Kiriman dibuat oleh Salva Amanda Shafira 2218011073

Nama : Salva Amanda Shafira
NPM : 2218011073

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!
Jawab:
Melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia, maka diperlukan sebuah refleksi sebagai tindakan nyata terhadap perilaku dan etika politik para elite (pemerintah). Hal ini tidak bisa tidak, harus dilakukan jika menghendaki bangsa ini menjadi bangsa yang lebih baik. Memang mereka (elite) menginginkan agar Indonesia menjadi bangsa yang besar dan disegani, akan tetapi cita-cita ini kandas oleh perilaku yang ditunjukkan oleh mereka sendiri. Sisi lainnya adalah dalam berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, para elite politik tadi kerap kali membutakan suara dan mata hatinya. Sehingga persoalan yang timbul dalam masyarakat tidak pernah selesai dan bahkan semakin bertumpuk.

Etika Perilaku politik belum sesuai dengan nilai pancasila. Lunturnya etika politik yang terjadi pada para pelaku politik di Indonesia juga berpengaruh pada hilangnya tatanan yang bermoral dan rasional. Salah satu contoh adalah penggalian situs budaya yang dilakukan oleh seorang pejabat mencerminkan semakin tidak terkontrolnya tindakan dan sikap para pejabat di Indonesia. Dengan demikian pantaslah diungkapkan bahwa para pejabat yang ada telah kehilangan rasionalitasnya dan memenuhi pikirannya dengan hal-hal yang berbau mitos. Dengan tindakan tersebut mencerminkan bahwa bangsa Indonesia tidak lagi memiliki rasa percaya diri (self-confidence) sebagai sebuah bangsa.

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal mu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi !
Jawab:
Banyak anak sekarang yang suka ber-online ria sepanjang hari tanpa henti. Tanpa kita sadari, hal itu dapat menjauhkan anda dari pergaulan di masyarakat sekitar anda. Anda menjadi lebih suka bercanda ria di internet ketimbang memusyawarahkan tentang kegiatan disekitar anda.
Anak-anak kecil sebagai penerus generasi muda Indonesia juga tak lepas dari genggaman globalisasi. Ini dibuktikan dengan bergantinya mainan anak kecil (usia SD) dari bermain sepakbola menjadi bermain game online. Mungkin anda berfikir bermain game online untuk sekedar hiburan saja. Tapi untuk anak usia SD yang emosinya masih labil, game online tak ubahnya menjadi dunia fantasi milik mereka sendiri. Etika anak zaman sekarang tidak mencerminkan nilai yang di anut oleh bangsa Indonesia.
Tak jarang kita jumpai anak-anak tersebut yang mulanya anak lugu dan polos, berubah menjadi anak yang berandalan dan suka berkata-kata kotor akibat terlalu sering bermain game online. Lama kelamaan ketika uang saku sang anak habis untuk bermain game online, maka ia akan mencuri uang di dompet orang tuanya demi kebutuhan bermain gamenya. Dan dampak yang paling buruk adalah, para pelajar itu meninggalkan pelajaran di sekolah alias bolos sekolah hanya untuk bermain game online.
Untuk itu solusi yang tepat dalam memperbaiki etika anak jaman sekarang yaitu adanya peran orang tua. Orang tua kiranya harus sering-sering mengontrol kegiatan apa saja yang dilakukan sang anak. Selain itu, orang tua juga wajib mengenalkan anak kepada lingkungan masyarakat di sekitarnya, agar semangat dan budaya Indonesia yang sangat kita banggakan ini bangkit kembali dari penjajahan moral globalisasi. Dan semoga hal tersebut dapat menjadi kekuatan bangsa kita untuk bersaing dengan negara-negara lain di dunia.
NAMA : SALVA AMANDA SHAFIRA
NPM : 2218011073

