གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Dwi Rahmawati

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Dwi Rahmawati གིས-
1. karakteristik perkembangan anak usia dini dapat dilihat

1.fisik-Motorik
Pertumbuhan fisik pada setiap anak tidak selalu sama. Ada yang mengalami pertumbuhan secara cepat, ada pula yang lambat. Pada masa
kanak-kanak pertambahan tinggi dan pertambahan berat badan relatif seimbang. Perkembangan motorik anak terdiri dari dua, ada yang kasardan ada yang halus.
Perkembangan motorik kasar seorang anak pada usia 3 tahun adalah
melakukan gerakan sederhana seperti berjingkrak, melompat, berlari ke
sana ke mari dan ini menunjukkan kebanggaan dan prestasi. Sedangkan
usia 4 tahun, si anak tetap melakukan gerakan yang sama, tetapi sudah berani mengambil resiko seperti jika si anak dapat naik tangga dengan satu kaki lalu dapat turun dengan cara yang sama dan memperhatikan waktu
pada setiap langkah. Lalu, pada usia 5 tahun si anak lebih percaya diri
dengan mencoba untuk berlomba dengan teman sebayanya atau orang
tuanya.

2.Perkembangan Kognitif
Istilah kognitif (cognitive) berasal dari kata cognition atau knowing
berarti konsep luas dan inklusi yang mengacu pada kegiatan mental yang tampak dalam pemerolehan, organisasi/penataan dan penggunaan pengetahuan.12 Dalam arti yang luas, kognitif merupakan ranah kejiwaan yang berpusat di otak dan berhubungan dengan konasi (kehendak), afeksi (perasaan).
proses perkembangan kognitif ini dimulai sejak lahir. Namun, campur tangan sel-sel otak dimulai setelah seorang bayi berusia 5 bulan saat kemampuan sensorisnya benar-benar tampak.

3.Perkembangan Sosio Emosional
Para psikolog mengemukakan bahwa terdapat tiga tipe temperamen anak, yaitu:
Pertama, anak yang mudah diatur, mudah beradaptasi dengan pengalaman baru, senang bermain dengan mainan baru, tidur dan makan secara
teratur dan dapat meyesuaikan diri dengan perubahan di sekitarnya.
Kedua, anak yang sulit diatur seperti sering menolak rutinitas seharihari, sering menangis, butuh waktu lama untuk menghabiskan makanan
dan gelisah saat tidur.
Ketiga, anak yang membutuhkan waktu pemanasan yang lama,
umumnya terlihat agak malas dan pasif, jarang berpartisipasi secara aktif
dan seringkali menunggu semua hal diserahkan kepadanya.

4.Perkembangan Bahasa
Kemampuan setiap orang dalam berbahasa berbeda-beda. Ada yang
berkualitas baik dan ada yang rendah. Perkembangan ini mulai sejak awal
kehidupan. Sampai anak berusia 5 bulan (0-1 tahun), seorang anak akan
mengoceh seperti orang yang sedang berbicara dengan rangkaian suara
yang teratur, walaupun suara dikeluarkan ketika berusia 2 bulan. Di sini
terjadi penerimaan percakapan dan diskriminasi suara percakapan. Ocehan
dimulai untuk menyusun dasar bahasa

2.Ciri-ciri perkembangan
1. Terjadinya perubahan dalam aspek
fisik (perubahan berat badan dan
organ-organ tubuh) dan aspek psikis
(matangnya kemampuan berpikir, mengingat dan berkreasi).

2. Terjadinya perubahan dalam proporsi aspek fisik (proporsi tubuh anak
berubah sesuai dengan fase perkembanganya) dan aspek psikis(perubahan imajinasi dari fantasi ke
realitas).

3. Lenyapnya tanda-tanda lam; tandatanda fisik ( lenyamnya kelenjar
thymus / kelenjar anak-anak seiring
bertambahnya usia ) aspek psikis (lenyapnya gerak-gerik kanak-kanak
dan perilaku impulsif ).

4. Diperoleh tanda-tanda yang baru tanda-tanda fisik (pergantian gigi dan
karakter seks usia remaja) tanda-tanda
psikis (berkembangnya rasa ingin tahu tentang pengetahuan, moral, interaksi
dengan lawan jenis).

