Posts made by Dianda Faradiba Wardani

Nama: Dianda Faradiba Wardani
NPM: 2258011035
Analisis Jurnal “PENANAMAN NILAI-NILAI PANCASILA MELALUI KONTROL SOSIAL OLEH MEDIA MASSA UNTUK MENEKAN KEJAHATAN DI INDONESIA”

Pancasila sebagai pandangan hidup mengandung nilai-nilai yang menjadi tolak ukur untuk menimbang-nimbang dan memutuskan apakah sesuatu benar atau salah, baik atau buruk. Maka nilai-nilai Pancasila tersebut merupakan norma dan pedoman yang harus diterapkan. Norma Pancasila dapat ditemukan melalui hakekat isi yang terdiri dari hakekat Tuhan, hakekat manusia, hakekat satu, hakekat rakyat, dan hakekat adil. Hakekat Tuhan dipahami melalui sifat-sifat Tuhan seperti Maha Kuasa, Maha Adil, Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan lainnya. Hakekat manusia menurut Notonegoro dibagi menjadi dua, yaitu teori monodualisme yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas dua asas yang merupakan kesatuan dan monopluralisme yang mengajarkan bahwa manusia terdiri atas banyak asas yang merupakan kesatuan. Hakekat satu menunjukkan sesuatu yang tidak dapat dibagi-bagi. Hakekat rakyat yang menunjukkan segenap penduduk suatu negara, anak buah, orang kebanyakan, atau orang biasa. Hakekat Adil mengandung arti tidak berat sebelah, tidak sewenang-wenang, dan seimbang.

Media massa adalah suatu jenis komunikasi yang ditujukan kepada sejumlah khalayak yang tersebar, heterogen dan anonim melewati media cetak atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama itu dapat diterima secara serentak dan sesaat. Pemanfaatan media massa artinya penggunaan berbagai bentuk media massa, baik cetak maupun elektronik untuk tujuan tertentu. Media massa mempunyai peran yang strategis dalam kontrol sosial. Melalui pemberitaan, media massa dapat melakukan kontrol atau pengawasan terhadap hukum. Dalam bidang hukum pidana, media massa adalah pendukung dari kebijakan hukum pidana, yaitu memberikan peran pencegahan kejahatan.
Nama: Dianda Faradiba Wardani
NPM: 2258011035
ANALISIS SOAL 1
A. Bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai proses pendidikan di tengah pandemi covid-19, Jelaskan!
Adanya Pandemi COVID-19 menyebabkan proses belajar-mengajar harus dilakukan secara daring atau online, untuk mengurangi laju penyebaran virus. Pembelajaran online ini tentu memiliki berbagai tantangannya seperti kurangnya fasilitas yang memadai, kurangnya pengetahuan mengenai penggunaan teknologi, jaringan yang tidak stabil dan juga kesulitan untuk fokus terhadap pembelajaran yang sedang berlangsung karena banyaknya distraksi dari sekitar. Namun, ini merupakan langkah terbaik yang bisa diambil di tengah pandemic COVID-19.

B. Bagaimanakah mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi covid-19 supaya tetap berkorelasi dengan implementasi nilai Pancasila?
Untuk mengefektifkan dan memaksimalkan proses pendidikan di tengah pandemi COVID-19 maka perlu usaha dari pelajar dan juga pengajar. Bagi pengajar atau guru, dapat membuat proses belajar-mengajar menjadi lebih menarik sehingga dapat menarik minat para siswa untuk memperhatikan materi, seperti dengan membuat video pembelajaran yang menarik atau quiz interaktif. Untuk para pelajar, pastikan bahwa tempat atau lingkungan sekitar cocok untuk belajar yang dimana tidak terdapat banyak gangguan-gangguan yang dapat memecah konsentrasi. Selain itu, berusaha untuk disiplin dalam memperhatikan materi.

