Nama : Sabila Kaira
NPM : 2211011027
A. Ironisme sebagai bangsa beradab namun justru menjadi bangsa biadab dan terkorup di belahan dunia ini melanda Indonesia saat ini. Perilaku dan etika politik para elite yang kerap kali tidak mencerminkan kepentingan mayoritas dari masyarakat selalu mendapatkan komentar dari rakyat. Baik berupa komentar sinis, kritik sarkastis sampai kepada kritik konstruktif. Dengan harapan agar masyarakat, baik yang apatis dan apolitis maupun sebaliknya terhadap pemerintah memahami bahwa perilaku dan etika politik yang tidak memihak rakyat dan mementingkan nilai-nilai humanisme secepat mungkin harus ditinggalkan.
Satu pertanyaan penting adalah mengapa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang korup? Tak lain adalah dikarenakan tidak adanya rasa kepuasan dalam diri tiap-tiap elit politik dan lemahnya penegakan hukum yang diwarnai rasa pilih bulu serta hukum hanya diperuntukkan kepada masyarakat kecil. Dan para elite politik seolah-olah kebal dengan hukum yang ada di Indonesia. Runtuhnya rezim dan pemerintahan orde baru yang digantikan oleh reformasi sepertinya tidak merubah perilaku korupsi yang berlangsung di Indonesia.
Melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia, maka diperlukan sebuah refleksi sebagai tindakan nyata terhadap perilaku dan etika politik para elite (pemerintah). Lunturnya etika politik yang terjadi pada para pelaku politik di Indonesia juga berpengaruh pada hilangnya tatanan yang bermoral dan rasional.
Perlu dilakukan saat ini adalah memegang teguh etika politik yang berorientasi pada kemanusiaan yang menghargai satu dengan yang lainnya. Serta juga memiliki nilai-nilai moral yang baik dalam menghargai peradaban Indonesia demi maju dan berkembangnya Indonesia ke arah yang lebih baik. Persoalan politik di mengerti du et des saya dapat apa akibat nya politik dimengerti secara sempit semata mata merebut kekuasan bukan mencapai tujuan dari partai politik harus membawah bonum commune yakni kesejahteraan umum.
Mengutip dari sumber : https://bpip.go.id/berita/1035/549/urgensi-etika-politik-kehidupan-politik-indonesia.html
Kesimpulan dari saya :
Dari pengawasan terhadap sistem etika perilaku politik saat ini dapat disimpulkan bahwa, etika perilaku politik yang tepat belum sepenuhnya dapat ditunjukkan oleh mereka yang berkuasa. Banyaknya kasus-kasus seperti korupsi yang beredar dilakukan oleh para petinggi yang menujukkan bahwa semakin tidak terkendalinya perilaku serta tindakan para petinggi tersebut dalam menerapkan etika perilaku politik bangsa. Padahal, seharusnya kita dapat saling membantu untuk menjunjung tinggi etika politik yang manusiawi dengan nilai moral yang mencerminkan kebaikan. Perilaku etika politik menuntut tindakan pejabat, politisi, dan penguasa untuk saling mendukung dalam mempertahankan sistem etika perilaku politik yang baik.
Meskipun sistem etika perilaku politik saat ini tidak sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai pada Pancasila. Seperti, tentang kasus korupsi dalam perilaku politik tidak mencerminkan sila ke-5 karena korupsi itu menggunakan kekayaan negara yang pada akhirnya akan memiskinkan negara serta rakyat.
B. Pancasila sebagai sistem etika merupakan jalan hidup bangsa indonesia dan juga merupakan struktur pemikiran yang disusun untuk memberikan tuntunan atau panduan kepada setiap warga Indonesia dalam bersikap dan bertingkah laku.
Etika selalu terkait dengan masalah nilai, sehingga perbincangan tentang etika pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Kondisi menerangkan bahwa nilai merupakan kualitas yang tidak real, karena nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri, nilai membutuhkan pengemban untuk berada.
Generasi muda yanag seharusnya mampu menjadi “Agent of Change”, berkontribusi besar dalam perubahan bangsa dan peradaban, justru tidak memiliki dasar atau podasi kokoh yang menjadi modal dalam segala aspek kehidupan.
Bukan suatu hal yang asing lagi saat ini, banyak pemuda yang mengalami krisis etika (moral). “Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja bahkan orang tua di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen”. Dari data tersebut menunjukkan miris dan krisisnya etika dikalangan pemuda Indonesia di era globalisasi seperti sekarang ini.