3.pada prinsipnya perkembangan anak usia dini berkembang secara menyeluruh, anak belajar melalui bermain, anak memerlukan lingkungan yang kondusif untuk mendukung perkembangannya, anak belajar melalui kegiatan pembelajaran yang terpadu, mengembangkan berbagai kecakapan hidup, memerlukan media.

4.6 aspek perkembangan anak usia dini ini dan contohnya.

1.Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral
Aspek perkembangan pertama dan yang paling utama untuk diajarkan kepada Si Kecil adalah nilai agama dan moral. Hal ini berfokus dalam menanamkan nilai-nilai dasar, norma-norma yang berlaku hingga kesadaran. Si Kecil perlu mengenal agama dan menjalankan ibadah agar lebih memahami arah hingga tujuan mereka dengan baik sejak dini.

2.Aspek Perkembangan Fisik-Motorik
Perkembangan fisik dan perilaku keselamatan. Hal ini meliputi tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan yang sesuai dengan ukuran anak seumuran.
Si Kecil juga memiliki motorik halus baik yang meliputi kemampuan mereka dalam menggunakan alat untuk ekspresi diri dan juga eksplorasi. Contohnya yaitu menggunakan pensil, bermain dengan boneka dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, Si Kecil juga perlu memiliki motorik kasar yang baik. Hal ini meliputi kemampuan tubuh dalam berkoordinasi antar anggota tubuh. Contohnya yaitu menjaga keseimbangan, lincah, dan juga lentur sesuai peraturan. Bunda dapat melatih motorik kasar Si Kecil dengan mengajak mereka berolahraga.

3.Aspek Perkembangan Kognitif
Aspek perkembangan kognitif berhubungan erat dengan akal dan pikiran sehingga jangan heran jika pertumbuhan pada area ini memiliki jangkauan yang sangat luas.Salah satu tanda bahwa aspek kognitif Si Kecil berkembang ialah dia mampu berpikir logis dengan mengenal perbedaan, klasifikasi, perencanaan, pola, inisiatif, dan sebab akibat. Sebetulnya Si Kecil dapat mempelajari ini bahkan sejak ia masih berusia 3 bulan lho, melalui mainan yang dimainkannya

4.Aspek Perkembangan Bahasa
Bahasa menjadi aspek perkembangan anak yang bisa Bunda amati dan latih sejak dini. Si Kecil dapat mengerti berbagai hal yang dimaksud oleh orang tua seperti cerita, aturan, perintah dan juga menghargai bacaan. Tidak sampai di situ, bahasa juga meliputi bagaimana cara Si Kecil berbahasa dengan baik seperti tanya jawab, memahami bentuk dan juga bunyi dari masing-masing huruf juga angka.

5.Aspek Perkembangan Sosial-Emosional
Si Kecil akan lebih senang jika bermain dengan teman sebayanya, memahami perasaan, merespon pembicaraan, berbagai mainan dengannya, mendengarkan ucapannya, hingga belajar menghargai hak dan pendapat orang lain sehingga Si Kecil akan tetap berlaku sopan.
Tidak hanya itu, aspek ini juga mengajarkan Si Kecil arti dari tanggung jawab, hak-hak, hingga aturan bagi mereka dan orang lain.
Selain hubungan dengan orang lain maupun teman sebayanya, hal ini akan membantu Si Kecil untuk memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan mereka, mengendalikan diri, hingga menyesuaikan diri untuk berinteraksi dengan orang lain.

6.Aspek Perkembangan Seni
Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Setiap anak yang terlahir bersifat imajinatif dan memiliki sisi seni mereka sendiri. Si Kecil akan tertarik untuk mengekspresikan diri dan juga mulai mengeksplorasi diri dalam banyak hal dari sisi kesenian. Contohnya yaitu musik, lukisan, kerajinan, drama dan masih banyak lagi yang lainnya.6 aspek perkembangan anak usia dini ini dan contohnya.

1.Aspek Perkembangan Nilai Agama dan Moral
Aspek perkembangan pertama dan yang paling utama untuk diajarkan kepada Si Kecil adalah nilai agama dan moral. Hal ini berfokus dalam menanamkan nilai-nilai dasar, norma-norma yang berlaku hingga kesadaran. Si Kecil perlu mengenal agama dan menjalankan ibadah agar lebih memahami arah hingga tujuan mereka dengan baik sejak dini.

