKS yang dirancang dengan jelas memang sangat membantu dalam pembelajaran kelas rangkap (PKR), terutama untuk mendukung kemandirian siswa saat guru harus membagi perhatian. Namun, menurut saya LKS tidak sepenuhnya dapat menggantikan kehadiran fisik guru, terutama dalam menjelaskan konsep-konsep yang abstrak atau rumit. LKS berfungsi sebagai panduan dan alat latihan, tetapi klarifikasi, penekanan konsep, dan penyesuaian penjelasan tetap membutuhkan interaksi langsung. Oleh karena itu, sistem bimbingan sebaya dapat menjadi pendukung, asalkan disusun dengan struktur yang jelas, seperti pembagian peran, panduan materi tertulis, serta supervisi berkala dari guru. Untuk menjaga objektivitas dan mencegah perbedaan pemahaman, guru perlu menyediakan kunci konsep utama dan melakukan refleksi atau pembahasan bersama setelah kegiatan. Dengan kombinasi LKS, bimbingan sebaya, dan kontrol guru, kualitas pembelajaran tetap terjaga meskipun sistemnya menuntut kemandirian tinggi.

Sekian terimakasih bapak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri Bapak
Nama: Desta Dwi Pertiwi
Npm: 2313053046
Kelas: 6B

  1. Dalam praktiknya, agar pendidik dapat berfungsi sebagai manajer kelas yang dinamis dan tidak membuat siswa merasa dikucilkan, guru perlu menggunakan strategi transisi yang jelas dan terencana. Guru dapat memberikan instruksi yang spesifik sebelum berpindah ke kelompok lain, termasuk menjelaskan tujuan, langkah kerja, dan batas waktu pengerjaan. Selain itu, penggunaan sinyal transisi yang konsisten seperti kode verbal, tepukan, atau timer membantu siswa memahami bahwa perpindahan guru adalah bagian dari pengelolaan kelas, bukan bentuk pengabaian. Guru juga perlu menyiapkan tugas mandiri yang bermakna dan menantang agar siswa tetap terlibat walaupun tidak didampingi secara langsung. Dengan monitoring singkat secara bergilir dan kontak visual, siswa tetap merasa diperhatikan sehingga keterlibatan belajar tetap terjaga.
  2. Agar pemberdayaan tutor sebaya tetap menjaga akurasi materi, pendidik perlu melakukan pengawasan dan pembekalan yang terstruktur. Guru dapat memberikan pelatihan singkat kepada tutor sebaya terkait konsep inti materi serta cara menyampaikannya dengan benar. Selain itu, penyediaan panduan tertulis atau modul ringkas sangat penting agar tutor memiliki acuan yang jelas dan tidak hanya mengandalkan pemahaman pribadi. Guru juga dapat melakukan briefing sebelum kegiatan dimulai dan melakukan supervisi berkala saat tutor menjelaskan materi. Di akhir kegiatan, refleksi bersama dapat dilakukan untuk meluruskan jika ada kekeliruan konsep. Dengan langkah-langkah tersebut, kualitas penyampaian materi tetap terjaga dan tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif.
  3. Lembar kerja yang terstruktur dan mandiri perlu dirancang dengan elemen yang mendorong keterlibatan aktif siswa, bukan sekadar penyelesaian tugas. Lembar kerja sebaiknya memuat tujuan pembelajaran yang jelas, petunjuk yang sistematis, serta pertanyaan yang mendorong berpikir kritis seperti analisis dan penerapan dalam konteks nyata. Selain itu, penyajian stimulus berupa gambar, kasus sederhana, atau situasi kehidupan sehari-hari dapat membantu siswa memahami materi secara lebih mendalam. Adanya bagian refleksi dan evaluasi diri juga penting agar siswa dapat menilai pemahamannya sendiri tanpa harus selalu bergantung pada guru. Dengan komponen tersebut, lembar kerja menjadi sarana belajar yang bermakna dan mendukung kemandirian siswa.
Sekian Terimakasih Bapak,
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Assalamuallaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri pak,
Nama : Desta Dwi Pertiwi
NPM : 2313053046
Kelas : 6B

Izin menjawab diskusi diatas bapak,

1. Kesiapan SDM:
Menurut saya, kesiapan guru untuk mengajar lintas disiplin ilmu masih beragam. Ada guru yang sudah siap secara mental dan kompetensi karena terbiasa menggunakan pembelajaran tematik dan terus mengikuti pelatihan. Namun, masih ada juga guru yang merasa kesulitan karena terbiasa mengajar per mata pelajaran secara terpisah. Mengajar lintas disiplin membutuhkan kreativitas, pemahaman materi yang luas, serta kemampuan mengaitkan beberapa konsep sekaligus. Jadi, menurut saya, kesiapan itu sudah ada, tetapi tetap perlu peningkatan melalui pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan.

2. Efektivitas Ujian:
Pelaksanaan ujian atau asesmen standar tetap bisa dilakukan meskipun setiap sekolah menggunakan tema integrasi yang berbeda. Hal yang dinilai sebenarnya bukan temanya, tetapi kompetensi atau capaian pembelajarannya. Selama standar kompetensi yang ditetapkan pemerintah tetap sama, asesmen bisa disusun berdasarkan kemampuan dasar siswa, seperti literasi, numerasi, dan pemahaman konsep. Jadi, meskipun pendekatan pembelajarannya berbeda, tujuan akhirnya tetap mengacu pada standar yang sama.

3. Implementasi di Indonesia:
Menurut saya, Kurikulum Merdeka sudah cukup mencerminkan prinsip kurikulum terpadu, terutama melalui kegiatan P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila). Dalam P5, siswa belajar melalui projek yang mengintegrasikan berbagai mata pelajaran dalam satu tema besar, seperti kewirausahaan, gaya hidup berkelanjutan, atau kearifan lokal. Kegiatan ini tidak hanya fokus pada materi akademik, tetapi juga pada pengembangan karakter dan keterampilan. Walaupun pelaksanaannya di setiap sekolah berbeda-beda, secara konsep Kurikulum Merdeka sudah mengarah pada pembelajaran terpadu yang lebih fleksibel dan berpusat pada siswa.

Sekian, Terima Kasih Bapak.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.