Nama: Caesar Marischa Saputri
Npm: 2213054013
1. 1).Pendekatan Konseling Realistas Dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1962. Terapi Realitas muncul Ketika ketidakpuasan Glasser terhadap psikiatri psikoanalitik yang berfokus pada masa lalu. Terapi realitas adalah system yang difokuslan pada tingkah laku sekarang.
2). Pendekatan Naratif Konseling Terapi dikembangkan oleh Michael White dan David Epson pada tahun 1990, Terapi naratif mempunyai pandangan konstruktionist sosial, naratif, postmodern yang menyoroti bagaimana kekuatan, pengetahuan dalam keluarga dan kebenaran serta sosial lainya
3). Pendekatan SFBC/SFBT Dikembangkan oleh Steve deShazer didukung oleh Insoo kim Berg. Pendekatan ini merupakan terapi singkat yang berfokus solusi. Prinsip dasar dari terapi smgkat berfokus solusi sebagai berikut: Manusia pada dasarnya sehat, memiliki kekuatan atau kelebihan. Insoo Kim Berg dan Steve de Shazer mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan tersebut aktif dalam membantu klien/manusia menangani situasi mereka
4). Pendekatan Feminst Adalah terapi konseling yang berfokus pada isu gender dan kekuatan (power) sebagai inti dari proses terapi. Pendekatan ini dikembangkan oleh Mary Putman Jacobi pada tahun 1960. Hakikat manusia menurut teori Feminst ini adalah bahwa Perempuan dan laki laki bersosialisasi dengan cara yang berbeda, Ekspektasi peran gender sangat berpengaruh besar pada laki laki dan perempuan. Femininitas adalah kebalikan dari kekuatan, asertivitas dan kompeten, sedangkan maskulinitas adalah kebalikan dari rasa takut, ketergantungan, emosionalitas atau kelemahan
5). Pendekatan Behavioral Dikembangkan oleh Albert Bandura pada tahun 1970-an tokoh lainya yang membantu adalah Skinner. Konseling behavior muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi dan memiliki pengaruh yang berarti dalam pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan kerja sosial.
2. 1). Teknik pendekatan konseling realitas, a. Terlibat dalam permainan peran dengan klien, b. Menggunakan humor, c. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun, d. Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan, e. Bertindak sebagai model dan guru, f. Memasang batas-batas dan menyusun situasi konseling, g. Menggunakan “terapi kejutan verbal” yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis, h. Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
2). Teknik pendekatan SFBC/SFBT 1). Exception-finding questions (Questions discovery exception) (Kalimat Pengecualian), pertanyaan tentang waktu atau keadaan yang yang bisa membuat konseli merasakan terbebas dari masalahnya. 2). Miracle questions (Question miracle) (Pertanyaan Keajaiban), pertanyaan pengandaian pada konseli apabila masalahnya bisa terselesaikan dan apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan hal tersebut, teknik ini mendorong untuk mengetahui tujuan konseling yang diinginkan oleh konseli. 3). Scaling questions (Question-scale) (Pertanyaan Berskala), pertanyaan berskala memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada perubahan-perubahan yang mereka inginkan, sehingga perubahannya bisa diamati.
3). Teknik Pendekatan Feminist 1). Pemberdayaan. Kekuatan konseling feminis adalah memberdayakan konseli. Konselor membantu konseli agar dapat menjadi pribadi yang mandiri dan mempunyai partisipasi yang seimbang dalam masyarakat. 2). Keterbukaan. Hubungan antara konselor dengan konseli dibangun melalui keterbukaan. Keterbukaan tidak hanya sharing informasi dan pengalaman tetapi ada hubungan timbal balik antara konselor dengan konseli. 3). Menganalisis peran gender. Konselor mengeksplorasi harapan-harapan konseli yang berkaitan dengan peran gender dan dampaknya pada pengambilan keputusan untuk masa yang akan datang.