2.Aspek Perkembangan Fisik-Motorik
Perkembangan fisik dan perilaku keselamatan. Hal ini meliputi tinggi badan, lingkar kepala, dan berat badan yang sesuai dengan ukuran anak seumuran.
Si Kecil juga memiliki motorik halus baik yang meliputi kemampuan mereka dalam menggunakan alat untuk ekspresi diri dan juga eksplorasi. Contohnya yaitu menggunakan pensil, bermain dengan boneka dan lain sebagainya.
Tidak hanya itu, Si Kecil juga perlu memiliki motorik kasar yang baik. Hal ini meliputi kemampuan tubuh dalam berkoordinasi antar anggota tubuh. Contohnya yaitu menjaga keseimbangan, lincah, dan juga lentur sesuai peraturan. Bunda dapat melatih motorik kasar Si Kecil dengan mengajak mereka berolahraga.

3.Aspek Perkembangan Kognitif
Aspek perkembangan kognitif berhubungan erat dengan akal dan pikiran sehingga jangan heran jika pertumbuhan pada area ini memiliki jangkauan yang sangat luas.Salah satu tanda bahwa aspek kognitif Si Kecil berkembang ialah dia mampu berpikir logis dengan mengenal perbedaan, klasifikasi, perencanaan, pola, inisiatif, dan sebab akibat. Sebetulnya Si Kecil dapat mempelajari ini bahkan sejak ia masih berusia 3 bulan lho, melalui mainan yang dimainkannya

4.Aspek Perkembangan Bahasa
Bahasa menjadi aspek perkembangan anak yang bisa Bunda amati dan latih sejak dini. Si Kecil dapat mengerti berbagai hal yang dimaksud oleh orang tua seperti cerita, aturan, perintah dan juga menghargai bacaan. Tidak sampai di situ, bahasa juga meliputi bagaimana cara Si Kecil berbahasa dengan baik seperti tanya jawab, memahami bentuk dan juga bunyi dari masing-masing huruf juga angka.

5.Aspek Perkembangan Sosial-Emosional
Si Kecil akan lebih senang jika bermain dengan teman sebayanya, memahami perasaan, merespon pembicaraan, berbagai mainan dengannya, mendengarkan ucapannya, hingga belajar menghargai hak dan pendapat orang lain sehingga Si Kecil akan tetap berlaku sopan.
Tidak hanya itu, aspek ini juga mengajarkan Si Kecil arti dari tanggung jawab, hak-hak, hingga aturan bagi mereka dan orang lain.
Selain hubungan dengan orang lain maupun teman sebayanya, hal ini akan membantu Si Kecil untuk memperlihatkan kemampuan diri, mengenal perasaan mereka, mengendalikan diri, hingga menyesuaikan diri untuk berinteraksi dengan orang lain.

6.Aspek Perkembangan Seni
Aspek terakhir pada perkembangan anak adalah seni. Setiap anak yang terlahir bersifat imajinatif dan memiliki sisi seni mereka sendiri. Si Kecil akan tertarik untuk mengekspresikan diri dan juga mulai mengeksplorasi diri dalam banyak hal dari sisi kesenian. Contohnya yaitu musik, lukisan, kerajinan, drama dan masih banyak lagi yang lainnya.

5.Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Anak Usia Dini
Faktor yang pertama adalah faktor genetik/hereditas merupakan faktor internal yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Hereditas sendiri dapat diartikan sebagai totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua. Sejalan dengan itu, faktor genetik dapat diartikan sebagai segala potensi (baik fisik maupun psikis) yang dimiliki individu sejak masa prakelahiran sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen yang dimuliki oleh orang tua. Dari definisi tersebut, yang perlu digaris bawahi adalah faktor ini bersifat potensial, pewarisan/bawaan dan alamiah (nature) (Latifa, 2017).Perkembangan diri seorang anak usia dini secara tidak langsung dipengaruhi oleh kedua orang tuanya.

