གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ M. Frans Surya Pradana

Nama : M. Frans Surya Pradana
NPM   : 2218011063
Analisis Jurnal
Judul             : PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI KONTROL
                         SOSIAL OLEH MEDIA MASSA UNTUK MENEKAN KEJAHATAN                             DI INDONESIA
Penulis          : Ariesta Wibisono Anditya
Universitas   : Universitas Jenderal Achmad Yani
Tahun Terbit : 2020

Jurnal ini secara keseluruhan berisikan tentang peran media massa sebagai salah satu alat untuk menanamkan moral dan etika kepada masyarakat Indonesia. Media massa sendiri merupakan suatu alat untuk mendukung hukum pidana, dalam bidang hukum pidana, Media massa sangat diperlukan untuk mencegah kejahatan. Hal ini dikarenakan kebijakan hukum tidak selamanya dapat menjadi sarana utama untuk menekan kejahatan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan melihat apakah terdapat norma-norma dalam media massa disandingkan dengan asas-asas serta doktrin mengenai kontrol sosial untuk dianalisis berdasarkan penanaman nilainilai Pancasila pada kehidupan masyarakat Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa media massa belum melakukan perannya sebagai alat untuk pencegahan kejahatan melalui nilai-nilai Pancasila akan tetapi media massa malah memberikan sutau informasi yang diragukan kebenarannya, memuat berita sebagai pemuas informasi saja, serta terkadang terdapat acara di televisi yang tidak memiliki manfaat seperti mengundang artis tiktok viral karena jogetannya akan tetapi anak-anak indoensia yang berprestasi malah dibiarakan begitu saja, padahal mereka dapat dijadikan motivasi bagi anak-anak Indonesia lain untuk dapat berprestasi seperti mereka, kebalikannya saat ini banyak artis-artis media sosial yang dijadikan idola oleh anak muda Indonesia yang terkadang tidak memiliki etika atau moral dan itu dijadikan sebagai contoh oleh banyak anak muda saat ini. Hal ini dapat terjadi karena media massa banyak memberikan informasi atau acara sebagai pemuas penonton saja tanpa menanamkan pembentukan pribadi sosial yang berjiwa Pancasila.
 
Sebenarnya media massa memiliki fungsi sebagai media informasi, pendidikan, hiburan dan kontrol sosial. kontrol sosial sangat penting pula untuk mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan baik korupsi, kolusi, nepotisme, maupun penyelewengan dan penyimpangan lainnya.

Media massa merupakan bagian dari pers, dimana media berperan sebagai perantara pers dalam siaran berita dalam berbagai bentuk. Media massa merupakan alat bagi masyarakat untuk mendapatkan informasi, media massa memiliki fungsi atau peran penting dalam berbagi informasi dengan khalayaknya, yang merupakan istilah bagi konsumen media.

Pada masa perjuangan, pengaruh pers sangat kuat dan tidak seperti masa kini, pers cenderung mencari keuntungan. Meskipun demikian, jika dibiarkan tanpa mencari keuntungan, maka pers masa kini juga tidak dapat bertahan.

Menurut Pasal 6 Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999, pers memiliki peranan sebagai berikut :
a. Untuk memenuhi hak masyarakat untuk mengetahui
b. Menegakkan nilai-nilai dasar demokrasi, mendorong mewujudkan supremasi hukum, dan Hak Asasi Manusia, serta menghormati kebhinekaan
c. Mengembangkan pendapat umum yang berdasarkan informasi yang tepat, akurat dan benar
d. Melakukan pengawasan, kritik, koreksi dan juga saran terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kepentingan umum
e. Memperjuangkan keadilan dan kebenaran

Dapat disimpulkan bahwa saat ini media massa belum menerapkan fungsi kontrol sosial di Indonesia. Bahkan terkadang berita yang disebarkan oleh oknum yang tak bertanggung jawab tidak diketahui kebenarannya. Sebagai masyarakat kita sudah seharusnya dapat memilah dan menyaring informasi yang datang kepada kita. Kita tidak bisa menerima dan percaya semua informasi yang masuk tanpa diketahui kebenarannya. Pengamalan jiwa Pancasila yang masih kurang ditunjukkan dengan adanya berita-berita yang menyesatkan. Media massa saat ini kebanyakan hanya memberikan pemuas informasi kepada masyarakat artinya, masyarakat hanya terpuaskan keingintahuannya saja mengenai berita hukum melalui sajian gambar maupun suara tanpa terdorong pembentukan kepribadiannya. Media massa di Indonesia saat ini belum dapat menjadi suatu alat untuk mengubah moral dan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam masyarakat, hal ini terbukti dengan lunturnya rasa persatuan dan kesatuan antar masyarakat dan meningkatnya sifat-sifat individualis dalam masyarakat.