Beberapa faktor yang menyababkan para pemuda di zaman sekarang kurang dalam beretika. Pertama, perhatian orang tua terhadap pentingnya menanamkan serta mengajarkan etika (moral) terhadap anak. Kedua, berkembangnya teknologi yang sanagat pesat membuat pola pikir para pemuda di zaman sekarang menjadi serba instan dan tidak peduli akan lingkungan sekitarnya. Ketiga, lingkungan sekitar yang membentuk karakter dan membentuk kepribadian seorang pemuda masih kurang diperhatiakan atau bahkan tidak diperhatikan sama sekali oleh masyarakat sekitar, terutama orangtuanya. Keempat, penanaman jiwa religius dalam diri pemuda serta masih kurangnya pengetahuan tentang agama yang etis untuk selalu berperilaku etis. Banyaknya polemik yang terjadi sehingga membuat karya ini menjadi sesuatu yang bernilai dalam diri seseorang membuat negara di ambang kehancuran karena kekrisisan etika (moral).
Adapun, solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi yaitu :
1. Pengawasan dan Perhatian Orangtua
Orang tua memegang peranan penting dalam mendidik dan memberikan pengarahan pada anak, untuk itu pengawasan orang tua terhadap pergaulan dan aktivitas yang dilakukan oleh anak seperti melihat tayangan televisi yang kurang mendidik, dan pengawasan dalam menggunakan internet harus diawasi dan diarahkan oleh orangtua.
2. Memberikan Pendidikan Karakter pada Anak Sejak Dini
Di zaman yang serba canggih dan percampuran budaya asing yang semakin mudah masuk dalam kehidupan sehari-hari menuntut orang tua untuk lebih meningkatkan pendidikan karakter sejak dini kepada anak. Pendidikan karakter akan lebih mudah dilakukan sejak anak berusia dini hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang anak terhadap pengenalan lingkungan sekitar dan tentu menuntu bimbingan orang tua. Pendidikan karakter paling mendasar adalah dengan menanamkan pemahaman nilai-nilai moral dan etika seperti kejujuran, sopan santun, religius, toleransi, mandiri, gaya hidup sederhana, mencintai budaya lokal, dan lain sebagainya. Dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini maka generasi penerus bangsa akan memiliki karakter yang jujur dan jauh dari tindak korupsi.
3. Penegakan Hukum Atas Pelaku Kejahatan
Hukum merupakan salah satu tonggak bangsa dalam memberantas Dekadensi Moral, karena hukum memiliki fungsi dalam menegakkan dan melindungi kepentingan manusia, menjaga ketertiban dan mengatur masyarakat untuk mewujudkan keadilan sosial. Jika hukum mudah dibeli maka kriminalitas dan korupsi akan terus merajalela untuk itu ketegasan hukum dalam memberikan hukuman yang berat dalam kasus kr1m1nal terutama tindak korupsi adalah hal yang penting dan harus dilakukan oleh aparatur hukum.
4. Meningkatkan Pendidikan Moral dan Agama
Moral merupakan suatu kondisi pikiran, perasaan, ucapan dan perilaku seseorang yang terkait dengan nilai baik dan buruk. Dengan kata lain moral tidak memiliki keterikatan terhadap hal apapun diluar diri manusia, ia tumbuh secara eksplisit dan memberikan aturan-aturan yang dipatuhi oleh diri sendiri dan terbentuk berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat.
Mengutip dari sumber :
https://fatonikeren.blogspot.com/2019/09/pancasila-sebagai-sistem-etika.html?m=1
https://www.harianbhirawa.co.id/meredupnya-etika-di-kalangan-para-pemuda/
https://www.websitependidikan.com/2018/06/pengertian-dan-contoh-dekadensi-moral-serta-cara-mengatasinya.html?m=1
Kesimpulan dari saya :
Etika menjadi perbincangan dalam masalah nilai baik ataupun buruk. Dalam hal tersebut, generasi muda sangat memiliki kontribusi besar terhadap perubahan bangsa. Etika yang dimiliki oleh generasi muda yang berada di sekitar tempat tinggal saya cenderung mengalami krisis etika di antaranya disebakan oleh faktor perhatian yang kurang dari orang tua, teknologi yang cepat memengaruhi pola pikir generasi muda, lingkungan sekitar, serta kurangnya pemahaman tentang agama. Tentunya, hal ini belum mencerminkan etika serta nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia.
Adapun, solusi mengenai dekadensi moral yang saat ini terjadi dapat dilakukan dengan cara-cara seperti orangtua yang dapat memerhatikan serta mengawasi perkembangan pada anaknya, melatih pendidikan karakter pada anak, hukuman yang ditegakkan atas perilaku kejahatan, serta meningkatkan pendidikan moral serta agama.