Faktor yang kedua
ialah lingkungan Lingkungan disini memiliki arti luas. Bisa berupa lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini lingkungan di artikan sebagai keluarga yang mengasuh dan membesarkan anak, sekolah tempat mendidik dan masyarakat tempat anak bergaul dan juga bermain sehari-hari . Lingkungan merupakan faktor eksternal yang membentuk dan mempengaruhi perkembangan individu. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bahwa faktor genetik bersifat potensial dan lingkungan yang akan menjadikannya aktual. Ada beberapa faktor lingkungan yang sangat menonjol yakni dalam lingkungan keluarga Lingkungan keluarga merupakan lingkungan awal bagi seorang anak, segala tingkah laku maupun perkembangan yang muncul pada diri anak adalah hasil asuhan dari kedua orang tuanya di rumah.

Faktor yang ketiga adalah kondisi kehamilan. Kondisi kehamilan pada dasamya tumbuh kembang anak sudah dimulai sejak dalam kandungan. Tumbuh kembang janin di dalam kandungan sangat pesat. Oleh karena itu janin harus benar-benar dijaga jangan sampai mengalami hambatan dalam tumbuh kembangnya. Kondisi kehamilan ibu dapat mempengaruhi numbuh kembangnya anak. Sementara itu masih terdapat kurang baiknya kondisi kehamilan hal tersebut disebabkan oleh pada saat ibu hamil karena ibu mengalami stres yang berat, mengalami mual muntah yang berlebihan, paparan rokok pada kehamilan dan nafsu makan yang buruk. Sehingga kondisi kehamilan yang baik dibutuhkan agar perkembangan anak balita normal.

Faktor yang keempat adalah Komplikasi persalinan dapat mempengaruhi perkembangan anak balita. Karena jika ada komplikasi pada saat persalinan pada saat nanti anak tersebut tumbuh dan berkembang akan ada gangguan perkembangan. Untuk antisipasi pada saat
persalinan ataupun keluarga serta bidan pembentukan tumbuh serta kembang anak atau tenaga kesehatan yang membantu proses persalinan harus lebih memperhatikan kondisi ibu pada saat persalinan. Sebagian besar komplikasi persalinan mempengaruhi perkembangan anak balita, karena anak balita yang waktu persalinan dahulu tedapat komplikasi persalinan tidak normal perkembangannya.

Faktor yang kelima adalah pemenuhan nutris. Peran ibu sangatlah penting dalam pemenuhan nutrisi dalam perkembangan anak karena apa yang dimakan anak akan asupan gizi untuk menjadi zat pembangan pertumbuhan dan perkembangan anak. Agar perkembangan anak sesuai dan normal sesuai dengan umur anak. Satu aspek penting dalam pemberian makanan pada anak yaitu keamanan makanan dan terbebas dari berbagai racun kimia yang kian mengancam kesehatan anak. Pemenuhan nutrisi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan anak. Jika pemenuhan nutri kurang baik maka pertumbuhan akan terganggu, karena gizi sangat diperlukan untuk membangun pertumbuhan dan perkembangan. Karena ibu orang yang paling terdekat dengan anak, maka ibu yang akan menjadi orang yang berpengaruh dalam pemenuhan nutrisi anak.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> Topik Diskusi -> Re: Topik Diskusi

Dwi Rahmawati གིས-
1. Bimbingan konseling adalah proses pemberian bantuan kepada individu atau kelompok (klien) oleh seorang ahli (ahli) melalui wawancara konseling yang bertujuan untuk membantu menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi klien ataupun membantunya mengembangkan diri sendiri
Bimbingan dan konseling merupakan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing kepada individu melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.

2.Tujuan Bimbingan Konseling
Secara umum, tujuan bimbingan konseling adalah membantu individu mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan ketertarikan yang dimilikinya dari berbagai latar belakang yang ada, serta sesuai dengan tuntutan positif dari lingkungannya.
Bimbingan dan konseling adalah salah satu hal yang sangat penting di sekolah karena berkaitan dengan pengembangan diri dan pribadi seorang siswa. Adapun tujuan bimbingan konseling di sekolah adalah membantu siswa, baik individu maupun kelompok agar mandiri dan berkembang secara optimal, baik dalam hubungan pribadi, sosial, belajar, maupun karir.
Selain itu, bimbingan dan konseling di sekolah juga memiliki tujuan lain, yaitu:
Membantu siswa mengembangkan seluruh potensinya seoptimal mungkin.
Mengatasi kesulitan dalam memahami dirinya sendiri.
Mengatasi kesulitan dalam memahami lingkungan di sekitar siswa, meliputi lingkungan sekolah, keluarga, pekerjaan, sosial-ekonomi, dan kebudayaan.
Mengatasi kesulitan dalam mengidentifikasi dan memecahkan yang dialami siswa.
Mengatasi kesulitan siswa dalam menyalurkan kemampuan, minat, dan bakatnya dalam bidang pendidikan dan pekerjaan.
Memperoleh bantuan secara tepat dari pihak-pihak di luar sekolah untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dipecahkan di sekolah tersebut.

