Posts made by Andriansyah Surya Hantoro 2255031016

Nama: Andriansyah Surya Hantoro
NPM: 2255031016
Kelas: PSTE C

Kajian tentang permasalahan kesadaran kolektif lokal dan identitas nasional dalam era globalisasi sangat relevan diwacanakan. Kenyataan ini seiring dengan berbagai perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pasca reformasi seiring timbulnya tuntutan yang berlebihan hampir dalam segala aspek kehidupan. Tuntutan yang demikian sering memicu permasalahan krusial, sehingga dapat mengancam keutuhan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Kearifan lokal merupakan elemen budaya yang harus digali, dikaji, dan direvitalisasikan karena esensinya begitu penting dalam penguatan fondasi jatidiri bangsa dalam menghadapi tantangan globalisasi. Pertanyaan yang muncul adalah apakah nilai-nilai budaya lokal sebagai perekat identitas bangsa masih relevan untuk direvitalisasi dalam menghadapi berbagai permasalahan di era kesejagatan ini.

Multikulturalisme dapat dimaknai sebagai sebuah kepercayaan yang menyatakan bahwa kelompok-kelompok etnik atau budaya (ethnic and cultural groups) dapat hidup berdampingan secara damai dalam prinsip coexistence yang ditandai oleh kesediaan menghormati budaya lain. Multikulturalisme juga merupakan sebuah formasi sosial yang membukakan jalan bagi dibagunnya ruangruang bagi identitas yang beragam dan sekaligus jembatan yang menghubungkan ruang-ruang itu untuk sebuah integrasi (Sparingga, 2003). Paham multikulturalisme ini muncul sebagai reaksi dari semakin kuatnya cengkeraman globalisasi yang cenderung menyatukan dunia (budaya) menjadi satu di bawah pengaruh ideologi kapitalisme atau modernisme. Sebagai bangsa yang memiliki sejarah panjang, sehingga tidak dapat dihindari bahwa bangsa Indonesia berada dalam kehidupan dengan beraneka budaya di dalamnya, seperti: budaya Jawa, Sunda, Madura, Minang, Batak, Makasar, Bugis, Toraja, Manggarai, Sikka, Sumba, Bali, Sasak dan lain-lain yang hidup berdampingan dan saling melengkapi satu sama lain.
Indonesia sebagai negara bangsa yang multietnis dan multikultural memang sejak awal berdirinya mengandung masalah legitimasi kultural. Kesenjangan, ketidakadilan, kurangnya pemerataan pembangunan, tirani minoritas yang terjadi di berbagai wilayah di tanah air dalam kenyataannya telah memicu terjadinya konflik sosial di berbagai wilayah di Indonesia, cenderung menjadi luka sejarah yang sulit dilupakan. Namun sering dalam kenyataan dapat disaksikan adanya tuntutan berlebihan baik dalam skala mikro maupun skala makro, bahkan tidak jarang menjadi masalah krusial yang dapat mengancam keutuhan berbangsa dan bernegara. Dalam konteks ini kebijakan pelestarian nilai-nilai kearifan lokal terjebak pada persoalan politik tanpa aplikasi yang nyata.
Andriansyah Surya Hantoro
2255031016
TE C

1. Menurut saya, itu merupakan perbuatan yang sangat tidak terpuji dan tidak mencerminkan/mengimplementasikan nilai Pancasila pada sila ke-2 dan sila ke-5, karena tidak adanya rasa kemanusiaan pada diri yang menolak jenazah tersebut, serta tidak mencerminkan keadilan juga karena dikuburnya sebuah mayat merupakan hak bagi masing-masing pribadi yang harusnya semua orang bebas menentukan ingin dimana nanti ia disemayamkan ketika meninggal.

2. Saran dari saya adalah kita harus lebih sadar diri tentang cara menghargai orang dan para pengajar atau orang tua harus mengajarkan budi pekerti dan tata krama yang satun, supaya bisa lebih menghargai orang lain dan juga pemerintah harus menanamkan nilai nilai pancasilaa khusunya sila kedua dan kelima.

3.Iya, menurut saya kasus ini tentu melanggar sila ke 2 Pancasila yaitu "kemanusiaan yang adil dan beradab" walaupun sudah wafat namun jenazah itu memiliki hak untuk di kuburkan, menurut penelitian wabah covid-19 di jenazah akan hilang setelah 7 jam jadi resiko penyebarannya itu kecil.