Posts made by Nazwa Sophia Nadine Effendi

Nama : Nazwa Sophia Nadine Effendi
NPM : 2217051049
1. Eka membaca koran radar yang sangat digemarinnya ketika menunggu temannya diruang seminar.
2. Mahasisiwa/i yang ingin menonton pertunjukan itu, diminta menghubungi Pak Fuad karena beliau merupakan dosen senior mata kuliah seni pertunjukan di Kampus Hijau.
3. Indonesia merupakan kepulauan yang terdiri atas pulau-pulau kecil.
4. Marilah kita bekerja keras demi kesejahteraan masyarakat Lampung.
5. Mahasisiwa harus jujur dalam mengutip pendapat para pakar, yaitu dengan cara mencantumkan kutipan secara lengkap agar tidak dikatakan sebagai mahasiswa yang plagiator.
6. Bunga anggrek, bunga terompet, bunga sedap malam, bunga mawar, bunga anyelir, dan bunga melati tumbuh subur di depan rumah Reihana.
7. Meskipun hasil yang diharapkan belum tampak jalas, penelitian ini telah dilakukan secara maksimal.
8. Saran yang telah diberikan akan saya pertimbangkan dengan baik.
9. Atas perhatian dan kerja sama yang baik selama ini, diucapkan beribu terima kasih.
10. Sejak pagi sekali, peserta Kongres Bahasa Indonesia sudah siap di ruang aula hotel berbintang lima.
Nazwa Sophia Nadine Effendi
NPM 2217051049

Rangkuman Berdasarkan PPT
Kalimat Efektif adalah kalimat yang memiliki kemampuan untuk menimbulkan atau mengungkapkan gagasan-gagasan pada pikiran pendengar atau pembaca sama dengan apa yang dipikirkan pembicara atau penulis. Klaimat efektif memiliki ciri ciri sebagai berikut:
1. Kelogisan
Sebuah kalimat bisa dikatakan logis jika dapat diterima oleh akal logika yang membentuk kalimat tersebut dan ejaannya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
2. Kepaduan
kepaduan adalah kalimat yang memiliki hubungan yang padu antara kata atau kelompok kata sehingga memiliki kesatuan pikiran dan koherensi yang baik. Ciri kepaduan dapat dilihat dari keterkaitan antardata dalam kalimat, kepaduan yang baik dan kompak adalah hubungan timbal balik yangbaik dan jelas antara unsur-unsur yang membentuk kalimat tersebut.
3. Kesejajaran
Kesejajaran adalah kalimat yang memiliki kesamaan bentuk, makna, dan perincian sehingga memudahkan pemahaman. Kesejajaran atau paralelisme bentuk membantu memberi kejelasan dalam unsur gramatikal dengan mempertahankan bagian-bagian yang sederajat dalam konstruksi yang sama. Kesejajaran bentuk mengacu pada kesejajaran unsur-unsur kalimat yang memudahkan pemahaman pengungkapan pikiran. Kesejajaran makna akan terlihat pada penataan gagasan yang cermat.
4. Kehematan
Kehematan adalah pemekaian kata yang cermat dan menghindari penggunaan kata yang berlebih atau dianggap tidak perlu, tetapi tidak menyalahi kaidah tata bahasa.
5. Kevariasian
Kevariasian dalam penyusunan kalimat akan memeberikan efek yang berbeda-beda. Keraf (2001: 44) menegaskan bahwa variasi tidak lain daripada menganekaragamkan bentuk-bentuk bahasa  agar tetap terpelihara minat dan perhatian orang.
- Variasi Sinonim Kata
Variasi sinonim kata pada hakikatnya merubah isi amanat yang akan disampaikan, variasi anonim biasanya digunakan penulis untuk menarik minat dan perhatian pembaca.
- Variasi Panjang Pendek Kalimat
Penggunaan variasi panjang pendek struktur kalimat dapat mencerminkan pikiran pengarang. Selanjutnya variasi panjang dan pendek kalimat akan memeberikan variasi yang tidak membosankan. Perlu diingat, variasi panjang dan pendek jangan sampai mengurangi kejelasan isinya.
- Variasi Aktif-Pasif
Penggunaan kalimat aktif dan pasif. Kalimat aktif ditandai dengan awalan me- dan kalimat pasif ditandai dengan awalan di-.
- Variasi Jenis Kalimat
Variasi kalimat dapat dilakukan menggunakan variasi jenis kalimat. Dalam bahasa Indonesia ada tiga jenis kalimat, yaitu kalimat berita, kalimat tanya, dan kalimat perintah. Keefektifan kalimat dapat dilakukan dengan menggunakan variasi jenis kalimat.
- Variasi Pola Kalimat
Variasi pola kalimat dapat menghindari kebosanan. Posisi subjek yang ada di awal kalimat dapat diubah menjadi di akhir kalimat, misalkan pola kalimat Subjek – Predikat – Objek dapat diubah menjadi Objek – Predikat– Subjek, atau yang lainnya.
6. Kefokusan
Kefokusan adalah pemokusan atau pemusatan perhatian pada kalimat tertentu. Kefokusan dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu pengedepanan, pengulangan, dan pertentangan.