3.Fungsi Bimbingan dan Konseling
Adapun fungsi bimbingan dan konseling di sekolah adalah sebagai berikut.
1. Fungsi pemahaman
Bimbingan konseling sebagai fungsi pemahaman, artinya melalui kegiatan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh siswa membuatnya lebih memahami diri sendiri, baik kelebihan, kekurangan, maupun potensi yang dimilikinya, serta lingkungan di sekitarnya yang meliputi pendidikan, pekerjaan, dan norma agama.

2. Fungsi pencegahan
Bimbingan konseling juga memiliki fungsi pencegahan, yaitu mengantisipasi berbagai masalah yang mungkin terjadi dan melakukan berbagai upaya pencegahan agar tidak dialami oleh siswa karena dapat menghambat, mengganggu, ataupun menimbulkan kesulitan dan kerugian tertentu dalam proses perkembangannya.

3. Fungsi pengembangan
Fungsi pengembangan adalah upaya guru BK (konselor) dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif sehingga dapat memfasilitasi perkembangan siswa.

4. Fungsi pengentasan
Fungsi yang satu ini berkaitan erat dengan pemberian bantuan kepada siswa yang sudah mengalami masalah, baik dalam aspek pribadi, sosial, belajar, dan karir. Untuk menjalankan fungsi ini, guru BK (konselor) dapat menggunakan teknik bimbingan konseling berupa konseling perorangan, konseling kelompok, atau remedial teaching

5. Fungsi penyaluran
Fungsi penyaluran adalah fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu siswa dalam memilih kegiatan ekstrakurikuler, jurusan atau program studi, serta karir dan jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian, dan kepribadian siswa. Dalam melaksanakan fungsi ini, guru BK perlu bekerja sama dengan berbagai pihak, baik di dalam maupun di luar lembaga pendidikan.

6. Fungsi adaptasi
Fungsi bimbingan dan konseling tidak hanya dilakukan untuk siswa saja, tapi juga guru, kepala sekolah, dan para pelaksana pendidikan lainnya. Salah satu fungsi bimbingan konseling untuk para pelaksana pendidikan adalah fungsi adaptasi.

7. Fungsi penyesuaian
Fungsi penyesuaian adalah fungsi bimbingan dan konseling dalam membantu siswa agar dapat menyesuaikan diri secara dinamis dan konstruktif terhadap program pendidikan, peraturan sekolah, atau norma agama.

4.Prinsip-Prinsip Umum Bimbingan
Dan Konseling

a. Bimbingan harus berpusat pada
individu yang di bimbingnya.

b. Bimbingan diberikan kepada
memberikan bantuan agar individu
yang dibimbing mampu mengarahkan
dirinya dan menghadapi kesulitankesulitan dalam hidupnya.

c. Pemberian bantuan disesuaikan dengan
kebutuhan individu yang dibimbing.

d. Bimbingan berkenaan dengan sikap dan
tingkah laku individu.

e. Pelaksanaan bimbingan dan konseling
dimulai dengan mengidentifikasi kebutuhan yang dirasakan individu
yang dibimbing.

f. Upaya pemberian bantuan harus
dilakukan secara fleksibel.

g. Program bimbingan dan konseling
harus dirumuskan sesuai dengan
program pendidikan dan pembelajaran
di sekolah yang bersangkutan.

h. Implementasi program bimbingan dan
konseling harus dipimpin oleh orang
yang memiliki keahlian dalam bidang bimbingan dan konseling dan
pelaksanaannya harus bekerjasama dengan berbagai pihak yang terkait,
seperti dokter psikiater, serta pihakpihak yang terkait lainnnya.

i. Untuk mengetahui hasil yang diperoleh
dari upaya pelayanan bimbingan dan
konseling, harus diadakan penilaian
atau ekuivalensisecara teratur dan
berkesinambungan.

