གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Dhona Dwiyanti 2213031004

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

Dhona Dwiyanti 2213031004 གིས-
Nama : Dhona Dwiyanti
NPM : 2213031004

Video tersebut menyoroti tiga gagasan utama terkait perkembangan konsep smart factory. Pertama, smart factory tidak lagi dimaknai sekadar sebagai penerapan robotika, Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan analisis data, tetapi telah berevolusi menjadi sistem produksi yang responsif dan mampu menyesuaikan diri secara langsung terhadap perubahan. Dalam konteks ini, teknologi tidak berfungsi sebagai pengganti tenaga kerja manusia, melainkan sebagai partner yang mendukung kreativitas, pengambilan keputusan, dan kemampuan berpikir kritis manusia. Kedua, kerangka Industri 5.0 menghadirkan dimensi baru dengan menekankan aspek sosial dan lingkungan. Tujuan pengembangan smart factory tidak hanya difokuskan pada peningkatan produktivitas, tetapi juga pada efisiensi energi, penerapan ekonomi sirkular, serta upaya pengurangan limbah industri. Pendekatan ini selaras dengan konsep manufaktur berkelanjutan yang menekankan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan. Ketiga, transformasi menuju Industri 5.0 memunculkan berbagai jenis pekerjaan baru, seperti desainer robot, analis data, teknisi sistem terintegrasi, hingga pengembang teknologi realitas virtual. Kehadiran profesi-profesi tersebut menunjukkan bahwa ekosistem industri modern menjadi semakin kompleks dan menuntut penguasaan kompetensi lintas disiplin untuk dapat beradaptasi dengan perubahan teknologi yang cepat.

EKONDUS A2025 -> DISKUSI

Dhona Dwiyanti 2213031004 གིས-
Nama : Dhona Dwiyanti
NPM : 2213031004

Globalisasi merupakan proses berkurangnya berbagai batas buatan yang selama ini membatasi arus barang, jasa, modal, dan informasi antarnegara. Perkembangan pesat teknologi informasi menjadi faktor utama yang mempercepat proses ini. Dalam konteks dunia usaha, globalisasi menciptakan peluang pasar yang jauh lebih luas dan mendorong perubahan pasar domestik menjadi ruang persaingan berskala internasional. Kondisi tersebut memungkinkan perusahaan memperluas skala produksi, meningkatkan efisiensi melalui pengelolaan rantai pasok global, serta memaksimalkan keuntungan dengan memanfaatkan spesialisasi di berbagai wilayah. Dari sisi makroekonomi, globalisasi berkontribusi terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi dunia melalui perdagangan internasional yang semakin intensif, mempercepat penyebaran teknologi dan inovasi ke negara berkembang, serta meningkatkan kesejahteraan konsumen melalui ketersediaan produk yang lebih beragam dengan harga yang relatif kompetitif. Dengan demikian, globalisasi berperan penting dalam membentuk perekonomian dunia yang saling terhubung dan saling bergantung.

Meskipun demikian, globalisasi juga membawa berbagai konsekuensi dan tantangan sosial ekonomi yang tidak dapat diabaikan. Salah satu dampak negatif yang paling menonjol adalah meningkatnya ketimpangan ekonomi, di mana manfaat globalisasi lebih banyak dinikmati oleh kelompok masyarakat yang memiliki modal dan keterampilan tinggi, sementara tenaga kerja berkeahlian rendah cenderung terpinggirkan. Selain itu, globalisasi turut memicu fenomena deindustrialisasi di sejumlah negara, ketika aktivitas manufaktur dan lapangan kerja berpindah ke wilayah dengan biaya produksi lebih rendah, sehingga menimbulkan masalah struktural dalam perekonomian. Integrasi pasar keuangan global yang semakin dalam juga meningkatkan risiko penyebaran krisis, di mana gangguan ekonomi di satu negara dapat dengan cepat berdampak pada stabilitas ekonomi global. Oleh karena itu, tantangan utama bagi banyak negara bukanlah menolak globalisasi, melainkan merumuskan kebijakan yang mampu memaksimalkan manfaat keterbukaan ekonomi sekaligus melindungi industri domestik, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan tenaga kerja lokal.