Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022
jurnal ini berjudul tentang Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan
Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar
individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual
(individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi
masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan
etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem
norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara
berkeadilan.Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “aja ran moral memuat pandangan-pandangan nilainilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah
aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”.
Sedangkan mengenai etika, ditandaskan b ahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas
melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan
bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu,
bagaimana kita dapat mengambil si kap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai
moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa “etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan
dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan -
tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”.
Mengenai pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur”
menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974)
misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi
serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan
masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong -royong atau kemasyarakatan.Oleh sebab itu menurut keberadaan -nya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk
individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu. Perbedaan setiap potensi
individual mengendap di dalam keutuhan masyarakat; dan sebaliknya keutuhan masyarakat
tergantung pada sistem harmonisasi hubungan antar individu dengan keragaman potensi masing -
masing. Jadi dapat dipahami bahwa pada satu sisi, kesempurnaan dunia hidup bersama tergantung
pada optimalisasi pengembangan kepribadian individu.Selanjutnya, agar kehidupan berlangsung hingga tujuan akhir, maka manusia harus mampu
menyediakan segala kebutuhan hidup. Sadar atas segala kekurangan dan keterbatasannya,
seseorang lalu menjalin hubungan dengan orang lain sesamanya. Adapun tuju annya tidak lain
adalah agar mereka bisa saling menutupi kekurangannya, dengan cara mengikat diri dalam
kebersamaan menurut sistem tertentu yang telah mereka sepakati, sehingga terbentuk suatu
kebersamaan di dalam sebuah organisasi sosial kemasyarakatan. Kemudian, kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa
sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperolehsesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan).
Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali
terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan. Nafsu adalah baik,
tetapi ketika tidak terkontrol oleh akal dan tanpa pertimbangan rasa, maka lalu berubah menjadi
kejahatan.
kesimpulan Jadi, kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja
sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi
satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat dan kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali
menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab
itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri
setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru
menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan