Kiriman dibuat oleh Ajeng Akmala Sari

Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022

vidio tersebut menjelaskan tentang perbedaan pendidikan sekolah dasar dijepang dan di indonesia
dijepang sendiri pendidikan dasar jepang bisa di bilang sangat bagus kenapa?contoh yang pertama yaitu kebersihan sejak dini,diindonesia sendiri merupakan negara paling nyampah,kebiasaan menyampah ini terjdi karena kebersihan dan pengelolaan yang baik yang ga diajarkan di kurikulum 13 beda bgt dengan jepang kalau sekolah dijepang tidak mempunyai petugas kebersihan ,hal ini di sebabkan kurikulum jepang mengharuskan semua siswa mempunya tanggung jawab atas kebersihan kelas nya sndiri.
dapat disimpulkan bahwa kita dapat mencontoh kebiasaan pendidikan dasar di jepang dan Sistem pendidikan Jepang juga menekankan pada pengembangan keterampilan non-akademis
Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022

dari vidio tersebut dapat diambil bahwasannya siswa SD Negeri Glak, Kabupaten Sikka sangat membutuhkan perhatian dari pemerintah.dikarenakan mereka berada di daerah terpencil pedalaman yang akses belajar di teras kelas,teras kelas dipakai dikarenakan tidak ada nya ruang kelas untuk belajar bagi siswa SD tersebut.
Dapat disimpulkan bahwasaannya pemerataan pendidikan di Indonesia ini belum banyak yang tercapai.
Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022

dari vidio tersebut dijelaskan yaitu pendidikan yang kurang di daerah pedalaman ,yang dimana fasilitas yang kurang memadai dengan menggunakan fasilitas yang ada.Dari vidio tersebut dapat disimpulkan bahwa mereka amat sangat membutuhkan bantuan dari kita termasuk dengan pendidikan
Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022

