གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Alfiya Farah Anindhita

Nama : Alfiya Farah Anindhita
NPM : 2218011161

Analisis jurnal pertemuan 12
a. Identitas jurnal
1. Nama jurnal : Nurani Hukum
2. Volume : 3
3. Nomor : 1
4. Halaman : 29-44
5. Tahun Penerbit : 2020
6. Judul Jurnal : Penanaman Nilai-Nilai Pancasila Melalui Kontrol Sosial Oleh Media Massa Untuk Menekan Kejahatan di Indonesia
7. Nama Penulis : Ariesta Wibisono Anditya

b. Isi jurnal
1. Masalah penelitian :
2. Lokasi penelitian : Fakultas Ekonomi dan Sosial, Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta
3. Metode penelitian : Metode yang digunakan adalah normatif yakni penelitian yang mendasarkan pada kajian norma yang ada pada sistem hukum.
4. Teori yang dipakai : Pendekatan undang-undang dengan analisis dan pembahasan asas-asas, tinjauan umu Pancasila, nilai-nilai Pancasila berdasarkan Notonagoro, serta tinjauan umum mengenai media massa.
5. Hasil penelitian : pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam peran media massa memberitakan informasi belum terlaksana. Masih banyak terdapat berita yang tidak teruji kebenarannya yang dapat merusak tatanan sosial. Media massa hanya memuat berita sebagai pemuas informasi saja tanpa menanamkan pembentukan pribadi sosial yang berjiwa Pancasila. Berita yang diedarkan kepada khalayak ramai seringkali tidak sesuai dengan fakta dan disebarkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Permasalahan yang sering ditemui adalah, karena mengejar tenggat waktu dan kurangnya pemahaman akan etika pemberitaan maka konstruksi berita hukum menjadi berlebihan dan tidak memberikan edukasi.

c. Kelebihan dan kekurangan
1. Kelebihan : pembahasan lengkap dan jelas serta Bahasa yang digunakan mudah dipahami.
2. Kekurangan : masih didapati penggunaan tanda baca yang salah. Kurang dijelaskan apakah metode yang digunakan berupa kualitatif atau kuantitatif.
Nama : Alfiya Farah Anindhita
NPM : 2218011161

Analisis jurnal pertemuan 10
a. Identitas jurnal
1. Nama jurnal : Jurnal Filsafat Indonesia
2. Volume : 2
3. Nomor : 2
4. Halaman : 82-89
5. Tahun Penerbit : 2019
6. Judul Jurnal : FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA BERKARAKTER
7. Nama Penulis : Yoga Putra Semadi

b. Isi jurnal
1. Masalah penelitian : Sistem Filsafat Pancasila dalam proses Pendidikan di Indonesia
2. Lokasi penelitian : Kampus Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja
3. Metode penelitian : Metode yang digunakan adalah pendakatan kualitatif dengan study perpustakaan menelaah sumber-sumber agar mendapat simpulan yang valid dan relevan
4. Teori yang dipakai : Pancasila sebagai sistem filsafat dan persoalan epistemology
5. Hasil penelitian : Pancasila merupakan dasar pandangan hidup rakyat Indonesia yang di dalamnya memuat lima dasar yang isinya merupakan jati diri bangsa Indonesia. Sila-sila dalam Pancasila menggambarkan tentang pedoman hidup berbangsa dan bernegara bagi manusia Indonesia seluruhnya dan seutuhnya. Pancasila juga merupakan sebuah filsafat karena pancasila merupakan acuan intelektual kognitif bagi cara berpikir bangsa yang dalam usaha-usaha keilmuan dapat terbangun ke dalam sistem filsafat yang kredibel. Pendidikan suatu bangsa akan secara otomatis mengikuti ideologi suatu bangsa yang dianutnya. Pancasila adalah dasar dan ideologi bangsa Indonesia yang mempunyai fungsi dalam hidup dan kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Filsafat adalah berfikir secara mendalam dan sungguh-sungguh untuk mencari kebenaran. Filsafat pendidikan adalah pemikiran yang mendalam tentang pendidikan berdasarkan filsafat. Apabila kita hubungkan fungsi Pancasila dengan sistem pendidikan ditinjau dari filsafat pendidikan, maka Pancasila merupakan pandangan hidup bangsa yang menjiwai dalam kehidupan sehari-hari.