NPM : 2211011027
A. Ironisme sebagai bangsa beradab namun justru menjadi bangsa biadab dan terkorup di belahan dunia ini melanda Indonesia saat ini. Perilaku dan etika politik para elite yang kerap kali tidak mencerminkan kepentingan mayoritas dari masyarakat selalu mendapatkan komentar dari rakyat. Baik berupa komentar sinis, kritik sarkastis sampai kepada kritik konstruktif. Dengan harapan agar masyarakat, baik yang apatis dan apolitis maupun sebaliknya terhadap pemerintah memahami bahwa perilaku dan etika politik yang tidak memihak rakyat dan mementingkan nilai-nilai humanisme secepat mungkin harus ditinggalkan.
Satu pertanyaan penting adalah mengapa bangsa Indonesia menjadi bangsa yang korup? Tak lain adalah dikarenakan tidak adanya rasa kepuasan dalam diri tiap-tiap elit politik dan lemahnya penegakan hukum yang diwarnai rasa pilih bulu serta hukum hanya diperuntukkan kepada masyarakat kecil. Dan para elite politik seolah-olah kebal dengan hukum yang ada di Indonesia. Runtuhnya rezim dan pemerintahan orde baru yang digantikan oleh reformasi sepertinya tidak merubah perilaku korupsi yang berlangsung di Indonesia.
Melihat kenyataan yang terjadi di Indonesia, maka diperlukan sebuah refleksi sebagai tindakan nyata terhadap perilaku dan etika politik para elite (pemerintah). Lunturnya etika politik yang terjadi pada para pelaku politik di Indonesia juga berpengaruh pada hilangnya tatanan yang bermoral dan rasional.
Perlu dilakukan saat ini adalah memegang teguh etika politik yang berorientasi pada kemanusiaan yang menghargai satu dengan yang lainnya. Serta juga memiliki nilai-nilai moral yang baik dalam menghargai peradaban Indonesia demi maju dan berkembangnya Indonesia ke arah yang lebih baik. Persoalan politik di mengerti du et des saya dapat apa akibat nya politik dimengerti secara sempit semata mata merebut kekuasan bukan mencapai tujuan dari partai politik harus membawah bonum commune yakni kesejahteraan umum.
Mengutip dari sumber : https://bpip.go.id/berita/1035/549/urgensi-etika-politik-kehidupan-politik-indonesia.html
Kesimpulan dari saya :
Dari pengawasan terhadap sistem etika perilaku politik saat ini dapat disimpulkan bahwa, etika perilaku politik yang tepat belum sepenuhnya dapat ditunjukkan oleh mereka yang berkuasa. Banyaknya kasus-kasus seperti korupsi yang beredar dilakukan oleh para petinggi yang menujukkan bahwa semakin tidak terkendalinya perilaku serta tindakan para petinggi tersebut dalam menerapkan etika perilaku politik bangsa. Padahal, seharusnya kita dapat saling membantu untuk menjunjung tinggi etika politik yang manusiawi dengan nilai moral yang mencerminkan kebaikan. Perilaku etika politik menuntut tindakan pejabat, politisi, dan penguasa untuk saling mendukung dalam mempertahankan sistem etika perilaku politik yang baik.
Meskipun sistem etika perilaku politik saat ini tidak sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai pada Pancasila. Seperti, tentang kasus korupsi dalam perilaku politik tidak mencerminkan sila ke-5 karena korupsi itu menggunakan kekayaan negara yang pada akhirnya akan memiskinkan negara serta rakyat.
B. Pancasila sebagai sistem etika merupakan jalan hidup bangsa indonesia dan juga merupakan struktur pemikiran yang disusun untuk memberikan tuntunan atau panduan kepada setiap warga Indonesia dalam bersikap dan bertingkah laku.
Etika selalu terkait dengan masalah nilai, sehingga perbincangan tentang etika pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau buruk). Kondisi menerangkan bahwa nilai merupakan kualitas yang tidak real, karena nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri, nilai membutuhkan pengemban untuk berada.
Generasi muda yanag seharusnya mampu menjadi “Agent of Change”, berkontribusi besar dalam perubahan bangsa dan peradaban, justru tidak memiliki dasar atau podasi kokoh yang menjadi modal dalam segala aspek kehidupan.
Bukan suatu hal yang asing lagi saat ini, banyak pemuda yang mengalami krisis etika (moral). “Data Unicef tahun 2016 lalu menunjukkan bahwa kekerasan kepada sesama remaja bahkan orang tua di Indonesia diperkirakan mencapai 50 persen”. Dari data tersebut menunjukkan miris dan krisisnya etika dikalangan pemuda Indonesia di era globalisasi seperti sekarang ini.