5. Ruang lingkup bimbingan konseling pun memiliki fungsi khusus. Pertama adalah fungsi pemahaman, yaitu fungsi yang dimaksudkan untuk membantu klien dalam memahami dirinya sendiri. Kedua adalah fungsi pencegahan, fungsi ini dimaksudkan untuk memberikan pencegahan pada kondisi klien agar tidak memperburuk kondisinya.

BK kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

Dwi Rahmawati གིས-
1.Stuktur Program Layanan Bimbingan Konseling
Struktur program layanan bimbingan konseling disatuan pendidikan
disusun sekurang-kurangnya memuat 8 poin. Pertama, visi dan misi. Sajian visi
dan misi bimbingan dan konseling harus sesuai dengan visi dan misi sekolah, oleh
karena itu sesuaikan visi dan misi sekolah dengan rumusan visi dan misi
bimbingan konseling. Kedua, deskripsi kebutuhan. Rumusan didasarkan atas
hasil asesmen kebutuhan (need asesmen) peserta didik/ konseli ke dalam rumusan
perilaku-perilaku yang diharapak dikuasai peserta didik/ konseli. Ketiga, tujuan.
Rumusan tujuan yang akan dicapai disusun dalam bentuk perilaku yang harus
dikuasai peserta didik/konseli setelah memperoleh layanan bimbingan konseling.
Keempat, komponen program. Komponen program bimbingan dan konseling
disatuan pendidikan meliputi: 1) Layanan Dasar, 2) Layanan Peminatan peserta
didik dan Perencanaan Individual, 3) Layanan Responsif dan 4) Dukungan Sistem.
Kelima, bidang layanan. Bidang layanan bimbingan konseling meliputi
pribadi, sosial, belajar dan karier. Materi layanan bimbingan klasikal disajikan
secara proposional sesuai asesmen kebutuhan 4 bidang layanan. Rencana
operasional ( Action Plan). Rencana kegiatan ini diperlukan untuk menjamin
program bimbingan konseling dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien.
Rencana kegiatan adalah uraian detail dari program yang menggambarkan
struktur isi program, kegiatan untuk memfasilitasi peserta didik/ kondisi
mencapai kemandirian dalam kehidupannya.
-Evaluasi Program Bimbingan dan Konseling Menurut W.S Winkel (Sukardi [1]) evaluasi program
bimbingan adalah usaha menilai efisiensi dan efektivitas
pelayanan bimbingan itu sendiri demi peningkatan mutu
program bimbingan. Kemudian Azizah, et al [6]
mengungkapkan bahwa penilaian program bimbingan
konseling merupakan usaha untuk menilai sejauh mana
pelaksanaan program itu mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Selanjutnya Don C Locke (Diniaty [14])
meninjau evaluasi program BK lebih sempit yaitu
pengumpulan informasi tentang kualitas dan membantu
menentukan keputusan tentang program konseling yang akan
dilakukan.Hasil evaluasi akan memberikan manfaat dalam
pelaksanaan program bimbingan dan konseling selanjutnya.
Diniaty [14] beberapa hal yang diperoleh dari hasil evaluasi
diantaranya:
a.
Untuk mengetahui apakah program bimbingan sesuai
dengan kebutuhan yang ada?
b. Apakah pelaksanaan kegiatan yang dilakukan sesuai
dengan program, dan mendukung pencapaian tujuan
program itu?
c. Bagaimana hasil yang diperoleh telah mencapai kriteria
keberhasilan sesuai dengan tujuan dari program itu?
d. Dapatkah diketemukan bahan balikan
bagi pengembangan program berikutnya?
e. Adakah masalah-masalah baru yang muncul sebagai
bahan pemecahan dalam program berikutnya?
f. Untuk memperkuat perkiraan-perkiraan (asumsi) yang
mendasar pelaksanaan program bimbingan?
g. Untuk melengkapi bahan-bahan informasi dan data yang
diperlukan dan dapat digunakan dalam memberikan
bimbingan siswa secara perorangan atau kelompok.
h. Untuk meneliti secara periodik hasil pelaksanaan
program yang perlu diperbaiki.