C. Berikan contoh kasus yang terkait dengan pengembangan karakter Pancasilais, seperti jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli, santun, ramah lingkungan, gotong royong, dan cinta damai di lingkungan anda dan bagaimanakah menurut pendapatmu mengenai contoh kasus tersebut!
Contoh kasus yang terkait dengan karakter pancasialis:
a. Jujur: Mengembalikan uang kembalian yang berlebih kepada kasir.
b. Disiplin: Tidak melanggar aturan yang telah dibuat
c. Tanggung Jawab: Dapat menanggung resiko dari perbuatan yang telah terjadi.
d. Peduli: Membawa teman yang sedang sakit untuk diperiksa oleh dokter.
e. Santun: Mendengarkan saat orang tua sedang berbicara.
f. Ramah lingkungan: Mendaur ulang sampah anorganik menjadi sesuatu yang bermanfaaat.
g. Gotong royong: Bersama-sama melakukan kerja bakti di taman.
h. Cinta damai: Tidak memancing amarah yang dapat menimbulkan perpecahan.

D. Jelaskan yang dimaksud dengan hakikat Pancasila dalam pengaktualisasian nilai-nilai yang terkandung di dalamnya sebagai paradigma berpikir, bersikap dan berperilaku masyarakat?
Pancasila merupakan pedoman dalam menjankan kehidupan sehari-hari baik bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijadikan sebagai acuan dalam berpikir, bersikap dan berperilaku khususnya dalam bermasyarakat. Contohnya berdasarkan nilai ketuhanan pada sila pertama Pancasila yang mengharuskan rakyat Indonesia untuk menjunjung tinggi sikap toleransi antar umat beragama. Contoh lain adalah nilai kemanusiaan yang diimplementasikan dengan cara menghargai hak dan kewajiban setiap orang.
Nama: Dianda Faradiba Wardani
NPM: 2258011035
Tugas Analisis Jurnal ”Filsafat Pancasila dalam Pendidikan di Indonesia Menuju Bangsa Berkarakter”

Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Alinea keempat yang memuat 5 sila, yaitu Ketuhana Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Filsafat berarti berpikir secara menyeluruh dan mendalam untuk mendapatkan kebenaran. Menurut Abdulgani (dalam Ruyadi, 2003), Pancasila merupakan filsafat negara yang merupakan wujud cita-cita bersama dari seluruh bangsa Indonesia. Pancasila sebagai suatu sistem filsafat, memiiki dasar ontologis, dasar epistemologis, dan dasar aksiologis. Berdasarkan ontologis, Pancasila sebagai filsafat dimaksudkan sebagai usaha untuk mengetahui hakikat daasar dari sila-sila Pancasila. Secara epistemologis, Pancasila mengandung arti sebagai upaya untuk mencari hakikat Pancasila sebagai suatu sistem pengetahuan. Sedangkan secara aksiologinya, nilai-nilai yang terkandung di dalam Pancasila merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Pendidikan berkarakter merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk membentuk pribadi yang baik. masyarakat yang baik, dan warga negara yang baik. Hal ini tentu tidak lepas dari peran Pancasila sebagai filsafat yang memiliki dasar epistemologis, yaitu suatu pengetahuan yang logis dan konsisten implementasinya. Adapun filsafat pendidikan Pancasila yang diimplikasikan sebagai berikut:
a. Integral kemanusiaan yang diajarkan oleh Pancasila adalah kemanusiaan yang integral. Hal ini memgandung arti bahwa setiap manusia diakui seutuhnya sebagai satu kesatuan jiwa dan raga, serta sebagai kesatuan antara makhluk individu dan sosial.
b. Etis Pancasila adalah kualifikasi etis. Pancasila menjunjung kebebasan yang bertanggung jawab.
c. Religius pada sila pertama Pancasila menegaskan bahwa religius melekat pada hakikat manusia. Pancasila mengakui Tuhan Yang Maha esa sebagai pencipta segala sesuatu. Oleh karena itu, rakyat Indonesia diberikan hak asasi manusia berupa kebebasan beragama dan berkeyakinan dengan menjunjung tinggi nilai toleransi dan saling menghargai antar umat beragama.
Nama: DIanda Faradiba Wardani
NPM: 2258011035
Materi 1: Moderasi Beragama
Pemateri: Dr. Mohammad Bahrudin, M.A.
Moderasi beragama adalah pilihan untuk meiliki cara pandang, sikap, dan perilaku di tengah-tengah, adil dan seimbang, termasuk seimbang antara pengamalan agama sendiri (eksklusif) dan penghormatan kepada praktik beragama orang lain yang memiliki perbedaan keyakinan. Pilar moderasi beragama mencangkup tiga hal, yaitu moderasi pemikiran, moderasi gerakan, dan moderasi perbuatan. Moderasi dalam berbagai bidang adalah sebagai berikut:
1) Moderasi dalam berkeyakinan.
2) Terbukanya pintu Rukhsah (keringanan).
3) Rutin menjalankan ajaran agama.
4) Moderat dalam perilaku.
5) Moderat dalam membelanjakan harta.
Berikut adalah Indikator Moderat:
1) Acknowledge: Menghormati keberadaan agama lain
2) Celebrate: Menikmati keberagaman yang disumbangkan setiap agama
3) Value: Menjunjung tinggi nilai-nilai luhur universal agama-agama
4) Learn: Belajar dari pengalaman dan sejarah masa lalu
5) Respect: Mengapresiasi kontribusi setiap kelompok agama
6) Tolerate: Memberikan hak yang sama pada agama lain