Rangkuman Berdasarkan Video

Kalimat efektif merupakan sebuah kalimat yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi dalam hal penyampaian pesan, gagasan pikiran, atau perasaan kepada pembaca atau pendengar. Dengan kata lain kalimat efektif merupakan satuan-satuan lingual yang diutarakan seorang penulis atau pembicara kepada pendengar atau pembacanya dan si pembaca atau si pendengar dapat mengerti, dapat memahami apa yang disampaikan sebagaimana si penulis atau si pembicara memaknai apa yang ia sampaikan. Singkatnya kalimat efektif adalah kalimat yang jika kita dengar atau kita baca kita dapat memahaminya dengan mudah. Ada beberapa aspek kebahasaan yang perlu kita pertimbangkan dan selanjutnya harus kita kuasai terkait penyusunan kalimat efektif itu adalah keutuhan, kesejajaran, kefokusan, kehematan, kecermatan, kelogisan, dan kevariasian.

1. Keutuhan
Kesepadanan struktur dan makna dalam kalimat. Setiap unsur kalimat harus memiliki kesatuan.
Contoh kalimat :
Bagi setiap peserta diharapkan hadir tepat waktu.
Alasan kalimat di atas tidak efektif adalah kata bagi mengaburkan makna kalimat dan mengaburkan makna. Kalimat efektif khususnya untuk aspek kebutuhan dianjurkan untuk tidak mengguakan preposisi di depan kalimat.
Kalimat yang efektif seharusnya :
Setiap peserta diharapkan hadir tepat waktu.

2. Kesejajaran
Kesejajaran adalah kesamaan bentuk kata yang digunakan dalam kalimat.
Contoh kalimat :
Perusahaan harus mengkaji kebijakan dalam pengambilan keputusan untuk kesejahteraan karyawan.
Alasan ketidak efektifan kalimat tersebut adalah ketidak setaraan antara kata mengkaji, pengambilan dan kesejehteraan. Alangkah baiknya jika kata-kata itu disejajarkan.
Kalimat yang efektif seharusnya :
Perusahaan harus mengkaji kebijakan dalam mengambil keputusan untuk menyejahterakan karyawan.

3. Kefokusan
Kefokusan adalah penegasan atau penekanan kepada ide pokok kalimat.
Contoh kalimat :
Saya sudah baca buku itu.
Alasan kurang efektifnya kalimat di atas adalah kita dapat memberikan penekanan dengan mengubah konstruksinya menjadi lebih tegas karena ide pokoknya.
Kalimat yang efektif seharusnya :
Buku itu sudah saya baca.

4. Kehematan
Kehematan adalah penanggalan kata-kata mubazir dalam kalimat. Perlu kita ingat bahwa kata-kata mubazir di sini berarti kata-kata yang jika kita tidak gunakan tidak akan mempengaruhi nilai makna dari sebuah kalimat.
Contoh kalimat :
Rapat akan diadakan pada hari Rabu, tanggal 20 bulan September tahun 2017.
Alasan kurang efektifnya kalimat diatas adalah penggunan kata hari, tanggal, bulan dan tahun yang mubazir. Kata tersebut dapat dihilangkan karena tidak mempengaruhi kalimat, dan membuat kalimat lebih efektif.
Kalimat yang efektif seharusnya :
Rapat akan diadakan pada Rabu, 20 September 2017.

5. Kecermatan
Kecermatan berarti kalimat tidak bersifat ambigu atau tidak menimbulkan tafsir ganda.
Contoh Kalimat :
Guru baru pergi ke ruang guru.
Alasan ketidak efektifan kalimat di atas karena memiliki dua tafsir, karena dalam kalimat di atas tidak disertai dengan tanda baca.
Kalimat yang efektif seharusnya :
Guru, baru pergi ke ruang guru.
Guru baru, pergi ke ruang guru.

6. Kevariasian
Kevariasian ini dapat kita lakukan dengan mengubah struktur kalimat atau diksi yang terdapat di dalam kalimat tersebut sehingga kalimat menjadi efektif.
Contoh Kalimat :
Pemerintah melakukan penghematan APBN.
Kalimat di atas bukan kalimat salah tetapi terkadang untuk menghindarkan pembaca atau pendengan tidak dilanda kebosanan, kalimat di atas dapat divariasikan dengan mengubah struktur kalimatnya tanpa mengubah maknanya.
Contoh kalimat yang divariasikan dengan kalimat aktif dan pasif :
Penghematan APBN dilakukan pemerintah.