c. Kelebihan dan kekurangan
1. Kelebihan : pembahasan dalam jurnal dan penggunaan Bahasa baku dalam jurnal yang sudah baik dan mudah dipahami. Menggunakan literatur atau sumber valid dan relevan
2. Kekurangan : Ada beberapa kata yang kurang dapat dipahami orang awam
Nama : Alfiya Farah Anindhita
NPM : 2218011161

ANALISIS SOAL 1 PERTEMUAN 10
A. Menurut saya, proses pendidikan di tengah pandemic COVID-19 ini perlu dibenahi lagi. Tentunya kembali lagi pemicunya di permasalahan ekonomi. Proses Pendidikan di tengah pandemic ini dilaksanakan secara daring dan tentunya menuntut para pelajar untuk memenuhi fasilitas belajar mereka sendiri. Mereka yang memiliki keterbatasan ekonomi dan bertempat tinggal di tempat terpencil mungkin tidak sanggup bila harus belajar secara daring dan memutuskan untuk putus sekolah. Semakin banyaknya generasi muda yang putus sekolah tentunya menurunkan kualitas SDM sendiri.
B. Caranya tentunya dengan bantuan dari pemerintah pusat ataupun daerah baik berupa fasilitas penunjang untuk para pelajar ataupun bantuan dana. Selain itu kita sebagai pelajar juga tentunya tetap mendisiplinkan diri memahami materi yang diberikan dan mengerjakan tugas dengan semestinya. Serta mengutamakan kejujuran meskipun dalam pembelajaran daring.
C. Contohnya seperti menerapkan 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun). Saat mengerjakan pretest, posttest, ataupun ujian lainnya harus dengan didasarkan nilai kejujuran dan percaya pada diri sendiri. Di lingkungan tempat tinggal sendiri harus menaati peraturan yang berlaku dan tidak mengganggu warga sekitar. Saling membantu bila ada teman atau orang sekitar yang kesusahan, serta menjaga kerukunan.
Melalui kasus-kasus di atas bila kita terapkan maka lingkungan yang baik akan terjaga sesuai dengan filosofis dari Pancasila sendiri.
D. Hakikat Pancasila adalah sebagai tolak ukur dan pedoman manusia dalam berpikir nasionalisme, bersikap, dan berperilaku di masyarakat. Filosofi nilai-nilai Pancasila sejatinya adalah buah dari kebudayaan bangsa Indonesia maka dari itu hendaknya kita menjunjung tinggi dan menerapkannya dalam berperilaku dan bersikap sehari-hari.
Nama : Alfiya Farah Anindhita
NPM : 2218011161

MATERI 1
SPIRIT MODERASI BERAGAMA
Pemateri : Dr. Mohammad Bahrudin, M.A

Konferensi WCRP, Kyoto, 1970
Genesis and contents of the Global Ethic Project
● "No peace among the nations without peace
among the religions"
● "No peace among the religions without
dialogue among the religions"
● "No dialogue among the religions without a
consensus on shared ethical values, a global
ethic"
● "No new world order without a global ethic"

Moderasi beragama merupakan ruh kerukunan umat beragama dan kerukunan umat bergama merupakan pilar kerukunan nasional.

PENGERTIAN MODERASI BERAGAMA
Moderasi beragama dipahahami sebagai pilihan untuk memiliki cara pandang, sikap dan perilaku di tengah tengah, adil dan seimbang, termasuk seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang berbeda keyakinan (inklusif).