Materi 2: Penguatan Karakter Melalui Pendidikan Spiritual
Pemateri: Prof. Dr. H. Alul Gani, S.Ag., S.H., M.Ag
Kondisi generasi muda saat ini sangatlah memprihatinkan. Terjadi tawuran, kekerasan pada siswa dan guru, dan perilaku seksual yang tidak sehat. Maka dari itu, solusi untuk permasalahan-permasalahan ini adalah dengan ditingkatkannya penerapan Pendidikan spiritual. Pendidikan spiritual ini sangatlah penting karena dapat menjaga untuk tetap pada jalan yang benar. Esensi dari Pendidikan spiritual ini adalah agar manusia memiliki akhlak dan karakter. Pengamatan tentang orang yag sukses adalah orang yang dapat mengatur waktunya dengan baik karena pada dasarnya sifat waktu adalah tidak bisa diulang sehingga kita sebagai manusia mestinya memperguankan waktu kita dengan sebaik-baiknya. Empat perkara yang akan ditanyakan pada Hari Akhir adalah umur, ilmu, harta, dan tubuh. Oleh karena itu, sebagai manusia penting untuk memiliki keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Materi 3: Penguatan Karakter Kebangsaan
Pemateri: Dr. Sairul Basri, S,Ag., S.H., M.Pd.
Negarawan adalah seseorang yang ahli dalam menjalankan pemerintahan atau negara yang mampu membawa negara yang berwibawa yang taat menyusun arah negara kedepan untuk kemajuan bangsa. Tujuan dari penguatan karakter kebangsaan ini adalah sebagai upaya untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah NKRI dan keselamatan negara dari berbagai ancaman. Ancaman-ancaman negara dapat terjadi dalam berbagai bidang, seperti ekonomi, ideologi, politik, bencana alam, radikalisme dan terorisme, pornografi, narkoba, legislasi, dan teknologi. Sikap kebangsaan diperlukan untuk menjaga bangsa ini dari hambatan, tantangan, ancaman, dan gangguan dimana hal ini merupakan tanggung jawab seluruh rakyat Indonesia. Doktrin nilai nasionalisme yang berpancasila adalah mencintai tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, rela berkorban untuk bangsa, dan yakin Pancasila sebagai Ideologi bangsa. Alat pemersatu bangsa adalah UUD 2945, Pancasila dan juga semboyan kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Dengan menerapkan semua ini, maka keutuhna dan kedaulatan NKRI dapat terbentuk.