Kiriman dibuat oleh Nayla Priyanka Dara Tsanya

Nama: Nayla Priyanka Dara Tsanya
NPM: 2218011105

TUGAS ANALISIS SOAL PERTEMUAN 12

A. Bagaimanakah sistem etika perilaku politik saat ini? Sudah sesuaikah dengan nilai-nilai Pancasila? Jelaskan!

Pancasila merupakan sumber hukum dari segala sumber. Etika politik Pancasila merupakan suatu proses pengambilan keputusan dan kebijakan lainnya yang harus didasarkan dengan nilai-nilai Pancasila karena Pancasila mempunyai nilai yang fundamental sebagai dasar falsafah Bangsa Indonesia sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945. Menurut saya pribadi, sistem etika perilaku politik belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Mengapa demikian? Hal tersebut dapat saya katakan karena memang hukum yang tertulis telah sesuai namun pelaksanaan dalam lapanganlah yang belum sesuai dengan nilai yang terkandung dalam Pancasila. Dapat dijadikan contoh bukti nyata etika perilaku politik belum sesuai dengan nilai Pancasila bahwa para pejabat negara seringkali ditemukan berlaku tidak adil dan menerapkan perbuatan yang sangat tidak sesuai dengan Pancasila yaitu KKN (korupsi, kolusi, dan nepotisme). Bukan hal yang mengejutkan jika anak seorang pejabat akan menjadi pejabat juga karena koneksi yang erat. Bukan hal yang mengejutkan juga jika seorang pejabat negara tiba-tiba memiliki harta yang menaik drastis karena tindak korupsi. Bukan hal yang mengejutkan juga jika pelaku kejahatan lolos begitu saja karena uang suap dan yang memiliki kuasa menerima suap tersebut. Hal-hal seperti ini (dan seperti dinormalisasikan) yang menyebabkan etika perilaku dalam politik semakin menjauh dari kata Pancasila. Maka dari itu, diperlukan introspeksi diri agar terciptanya perilaku politik sesuai dengan nilai Pancasila dan sesuai dengan apa yang tertulis. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat biasa lainnya harus menerapkan etika politik yang benar.

B. Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Bagaimanakah etika generasi muda yang ada di sekitar tempat tinggal mu? Apakah mencerminkan etika dan nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia? Berikan solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi !

Menurut pandangan saya, generasi muda disekitar saya telah menunjukan etika yang baik dan sesuai dengan nilai Pancasila dan sesuai dengan apa yang dianut oleh bangsa Indonesia. Contoh perilakunya adalah seperti senantiasa membantu orang lain yang membutuhkan tanpa memperdulikan status sosial, agama, ras, dan perbedaan lainnya, tidak melakukan tindak diskriminasi terhadap sesama manusia, senantiasa menghargai yang lebih tua, menaati peraturan-peraturan yang tertulis maupun yang tidak tertulis, dan lain-lain. Namun, tidak semua generasi muda dapat melakukan hal yang telah disebutkan diatas. Mengapa? Karena adanya dekadensi moral yang kian marak. Hal ini dapat terjadi karena kemerosotan moral karena kurangnya kesadaran diri maupun kurangnya edukasi. Contoh dari dekadensi moral adalah seperti melakukan perzinaan, mencuri, mengonsumsi obat-obatan terlarang, hingga hal kecil seperti tidak menghormati orang yang lebih tua. Perlu solusi yang ditegakkan demi mengatasi dekadensi moral yang semakin marak, yaitu:
1. Edukasi tentang pentingnya moral yang lebih ditekankan (dan secara efektif).
2. Pemberian contoh kepada generasi muda.
3. Diajarkan sejak dini agar tertanam perilaku yang beretika dan bermoral di dalam diri sejak kecil.
4. Memilah teman (mana yang membawa diri ke hal positif dan mana yang ke arah negatif).
5. dan lain-lain.
Nama: Nayla Priyanka Dara Tsanya
NPM: 2218011105
TUGAS ANALISIS ISI JURNAL " FILSAFAT PANCASILA DALAM PENDIDIKAN DI INDONESIA MENUJU BANGSA BERKARAKTER"

Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiliki dasar ontologis, dasar epistemologis dan dasar aksiologis yang membedakan sistem Pancasila dengan sistem filsafat lain. Secara ontologis, Pancasila sebagai filsafat adalah sebagai upaya untuk mengetahui hakikat dasar dari sila-sila Pancasila. Hakikat manusia itu adalah semua kompleksitas makhluk hidup, baik sebagai makhluk individu maupun sebagai makhluk sosial. Sementara dasar epistemologis filsafat Pancasila merupakan upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan dan dasar aksiologi Pancasila yaitu nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila pada hakikatnya emerupakan suatu kesatuan. Filsafat Pancasila sendiri memiliki beberapa prinsip, anatara lain:
1. Kausa Materialis: sebab yang berhubungan dengan materi/bahan, dalam hal ini Pancasila digali dari nilai-nilai sosial budaya yang ada dalam bangsa Indonesia sendiri.
2. Kausa Formalis: sebab yang berhubungan dengan bentuknya, Pancasila yang ada dalam pembukaan UUD ’45 memenuhi syarat kebenaran formal.
3. Kausa Efisiensi: kegiatan BPUPKI dan PPKI dalam menyusun dan merumuskan Pancasila menjadi dasar negara Indonesia merdeka.
4. Kausa Finalis: berhubungan dengan tujuannya, tujuan diusulkannya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia merdeka.

Selain itu, filsafat pancasila juga memiliki inti dan esensi dari masing-masing sila, yaitu:
1. Ke-Tuhanan: sebagai kausa prima
2. Kemanusiaan: makhluk individu dan makhluk sosial
3. Kesatuan: kesatuan memiliki kepribadian sendiri
4. Kerakyatan: unsur mutlak negara, harus bekerja sama dan gotong royong
5. Keadilan: memberikan keadilan kepada diri sendiri dan orang lain yang menjadi haknya.

Dalam pendidikan, filsafat berakar pada nilai-nilai budaya yang terkandung dalam Pancasila dan nilai yang terkandung dalam Pancasila tersebut harus diajakan kepada semua level murid dan jenis pendidikan. Ada dua pandangan yang perlu dipertimbangkan dalam menetukan landasan filosofis dalam pendidikan Indonesia. Pertama, pandangan tentang manusia Indonesia dan edua, Pandangan tentang pendidikan nasional itu sendiri. Filosofis pendidikan nasional memandang bahwa manusia Indonesia sebagai
1. makhluk Tuhan Yang Maha Esa dengan segala fitrahnya;
2. makhluk individu dengan segala hak dan kewajibannya;
3. makhluk sosial dengan segala tanggung jawab hidup dalam masyarakat yang pluralistik, baik dari segi lingkungan sosial budaya, lingkungan hidup, dan segi kemajuan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah-tengah masyarakat global yang senantiasa berkembang dengan segala tantangannya.

Pendidikan merupakan usaha sadar yang sengaja dan terencana untuk membantu perkembangan potensi dan dipandang mempunyai peranan yang besar dalam mencapai keberhasilan. Dalam sejarah pendidikan, dapat dijumpai berbagai pandangan atau teori mengenai perkembangan manusia dan hasil pendidikan, yaitu:
a. Empirisme: bahwa hasil pendidikan dan perkembangan itu bergantung pada pengalaman yang diperoleh anak didik selama hidupnya.
b. Nativisme: hasil akhir pendidikan dan perkembangan itu ditentukan oleh pembawaan yang sudah diperolehnya sejak lahir.
c. Naturalisme: pendidik hanya wajib membiarkan pertumbuhan anak didik saja dengan sendirinya, diserahkan saja selanjutnya kepada alam (negativisme). Pendidikan tidak diperlukan, yang dilaksanakan adalah menyerahkan anak didik ke alam, agar pembawaan yang baik tidak rusak oleh tangan manusia melalui proses pendidikan.
d. Konvergensi: hasil pendidikan itu bergantung dari pembawaan dan lingkungan. Pendidikan diartikan sebagai penolong yang diberikan kepada lingkugan anak didik untuk mengembangkan pembawaan yang baik dan mencegah berkembangnya pembawan yang buruk.
Nama: Nayla Priyanka Dara Tsanya
NPM: 2218011105
TUGAS ANALISIS SOAL 1 PERTEMUAN 10

A. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!
Menurut saya, pendidikan Indonesia di tengah pandemi COVID-19 sulit untuk dilakukan karena tidak semua daerah ataupun individu mempunyai privilege untuk mendapatkan teknologi khususnya karena kelas di perkuliahan maupun tingkat SD, SMP, dan SMA, semua dilakukan melalui daring. Tidak semua daerah pula memiliki fasilitas internet yang baik. Oleh karena itu, saya rasa pendidikan di tengah pandemi kian menurun keefektifannya. Tidak adanya pengawasan khusus secara langsung dari guru juga membuat pembelajaran terkadang kurang efektif dan tidak dapat diserap oleh murid dengan baik. Pendidikan di masa pandemi ini juga saya rasa dapat menimbulkan kesenjangan sosial dimana rakyat yang kurang mampu dan hidup di daerah terpencil dapat terancam  pendidikannya. Di tengah pandemi, banyak sekali orang tua yang kehilangan pekerjaan dan mengalami keterpurukan ekonomi. Dapat dikatakan bahwa mereka untuk mengisi perut saya sulit, bagaimana dengan membayar biaya anak sekolah? Dari sini, orangtua berpikir lebih baik mengeluarkan uang untuk makan atau untuk anak-anaknya sekolah. Belum lagi karena (lagi-lagi) fasilitas yang tidak memenuhi untuk dilaksanakannya online class. Tidak semua orangtua juga dapat memberikan fasilitas (misalnya handphone dan kuota internet) untuk anaknya menjalani kelas online karena ekonomi yang tidak stabil tersebut. Jadi, menurut saya pendidikan di era pandemi bagi saya memang telah terlaksanakan dengan baik karena orangtua memberikan fasilitas terbaik untuk saya melakukan kelas online dan sekolah yang menjalani tugasnya dalam mengajar secara daring dengan baik. Namun, bagi orang-orang yang mengalami keterpurukan ekonomi, pendidikan di tengah pandemi adalah hal yang sulit untuk dilakukan.

B. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?
Pastinya, peran orangtua dirumah adalah yang paling berpengaruh karena selama pandemi, para murid belajar melalui sistem daring di rumah. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi guru-guru mengajarkan dan memaksimalkan implementasi nilai Pancasila saat pandemi. Para orangtua dapat mencontohkan perilaku yang mencerminkan nilai Pancasila, seperti dengan menaati dan disiplin dalam menjalankan kebijakan yang berlaku saat pandemi demi meminimalisir penularan, membantu sesama masyarakat yang mengalami keterpurukan ekonomi, dan berserah diri kepada tuhan untuk keselamatan diri dan berakhirnya masa pandemi. Guru-guru disekolah juga tetap dapat mengajarkan murid untuk berperilaku disiplin dalam kelas daring dan jujur dalam mengerjakan tugas maupun ujian.

C. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!
Contoh kasus terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan universitas antara lain adalah:
1. Bersikap polite dengan para dokter, profesor dan ibu/bapak dosen, dan seluruh civitas akademik.
2. Berperilaku disiplin, menghadiri setiap kelas dengan tepat waktu dan mengumpulkan tugas sesuai tidak melebihi tenggat waktu yang telah diberikan.
3. Tidak melakukan tindak kecurangan dalam mengerjakan tugas maupun ujian.
4. Tidak melakukan tindak plagiat dalam mengerjakan tugas.
5. Seluruh warga universitas bersama-sama membangun universitas supaya lebih baik lagi.
6. Bertanggung jawab dengan apa yang diperbuat di lingkungan kampus.
7. Tidak membuat keributan di universitas maupun di luar universitas.

D. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
Hakikat pancasila merupakan hal-hal yang terkandung dalam setiap nilai yang ada pada Pancasila dan dijadikan acuan bagi masyarakat Indonesia dalam berperilaku di setiap harinya, acuan paradigma berpikir, dan bersikap. Maksud dari paradigma berpikir adalah Pancasila dijadikan sebagai kerangka acuan dalam berpikir dan sebagai landasan bagi masyarakat Indonesia dalam berpikir. Pancasila juga harus dijadikan acuan dalam bersikap dan perperilaku bagi Warga Negara Indonesia. Ketika warga telah mengimplementasikan Pancasila sebagai dasar atas perilaku dalam kehidupan bernegara, akan terciptanya kerukunan dalam lingkup masyarakat karena semua berperilaku dengan acuan berpikir yang sama dalam melakukan tindak perilaku tersebut.
Nama: Nayla Priyanka Dara Tsanya
NPM: 2218011105
RANGKUMAN MATA KULIAH UMUM WAJIB

Materi 1 oleh Dr. M. Bahrudin, M.A

Moderat agama merupakan spirit dari masyarakat bersama untuk menciptakan kerukunan dalam kebermasyarakatan beragama. Moderat agama teridiri dari 3 pilar, yaitu: moderat pemikiran, moderat gerakan, dan moderat perbuatan. Sebagai pemersatu, moderat agama dilakukan dalam berbagai bidang, seperti: moderat dalam berkeyakinan, terbukanya pintu keringanan, rutin menjalankan ajaran agama walaupun sedikit, moderat dalam berperilaku, dan moderat dalam mengatur/menjalankan harta. Namun, dalam berjalannya moderat agama, ada pula ancaman dan hambatan khususnya pada era globalisasi, yaitu:
1. eksklusifme: rasisme, intoleransi, dan blind obedience.
2. inklusifme: acknowledge, value, learn, celebrate, respect, dan tolerance.

Materi 2 oleh Prof. Dr. Ainul Gani

Generasi muda merupakan harapan dan penerus dari bangsa ini. Namun, pada era globalisasi dimana perbuatan tercela banyak dan kesannya seperti dinormalisasikan, generasi muda menjadi seperti tidak layak untuk menjadi penerus. Perbuatan tidak terpelajar seperti merokok, tawuran, hingga narkoba menjadi mark dilakukan oleh generasi muda. Oleh karena itu, diperlukan ajaran agama agar para generasi muda dapat menjalani kehidupan yang benar dan sesuai dengan ajaran agama masking-masing. Kehidupan di dunia dan akhirat harus dijalankan dengan seimbang. Akan ada 4 perkara yang ditanyakan di dunia akhirat, seperti: umur, ilmu, harta, dan tubuh.

Materi 3 oleh Dr. Sairul Basri M.Pd

Dalam kehidupan berkewarganegaraan, ada banyak ancaman negara yang mengancam kesatuan dan persatuan bangsa ini, yaitu: ekonomi, teknologi, non-militer, pornografi, ideologi, legislatif, radikalisme, terorisme, dan narkoba. Negarawan sendiri merupakan seseorang yang ahli dalam menjalankan pemerintahan/negara yang mampu membawa negara yang berwibawa. Demi mewujidkan persatuan bangsa agar mencegah terjadinya kehancuran akibat ancaman negara, diperlukan suatu alat pemersatu, yaitu NKRI, Pancasila, dan undang-undang. Dengan Pancasila sebagai ideologi negara, Pancasila akan menyatukan banyak pikiran hingga terciptanya kerukunan juga persatuan. Para generasi muda juga harus untuk melaksanakan beberapa hal, seperti:
1. Hati-hati dan jangan mudah percaya dengan hal yang baru (karena Hal tersebut belum tentu benar).
2. Jangan mudah meniru budaya asing.
3. Dekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.
4. Buatlah banyak prestasi.
5. Hormati orangtua dan guru.
6. Menjadi orang yang baik dan benar karena orang sukses adalah orang baik yang menyelamatkan bangsa dan agama.