1.
~ Pendekatan Krisis, yaitu upaya bimbingan yang ditujukan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Dalam pelaksanaannya bimbingan ini adalah konselor atau guru pembimbing menunggu konseli yang datang untuk selanjutnya konselor memberikan bantuan.
~ Pendekatan Remedial, yaitu upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Pendekatan ini dipengaruhi oleh aliran behavioristik yang menekankan pada sikap dan perilaku konseli di sini dan saat ini. Jadi tugas konselor adalah menciptakan lingkungan yang lebih kondusif agar konseli lebih mencerminkan sikap dan perilaku yang lebih efektif.
~ Pendekatan Preventif, yaitu upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi beberapa masalah individu secara umum dengan harapan individu akan tercegah dan tidak sampai mengalami masalah-masalah tersebut.
~ Pendekatan Perkembangan, yaitu pendekatan bimbingan dan konseling yang memfokuskan pada pengembangan dan potensi individu secara optimal. Layanan bimbingan ini diberikan kepada semua individu, bukan hanya individu yang bermasalah yang berhak menerima layanan bimbingan.
{Sumber: Fiah, Rifda El. 2019. Bimbingan Dan Konseling Anak Usia Dini. Depok: PT Raja Grafindo Persada.}
2. Meliputi teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.
{Sumber: Agustin, Mubiar. Hakikat Bimbingan dan Konseling untuk Anak Usia Dini. Universitas Terbuka.}
3.
• Konseling merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program bimbingan di sekolah, atau merupakan bagian integral dengan bimbingan.
• Program konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu dan masyarakat.
• Konseling terlibat dua individu yaitu konselor dan klien yang memproses penyelesaian masalah melalui serangkaian interview.
• Konseling merupakan proses belajar yang mengarah pada suatu perubahan yang fundamental.
• Lebih banyak menekankan pada masalah sikap daripada tindakan.
• Lebih menekankan pada penghayatan emosional daripada intelektual.
• Konseling melayani semua individu.
• Tujuan akhir konseling adalah kemandirian setiap individu.
• Keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri, bukan kemauan atau desakan dari konselor.
• Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan.
{Sumber: Mulawarman. 2017. Buku Ajar Pengantar Keterampilan Dasar Konseling bagi Konselor Pendidikan. Semarang: Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.}
4.
~ Unsur Peluang, berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak mempelajari perilaku baru.
~ Unsur Pendukung, berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru.
~ Unsur Pernghargaan, terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru.
{Sumber: rhirinliestyawati. 2013. Bimbingan Konseling Anak Usia Dini. https://rhirinliestyawati.blogspot.com/2013/07/bimbingan-konseling-anak-usia-dini.html}
~ Pendekatan Krisis, yaitu upaya bimbingan yang ditujukan kepada individu yang mengalami krisis atau masalah. Dalam pelaksanaannya bimbingan ini adalah konselor atau guru pembimbing menunggu konseli yang datang untuk selanjutnya konselor memberikan bantuan.
~ Pendekatan Remedial, yaitu upaya bimbingan yang diarahkan kepada individu yang mengalami kesulitan. Pendekatan ini dipengaruhi oleh aliran behavioristik yang menekankan pada sikap dan perilaku konseli di sini dan saat ini. Jadi tugas konselor adalah menciptakan lingkungan yang lebih kondusif agar konseli lebih mencerminkan sikap dan perilaku yang lebih efektif.
~ Pendekatan Preventif, yaitu upaya bimbingan yang diarahkan untuk mengantisipasi beberapa masalah individu secara umum dengan harapan individu akan tercegah dan tidak sampai mengalami masalah-masalah tersebut.
~ Pendekatan Perkembangan, yaitu pendekatan bimbingan dan konseling yang memfokuskan pada pengembangan dan potensi individu secara optimal. Layanan bimbingan ini diberikan kepada semua individu, bukan hanya individu yang bermasalah yang berhak menerima layanan bimbingan.
{Sumber: Fiah, Rifda El. 2019. Bimbingan Dan Konseling Anak Usia Dini. Depok: PT Raja Grafindo Persada.}
2. Meliputi teknik pembelajaran, pertukaran informasi, bermain peran, tutorial, dan konseling.
{Sumber: Agustin, Mubiar. Hakikat Bimbingan dan Konseling untuk Anak Usia Dini. Universitas Terbuka.}
3.
• Konseling merupakan kegiatan yang sangat penting dalam keseluruhan program bimbingan di sekolah, atau merupakan bagian integral dengan bimbingan.
• Program konseling harus fleksibel, disesuaikan dengan kondisi lembaga, kebutuhan individu dan masyarakat.
• Konseling terlibat dua individu yaitu konselor dan klien yang memproses penyelesaian masalah melalui serangkaian interview.
• Konseling merupakan proses belajar yang mengarah pada suatu perubahan yang fundamental.
• Lebih banyak menekankan pada masalah sikap daripada tindakan.
• Lebih menekankan pada penghayatan emosional daripada intelektual.
• Konseling melayani semua individu.
• Tujuan akhir konseling adalah kemandirian setiap individu.
• Keputusan yang diambil dan hendak dilakukan oleh klien hendaklah atas kemauan klien sendiri, bukan kemauan atau desakan dari konselor.
• Permasalahan khusus yang dialami klien harus ditangani oleh tenaga ahli dalam bidang yang relevan.
{Sumber: Mulawarman. 2017. Buku Ajar Pengantar Keterampilan Dasar Konseling bagi Konselor Pendidikan. Semarang: Jurusan Bimbingan dan Konseling Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.}
4.
~ Unsur Peluang, berkaitan dengan topik yang disajikan yang memungkinkan anak mempelajari perilaku baru.
~ Unsur Pendukung, berkaitan dengan proses pengembangan interaksi yang dapat menumbuhkan kemampuan anak untuk mempelajari perilaku baru.
~ Unsur Pernghargaan, terletak pada penilaian dan pemberian balikan yang dapat memperkuat pembentukan perilaku baru.
{Sumber: rhirinliestyawati. 2013. Bimbingan Konseling Anak Usia Dini. https://rhirinliestyawati.blogspot.com/2013/07/bimbingan-konseling-anak-usia-dini.html}