4). Teknik pendekatan behavioral. a. Penguatan positif : Yaitu memberikan penguatan yang menyenangkan setelah tingkah laku yang diinginakan ditampilkan yang bertujuan agar tingkah laku yang diinginkan cenderung akan diulang, meningkat dan menetap dimasa yang akan datang. b. Kartu berharga (Token Economy): Yaitu bertujuan untuk mengembangkan perilaku adaptif melalui pemberian reinforcement melalui dengan token. Ketika tingkah laku yang diinginkan telah cenderung menetap, pemberian token dikurangi secara bertahap. c. Desensititasi Sistematis; digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dengan disertakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapus. Hal ini klien diarahkan untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. d. Asertif; Teknik ini klien dapat belajar untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif dan asertif. Tujuannya agar klien belajar bertingkah laku asertif. e. Aversi; Teknik ini untuk meredakan gangguan perilaku yang spesifik. Agar tingkah laku sesuai yang dengan diinginkan, maka stimulanya adalah berupa hukuman-hukuman.
3. 1). Bimbingan perkembangan diberikan kepada siswa. 2). Bimbingan perkembangan bersifat mengembangkan. 3). Bimbingan perkembangan telah terorganisir dan direncanakan dalam kurikulum. 4). Bimbingan perkembangan adalah bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan secara total. 5). Bimbingan perkembangan melibatkan seluruh personil sekolah.
4. 1). Unsur peluang, unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak didik mempelajari perilaku-perilaku baru. Guru atau pembimbing perlu merencanakan berbagai topik yang sesuai dengan permasalahan, kemampuan dan karakteristik anak didik.
2). Unsur pendukung, unsur ini berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan : (a) relasi/kerjasama yang bisa menyentuh anak dan memungkinkan anak didik mengembangkan kemampuannya, dan (b) keterlibatan seluruh anak didik di dalam proses interaksi.
3). Unsur penghargaan, esensi unsur ini terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru. Penilaian dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung; diagnosis dilakukan untuk mengidentifikasikan kesulitan yang dihadapi, dan perbaikan serta penguatan
(reinforcement) dilakukan untuk membentuk pola-pola perilaku baru.
Npm: 2213054013
1. 1).Pendekatan Konseling Realistas Dikembangkan oleh William Glasser pada tahun 1962. Terapi Realitas muncul Ketika ketidakpuasan Glasser terhadap psikiatri psikoanalitik yang berfokus pada masa lalu. Terapi realitas adalah system yang difokuslan pada tingkah laku sekarang.
2). Pendekatan Naratif Konseling Terapi dikembangkan oleh Michael White dan David Epson pada tahun 1990, Terapi naratif mempunyai pandangan konstruktionist sosial, naratif, postmodern yang menyoroti bagaimana kekuatan, pengetahuan dalam keluarga dan kebenaran serta sosial lainya
3). Pendekatan SFBC/SFBT Dikembangkan oleh Steve deShazer didukung oleh Insoo kim Berg. Pendekatan ini merupakan terapi singkat yang berfokus solusi. Prinsip dasar dari terapi smgkat berfokus solusi sebagai berikut: Manusia pada dasarnya sehat, memiliki kekuatan atau kelebihan. Insoo Kim Berg dan Steve de Shazer mengatakan bahwa kekuatan-kekuatan tersebut aktif dalam membantu klien/manusia menangani situasi mereka
4). Pendekatan Feminst Adalah terapi konseling yang berfokus pada isu gender dan kekuatan (power) sebagai inti dari proses terapi. Pendekatan ini dikembangkan oleh Mary Putman Jacobi pada tahun 1960. Hakikat manusia menurut teori Feminst ini adalah bahwa Perempuan dan laki laki bersosialisasi dengan cara yang berbeda, Ekspektasi peran gender sangat berpengaruh besar pada laki laki dan perempuan. Femininitas adalah kebalikan dari kekuatan, asertivitas dan kompeten, sedangkan maskulinitas adalah kebalikan dari rasa takut, ketergantungan, emosionalitas atau kelemahan
5). Pendekatan Behavioral Dikembangkan oleh Albert Bandura pada tahun 1970-an tokoh lainya yang membantu adalah Skinner. Konseling behavior muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi dan memiliki pengaruh yang berarti dalam pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan kerja sosial.
2. 1). Teknik pendekatan konseling realitas, a. Terlibat dalam permainan peran dengan klien, b. Menggunakan humor, c. Mengonfrontasikan klien dan menolak dalih apapun, d. Membantu klien dalam merumuskan rencana-rencana yang spesifik bagi tindakan, e. Bertindak sebagai model dan guru, f. Memasang batas-batas dan menyusun situasi konseling, g. Menggunakan “terapi kejutan verbal” yang layak untuk mengonfrontasikan klien dengan tingkah lakunya yang tidak realistis, h. Melibatkan diri dengan klien dalam upayanya mencari kehidupan yang lebih efektif.