Dafus :American Educational Research Association. (1999). Standards for educational
and psychological testing. Washington: AERA-APA.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

Dwi Rahmawati གིས-
1.Bahasa non verbal kinesik merupakan pesan menggunakan gerakan-gerakan anggota tubuh. Kinesik
mengkaji gerakan tubuh yang ikut berperan dalam fungsi komunikasi. Ray L Birdwhistell (dalam Maulana 2017)
(Budyatna and Ganiem 2011)(Budyatna and Ganiem 2011)(Budyatna and Ganiem 2011)(Budyatna and Ganiem
2011)(Budyatna and Ganiem 2011)(Budyatna and Ganiem 2011)pelopor studi bahasa non verbal, membagi kinesik
ke dalam tiga ragam yaitu gerak tubuh, ekspresi wajah, dan kontak mata. Kinesik menjadi bahasa non verbal yang
mudah dan sering ditemukan dalam konteks kegiatan belajar dan mengajar, baik di jenjang PAUD, TK, SD, SMP,
SMA/SMK, maupun tingkat perguruan tinggi. Berdasarkan observasi yang dilakukan di PAUD, kedua kelas
melakukan ketiga bahasa non verbal tersebut dalam pembelajaran. Masing-masing bahasa non verbal kinesik
dideskripsikan dalam penjelasan berikut.
Gerak Tubuh (Gestur)
Gerak tubuh guru di kelas dalam pembelajaran di PAUD sangat beragam. Hal tersebut merupakan cara guru
agar pembelajaran semakin konkret dan mudah diintepretasikan. Perkembangan kognitif peserta didik PAUD atau
usia 4-5 tahun menuntut pembelajaran senyata mungkin. Hal tersebut dikarenakan di tahap usia 4-5 tahun, peserta
didik sedang berada pada fase operasional konkret, tahap utama dalam penanaman pemikiran yang rasional dan
operasional (Ramadhan 2017). Pembelajaran kontekstual untuk peserta didik PAUD didukung oleh penggunaan
gerak tubuh. Gerak tubuh dalam pembelajaran memiliki pembagian berdasarkan fungsi penggunaannya.
Ekman dan Friesen (dalam Aghnadya, Nursih, and Prasetya 2015) mengkategorikan fungsi dari gerak tubuh
terdiri tiga macam yaitu fungsi emblem, fungsi illustrator, dan fungsi adaptor. Berdasarkan hasil observasi, guru
menggunakan gerak tubuh untuk memenuhi tiga fungsi tersebut. Fungsi emblem digunakan untuk menggambarkan
makna tertentu. Hal tersebut tampak ketika pembelajaran guru mengacungkan telunjuk ke depan bibirnya dalam
konteks keadan peserta didik yang ramai, dengan tujuan agar peserta didik tidak bicara satu sama lain. Fungsi
illustrator digunakan untuk menunjukkan atau memperjelas suatu contoh. Guru PAUD menggunakan bahasa gerak
tubuh ketika proses belajar sambil bernyanyi, Nyanyian di PAUD menggunakan gerakan-gerakan yang diciptakan
oleh guru untuk sebagai bentuk aktifitas motorik peserta didik (Wulandari 2017). Salah satu contoh yang ditemukan
dalam observasi adalah guru menggambarkan kata ‘atap’ dalam lagu dengan mempertemukan kedua tangan pada
jari telunjuk, tengah dan manis dalam keadaan mirng sehingga menyerupai atap rumah. Bahasa non verbal gerak
tubuh yang mudah terlihat dalam pembelajaran yaitu gerak tubuh yang memiliki fungsi adaptor. Fungsi gerak tubuh
adaptor merupakan gerak tubuh yang mengarah pada makna spesifik atau tujuan yang sebenarnya, seperti halnya
ketika dalam pembelajaran guru merapikan rambut atau seragam peserta didik yang berantakan agar penampilan
mereka tetap rapi.