jurnal ini berjudul Problematika Moral Bangsa Terhadap Etika Masyarakat

Moral merupakan perilaku yang baik yang
menjadi karakter dari individu atau kelompok yang
bisa di lihat dari cara berfikir bertindak dan
merespon suatu keadaan.Dalam kehidupan, etika ataupun moral memiliki
peran yang sangat penting yaitu untuk
mempermudah manusia dalam berinteraksi dengan
baik. Yang terpenting agar peranan tetap berjalan
dengan baik yaitu dengan bagaimana caranya kita
memahami teorinya dan menerapkannya dengan
baik di kehidupan bermasyarakat.Namun belakangan ini sering terjadi ketidak
sesuaian beretika dalam masyarakat yang
menghilangkan citra dari karakter bangsa.Tanpa kita sadari perubahan zaman dapat merubah
segala hal terutama etika dan moral. Hal ini bukan
lagi masalah sepele jika kita mengkaji lebih dalam
mengenai dampak yang akan terjadi pada
masyarakat. Sehingga kita perlu bertindak sebagai
bentuk upaya pencegahan, dan mencari tahu apa saja
faktor yang dapat memberikan perubahan etika dan
moral .Peruahan zaman yang dialami pada saat ini terlihat
baik-baik saja tanpa disadari kenyataannya dapat
menghilangkan budaya, kebiasaan, etika dan moral.
Tidak akan terjadi secara revolusi tetapi perubahan
akan terasa seiring dengan waku pada masyarakat. Krisisnya mentalitas masyarakat pada saat ini
merupakan bagian dari krisis multidimensional yaitu
suatu masalah yang dialami oleh negara dimana
banyak terjadi masalah dalam berbagai aspek
kehidupan, yang dihadapi khususnya pada kalangan
masyatakat. Penanaman akan nilai-nilai moral di
masyarakat mengalami kemunduran, sehingga untuk
memiliki moral yang baik dan benar, seseorang tidak
cukup sekedar melakukan tindakan yang
menurutnya sudah baik saja akan tetapi hendaknya
setiap tindakan yang dilakukan disertai dengan
keyakinan dan pemahaman akan kebaikan yang
tertanam dalam tindakan tersebut.
Salah satu penyebab terjadinya kehilangan etika dan
moral khususnya pemuda pada era globalisasi ini
dikarenakan tidak adanya pasal dan sanksi yang
mengatur tentang etika dalam bermasyarakat,
sehingga masyarakat Indonesia khususnya
masyarakat Kampung Cijambe Girang sukaresmi,
Kabupaten Sukabumi bebas untuk bergerak
malakukan perbuatan sesuai apa yang diinginkan
dan tidak ada acuan untuk tidak melakukan
perbuatan yang melanggar etika dalam masyarakat.
Beberapa faktor yang menyababkan para individu
zaman sekarang kurang dalam beretika. Pertama,
kurangnya kepedulian orang tua terhadap
pentingnya menanamkan serta mengajarkan etika
(moral) terhadap anak. Kedua, berkembangnya
teknologi yang sangat pesat membuat pola pikir di
zaman sekarang menjadi serba instan dan tidak
peduli akan lingkungan sekitarnya. Ketiga,
lingkungan sekitar yang membentuk karakter dan
membentuk kepribadian seorang pemuda masih
kurang diperhatikan atau bahkan tidak diperhatikan
sama sekali oleh masyarakat sekitar, terkhusus
orangtuanya. Keempat, kurangnya penanaman jiwa
religius didalam diri pemuda serta masih kurangnya
pengetahuan tentang agama yang menjadikannya
turntutan untuk selalu berperilaku etis.
Tujuan utama era reformasi di Indonesia adalah
penegakan hukum dan keadilan. Namun pada
kenyataannya hal itu masih belum berjalan
maksimal, kurangnya etika masyarakat di zaman
modern ini membuat Indonesia kehilangan banyak
penerus yang bermoral dikarenakan tidak adanya
upaya pemerintah atau penegak hukum untuk
menangani masalah ini. Hukum Indonesia bertujuan
untuk menghendaki adanya hubungan harmonis dan
serasi antara pemerintah dan masyarakatnya dengan
memprioritaskan kerukunan yang terkandung dalam
pancasila. Hukum dan masyarakat saling berkaitan
salah satunya adalah hukum ada untuk mencegah
konflik dalam masyarakat, hukum menjadi upaya
untuk menyelesaikan suatu perkara berdasarkan
kebijakan yang didasarkan oleh norma yang berlaku,
sehingga tidak ada masyarakat yang main hakim
sendiri.
Ada 3 upaya internal (dari dalam) yang bisa
diterapkan untuk meningkatkan moral bangsa
1. Meningkatkan peran keluarga dalam
membentuk moral
2. Menciptkan lingkungan yang baik dalam
masyarakat
3. Membatasi teknologi yang ada

kesimpulan Etika dan moral baik sudah menjadi
kebiasaan masyarakat Indonesia yang diajarkan
dari nenek moyang mereka sehingga ini menjadi
kalater bangsa yang terus dijunjung tinggi.
Nama : Ajeng Akmala Sari
Npm : 2253053022

jurnal ini berjudul tentang Kesadaran Moral Kehidupan Bermasyarakat:
Suatu Pemikiran Kefilsafatan

Menurut filsafat moral (etika), masya -rakat adalah suatu sistem komunikasi sosial antar
individu untuk mencapai tujuan bersama. Maka konflik antara kepentingan individual
(individualisme) dan kepentingan ko lektif (kolektivisme) justru menjadi potensi bagi eksistensi
masyarakat. Oleh sebab itu, kunci persoalannya terletak pada sejauh mana kesadaran moral dan
etika menjadi watak perilaku setiap individu. Jika kesadaran moral terbingkai dalam sistem
norma-norma perilaku sosial (etika), maka kedua kepentingan akan terselenggara secara
berkeadilan.Menurut Franz Magnis Suseno (1991), “aja ran moral memuat pandangan-pandangan nilainilai dan norma-norma moral yang terdapat di antara sekelompok manusia. Norma moral adalah
aturan tentang bagaimana manusia harus hidup supaya menjadi baik sebagai manusia”.
Sedangkan mengenai etika, ditandaskan b ahwa “etika bukan sumber tambahan moralitas
melainkan merupakan filsafat yang merefleksikan ajaran -ajaran moral”. Lebih lanjut, ditekankan
bahwa “etika mempersoalkan tentang mengapa kita harus mengikuti moralitas tertentu,
bagaimana kita dapat mengambil si kap yang bertanggung-jawab berhadapan dengan pelbagai
moralitas”. de Vos (1987), mengatakan bahwa “etika adalah ilmu pengetahuan tentang kesusilaan
dan moral. Sedangkan moral adalah hal-hal yang mendorong orang untuk melakukan tindakan -
tindakan yang baik sebagai kewajiban untuk norma”.
Mengenai pemikiran filosofis tentang manusia, pada umumnya pandangan “Timur”
menitikberatkan sifat hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Ki Ageng Suryomentaram (1974)
misalnya, berpendapat bahwa: “manusia termasuk jenis yang cara hidupnya berkelompok, jadi
serupa dengan jenis lebah. Dalam kelompok, orang saling memberi dan mengambil kefaedahan
masing-masing. Tindakan tersebut dinamakan gotong -royong atau kemasyarakatan.Oleh sebab itu menurut keberadaan -nya, sifat hakikat manusia adalah sebagai makhluk
individu yang memasyarakat dan makhluk sosial yang mengindividu. Perbedaan setiap potensi
individual mengendap di dalam keutuhan masyarakat; dan sebaliknya keutuhan masyarakat
tergantung pada sistem harmonisasi hubungan antar individu dengan keragaman potensi masing -
masing. Jadi dapat dipahami bahwa pada satu sisi, kesempurnaan dunia hidup bersama tergantung
pada optimalisasi pengembangan kepribadian individu.Selanjutnya, agar kehidupan berlangsung hingga tujuan akhir, maka manusia harus mampu
menyediakan segala kebutuhan hidup. Sadar atas segala kekurangan dan keterbatasannya,
seseorang lalu menjalin hubungan dengan orang lain sesamanya. Adapun tuju annya tidak lain
adalah agar mereka bisa saling menutupi kekurangannya, dengan cara mengikat diri dalam
kebersamaan menurut sistem tertentu yang telah mereka sepakati, sehingga terbentuk suatu
kebersamaan di dalam sebuah organisasi sosial kemasyarakatan. Kemudian, kesadaran moral juga berfungsi sebagai pengendali perilaku, sedemikian rupa
sehingga seseorang mampu berperilaku jujur menurut moralitas bersyukur (ketika memperolehsesuatu), bersabar (ketika mendapat ujian hidup) dan berikhlas (k etika harus kehilangan).
Sesungguhnya, kesadaran moral itu selalu ada di dalam diri setiap orang. Hanya saja sering kali
terhalang oleh nafsu negatif yang mendorong suatu perbuatan dilakukan. Nafsu adalah baik,
tetapi ketika tidak terkontrol oleh akal dan tanpa pertimbangan rasa, maka lalu berubah menjadi
kejahatan.

kesimpulan Jadi, kesadaran moral mendorong terbentuknya suatu keterikatan sosial dalam bentuk kerja
sama dalam kehidupan bermasyarakat. Atas kesadaran moral itulah kemudian berfungsi menjadi
satu wawasan bagi seluruh individu dalam bermasyarakat dan kesadaran moral yang kuat mendorong kreativitas untuk berproduksi secara terkendali
menurut norma-norma etika ke arah terbentuknya kehidupan masyarakat berkead ilan. Oleh sebab
itu, tiga pilar moralitas dan etika tersebut wajib ditanam dibina dan dikembangkan di dalam diri
setiap individu melalui pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan bermasyarakat.
Jika berhasil, maka konflik kepentingan antara p aham individualisme dan kolektivisme justru
menjadi energi sosial untuk mendorong pertumbuhan kehidupan masyarakat berkeadilan