Nama : Mutiara Clariska Amanda
NPM :2217011180
Kelas : B
Perkembangan demokrasi di Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks dari masa revolusi kemerdekaan hingga era reformasi. Pada masa revolusi kemerdekaan, demokrasi masih sangat terbatas karena fokus utama bangsa adalah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pers yang mendukung perjuangan kemerdekaan seperti Tempo dan Para Jago menjadi saluran penting untuk menggalang dukungan rakyat. Memasuki periode demokrasi parlementer 1945–1959, Indonesia mengalami masa keemasan demokrasi karena semua unsur demokrasi tampil dalam praktik politik. Namun, sistem ini gagal karena dominasi politik aliran yang memperuncing konflik antar partai, lemahnya basis sosial-ekonomi masyarakat, dan adanya ketidaksukaan terhadap mekanisme politik dari Presiden Soekarno dan pihak militer.
Demokrasi terpimpin (1959–1965) mencerminkan pergeseran besar dengan munculnya dominasi kekuasaan oleh tiga aktor utama: Soekarno, ABRI, dan PKI. Ketegangan dan kompetisi di antara ketiganya menciptakan ketidakstabilan politik. Pada masa Orde Baru, demokrasi berubah menjadi demokrasi Pancasila yang dikendalikan ketat oleh negara. Awalnya tampak partisipatif, namun kemudian dikuasai oleh militer, birokrasi, dan praktik sentralisasi kekuasaan yang mengekang kebebasan partai politik dan masyarakat sipil. Reformasi 1998 menjadi tonggak penting dalam mengembalikan prinsip-prinsip demokrasi, walau pelaksanaannya tidak lepas dari tantangan. Demokrasi Pancasila kembali diterapkan, namun dengan karakter yang lebih terbuka dan partisipatif, mendekati semangat demokrasi parlementer awal kemerdekaan meskipun dengan konteks sosial-politik yang berbeda.
NPM :2217011180
Kelas : B
Perkembangan demokrasi di Indonesia menunjukkan dinamika yang kompleks dari masa revolusi kemerdekaan hingga era reformasi. Pada masa revolusi kemerdekaan, demokrasi masih sangat terbatas karena fokus utama bangsa adalah memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Pers yang mendukung perjuangan kemerdekaan seperti Tempo dan Para Jago menjadi saluran penting untuk menggalang dukungan rakyat. Memasuki periode demokrasi parlementer 1945–1959, Indonesia mengalami masa keemasan demokrasi karena semua unsur demokrasi tampil dalam praktik politik. Namun, sistem ini gagal karena dominasi politik aliran yang memperuncing konflik antar partai, lemahnya basis sosial-ekonomi masyarakat, dan adanya ketidaksukaan terhadap mekanisme politik dari Presiden Soekarno dan pihak militer.
Demokrasi terpimpin (1959–1965) mencerminkan pergeseran besar dengan munculnya dominasi kekuasaan oleh tiga aktor utama: Soekarno, ABRI, dan PKI. Ketegangan dan kompetisi di antara ketiganya menciptakan ketidakstabilan politik. Pada masa Orde Baru, demokrasi berubah menjadi demokrasi Pancasila yang dikendalikan ketat oleh negara. Awalnya tampak partisipatif, namun kemudian dikuasai oleh militer, birokrasi, dan praktik sentralisasi kekuasaan yang mengekang kebebasan partai politik dan masyarakat sipil. Reformasi 1998 menjadi tonggak penting dalam mengembalikan prinsip-prinsip demokrasi, walau pelaksanaannya tidak lepas dari tantangan. Demokrasi Pancasila kembali diterapkan, namun dengan karakter yang lebih terbuka dan partisipatif, mendekati semangat demokrasi parlementer awal kemerdekaan meskipun dengan konteks sosial-politik yang berbeda.