Nama : Kezia Natalia Wongkar
NPM : 2217051034
Kelas : D
Perkembangan demokrasi parlementer (1945-1959). Masa itu merupakan masa kejayaan demokrasi Indonesia ketika hampir semua unsur demokrasi dapat ditemukan dalam pembentukan kehidupan politik Indonesia. Namun, demokrasi parlementer gagal karena dominasi sekte-sekte politik yang menghasilkan resolusi konflik, yaitu partai-partai "Islam", partai-partai "nasionalis" dan non-partai "Islam", basis sosial-ekonomi yang sangat lemah dan persamaan kepentingan Presiden. Soekarno. dan anggota militer yang sama-sama tidak puas dengan proses politik yang sedang berlangsung. Perkembangan Demokrasi Terpimpin (1959-1965). Politik pada masa itu diwarnai oleh perbandingan yang sangat kuat antara tiga kekuatan politik utama pada masa itu, yaitu. Abri, Soekarno dan PKI. Perkembangan demokrasi dalam pemerintahan orde baru. Selama tiga tahun pertama kekuasaan Demokrasi Pancasila (Orba), semacam terpecah belah di antara kekuatan-kekuatan komunal.
Setelah tiga tahun, dominasi peran ABRI, birokratisasi dan sentralisasi pengambilan keputusan politik, pembatasan peran dan fungsi partai politik, campur tangan pemerintah dalam partai politik dan urusan publik, masa mengambang, monolitisasi dan penggabungan ideologi negara. dari organisasi non-pemerintah. Perkembangan demokrasi pada masa reformasi (1998 hingga saat ini). Demokrasi yang negara kita dirikan di era reformasi ini adalah demokrasi Pancasila, yang tentu saja memiliki ciri yang berbeda dengan Orde Baru dan agak mirip dengan demokrasi parlementer 1950-1959. Ciri-ciri demokrasi pada masa reformasi. Pertama, pemilu yang diselenggarakan (1999-2004) jauh lebih demokratis dibanding pemilu sebelumnya. Kedua, perputaran kekuasaan terjadi dari pemerintah pusat ke tingkat desa. Ketiga, rekrutmen politik untuk menduduki jabatan politik terbuka. Keempat, sebagian besar hak fundamental seperti kebebasan berekspresi dapat dijamin.