Analisis Jurnal “FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA BERKARAKTER” oleh Yoga Putra Semadi
Pancasila sebagai sistem filsafat bisa dilihat dari pendekatan ontologis, epistemologis, maupun aksiologis. Diktat “Filsafat Pancasila” (Danumihardja, 2011) menyebutkan secara ontologis berdasarkan pada pemikiran tentang negara, bangsa, masyarakat, dan manusia.
Metode
Metode yang digunakan untuk menyusun artikel ini adalah study kepustakaan. Study kepustakaan, yaitu menelaah sumber-sumber, baik itu buku, artikel, referensi-referensi yang berkaitan dengan filsafat Pancasila dalam pendidikan di Indonesia untuk membentuk bangsa yang berkarakter.
Hakikat Filsafat Pancasila
Filsafat berasal dari kata Philosophy yang secara epistimologis berasal dari philos atau phileinyang yang artinya cinta dan shopia yang berarti hikmat atau kebijaksanaan. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis tersendiri yang membedakannya dengan sistem filsafat lain. Secara ontologis, kajian Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Kajian epistemologis filsafat Pancasila, dimaksudkan sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Menurut Titus, terdapat tiga persoalan mendasar dalam epistemology, yaitu: (1) tentang sumber pengetahuan manusia; (2) tentang teori kebenaran pengetahuan manusia; dan (3) tentang watak pengetahuan manusia.
Prinsip-Prinsip Filsafat Pancasila
Pancasila ditinjau dari kausal Aristoteles dapat dijelaskan sebagai berikut.
a. Kausa Materialis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan materi/bahan, dalam hal ini Pancasila digali dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.
b. Kausa Formalis, maksudnya sebab yang berhubungan dengan bentuknya, Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD ’45 memenuhi syarat formal (kebenaran formal).
c. Kausa Efisiensi, maksudnya kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka.
d. Kausa Finalis, maksudnya berhubungan dengan tujuannya, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.
Inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi:
a. ke-Tuhanan, yaitu sebagai kausa prima;
b. kemanusiaan, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial;
c. kesatuan, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri;
d. kerakyatan, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong; dan
e. keadilan, yaitu memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya.
Dalam sejarah pendidikan, dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai perkembangan manusia dan hasil pendidikan, yaitu sebagai berikut.
a. Empirisme : bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidpnya.
b. Nativisme : oleh Schopenhauer yang berpendapat bahwa bayi lahir dengan pembawan baik dan pembawan yang buruk.
c. Naturalisme : oleh J.J Rousseau, ia berpendapat bahwa semua anak yang baru lahir mempunyai pembawaan yang baik, tidak seorang anak pun lahir dengan pembawaan buruk.
d. Konvergensi : oleh William Stern, yang berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan pembawaan baik dan buruk.
ada beberapa poin yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila.
a. Harus memahami nilai-nilai Pancasila tersebut.
b. Menjadikan Pancasila sebagai aturan hukum dalam kehidupan.
c. Memberikan contoh pelaksanaan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik dengan baik.
Simpulan
Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Pancasila juga merupakan sebuah filsafat karena pancasila merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa yang dalam usaha-usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem filsafat yang kredibel. Pendidikan suatu bangsa akan secara otomatis mengikuti ideologi suatu bangsa yang dianutnya.
Nama : SALVA AMANDA SHAFIRA
NPM :2218011073

A. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!
Jawab :
Menurut pendapat saya, pembelajaran online akibat dampak pandemi virus COVID-19 ini mempunyai beberapa dampak positif dan negatif. Dampak positifnya adalah siswa dan guru mampu memantau dan meningkatkan kompetensi terkait pemanfaatan teknologi yang mendukung pembelajaran. Karena menerapkan kebijakan belajar di rumah mengharuskan siswa, guru, dan orang tua untuk segera memahami teknologi yang dibutuhkan untuk memfasilitasi pembelajaran.
Orang tua harus selalu mendampingi anaknya untuk menggunakan teknologi sesuai dengan kebutuhan belajarnya. Orang tua hendaknya mengawasi anaknya agar tidak menggunakan teknologi atau perangkat untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Penerapan sistem pembelajaran online saat ini membutuhkan kegiatan pembelajaran jarak jauh tanpa mengurangi kualitas materi dan tujuan kemampuan siswa. Guru perlu menyampaikan materi dengan baik agar siswa dapat dengan mudah menyerap dan memahaminya walaupun tidak bertatap muka.
Namun terdapat juga dampak negatif, berbagai masalah dan kesulitan muncul selama implementasi sistem daring ini. Permasalahan tersebut antara lain pengelolaan teknologi yang masih lemah, keterbatasan keterampilan dan infrastruktur, jaringan internet, biaya dll. Baik guru maupun siswa merasa masih sedikit menguasai teknologi. Tidak semua guru dan siswa terbiasa menggunakan teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Memiliki peralatan pendukung teknologi juga merupakan masalah tersendiri. Ada guru dan siswa yang tidak memiliki perangkat yang mendukung pembelajaran sistem online (misalnya laptop dan perangkat).
Meski terkadang memiliki laptop atau perangkat untuk belajar saja tidak cukup. Permasalahan yang muncul tidak hanya datang dari siswa, tetapi juga dari guru, orang tua dan pihak-pihak dalam dunia pendidikan. Misalnya, siswa diberi materi yang belum selesai, setelah itu guru menggantinya dengan tugas lain. Para siswa mengeluhkan banyaknya tugas yang diberikan saat mereka menjalani daring. Masalah lainnya adalah akses informasi terkadang dibatasi oleh sinyal yang menyebabkan keterlambatan dalam menerima informasi. Pada aplikasi daring saat ini masih banyak siswa yang kesulitan mengakses internet sehingga menjadi penghambat partisipasi siswa dan pengumpulan tugas.
B. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?
Jawab :
Untuk mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi Covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila, maka dapat dilakukan dengan berbagai cara berikut :
1. Pertama, menumbuhkan nilai karakter religius. Beberapa kegiatan siswa dalam menumbuhkan nilai karakter religus yaitu memperingati hari-hari besar keagamaan secara daring, membina toleransi kehidupan antar umat beragama, mengadakan kegiatan lomba yang bernuansa kegamaan secara daring.
2. Kedua, menumbuhkan nilai karakter integritas. Penegakan tata krama dan tata tertib seperti etika berkomunikasi saat pembelajaran daring dan pengawasan terhadap peserta didik di dunia maya merupakan strategi kesiswaan dalam menumbuhkan nilai karakter integritas di sekolah ini. Pada masa pandemic Covid-19 ini peraturan tata krama dan tata tertib sekolah disampaikan kepada seluruh peserta didik melalui beberbagai sosial media.
3. Ketiga, menumbuhkan nilai karakter nasionalisme. Untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Negara Indonesia dalam beberapa kegiatan seperti adanya peringatan hari besar nasional seperti mengadakan kegiatan lomba dan membuat konten foto ataupun video yang menarik untuk dipublikasikan bersama-sama. Selain itu penanaman nilai karakter juga dengan diwajibkanya peserta didik untuk mengikuti protokol kesehatan.
4. Keempat, menumbuhkan nilai karakter kemandirian dan gotong royong. Kegiatan kesiswaan untuk menumbuhkan nilai karakter kemandirian dan gotong royong yang dilakukan sekolah adalah pembinaan bakat dan minat peserta didik dalam bentuk mengikuti perlombaan yang dibimbing oleh guru. Adanya keikutsertaan dalam perlombaan tersebut dilakukan agar terjalin kerjasama dan keakraban antar guru dan peserta didik. Selain itu dengan kegiatan ini diharapkan terbentuk nilai kemandirian pada peserta didik karena dalam kondisi pandemi ini peserta didik dituntut lebih banyak belajar mandiri di rumah.


C. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasila, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!
Jawab :
Di lingkungan tempat tinggal saya, terdapat tradisi yang bernama sedekah bumi. Sedekah bumi ialah sebuah kegiatan tradisi yang telah menjadi budaya pada suatu masyarakat tertentu. Sedekah bumi telah menjadi agenda khusus yang diselenggarakan oleh masyarakat, karena masyarakat meyakini bahwa sedekah bumi mendatangkan keuntungan di masa kini maupun masa yang akan datang.
Menurut saya, sedekah bumi ini mengandung unsur sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, khususnya masyarakat desa. Masyarakat desa merasakan adanya keadilan yang telah terwujud dalam kehidupan mereka. Keadilan sosial itu bersifat relatif, tergantung bagaimana penghayatan dan penilaian terhadap kondisi hidup mereka dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Memang sebagian masyarakat desa ada yang tergolong kaya, menengah atau miskin, namun mereka merasakan keadilan secara sosial. Bumi desa memberikan hasil yang memuaskan bagi semua penduduk. Kaya miskin tetaplah merasa sama rata dan sama rasa karena mereka bisa menerima keberadaan diri mereka sesuai dengan kondisi hidup mereka.
Mereka yang kaya tentu memiliki sumber penghasilan atau pendapatan yang lebih banyak daripada mereka yang tergolong miskin. Namun mereka tetap merasakan keadilan dalam hidup mereka. Mereka yang kaya maupun yang miskin sama-sama memiliki kewajiban yang sama adilnya yaitu memberikan sumbangan uang yang besarnya ditentukan oleh kepala desa atau kesepatan bersama. Mereka tidak mengeluh dengan beban biaya yang harus ditanggung dalam upaya penyelenggaraan sedekah bumi. Dengan perasaan gembira, tulus ikhlas dan senang, seluruh warga desa mau untuk menyumbang uang, sebab sedekah bumi telah menjadi milik bersama.


D. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
Jawab :
Pancasila sebagai paradigma dimaksudkan bahwa Pancasila sebagai sistem nilai acuan, kerangka-acuan berpikir, pola-acuan berpikir; atau jelasnya sebagai sistem nilai yang dijadikan kerangka landasan, kerangka cara, dan sekaligus kerangka arah/tujuan dalam berbagai macam bidang.
Bidang tersebut di antaranya:
(1) pengembangan ilmu pengetahuan,
(2) pengembangan hukum,
(3) supremasi hukum dalam perspektif pengembangan HAM,
(4) pengembangan sosial politik,
(5) pengembangan ekonomi,
(6) pengembangan kebudayaan bangsa,
(7) pembangunan pertahanan, dan
(8) sejarah perjuangan bangsa Indonesia sebagai titik tolak memahami asal mula Pancasila.
Kelima sila Pancasila diharapkan menjadi paradigma atau cara pandang yang menjadi pedoman bersikap dan berperilaku, acuan berinteraksi dengan orang lain, acuan menilai suatu tindakan baik atau buruk, sebagai filter terhadap nilai-nilai negatif, dan sebagai dasar bagi penertiban kehidupan sosial.
Sebagai contoh, Pancasila digunakan sebagai pedoman dalam mengatasi konflik sosial antar umat beragama. Sebetulnya dalam landasan ideologi Pancasila telah di jelaskan makna perbedaan yang ada dan menyatukan keberagaman yang ada dengan satu tujuan yaitu kesatuan untuk kemajuan bersama. Egoisme dan kurangnya pemahaman terhadap dasar negara ini sendiri yang dinilai menjadi sumber utama konflik itu terjadi, khususnya konflik antar umat beragama di Indonesia.
Pancasila adalah sebagai pedoman pelaksanaan dan penyelenggaraan negara, yaitu sebagai dasar negara yang bersifat umum kolektif serta realisasi pengamalan Pancasila yang bersifat khusus dan kongkrit. Akan tetapi hakikat pancasila sendiri adalah suatu nilai, adapun aktualisasi dan pengamalannya adalah merupakan realisasi kongkrit Pancasila.
Namun kenyataannya pada saat ini kedudukan Pancasila seperti tidak lagi diletakkan sebagai dasar filsafat serta pandangan hidup bangsa dan negara Indonesia melainkan direduksi, dibatasi dan dimanipulasi demi kepentingan politik penguasa. Selain itu dewasa ini bayak tokoh dan juga lapisan masyarakat yang kurang memahami filsafat hidup dan pandangan hidup masyarakat Indonesia.
Padahal, dalam Pancasila telah memberikan dasar-dasar nilai fundamental bagi umat beragama di Indonesia, dengan pancasila maka pada dasarnya masyarakat Indonesia di arahkan ke arah terciptanya kehidupan bersama yang penuh toleransi, saling menghargai berdasarkan nilai kemanusiaan yang beradab.
Nama : Salva Amanda Shafira
NPM : 2218011073