Beberapa faktor yang menyababkan para pemuda di zaman sekarang kurang dalam beretika. Pertama, perhatian orang tua terhadap pentingnya menanamkan serta mengajarkan etika (moral) terhadap anak. Kedua, berkembangnya teknologi yang sanagat pesat membuat pola pikir para pemuda di zaman sekarang menjadi serba instan dan tidak peduli akan lingkungan sekitarnya. Ketiga, lingkungan sekitar yang membentuk karakter dan membentuk kepribadian seorang pemuda masih kurang diperhatiakan atau bahkan tidak diperhatikan sama sekali oleh masyarakat sekitar, terutama orangtuanya. Keempat, penanaman jiwa religius dalam diri pemuda serta masih kurangnya pengetahuan tentang agama yang etis untuk selalu berperilaku etis. Banyaknya polemik yang terjadi sehingga membuat karya ini menjadi sesuatu yang bernilai dalam diri seseorang membuat negara di ambang kehancuran karena kekrisisan etika (moral).
Adapun, solusi mengenai adanya dekadensi moral yang saat ini terjadi yaitu :
1. Pengawasan dan Perhatian Orangtua
Orang tua memegang peranan penting dalam mendidik dan memberikan pengarahan pada anak, untuk itu pengawasan orang tua terhadap pergaulan dan aktivitas yang dilakukan oleh anak seperti melihat tayangan televisi yang kurang mendidik, dan pengawasan dalam menggunakan internet harus diawasi dan diarahkan oleh orangtua.
2. Memberikan Pendidikan Karakter pada Anak Sejak Dini
Di zaman yang serba canggih dan percampuran budaya asing yang semakin mudah masuk dalam kehidupan sehari-hari menuntut orang tua untuk lebih meningkatkan pendidikan karakter sejak dini kepada anak. Pendidikan karakter akan lebih mudah dilakukan sejak anak berusia dini hal ini berkaitan dengan tumbuh kembang anak terhadap pengenalan lingkungan sekitar dan tentu menuntu bimbingan orang tua. Pendidikan karakter paling mendasar adalah dengan menanamkan pemahaman nilai-nilai moral dan etika seperti kejujuran, sopan santun, religius, toleransi, mandiri, gaya hidup sederhana, mencintai budaya lokal, dan lain sebagainya. Dengan menanamkan pendidikan karakter sejak dini maka generasi penerus bangsa akan memiliki karakter yang jujur dan jauh dari tindak korupsi.
3. Penegakan Hukum Atas Pelaku Kejahatan
Hukum merupakan salah satu tonggak bangsa dalam memberantas Dekadensi Moral, karena hukum memiliki fungsi dalam menegakkan dan melindungi kepentingan manusia, menjaga ketertiban dan mengatur masyarakat untuk mewujudkan keadilan sosial. Jika hukum mudah dibeli maka kriminalitas dan korupsi akan terus merajalela untuk itu ketegasan hukum dalam memberikan hukuman yang berat dalam kasus kr1m1nal terutama tindak korupsi adalah hal yang penting dan harus dilakukan oleh aparatur hukum.
4. Meningkatkan Pendidikan Moral dan Agama
Moral merupakan suatu kondisi pikiran, perasaan, ucapan dan perilaku seseorang yang terkait dengan nilai baik dan buruk. Dengan kata lain moral tidak memiliki keterikatan terhadap hal apapun diluar diri manusia, ia tumbuh secara eksplisit dan memberikan aturan-aturan yang dipatuhi oleh diri sendiri dan terbentuk berdasarkan kebudayaan masyarakat setempat.
Mengutip dari sumber :
https://fatonikeren.blogspot.com/2019/09/pancasila-sebagai-sistem-etika.html?m=1
https://www.harianbhirawa.co.id/meredupnya-etika-di-kalangan-para-pemuda/
https://www.websitependidikan.com/2018/06/pengertian-dan-contoh-dekadensi-moral-serta-cara-mengatasinya.html?m=1
Kesimpulan dari saya :
Etika menjadi perbincangan dalam masalah nilai baik ataupun buruk. Dalam hal tersebut, generasi muda sangat memiliki kontribusi besar terhadap perubahan bangsa. Etika yang dimiliki oleh generasi muda yang berada di sekitar tempat tinggal saya cenderung mengalami krisis etika di antaranya disebakan oleh faktor perhatian yang kurang dari orang tua, teknologi yang cepat memengaruhi pola pikir generasi muda, lingkungan sekitar, serta kurangnya pemahaman tentang agama. Tentunya, hal ini belum mencerminkan etika serta nilai yang dianut oleh bangsa Indonesia.
Adapun, solusi mengenai dekadensi moral yang saat ini terjadi dapat dilakukan dengan cara-cara seperti orangtua yang dapat memerhatikan serta mengawasi perkembangan pada anaknya, melatih pendidikan karakter pada anak, hukuman yang ditegakkan atas perilaku kejahatan, serta meningkatkan pendidikan moral serta agama.