2). Teknik pendekatan SFBC/SFBT 1). Exception-finding questions (Questions discovery exception) (Kalimat Pengecualian), pertanyaan tentang waktu atau keadaan yang yang bisa membuat konseli merasakan terbebas dari masalahnya. 2). Miracle questions (Question miracle) (Pertanyaan Keajaiban), pertanyaan pengandaian pada konseli apabila masalahnya bisa terselesaikan dan apa yang akan dia lakukan untuk mewujudkan hal tersebut, teknik ini mendorong untuk mengetahui tujuan konseling yang diinginkan oleh konseli. 3). Scaling questions (Question-scale) (Pertanyaan Berskala), pertanyaan berskala memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka telah lakukan dan bagaimana meraka dapat mengambil langkah yang akan mengarahkan pada perubahan-perubahan yang mereka inginkan, sehingga perubahannya bisa diamati.
3). Teknik Pendekatan Feminist 1). Pemberdayaan. Kekuatan konseling feminis adalah memberdayakan konseli. Konselor membantu konseli agar dapat menjadi pribadi yang mandiri dan mempunyai partisipasi yang seimbang dalam masyarakat. 2). Keterbukaan. Hubungan antara konselor dengan konseli dibangun melalui keterbukaan. Keterbukaan tidak hanya sharing informasi dan pengalaman tetapi ada hubungan timbal balik antara konselor dengan konseli. 3). Menganalisis peran gender. Konselor mengeksplorasi harapan-harapan konseli yang berkaitan dengan peran gender dan dampaknya pada pengambilan keputusan untuk masa yang akan datang.
4). Teknik pendekatan behavioral. a. Penguatan positif : Yaitu memberikan penguatan yang menyenangkan setelah tingkah laku yang diinginakan ditampilkan yang bertujuan agar tingkah laku yang diinginkan cenderung akan diulang, meningkat dan menetap dimasa yang akan datang. b. Kartu berharga (Token Economy): Yaitu bertujuan untuk mengembangkan perilaku adaptif melalui pemberian reinforcement melalui dengan token. Ketika tingkah laku yang diinginkan telah cenderung menetap, pemberian token dikurangi secara bertahap. c. Desensititasi Sistematis; digunakan untuk menghapus rasa cemas dan tingkah laku yang diperkuat secara negatif, dengan disertakan pemunculan tingkah laku yang hendak dihapus. Hal ini klien diarahkan untuk menampilkan suatu respon yang tidak konsisten dengan kecemasan. d. Asertif; Teknik ini klien dapat belajar untuk membedakan tingkah laku agresif, pasif dan asertif. Tujuannya agar klien belajar bertingkah laku asertif. e. Aversi; Teknik ini untuk meredakan gangguan perilaku yang spesifik. Agar tingkah laku sesuai yang dengan diinginkan, maka stimulanya adalah berupa hukuman-hukuman.
3. 1). Bimbingan perkembangan diberikan kepada siswa. 2). Bimbingan perkembangan bersifat mengembangkan. 3). Bimbingan perkembangan telah terorganisir dan direncanakan dalam kurikulum. 4). Bimbingan perkembangan adalah bagian yang terintegrasi dalam proses pendidikan secara total. 5). Bimbingan perkembangan melibatkan seluruh personil sekolah.
4. 1). Unsur peluang, unsur ini berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak didik mempelajari perilaku-perilaku baru. Guru atau pembimbing perlu merencanakan berbagai topik yang sesuai dengan permasalahan, kemampuan dan karakteristik anak didik.
2). Unsur pendukung, unsur ini berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru baik secara kognitif, afektif maupun psikomotorik. Unsur pendukung ini berkaitan dengan upaya guru dalam pengembangan : (a) relasi/kerjasama yang bisa menyentuh anak dan memungkinkan anak didik mengembangkan kemampuannya, dan (b) keterlibatan seluruh anak didik di dalam proses interaksi.
3). Unsur penghargaan, esensi unsur ini terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru. Penilaian dan balikan ini perlu dilakukan sepanjang proses bimbingan berlangsung; diagnosis dilakukan untuk mengidentifikasikan kesulitan yang dihadapi, dan perbaikan serta penguatan
(reinforcement) dilakukan untuk membentuk pola-pola perilaku baru.