KP AUD kls C 2023 -> FORUM DISKUSI -> TOPIK DISKUSI -> Re: TOPIK DISKUSI

Dwi Rahmawati གིས-
1.Bahasa non verbal adalah semua ekspresi tubuh beserta bagian dan gerakannya, benda-benda dan barang
yang melekat pada tubuh, atau barang-barang yang dimiliki seseorang, serta profesi atau status sosial yang dimiliki
seseorang yang dinyatakan tidak dengan kata-kata untuk menyampaikan maksud penutur yang dapat dipahami
mitra tutur berdasarkan konteksnya (Sulistyo 2014). Penggunaan bahasa non verbal perlu disadari urgensinya
berkaitan dalam berjalanannya proses pendidikan. Hal tersebut disebabkan karena bahasa non verbal berperan
penting dalam proses komunikasi. Urgensi bahasa non verbal dalam proses belajar mengajar di kelas diungkapkan
Aziz (2017) yang mengungkapkan 93% makna sosial dari komunikasi tatap muka diperoleh dari isyarat-isyarat non
verbal. Hal ini mempertegas bahwa penggunaan bahasa non verbal dapat menentukan proses komunikasi dapat
terjalin baik. Bahasa non verbal senantiasa dikaitkan dengan konteks pemakaian bahasa lisan.
-Ekspresi wajah merupakan perwakilan atas perasaan atau suasana hati seseorang. Wajah dapat menjadi
sebuah media dalam penyampaian pesan (Zidny 2013). Berdasarkan hasil observasi kedua kelas PAUD dalam
kegiatan belajar mengajar dominan menggunakan ekspresi wajah ketidaksukaan / keengganan, kemarahan,
tertawa, kecewa, perhatian, dan kebahagiaan. Keenam ekspresi tersebut tampak dalam proses pembelajaran dan
merupakan bagian dari tiga puluh ekspresi wajah yang dikaji oleh Leather (dalam Salisah 2015). Dalam proses
kegiatan belajar mengajar, guru menunjukkan keenam ekspresi tersebut untuk mengungkapkan responnya atas
sesuatu yang terjadi di kelas.

2.Penggunaan bahasa non verbal peserta didik PAUD dalam pembelajaran di kelas sangat bervariasi. Variasi
tersebut muncul atas faktor lawan bicara atau mitra tutur dari penutur tersebut. Bahasa non verbal yang digunakan
peserta didik ketika berkomunikasi dengan sesama temannya, akan berbeda ketika peserta didik berkomunikasi
dengan gurunya. Peserta didik senantiasa memiliki bahasa-bahasa non verbal yang hanya dipahami oleh temanteman sebaya atau teman-teman dekatnya saja.
Bahasa non verbal yang menjadi perhatian khusus adalah bahasa non verbal yang muncul atau terjadi ketika
peserta didik dan guru berinteraksi dalam pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil pengamatan melalui rekaman
video dan catatan pada lembar observasi, bahasa non verbal yang dominan digunakan peserta didik untuk
berkomunikasi dengan guru dalam proses pembelajaran adalah kinesik. Kinesik yang digunakan peserta didik kelas
1 dalam komunikasi dengan guru dominan dengan penggunaan gestur atau gerak tubuh. Berdasarkan hasil
pengamatan, gestur yang digunakan oleh peserta didik kelas 1 dalam berkomunikasi dengan guru antara lain, 1)menggelengkan kepala, 2) menganggukkan kepala, 3) menolehkan kepala, 4) menunjuk menggunakan jari telunjuk,
dan 5) lambaian tangan.
-Kontak Mata
Bahasa non verbal seringkali menyebut kontak mata dengan istilah gaze. Kontak mata mengkaji tentang
cara menatap seseorang pada saat berinteraksi dengan mitra tutur. Seiring berkembangnya zaman, kontak mata
dapat berfungsi sama halnya dengan ekspresi wajah yakni mengungkapkan ekspresi atau perasaan (Wulandari
2017). Dalam konteks pembelajaran di kelas, guru PAUD menggunakan kontak mata kepada peserta didiknya
sebagai pengingat atau larangan. Guru tidak perlu melarang atau mengingatkan peserta didik menggunakan verbal
atau kata-kata, melainkan cukup menggunakan kontak mata. Salah satu kontak mata yang sering digunakan dalam
pembelajaran di kelas 1 adalah ketika guru menatap salah seorang peseta didik yang berjalan-jalan di kelas. Setelah
peserta didik tersebut sadar jika sedang diamati oleh gurunya, tidak lama setelah itu peserta didik duduk ke
bangkunya kembali. Hal tersebut menunjukkan bahwa kontak mata mampu menjadi media penyampaian perintah
tanpa perlu diungkapkan dalam kata atau bahasa verbal.