Kiriman dibuat oleh Najwa Aprisda Ramdhani Unila

MKU PKN PSTI -> FORUM JAWABAN ANALISIS JURNAL

oleh Najwa Aprisda Ramdhani Unila -
NAMA : Najwa Aprisda Ramdhani
NPM : 2315061086
KELAS : TI B

Kajian mengenai tantangan kesadaran kolektif lokal dan identitas nasional dalam era globalisasi menjadi perbincangan yang sangat penting. Fenomena ini terkait dengan dinamika perubahan dalam kehidupan masyarakat, negara, dan bangsa setelah masa reformasi, yang dibarengi dengan tuntutan berlebihan di berbagai aspek kehidupan. Tuntutan semacam ini seringkali menjadi pemicu permasalahan yang krusial, dapat mengancam keutuhan hidup bersama dalam konteks sosial, kebangsaan, dan negara. Oleh karena itu, kearifan lokal sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya menjadi aspek yang harus diperhatikan secara mendalam, dikaji, dan direvitalisasi. Signifikansinya terletak pada perannya yang esensial dalam memperkuat dasar identitas bangsa di tengah tantangan globalisasi yang semakin kompleks. Muncul pertanyaan kritis mengenai apakah nilai-nilai budaya lokal masih berfungsi sebagai perekat identitas bangsa di era keterhubungan global ini.

Pentingnya pertimbangan terhadap kearifan lokal sebagai elemen kunci dalam membentuk identitas nasional terus relevan dan perlu dihidupkan kembali untuk menghadapi kompleksitas zaman sekarang. Dalam konteks kesetaraan global, penelitian ini mencoba menjawab bagaimana nilai-nilai budaya lokal dapat tetap menjadi landasan kuat identitas bangsa di tengah perubahan yang terus berlangsung.

MKU PKN PSTI -> FORUM ANALISIS JURNAL

oleh Najwa Aprisda Ramdhani Unila -
NAMA : Najwa Aprisda Ramdhani
NPM : 2315061086
KELAS : TI B

Jurnal ini membahas signifikansi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai pilar pembentukan karakter bangsa Indonesia melalui pendekatan demokrasi, Hak Asasi Manusia (HAM), dan masyarakat madani. Setelah jatuhnya rezim Orde Baru pada 21 Mei 1998, Indonesia mengalami perubahan menuju sistem demokrasi, menghadapi tantangan dalam transisi ini. Meskipun telah berlalu lebih dari 30 tahun pemerintahan Orde Baru, proses demokratisasi masih menyisakan kecemasan terkait penyelesaian konflik yang cenderung tidak demokratis. Fenomena ini mencerminkan perbedaan perilaku dengan prinsip demokrasi yang diinginkan oleh kalangan reformis.

Seiring dengan gelombang demokrasi ketiga, tuntutan demokratisasi pasca-Orde Baru menjadi fokus gerakan reformasi, dengan pembaruan pendidikan kewarganegaraan (Civic Education) sebagai salah satu tuntutan utama. Pembaruan ini dianggap penting untuk mencapai demokrasi yang berkeadaban (Democratic Civility). Oleh karena itu, peran pendidikan kewarganegaraan dianggap sangat krusial dan mendesak dalam membentuk karakter bangsa Indonesia.