MODERASI BERAGAMA DALAM BERBAGAI BIDANG
(1) Moderasi dalam berkeyakinan
(2) Terbukanya Pintu Rukhsah (Keringanan)
(3) Rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit
(4) Moderat dalam perilaku
(5) Moderat dalam membelanjakan harta

Hambatan dan Solusi pada Global
Eksklusivisme
- Blind obedience
- Intolerance
- Racion
Inklusifisme

Indikator Moderat
• ACKNOWLEDGE: Menghormati kehadiran
agama lain di negera kita;
• CELEBRATE: Menikmati keberagaman yang
disumbangkan setiap agama
• VALUE: Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur
universal agama-agama
• LEARN: Belajar dari pengalaman dan sejarah
masa lalu
• RESPECT : Mengapresiasi kontribusi setiap
kelompok agama
• TOLERATE : Memberikan hak yang sama kepada agama lain

MATERI 2
Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Spiritual
Pemateri : Prof. Dr. H. A. Goni, S.Ag., S.H., M.Ap

Kondisi generasi muda saat ini ditinjau dari data penduduk bekasi bahwa banyak kenakalan yang dilakukan remaja saat ini seperti tawuran, pemakaian narkoba, berzina di luar pernikahan, dan infeksi HIV/AIDS. Padahal para generasi muda ini merupakan harapan dan penerus bangsa. Solusi dari segala permasalahan tersebut adalah pendidikan spiritual.

Pendidikan spiritual termasuk nutrisi bergizi tinggi yang sangat dibutuhkan oleh manusia sehat agar tidak menjauh dari hidayah Allah SWT.

Pengamatan menunjukkan bahwa mereka yang sukses, adalah mereka yang dapat memanage
waktu.

4 PERKARA YANG AKAN DITANYA PADA HARI AKHIR
1. Umur
2. Ilmu
3. Harta
4. Tubuh

MATERI 3
Penguatan Karakter Kebangsaan
Pemateri : Dr. Sairul Basri, S.Ag., S.H., M.Pd.

Negarawan: Seseorang yang ahli menjalankan pemeritahan atau negara yang mampu membawa negara yang berwibawa yang taat
menyusun arah negara kedepan untuk kemajuan bangsa.

Tujuan : SEGALA UPAYA UNTUK MEMPERTAHANKAN KEDAULATAN NEGARA, KEUTUHAN Wilayah NKRI DAN KESELAMATAN NEGARA DARI BERBAGAI ANCAMAN.

Ancaman Negara
1. pornografi
2. narkoba
3. radikalisme dan terorisme
4. legislasi
5. ekonomi (MEA, tenaga terampil, dan modal)
6. bencana alam
7. politik
8. ideologi
9. teknologi

Mengapa perlu sikap kebangsaan?
negara layaknya seperti makhluk hidup yang sejatinya perlu dilindungi oleh seluruh warga negara Indonesia dari HTAG

Doktrin Nilai Nasionalisme
1. Pancasila sebagai ideologi negara
2. mencintai tanah air
3. sadar berbangsa dan bernegara Indonesia
4. rela berkorban untuk kepentingan bangsa

ALAT PEMERSATU SEBAGAI IDEOLOGI BERBANGSA
1. PANCASILA, UUD 1945
2. BHINEKA TUNGGAL IKA
3. NKRI

IDEOLOGI TERANCAM APABILA WARGA NEGARA
1. BERTINDAK SENDIRI TANPA DENGAN KEARIFAN
LOKAL (KARENA PANCASILA DIAMBIL DARI KL)
2. TIDAK DITANAMKAN SEJAK DINI KEPADA SELURUH WN
3. PANCASILA HANYA SEBAGAI SLOGAN SAJA, TEORI DAN
TIDAK MENJADI PANDANGAN HIDUP BERBANGSA
BERPIKIR DAN BERUPAYA UNTUK MENGGANTI IDEOLOGI
BANGSA (INI RESIKO YANG TERTINGGI)
5. MELEMAHKAN KEBHINEKAAN