Pemateri 1
Dr Mohammad Bahrudin, M.A Ketua PKUB Lampung (spirit moderasi beragama)

Konferensi WCRP Kyoto 1970.
Harus ada kerukunan umat beragama jika tidak maka akan menjadi perang salib atau poso.
mengapa harus moderasi agama?
karena modal hidup rukun antar hidup beragama. Moderasi agama adalah sebagai pilihan cara pandang sikap dan perilaku di tengah- tengah ,adil, dan seimbang. Pilar moderasi ada 3; pemikiran, perbuatan dan pergerakan.
Moderasi beragama dalam berbagai bidang :
1. Moderasi dalam berkeyakinan.
2. Terbukanya pintu rukhsah( keringanan). contoh : Ketika orang sakit boleh tidak puasa.
3. Rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit.
4. Moderat dalam perilaku. contoh : Benci sama orang bisa di tutupi, Positif thinking
5. Moderat dalam membelanjakan harta. contoh: Sederhana jangan hedonisme.

Hambatan dan solusi pada Global Etchic
Eksklusivme
1. Blind Obedience
2. Intolerance
3. Rasisme

Indikator Moderat
1. Menghormati Kehadiran agama lain di negara Indonesia.
2. Menikmati keberagaman yang di sumbangkan setiap agama
3. Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur universal agama-agama
4. Belajar dari pengalaman dan sejarah masa lalu
5. Mengapresiasi kontribusi setiap kelompok, agama.
6. Memberikan hak yang sama kepada agama lain.


Pemateri 2
Prof. Dr. Ainul Gani., S.Ag., SH, M.Ag (Penguatan Karakter melalui Pendidikan Spiritual)

Bagaimana Kondisi Generasi Muda Saat ini?
Ada kasus 17 kekerasan yahh melibatkan peserta didik dan guru pada tahun 2021 yang tersebar di 11 provinsi.
Pelaku seksual yang tidak sehat di kalangan remaja meningkat. Dengan jumlah 3006 usia 17-24, menunjukkan 20.9% remaja mengalami kehamilan dan kelahiran sebelum menikah. dan 38.7% remaja mengalami kehamilan sebelum menikah dan kelahiran setelah menikah.
Selain narkoba dan AIDS/HIV dan seks bebas jadi masalah di Indonesia.

Pendidikan Spiritual termasuk sesuatu yang penting merupakan vitamin: Solat, baca quran, dzikir.


Dunia dan akhirat harus seimbang.
Ada 4 perkara yang di tnya di hari akhir:
1. Umur
2. Ilmu
3. Harta
4. Tubuh

Mahasiswa sukses adalah mereka yang bisa mengelola waktu dengan baik

Pemateri 3
Dr. Sairul Basri, M.Pd ( Penguatan Karakter Kebangsaan)

Negarawan : Seseorang yang ahli menjalankan pemerintahan atau negara yang mampu membawa negara berwibawa yang taat.

Ancaman Negara :
1. Ekonomi
2. Politik
3. Ideologi
4. Legislasi
5. Bencana alam
6. Radikalisme dan Terorisme
7. Pornografi
8. Narkoba

Dokrin nilai nasionalisme yang ber pancasila :
1. Yakin pancasila Sebagai ideologi negara
2. Mencintai tanah air
3. Sadar berbangsa dan bernegara
4. Berkorban untuk kepentingan Bangsa .

Alat pemersatu bangsa:
1. Pancasila
2. UUD 1945
3. Bhineka tunggal ika
Ideologi terancam apabila warga negara :
1. Melemahkan kebhinekaan
2. Pancasila hanya selogan saja
3. Berpikir dan berupaya untuk mengganti ideologi
4. Bertindak sendiri tanpa dengan kearifan lokal

Kenakalan remaja gambaran hancurnya masa depan bangsa:
1. Ketergantungan/ tidak mampu bersaing
2. Hura-hura kehilangan masa depan.