Nama : Tiara Cahya Mukti
NPM : 2217011027
Kelas : B
Perjalanan demokrasi di Indonesia mengalami berbagai fase yang mencerminkan dinamika politik dan sosial di setiap masa. Pada masa revolusi, demokrasi masih dalam tahap awal dan sangat dipengaruhi oleh semangat mempertahankan kemerdekaan. Fokus utama saat itu bukan pada pembangunan sistem demokrasi yang mapan, melainkan pada konsolidasi kekuasaan dan perjuangan melawan penjajah serta mempertahankan eksistensi negara yang baru merdeka. Maka, demokrasi belum berkembang secara utuh karena suasana politik masih sangat cair dan penuh ketegangan.
Memasuki era demokrasi parlementer antara tahun 1945 hingga 1959, Indonesia mengalami masa yang sering disebut sebagai masa keemasan demokrasi. Hal ini karena hampir semua unsur demokrasi hadir dalam kehidupan politik, seperti kebebasan pers, pemilu multipartai, dan peran aktif parlemen. Namun, sistem ini akhirnya gagal dipertahankan. Kegagalan tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, seperti dominannya politik aliran yang memicu polarisasi dan konflik antara partai Islam, nasionalis, dan kelompok lainnya. Selain itu, kondisi ekonomi yang masih lemah serta munculnya kesamaan kepentingan antara Presiden Soekarno dan kalangan militer yang merasa tidak puas dengan sistem politik saat itu semakin memperlemah demokrasi parlementer.
Kondisi tersebut membuka jalan bagi terbentuknya demokrasi terpimpin pada tahun 1959 hingga 1965. Pada masa ini, demokrasi lebih banyak dikendalikan oleh figur-figur kunci seperti Presiden Soekarno, ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia), dan PKI (Partai Komunis Indonesia). Demokrasi tidak lagi bertumpu pada suara rakyat, tetapi pada kepentingan segelintir elite. Kebebasan berpendapat dibatasi, dan keputusan politik banyak bergantung pada kehendak pemimpin tertinggi.
Setelah berakhirnya demokrasi terpimpin, muncullah pemerintahan Orde Baru yang dipimpin oleh Presiden Soeharto. Pada awal kekuasaannya, sistem demokrasi yang diusung diberi label “Demokrasi Pancasila”. Tiga tahun pertama menunjukkan tanda-tanda positif dengan adanya usaha menurunkan kekuasaan kepada masyarakat. Namun, setelah itu mulai terlihat gejala birokratisasi dan sentralisasi kekuasaan. Pemerintah membatasi peran partai politik, memperkecil ruang oposisi, dan ikut campur dalam urusan politik serta kehidupan publik, sehingga demokrasi kembali mengalami kemunduran.
Reformasi tahun 1998 menjadi titik balik penting dalam sejarah demokrasi Indonesia. Runtuhnya Orde Baru membuka jalan bagi terbentuknya sistem demokrasi yang lebih terbuka dan partisipatif. Sejak saat itu hingga sekarang, Indonesia telah mengalami banyak perubahan positif, seperti pelaksanaan pemilu langsung, kebebasan pers, dan kebangkitan masyarakat sipil. Meskipun tantangan tetap ada—seperti praktik politik uang, korupsi, dan ancaman polarisasi—era reformasi menandai babak baru bagi demokrasi Indonesia yang lebih inklusif dan berorientasi pada kedaulatan rakyat.