7. Kelogisan
Kelogisan ini berbicara tentang bagaimana sebuah kalimat itu harus masuk akal atau harus diterima dengan akal yang sehat.
Contoh Kalimat :
Kepada bapak waktu dan tempat dipersilakan.
Alasan ketidak logisan kamlimat tersebut adalah coba anda bayangkan kepada bapak waktu dan tempat dipersilahkan, ini yang dipersilahkan siapa si bapaknya atau sewaktunya, tentu saja si bapaknya atau kalaupun itu memang waktu yang dipersilahkan adakah waktu dapat dipersilakan.
Kalimat yang efektif seharusnya:
Disilakan kepada bapak untuk membawakan sambutan di depan.
Nama : Nazwa Sophia Nadine Effendi
NPM : 2217051049
Kelas: A Ilkomp

Urgensi Pendidikan Kewarganegaraan sebagai Pendidikan Karakter Bangsa Indonesia melalui Demokrasi, HAM dan Masyarakat Madani

Pelaksanaan pendidikan kewarganegaraan pada masa lalu tidak lepas dari kepentingan pemerintah yang berkuasa, yang telah dipraktikkan oleh rezim orde baru di mana Pendidikan Kewarganegaraan telah direkayasa sedemikian rupa sebagai alat dan memanipulasi atas demokrasi dan Pancasila. Pasca jatuhnya rezim tersebut masyarakat Indonesia kembali percaya tentang pentingnya pendidikan kewarganegaraan untuk dapat mewujudkan negara yang menerapkan demokrasi, HAM dan Masyarakat madani.


Pendidikan Kewarganegaraan tidak lepas dari realitas bangsa Indonesia saat ini yang masih alami tentang demokrasi. Pendidikan Kewarganegaraan memiliki dimensi dan orientasi pemberdayaan warga negara. Hal ini menjadi fokus dari pendidikan kewarganegaraan adalah untuk mendidik generasi muda menjadi warga negara yang kritis, aktif, demokratis dan beradab dengan pengertian mereka sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara dan kesiapan mereka menjadi bagian warga dunia. Pendidikan Kewarganegaraan bertujuan untuk membangun karakter bangsa Indonesia.

Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu upaya penyemaian budaya demokrasi. Upaya ini tidak bisa diabaikan oleh bangsa Indonesia yang memiliki komitmen yang kuat menjadi lebih demokratis dan berkeadaban. Selain demokrasi pendidikan kewarganegaraan juga sangat menjunjung tinggi HAM.

Pendidikan Kewarganegaraan dapat menjadi sarana pertemuan beragam nilai dan prinsip yang bersumber dari luar dan khazanah pemikiran dan nilai-nilai Indonesia yang diorientasikan untuk melahirkan sebuah sintetis kreatif yang dibutuhkan oleh negara demokrasi baru yang bersendikan pada Pancasila. Pendidikan kewarganegaraan diharapkan mampu menjadi laboratorium bagi penyemaian prinsip-prinsip demokrasi yang terintegrasi dengan nilai-nilai keindonesiaan yang bersumber dari Pancasila sebagai dasar filosofis bangsa yang dapat menjadikan unsur utama pembentuk karakter nasional Indonesia.
Nama : Nazwa Sophia Nadine Effendi
NPM : 2217051049
Kelas : ilkomp A

Pendidikan kewarganegaraan itu sendiri adalah usaha seorang warganegara yang cinta dan setia serta berani berkorban demi membela bangsa dan negara. Dalam pendidikan kewarganegaraan juga melatih para warganegara untuk berpikir kritis, analitis, demokratis berdasarkan pancasila.
Landasan Ideal :
1. Pancasila sebagai dasar negara.
2. Pancasila sebagai pandangan hidup.
3. Pancasila sebagai ideologi negara.
Landasan Hukum Pendidikan Kewarganegaraan :
1. Pembukaan UUD 1945
2. Batang Tubuh UUD 1945
3. UU Nomor 20 tahun 1982
4. UU Nomor 20 tahun 2003
5. SK Dirjen DIKTI No 43 Tahun 2006

Sumber historis warganegaraan sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Sumber sosiologis diperlukan untuk menjaga, memelihara dan mempertahankan eksistensi negara. Sumber politik yaitu Dokumen Kurikulum: Kewarganegaraan 1957, Civics 1982, Kewarganegaraan Negara 1968, dst.

Dinamika, Esensi dan Urgensi PKN

PKN perlu untuk mendorong warganegara Indonesia agar dapat memanfaatkan pengaruh positif dari kemajuan iptek guna untuk membangun negeri Indonesia tercinta. Masa depan Pendidikan kewarganegaraan itu sendiri ditentukan oleh konstitusi negara dan bangsa Indonesia agar dapat memajukan Indonesia yang lebih baik dan sadar akan jati dirinya.