Nama : M. Frans Surya Pradana
NPM : 2218011063
ANALISIS SOAL

1. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!

Jawab : Pandemi virus Covid-19 tidak hanya menyerang dalam sector Kesehatan akan tetapi banyak sector yang terpengaruh dan terdampak secara besar seperti contohnya Pendidikan dan ekonomi. Menurut saya proses Pendidikan di tengah pandemic covid-19 yaitu dilaksanakan secara online memiliki lebih banyak kekurangannya ketimbang offline. Karena pembelajaran daring membutuhkan fasilitas lebih seperti kuota, sinyal internet dan Hp, fasilitas-fasilitas tersebut tentu membutuhkan biaya untuk didapatkannya, akan tetapi akibat dari pandemic covid-19 banyak sector ekonomi yang lumpuh karena pembatasan mobilitas demi mengurangi penyebaran covid-19. Akibat ekonomi yang lumpuh banyak para pekerja yang dirumahkan akibat penghematan anggaran pengeluaran suatu perusahaan, tentu hal ini sangat berpengaruh terhadap Pendidikan seorang anak yang orang tuanya merupakan salah satu korban dari permasalan ekonomi akibat pandemi covid-19. Hal ini berpengaruh terhadap Pendidikan anak dikarenakan biaya kebutuhan yang dikeluarkan dalam Pendidikan secara online cenderung bertambah untuk menunjang Pendidikan.

Selain itu, pembelajaran secara online juga akan membuat konsentrasi belajar seorang pelajar makin menurun. Hal ini dikarenakan banyaknya distraksi yang dapat menggoda dia untuk meninggalkan pelajaran seperti game, tv, dan lainnya.

2. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?

Tentu hal hal tersebut membutuhkan kerja sama yang baik antara guru, orang tua dan murid Melalui panduan pembelajaran jarak jauh interaktif yang dirancang oleh guru, memuat di dalamnya materi pelajaran dan juga aktivitas atau langkah-langkah pembelajaran, yang mengarahkan pada impelementasi nilai-nilai pancasila melalui penguatan pendidikan karakter, sehingga orang tua dapat mengoptimalkan perannya dalam mendampingi peserta didik belajar di rumah. Sehingga hal ini berdampak dengan sikap dan perubahan tingkah laku peserta didik pada capaian nilai-nilai utama karakter yaitu religius, gotong royong, integritas, kemandirian dan nasionalis

3. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!

Contoh perlaku jujur : Saya menitip sesuatu ke teman saya dan teman saya mengembalikan kembalian dengan benar tanpa ada pengurangan sedikit pun
Disiplin : Saya dan teman saya selalu mengumpulkan tugas tepat waktu sebelum melewati deadline
Tanggung jawab : Ayah saya merupakan seseoarang yang sangat bertnggung jawab kepada keluarganya, ia sangat mensuport segala kegiatan yang memiliki manfaat
Peduli : Tetangga saya sangat peduli dengan sekitarnya, Ketika terdapat seseorang yang sedang tertimpa musibah, tetangga saya langsung membantu dan menolongnya
Santun : Berbicara dengan baik dan tidak pernah berkata kasar
Ramah lingkungan : Menyapa dosen, kiyai, dan kakak tingkat Ketika bertemu dengan ramah
Gotong royong : Membeli printer dengan cara urunan dan menggunakannya Bersama-sama
Cinta damai : Menghormati satu sama lain walaupun terdapat perbedaan agama dan suku

4. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?

Hakikat Pancasila adalah hal-hal yang terkandung di dalam Pancasila yang dijadikan sebagai pedoman dan acuan masyarakat Indonesia dalam melakukan kehidupan sehari-hari khususnya dalam pradigma berpikir, bersikap dan berprilaku dalam masyarakat. Pradigma berpikir maksudnya adalah Pancasila dijadikan suatu pedoman dan landasan kita dalam berpikir. Selain itu Pancasila juga dijadikan sebagai acuan untuk kita melakukan sesuatu dan bersikap di masyarakat, semua hal tersebut bertujuan agar terciptanya kerukunan antar warga masyarakat karena melakukan suatu kegiatan yang berdasarkan Pancasila akan membuat hidup lebih teratur sebab semua yang dilakukannya dipikir terlebih dahulu sesuai atau tidaknya.
Nama : M. Frans Surya Pradana
NPM : 2218011063

Analisis Jurnal

1. Pendahuluan
Pancasila merupakan suatu idiologi yang memiliki 5 nilai dasar yang merupakan jati diri bangsa Indonesia dan berisi tentang pandangan hidup rakyat Indonesia. Pancasila sebagai filsafat sudah terdengar tak lepas dari peran Ir. Soekarno dengan nama philosofiche grounfslag yang menjadikan Pancasila sebagai pandangan hidup. Salah satu dalam penerapan dan penanaman dari dasar-dasar filsafat tersebut terdapat dalam system Pendidikan. Hal ini juga terdapat dalam UU No.12 Tahun 2012 Pasal 1 tentang Pendidikan Tinggi disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara. Dari Undang-undang di atas dapat dimaknai bahwa pendidikan di Indonesia adalah sebuah proses pembelajaran yang berupaya untuk tujuan pengembangan potensi diri dan karakter bagi peserta didik. Disini Sila-sila Pancasila mencerminkan bagaimana seharusnya pendidikan harus dihayati dan diamalkan menurut sila-sila dalam Pancasila.
2. Metode

Cara penulis menulis artikel ini menggunakan metode study kepustakaan yaitu menelaah sumber-sumber, baik itu buku, artikel, referensi-referensi yang berkaitan dengan filsafat Pancasila dalam pendidikan di Indonesia untuk membentuk bangsa yang berkarakter. Dengan tujuan mendapatkan kesimpulan yang akurat

3. Hasil dan Pembahasan

Pancasila merupakan suatu filsafat negara yang lahir sebagai cita-cita Bersama dari seluruh rakyat Indonesia. Pancasila sebagai filsafat memiliki (1) dasar ontlogis, (2) epitemologis dan aksiologis.

Prinsip-prinsip Filsafat Pancasila
Ditinjau dari kausal Aristoteles Pancasila dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Kausa Materialis
2. Kausa Formalis
3. Kausa Efisiensi
4. Kausa Finalis
Untuk inti atau esensi sila-sila Pancasila meliputi :
1. ke-Tuhanan, yaitu sebagai kausa prima
2. kemanusiaan, yaitu makhluk individu dan makhluk sosial
3. kesatuan, yaitu kesatuan memiliki kepribadian sendiri
4. kerakyatan, yaitu unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong
5. keadilan, yaitu memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya.

Nilai-nilai Pancasila yang bersumber dari hakikat Tuhan, manusia, satu rakyat dan adil dijabarkan menjadi konsep Etika Pancasila, bahwa hakikat manusia Indonesia adalah untuk memiliki sifat dan keadaan yang berperiKetuhanan Yang Maha Esa, berperi-Kemanusiaan, berperi-Kebangsaan, berperi-Kerakyatan, dan berperi-Keadilan Sosial.
Filsafat Pancasila dalam Pendidikan di Indonesia : Filsafat Pendidikan di Indonesia berakar pada nilai-ilai yang terdapat dalam Pancasila. Filosofis pendidikan nasional memandang bahwa manusia Indonesia sebagai:
a. makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya
b. makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya
c. makhluk sosial dengan segala tanggung jawab hidup dalam masyarakat yang pluralistic

Pandangan atau teori mengenai perkembangan manusia dan dan hasil pendidikan, yaitu sebagai berikut.
a. Empirisme
b. Nativisme
c. Naturalisme
d. Konvergensi
Filsafat Pendidikan Pancasila mengimplementasikan ciri-ciri sebagai berikut :
1. Integral Kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila adalah kemanusiaan yang integral
2. Etis Pancasila merupakan kualifikasi etis
3. Religius Sila pertama pancasila menegaskan bahwa religius melekat pada hakikat manusia
ada beberapa poin yang harus dilakukan oleh pendidik dalam melaksanakan nilai-nilai Pancasila.
a. Harus memahami nilai-nilai Pancasila tersebut.
b. Menjadikan Pancasila sebagai aturan hukum dalam kehidupan
c. Memberikan contoh pelaksanaan nilai-nilai pendidikan kepada peserta didik dengan baik